
Sampai di depan gerbang sekolahannya. Alana bernajak keluar dari mobil. Dati tadi ia hanya diam, tanpa seuntai kata keluar dari bibirnya. Membaut suasana di dalam.mobil nampak hening.
Merasa bersalah Joy, memberanikan dirinya untuk berbicara dengan Alana. Sekedar minta maaf padanya, meski ia tahu tidak akan dapat maaf nanti.
"Alana, soal tadi pagi maaf," ucap Joy, memegang tangan Alana, mencegahnya pergi.
Alana hanya diam, menarik biburnya tipis. "Maaf, memang mudah di ucapkan. Tapi entahlah kak, aku gak tahu lagi harus memaafkanmu atau tidak." ucap Alana datar, tanpa ekspresi di wajahnya. Ia menepis tangan Joy dan beranjak pergi. Dengan sigap Joy memegang tangan Alana.
"Jangan sentuh dia!!" ucap Miko, memegang lengan Joy. mencengkramnya sangat erat.
Joy menggerakkan kepalanya sembilan puluh derajat. Ia menatap ke arah Miko yang sudah berdiri di sampingnya, dengan tatapan tajamnya.
"Jangan ikut campur," ucap Joy dingin.
"Kenapa, jika berurusan dengan Alana, maka aku harus ikut campur semuanya." ucap Miko.
Rahang Joy seketika menegang, ia terpaksa melepaskan tangan Alana. "Baiklah, karena dia pacar kamu sekarang." ucap Joy, melangkah satu langkah, menepuk bahu Miko, dan berbisik.
"Sekarang memang pacar kamu, tapi kamu lihat saja nanti. Siapa yang akan menang." Joy menarik sudut bibirnya sinis, merapatkan tas rangsel di punggungnya, dan melangkahkan kakinya pergi.
Apa maksud dari ucapannya, apa dia benar suka dengan Alana. Tapi kenapa mereka bisa suka, bukanya mereka kakak adik?
"Kak, Miko. Kamu gak apa-apa kan?" tanya Alana, memegang bahu Miko.
Miko segera menyadarkan dirinya dari lamunannya.
"Eh, iya ada apa, Na." ucap Miko, memegang pipi Alana.
"Kenapa kak Miko melamun di sini, ayo masuk kak." ucap Alana, memberanikan diri memegang tangan Miko, menariknya segera pergi. Semua anak menatap ke arahnya, dan tidak termasuk juga seorang wanita yang sangat populer di sekolahan. Bahkan dia di nobatkan sebagai wanita paling cantik di sekolahannya.
Dia adalah mantan Miko, yang diam-diam mendekati Joy. Bahkan sampai tidak di perdulikan oleh Joy, membuatnya menyerah, dan ingin kembali pada Miko. Tapi saat tahu kenyataan jika Miko sudah punya wanita lain lagi.
"Eh.. Tau gak kalau ada anak di sekolah ini, diam-diam juga punya hubungan dengan kakaknya sendiri." sindir salah satu gerimbolan tiga wanita geng sekolahan tersebut.
"Iya, kalau menurut kamu diam masih perawan gak?"
"Sepertinya sih gak, lihat saja tubuhnya. Aku yakin dia sudha melakukan dengan kakaknya sendiri,"
"Apa benar?"
"Iya, pasti itu. Apalagi tiap hari bersama. Tinggal satu rumah lagi."
Suara desas-desus itu membuat Alana terdiam, menelan ludahnya kasar. Ia menunduukkankepalanya, berjalan seolah tidak mendengar apa yang mereka bicarakan.
Joy yang berjalan melintas, mendengar ucapan mereka. Memegang tangan Alana, menariknya dari tangan Joy. Berjalan mendekati tiga wanita itu.
"Jangan menunduk, angkat kepalamu!!" pinta Joy, Alananya diam, seakan dirinya henar-benar sangat malu.
Pyuukk..
Joy menyiram ke tiga gadis itu bergantian, dengan minuman yang ia pegang.
"Jangan bicaramu, jangan seenaknya menghina adikku." ucap Joy geram.
"Shiitt. Apa yang kamu lakukan?" bentak Sindy ketua geng tersebut.
