My First Love

My First Love
Cemburu



Neneya mulai menyuapai sendok demi sendok makanan ke mulut Alana. Namun mata Alana tertuju pada Cia yang merasa canggung berdiri di samping Miko, meskipun mencoba menyembunyikan semuanya dari Alana, namun Alana sudah tahu semuanya tentang itu. Malah ia sudah tahu sejak awal.


Miko terus memegang tangan Alana, sempat Alana menolaknya namun genggaman Miko sangat erat membuatnya tak bisa apa-apa. Tetapi ia merasa kini telah menyakiti kakanya.


"Sudah, kamu sekarang minum obat ya?" Ucap neneknya.


"Iya nek"jawa Alana singkat.


"Biar aku saja nek yang bantu"saut Miko, yang dari tadi di sampingnya. Ia segera nlmeraih obat di tangan Nenek Alana.


Alana hanya diam, ia melihat ke arah Cia yang masih terus menunduk tanpa perdulikan Alana dan Miko. Seakan banyak beban pikiran yang mengganggunya. Dan Cia juga terus diam tanpa banyak bicara.


----


"Cia kenapa kamu diam??" Tanya Miko, melirik ke arahnya.


"Eh.. gak napa-napa kok, hanya saja aku lagi gak enak badan saja"ucap Cia mencoba mencari alasan pada Miko.


"Emang kamu sakit"tanya Miko.


"Em. Aku juga gak tahu"ucap Cia, berharap Miko berbalik perhatian dengannya.


"Ya kalau kamu sakit, kamu istirahat saja di sofa, atau kamu pulang. Atau oanggil dokter sana"gumam Miko. Ia masih setia memegang tangan Alana. Meskipun harus berdiri terus di samping Alana ia tak perduli dengan itu. Bagi dia bisa bersama dan merawat Alana sudah sangat senang.


"Kak.."panggil Alana, menyantuh tangan Miko.


"Ada apa??. Apa ada yang sakit, pa perlu aku panggilkan dokter" Tanya Miko dengan wajah paniknya.


Cia yang merasa tak di anggap beranjak duduk di sofa, ia merasa perhatian Miko tak mungkin teralihkan padanya. Dan kini Alana lebih penting di bandingkan dengannya yang bukan apa-apa bagi Miko. Ia hanyalah debu tak terlihat oleh Miko. Miko hanya menganggapnya sahabat tidak lebih.


"Aku gak napa-napa kak.. tapi bisa lepasin tanganku gak kak."tanya Alana.


Miko terdiam, "Baiklah, aku akan melepaskan tangan kamu, tapi kamu habis minum obat harus istirahat lagi ya, benatar lagi juga pasti dokter akan memeriksa keadaan kamu lagi"ucap Miko.


Alana hanya tersenyum menatap Miko. Dan di sisi lain Cia hanya diam seolah ia tak melihat itu semua. Suatu hal yang membuatnya sangat geram, ingin sekali marah namun apalah daya, Miko bukan siapa-siapanya. Dan dia bukan wanita yang ia perdulikan.


"Baiklah kak"ucap Alana. "Oya kalian kan pasti belum makan, kak Miko dan kak Cia makan dulu sana"Suruh Alana. Ia tahu Miko dari kemarin memang belum makan. Miko terus menjaganya sampai ia tak mau sama sekali menyentuh makanan.


"Nenek sudah makan belum??" Tanya Alana.


"Nenek sudah makan tadi, ya biar mereka berdua saja yang makan."ucap neneknya.


Cia terdiam ia melirik ke arah Miko, namun Miko tak memandangnya sama sekali. "Aku tetap di sini menjagamu" ucap Miko memegang tangan Alana.


"Kak Miko, kamus seharian gak makan, kalau kamu sakit juga sama denganku, siapa yang menjagaku nanti. Lagian di sini ada nenek yang mau menjagaku sebentar. Lebih baik kalian berdua makan saja di luar ya"ucap Alana. Melepaskan tangan Miko.


Dengan terpaksa Miko harus melangkahkan kakinya keluar meski berat harus meninggalkan Alana di dalam yang masih terbaring sakit. "Ayo pergi"ajak Miko pada Cia.


