
Joy dan Amera seakan tidak perduli dengan apa yang terjadi si rumahnya. Tentang Alana dan David. Lagian Amera juga sudah tahu, dan dia tidak memaksa adiknya itu untuk tetap tinggal.
Mereka berdua pergi ke sebuah Cafe, yang jadi langganannya sekarang. Mereka suak berada di sana, suasana yang nyaman. Menbuat mereka betah.
"Amera, kamu pesan apa?" tanya Joy, memegang tangan Amera, berjalan masuk ke dalam sebuah cafe. Belum juga duduk. Joy sudah menawarkan untuk pesan.
Kenapa joy jadi seperti ini. Kadang dia berubah. Kadang dia galak, dan terkadang dia cuek. Tapi.. Jika aku boleh memilih. Aku ingin Joy tetap seperti ini selamanya. Bersama berdua, memadu kasih berdua, saat menikah nanti. Dan hidup jauh dari bayangan masa lalu yang membuat dia mungkin akan terikat kembali.
"Duduk dulu syang!! Baru pesan nanti." ucap Amera.
"Iya, kita duduk di mana?"
"Di sana saja," Joy menuntunnya untuk duduk di sebelah tembok persis, dan mereka duduk beriringan. Seakan tak mau saling jauh.
Joy beranjak berdiri, pandangan matanya tertuju pada rok pendek sepaha yang di gunakan Amera, membuat semua laki-laki menatapnya. Joy melepaskan jaketnya. Dan menutupi paha Amera.
"Jangan biarkan semua orang milihatnya, lain kali kalau keluar pakai baju dan rik yang kekurangan bahan. Jika kamu ga ada celana atau rok lebih oanjang, aku akan belikan nanti." ucap Joy, membuat Amera tersipu. Baru pertama kali ada seorang laki-laki yang sangat perhatian dengannya. Bahkan memperhatikan betul cara berpakaian.
Aku yakin dia laki-laki yang baik. Dia bisa menjaga harga diri wanita. Bahkan tidak membiarkan wanita yang berada di sampingnya di lecehkan orang lain.
"Udah kamu di sini dulu, ku pesan ke vasir skelaian bayar." ucap Joy, mengusap ujung kepala Amera.
Entah mimpi apa dia semalam. Dapat perlakuan sangat baik dari Joy. Bahkan perlakuan yang lembut, membuat hatinya seketika luluh. Ia tidak bisa lagi berbicara apa-apa saat bertemu dengannya.
Amera, maaf ya. Hanya sebuah anggukan kecil, menjawab beberapa pertanyaan dari Joy.
Joy kembali duduk di samping Amera. memandangi wajah Amera, mencoba menemukan oerasaannya sekarang.
Apa aku terlalu kejam, memaksa hatiku untuk mencintai orang lain. Tapi mungkin akan lebih kejam, jika aku mencintai wanita milik orang lian.
"Sudah pesan?" tanya Amera.
"Sudah, kamu sekarang lebih baik, pergi dulu syang." ucap Joy
Seketika Amera menautkan ke dua alisnya. Menatap bingung. "Maksud kamu pergi kemana? Apa kamu mengusirku?" tanya Amera kesla.
"Siapa juga yang mengusirmu sayang. Aku hanya ingin kamu pergi menuju ke hatiku sekarang!!" goda Joy.
Amerah tersnetum, menatap wajah tampan calon suaminya itu
Joy memegang ke dua tangan Amera. Menatap mata indah gadis itu, "Amera, maaf.!!" ucap Joy lirih.
"Untuk apa?"
"Karena aku banyak menyakiti hatimu!!"
"Harusnya aku yang minta maaf," Amera menundukkan kepalanya malu.
"Kenapa?" tanya Joy heran.
"Soal kemarin, aku bebar-benar sangat malu melakukan itu padamu. Entah apa yang merasuki pikiranku. Sehingga di otakku terbesit hal menjijikan itu." Amera menundukkan kepalanya menyesal.
Joy memegang dagu Amera, sedkit menariknya ke atas, membuar ke dua mata mereka saling tertuju.
"Kenapa? Gak usah bahas itu lagi. Gak apa-apa, aku sudah, tidak lagi permasalahkan soal kemarin. Apa kamu mau lagi?" tanya Joy, seketika membuat mata Amera terebelalak. Ia memasting seketika, antara bingug dan malu.
"Emmm.... aku..." ucap Amera gugup
Joy tersenyum, melihat Amera, ia mengusap kepalanya. "Meskipun mau juga gak di sini juga syang!!" ucap Joy, menatap sekelilingnya.
Amera tersenyum tipis, ia membayangkan jika Joy melakukan itu lagi Tapi sekarang ada Cia. Pasti Cia akan mengganggunya.
"Kamu pasti mikirin itu ya, udah jangan memikirkan hal kotor lagi." ucap Joy.
Tak alam pesanan mereka dayang, dan waiters meletakkan semua pesannya di atas meja depannya.
Amera mulai menyeduh minumannya, ia menikmati minuman dingin yang seakan melegakan tenggorokannya yang dari tadi kering.