"Itu balasan untuk mulut yang gak bisa diam, dan selalu membicarakan orang." ucap Joy.
"Emang siapa yang membicarakan adikmu. Kalau kamu dan adik kamu merasa, jadi memang benar yang aku bicarakan." ucap Sindy tersenyum sinis.
Joy terdiam, ia tidak bisa menjawab apa yang di katakan gadis itu. Meski mereka salah, tapi apa yang di katakan mereka benar.
Alana yang merasa sudah tidak tahan mendengar itu semua, ia berlari. Meneteskan air matanya.
Dan Miko menarik tanya Joy, menjauh dari tiga gadis itu, menuju ke belakang sekolahan.
Tanpa banyak bicara Miko memukul wajah Joy bertubi-tubi. Hingga Joy tersungkur ke tanah, ia masih terus memukul Joy, hingga darah segar keluar dari sudut bibirnya.
"Apa yang kamu lakukan?" Joy mendorong tubuh Miko menjauh dari tubuhnya.
"Apa yang kamu lakukan dengan Alana?" bentak Miko, beranjak berdiri tegap, menatap tajam ke arah Joy.
Joy duduk, dengan ke dua kaki di lipat, dan ke dua tangan bersandar di atas lututnya. ia tersenyum tipis. "Apa kamu percaya dengan yang di katakan mantan kamu itu? Atau jangan-jangan kamu masih suka dengannya? Atau diam-diam kamu masih menghubunginya?" sindir Joy, semakin membuat Miko tambah geram.
"Jaga mulutmu!!" bentak Miko, menarik kerah Joy.
"Harusnya kamu yang jaga mulutmu. Kamu pikir pakai otak, kalau kamu bertindak seperti ini, berarti sama saja kamu tidak percaya dengan Alana. Dan kamu lebih percaya dengan Sindy. Pikir Alana dia menangis dan pergi begitu saja tadi, gak malah urusin aku, dan memikirkan apa yang di bicarakan Sindy." Joy, meraih kerah Miko, sedikit menariknya. "Atau kamu memang tidak suka serius dengan Alana." lanjut Joy.
"Joy, Miko cepat pergi. Ada kepala sekolah." ucap teman laki-laki satu kelasnya, yang berlari menepuk bahu Joy dan Miko.
"Awas, aku akan beri perhitungan lagi denganmu nanti." ucap Miko kesal. Mendorong tubuh Joy menjauh darinya, dan beranjak pergi menjnggalkan laki-laki itu.
Kenapa semua bisa mikir seperti itu, dan Alana gimana perasannya sekarang. Pasti dia terpukul banget. Apalagi apa yang mereka katakan semuanya benar. Hanya saja Alana selalu menolak sekarang jika dekat denganku.
Joy mengusap darah di sudut bibirnya, dan beranjak pergi, berlari mencari Alana. Sebelum bel sekolah masuk. Ia menuju ke kelas Alana, melihat Alana duduk di bangkunya, ia merasa sudah lega. Tapi wajah Alana nampak sangat sedih.
"Maafkan aku," ucap Joy, membalikkan badannya, beranjak pergi meninggalkan ruangan kelas Alana. Tanpa harus bertemu dengannya lebih dulu.
------
Bel berbunyi menggema ke seluruh penjuru sekolahan. Dan hari ini pulang lebih awal. Karena ujian belum juga selesai. Dan besok adalah terkahir ujian.
Semenjak kejadian tadi Miko tidak bertemu dengan Alana lagi. Ia mencoba mencarinya, tapi tidak kunjung bertemu. Dan sekarang ia memutuskan untuk berdiri menunggu Alana di depan ruang kelasnya.
"Alana, tunggu!!" Miko, memegang tangan Alana.
"Biarkan aku sendiri," ucap Alana, tanpa menatap ke arah Joy.
"Aku tidak akan menbiarkan kamu sendiri. Aku gak mau kamu terus sedih." ucap Miko.
"Aku gak sedih, hanya saja aku ingin sendiri sekarang."
Miko menarik tangan Alana, beranjak pergi dari depan kelasnya menuju ke halaman belakang sekolahan. Ia membalikkan tubuh Alana agar menatapnya.