Cia sontak terkejut dengan ajakan Miko, ia segera berlari mengikuti Miko yang sudah berjalan lebih dulu di depannya.


"Miko tunggu!!" Teriak Cia.


"Kita mau makan di mana?" Tanya Cia.


"Entahlah lihat saja nanti kita makan di mana" ucap Miko singkat. "Oya katanya kamu sakit kenapa bisa lari"tanya Miko mulai curiga dengan Cia.


"Oo.. iya tadi aku sakit.. mual karena lapar mungkin"gumam Cia mengelak, ia mencoba mencari alasan agar Miko tak curiga dengannya. Lagian ia tak mau jika Miko tahu tentang perasaanya. Bahkan ia lebih memilih terluka dari pada harus mengungkapkan.


Lagian jika mengungkapkan semua perasaannya gak mungkin Miko menerimanya. Miko lebih cinta dengan Alana di bandingkan dengannya hanya di anggap sebagai sahabat, tidak lebih baginya.


Mereka terus berjalan beriringan keluar dari rumah sakit. Namun tanpa ada suara sama sekali dari mereka. Dan Cia juga tak mau memulai pembicaraan lebih dulu. Lagian juga tak mungkin Miko membalas pertanyaannya.


"Oya kita makan dekat sini saja, di warung atau apa. Aku gak mau ke restauran nanti terlalu jauh dan Alana menunggun lama" ucap Miko memecahkan keheningan di antara mereka.


"Baiklah"ucap Cia terpaksa, padahal sih ia mau makan di restauran bersama dengannya. Namun apa lah ia kan bukan siapa siapa Miko. Dan tak pantas mengharapkan hal romantis darinya.


Miko berhenti tepat di sebuah warung bakso di sampingnya. "Kita makan ini??" Tanya Cia ragu.


"Iya, kenapa kamu gak suka?" Tanya Miko. "Dan lagian di kantin kita juga makan bakso kan?" Lanjutnya.


"Iya sih tapi..?" Ucapan Cia terhenti, seakan ia tak mau mengucapkan sesuatu yang membuat ia malu nantinya.


"Tapi apa??" Tanya Miko, menatap aneh pada Cia.


"Gak jadi deh, ayo cepat kita masuk"ucap Cia mendorong tubuh Miko agar cepat masuk ke warung bakso yang sepertinya baru saja buka.


"Pak bakso ya dua mangkok"ucap Miko yang sudah duduk.


"Iya mas"ucap penjual bakso itu.


"Iya, nanti kalau kamu pulang dan balik lagi ke rumah sakit tolong bawain catatan kamu ya, aku mau jaga Alana sampai sembuh sekalian mau catat semua mata pelajaran yang sudah ketinggalan jauh."ucap Miko.


"Baiklah, tapi aku gak terlalu banyak nulis. Kamu kan tahu sendiri. Tapi entar aku bisa curi catatan kak Joy deh untuk kamu."ucap Cia. "Eh.. iya tapi kak Joy kan 2 hari juga gak masuk"ucap Cia. Kini seolah ia benar-benar sudah melupakan sakit hatinya dan berubah jadi Cia sahabat akrabnya seperti biasa.


"Ya sudah catatan kamu saja seadanya, dari pada aku ketinggalan jauh. Lagian kalau mau minta ajarin Alana juga gak mungkin dia lagi sakit. Aku gak mau ganggu dia."ucap Miko.


"Maaf mas ini baksonya"ucap penjual Bakso itu meletakkan dua mangkok bakso ke meja mereka.


"Iya pak makasih"ucap Miko.


"Oya kamu sekalian nanti beri tahu bab mana saja yang sudah di bahas ya, aku bisa pelajari nantinya."ucap Miko. Yang mulai makan bakso panas di depannya.


"Baiklah, emangnya kamu bawa buku sekarang. Atau aku akan pinjamkan kamu bukunya dulu"ucap Cia.


"Emm boleh deh sekalian. "Ucap Miko.


Ia melirik ke arah Cia, menatap Cia yang terus menatapnya bahkan belum sempat menyantap makanan di depannya.


"Apa kamu gak mau makan itu?" Tanya Miko, membuat Cia tersadar seketika dari lamunannya.