"Sudha ayo makan dulu."
"Emm.. Gimana kalau kita foto berdua, aku ingin foto dnegan kamu," ucap Amera.
"Baiklah!!"
"Sudah, sekarang ayi kita makan!!" ucap Amera, yang mulai makan nasi goreng kesukaanya. dan Joy tahu jika dia ke sini selalu pesan nasi goreng.
"Soal kemarin, kenapa kamu begitu menikmatinya?" tanya Joy, yang tertantang saat mengingat Amera yang menikmatinya, terasa sangat berbeda. Membuat Joy kemarin malam, semakin tertarik.
"Karena... Emm. Pasti kamu sudah tahu snediri." Amera yang malu, ia melanjutkan makannya lagi.
"Pasti kamu lagi bergairah hebat ya." goda Joy, berbisik lembut di telinga Amera.
Amera hanya diam, tertunduk malu di buatnya. Ia bingung harus berkata apa pada Joy.
"Udah gak usah bahas itu lagi!! Oya, kamu kuliah di mana?" tanya Joy menatap serius kali ini.
"Memangnya kamu di mana?" tanya Amera balik.
Ganya soal kuliah, kenapa aku jadi kepikiran. Aku belum daftar. Apa mungkin sebaiknya aku pergi. Tapi aku harus kuliah di tempat yang sama dengannya. Aku gak boldh jaih darinya. Demi menadapatkan dia, aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan.
"Di Amerika!!"
"Kenapa kamu memilih di sana?"
"Karena aku beasiswa. Di sana aku gratis."
"Oo. aku juga akan kuliah di sana?"
"Kamu mau ikut dneganku?"
"Iya, sekalian mau tinggal denganmu!!"
Joy mengerutkan keningnya, ia bingung dengan Amera. Tapi sekarang ia mencoba untuk bisa tenang dan tidak gegabah lagi dalam bertinda. Ia tidak mau jika Amera kecewa. Karena statusnya adalah tunangan aku.
"Maksud kamu?"
"Kita akan tunangan, 2 hari lagi. jadi jika kita tinggal bersama gak masalahkan?"
Joy mengusap lembut rambut Amera. Dengan salah satu tangannya menggenggam erat tangan mulus dan putih miliknya.
"Tinggal bersama tunggu sampai kita nikah. Kamu bisa tanggal di tempat yang sama. Karena mungkin aku hanya tinggal di apartemen. Jadi kamu bisa cari tempat di sebelah aku, jika kamu mau dekat." ucap Joy, yang kini jemari tangannya, mulai turun, ke pipinya, mengusap manja pipinya.
Amera tersipu malu di buatnya. Ia tidka tahu lagi harus mengatakan apa. Kelembutan Joy sekarang, membuat hatinya lulu. Dan sepertinya dia mulai menerima status barunya sebagai tunangannya.
Joy menatap Amera, ia terus bergumam dalam hatinya
Amera, maaf aku mungkin dulu tidak suka denganmu. Tapi aku akan belajar lagi suka. Mungkin memang kamu jodohku. Jadi aku harap semoga hatiku jatuh padamu.
"Joy. Tidak ada hari dan waktu yang bisa kulewatkan tanpamu Soal kemarin maafkan aku. Aku terlalu menggoda kamu. Aku memang wanita murahan Seperti apa yang kamu katakan. Aku banyak menggodamu, bahkan lebih parah dari wanita murahan," ucap Amera, sedikit menundukkan kepalanya, ia menyesal dengan apa yang sudah ia lakukan dulu.
"Sudah jangan pikirkan lagi. Yang sudah terjadi biarkan. Sekarang kita perbaiki semuanya. Semua kesalahan masa lalu, aku gak mau terulang lagi soal itu. " Joy mengusap lembut pipi Amera lembut
Amera menyeduh minuman di deoannya, sembari menatap Joy yang masih menikmati makanannya dengan sangat lahap.
"Joy!!" panggil Amera, membuat laki-laki itu seketika menoleh.
"Apa?"
Amera mengusap lembut bibir Joy, yang tertempel satu butir nasi di ujung bibirnya.
"Ada sisa!!" ucap Amera, yang mulai menyeduh lagi minumannya. Setelah habis, ia lalu meletakkan ke gelasnya, menatap Joy, dengan kepala tangan kanan. menyangga kepalanya.
Joy menautkan ke dua alisnya, menatap aneh pada Amera.
"Kenapa kamu melihatku seperti itu?" tanya Joy.
"Kamu tampan!!" ucap Amera sekana tanpa sadar.
"Maksud kamu?"
"Eh.. Enggak, lanjutkan saja makannya." Amera tersadar dari lamunannya, seketika wajahnya memerah, ia memalingkan pandangannya dari Joy.
Joy hanya tersenyum tipis, melihat Amera yang salah tingkah sendiri.
"Kamu sudah selesai makannya?" tanya Joy, mencoba menatap wjaha Amera, yang gadis utu sembunyikan ke belakang, tertutup tembok di sampingnya."