Alana memalingkan pandangannya berlawanan arah, seakan ia enggan untuk menatap ke arah Miko.
"Jangan sedih, aku percaya dengan kamu. Maaf soal tadi aku terkejut dengan apa yang aku dengar. Dan mungkin begitu bodoh sempat percaya sesaat dengan ucapan Sindy." ucap Miko, memegang pipi Alana.
"Bukanya Sindy mantan kamu," ucap Alana, lirih.
"Iya, tapi aku sudah gak suka dengannya." jawab Miko, mencoba meyakinkan gadis itu.
"Aku gak perduli, sekarang aku mau pergi." ucap Alana, Miko menarik tangan Alana, membalikkan badannya, lalu memeluk erat tubuh Alana. "Jangan pergi, aku minta maaf. Sekarang kamu jangan sedih lagi, jangan hiraukan mereka. Dan maaf juga tadi aku tidak membelamu," ucap Miko, mengusap punggung Alana.
Seketika hati Alana merasa nyaman, berada di pelukan orang yang selalu ada untuknya saat ini. Bahkan di saat ada masalah, dia juga selalu membuat dia tersenyum kembali. Perasaan yang semual ingi marah, merasa terpukul, perlahan mulai memudar.
"Iya, tapi bisa lepaskan pelukanmu gak?" ucap Alana, mendorong tubuh Miko.
"Kenapa?"
"Aku gak bisa napas kak," jawab Alana, mencoba mengatur napasnya.
"Sekarang kamu bisa senyum lagi kan," ucap Miko.
"Ya, sudah sekarang ayo pergi." ucap Alana.
"Kemana?"
"Pulang!!"
"Pegang tanganku!!" pinta Miko.
Alana tersenyum tipis, memegang tangan Miko. Raut wajah Alana berubah seketika. Saat bersama dengan Miko.
-------
"Kak Mik, makasih ya," ucap Alana.
Miko menautkan ke dua alisnya bingung. "untuk apa?" tanya Miko.
"Makasih saja," Alana, naik kenatas montor Miko, duduk menghadap ke arah Miko yang berdiri di depannya.
"Alana besok ujian terkahirku, gimana kalau pulang sekolah aku ajak kamu keluar." ucap Miko.
"Kemana?" Alana yang duduk di atas montor Miko, dengan tatapan mata mengarah pada Miko di depannya.
"kemana saja, makan atau kemana terserah. Atau kita liburan nanti." Miko, meletakkan ke dua lengannya di paha Alana. pandangan meta mendekat ke arahnya, sedikit mendongakkan kepalanya.
Alan terdiam, meniman-nimang apa yang di katakan Miko. "Aku gak janji, kalau besok ada waktu. Aku akan kabari, tapi sepertinya besok ada acara di rumah. Tapi jika kak Miko gak keberatan datang saja." ucap Alana.
"Acara apa?"
"Entahlah!! Sepertinya mereka memberi pengumuman pada semua orang tentang sesuatu. Tapi aku juga gak tahu tentang apa,"
"Alana!!" teriak Cia, berlari menghampiri Alana dan Miko.
Mereka menoleh kompak menatap ke arah Cia. Membuat gadis itu ketakutan, dan berjalan mundur dengan ke dua tangan di depan. "Bentar!! Jangan menatapku seperti itu, jauhkan pandangan itu," ucap Cia.
"Kak, kenapa kaka gugup gitu," ucap Alana tersenyum tipis.
"Mungkin dia lagi grogi kali bertemu kita. Atau kamu grogi bertemu denganku ya?" goda Miko, menarik ke dua alisnya, dengan tatapan menggoda pada Cia.
Dasar laki-laki gak tahu diri, udah ada pacarnya di depan matanya. Tapi kenapa dia masih sempat-semapatnya menggodaku. Gak tahu malu, masih saja playboy-nya gak bisa hilang.
Alana menatap ke arah Miko dan Cia bergantina.0 Sekana ada sesuatu di antara mereka.
Apa mereka saling suka sebenarnya, ksnapa tatapan Miko pada Cia seperti itu. Ah.. tapi gak mungkin mereka sahabat pasti mereka dekat dan tatapan seperti itu biasa bagi mereka.
"Alana kenapa kamu diam?" tanya Miko, memegang pipi Alana lembut.
"Eh.. Iya kak." Alana terbangun dari lamunannya.
"Cia ayo pergi!!" panggil Joy, melirik sinis ke arah Alana dan Miko.
"Iya, kaku pulang dulu ya. Kalian jangan kencan terus." sindir Cia, menepuk-nepuk bahu Alana.
"Siapa juga yang mau kencan." jawab kesal Alana.
"Oya, kak. Aku ikut pulang denganmu ya?" ucap Alana, yang teringat jika dia mau bikin kue nanti. Sekalian mau beri kuenya pada Miko sebagai kejutan.
"Kamu gak pulang sama aku?" tanya Miko, dengan wajah nampak sangat kesal.
"Nanti aku akan hubungi kamu, nanti kita bertemu lagi." ucap Alana, turun dari atas montor Miko, dan berlari masuk ke dalam mobil.
Bruukkk.
Alana yang langsung duduk, tak sengaja menabrak Joy yang duduk santai memegang ponselnya.
"Maaf kak!!" ucap alana, melipat tanganya, dengan wajah memelas.
Joy yang semula ingin marah, melihat wajah Alana, emosinya berbuah lembut seketika.
"Udah cepat masuk, dan duduklah!!"
"Iya, kak." ucap Alana.
"Kalian kenapa?" tanya Cia. Yang baru masuk ke dalam mobil, dan duduk di kursi depan dekat sipir.
"Joy, kamu tadi di panggil guru sudah tahu belum?" tanya Cia, melirik ke arah Joy.
"Kapan?" tanya Joy bingung.
" Tadi, bukanya aku sudah kasih tahu kamu tadi," ucap Cia.
Joy terdiam, menepuk dahinya. "Iya, aku lupa. Baiklah. Kalian pulang dulu. Aku mau kembali lagi." ucap Joy memegang tasnya, membuka pintu mobil dan segera pergi.
"Punya adik satu itu benar-benar pelupa." gumam Cia kesal.
Ddrrrttttt..
"Alana?" panggil Cia lembut.
"Iya kak,"
"Kamu melamun ya, ada panggilan tu."
Alana melirik ponselnya di dalam saku, sebuah panggilan dari wali kelasnya. "Kak, sepertinya kak Cia pulang sendiri ya, aku mau angkat telefon dulu,"
"Aku tunggu kamu," ucap Cia.
"Baiklah," Alana segera mengangkat panggilan dari wali kelasnya, yang memang berbicara dengan bahasa inggris.
"Iya, bu ada apa?" tanya Alana.
"Ada hal yang ingin aku bicarakan. Ini penting tentang kuliah kamu."
"Ya, sudah sekarang aku ke ruang bu, ika sekarang." ucap Alana, mematikan ponselnya, memasukan ke dalam saku. Lalu mentuk kaca mobil depan.
Tokk... Tok...
Cia membuka kaca mobilnya, mengeluarkan kepalanya tersenyum menatap Alana.
"Ada apa? Cepat masuk!!"
"Kak, sepertinya wali kelas aku memanggilku, jadi aku harus segera ke sana." ucap Alana.
Cia berdengus kesal, "Baiklah, kalau begitu aku duluan ya. Kamu hati-hati nanti." ucap Cia tanpa curiga pada Alana.
Cia yang awalnya curiga dengan Joy dan Alana. Tapi semenjak Joy dekat dengan Amerta. Cia tidak terlalu khawatir lagi dengan hubungan mereka. Ia merasa mereka sudah punya pasangan masing-masing.
Alana segera berlari, menuju ke ruang waki kelasnya. "Permisi bu!" ucap Alana, menundukkan badannya. Di sana sudah ada Joy dan Miko membuat Alana terdiam, mematung dengan mulut sedikit terbuka tak percaya.
"Kenapa mereka ada di sini?" tanya Alana bingung.
"Alana duduklah," ucap Miko, beranjak berdiri memegang tangan alana, yang terasa sangat lemas dan dingin, karena terlalu gugup berhadapan dengan dua laki-laki di sampingnya itu.