
Alvin dan dian yang masih asyk dengan dunia mereka berdua sendiri di kagetkan dengan kedatangan ivan yang masih dengan santai nya berdiri di depan pintu masuk kolam renang itu sambil menatap wajah sepasang suami istri itu secara bergantian.
dian sudah sangat salah tingkah hingga ia membenamkan wajah nya pada dada bidang sang suami menyembunyikan wajah semu merah nya.
"sirik banget lu!", jawab alvi acuh seakan tak terjadi sesuatu pada saat itu.
"ngapain gua, cepetan minggir kalian berdua dari sana", pintah ivan tak mau kalah
"ngapain gua minggir, suka-suka gua dong, ini kan kolam gue", alvin memelototi ivan namun bukan ivan nama nya jika tak melawan sahabat sekaligus saudara sepupuan nya itu yang juga merupakan sekertaris pribadi alvin
"hahahahahh enak aja, ngapain gue pergi, suka-suka gue juga dong..! minggir kalian, tuh ada kamar kan? di kamar aja!!", pintah tak mau kalah
"mau gua pecat lo?",alvin mencoba untuk mengancam ivan, namun tetap saja ivan tak mau pergi.
"gak, minggir dehh.. gua serius gak usah ngancam gue!", kata ivan memelas sambil melangkah mendekati kolam
"awas aja lo ampe kantor esok gua habisin lo, liat aja", batin alvin mengancam sahabat sekaligus saudara sepupunya itu
"yang, ayo kita pergi, biarkan si jomblo lapuk ini menyendiri di kolam, peria ini hanya sirik pada kita yang", sambil menangkup wajah sang istri dengan kedua tangan nya.
"dasar kaku", gumam ivan yang masih di dengar alvin namun alvin tak memperdulikan nya.
meladeni ivan akan memakan banyak waktu, ivan hanya bisa matk kutu jika sudah berada di kantor.
pasangan suami istri (pasutri) itu pergi meninggalkan ivan sendiri di kolam renang..
"dasar anak jaman now yah, bercinta kok di kolam, geli jadi nya gua masuk kolam ini, mending gak usah mandi ah gua, iiiiiihh ", gumam ivan sambil melangkah menuju sebuah kursi panjang di tepi kolam dan berbaring menatap gelap nya malam itu.
dikamar, alvin mengeringkan rambut sang istri dengan pengering rambut.
"yang kamu kenapa diam? apa kamu sakit yang?", alvin bertanya pada sang istri yang tak berbicara sejak tadi.
namun yang di tanyapun tak mengeluarkan suara nya dan hanya menggelengkan kepala nya.
"ayolah yang, bicara, ada masalah?", tanya alvin lagi.
"emhh, maaf yang, aku mau nanya, kog beda yah pak ivan di kantor dan di rumah?", dian akhir nya bertanya tentang apa yang menjadi beban di hati nya dalam beberapa waktu terakhir tentang ivan yang berada di dalam keluarga itu.
"ohhh si badak itu, maksud nya sikap nya?", kata alvin meyakin kan apa yang menjadi pertanyaan sang istri.
"iy..iya yang", jawab dian terbata dan ragu
"si badak itu sebenar nya sepupu ku, tante delvi mama nya ivan adalah adik dari mama sinta. dan papa nya om ron adalah teman bisnis papa dulu mereka meninggal dalam kecelakaan pesawat saat mau perjalanan bisnis ke jerman, bersyukur saat itu si badak itu di titipin ke mama sama papa, dan sejak saat itu si badak tinggalah dengan kita disini, tetapi sejak aku dan si badak ivan itu masuk SMA, dia kadang ke apartemen, kadang juga tidur di rumah. dan ppa sama mma menganggap nya seperti anak kandung, gitu cetita nya. sebenar nya masih banyak sih, tapi males lah aku kalau inget nama nya ivan itu, pusing pala aku yang", kata alvin menerangkan siapa ivan bagi keluarga itu
"lalu kenapa selama ini pak ivan selalu bicara formal di kantor, beda jauh loh dengan di rumah", dian masih bingung rupa nya.
"di kantorkan dia asisten ku yang, yah jadi harus seperti itu, dan bahkan tak ada yang pernah tau jika kita lagi berdua di ruangan kerja, ivan selalu bertengkar dengan ku, kan di ruangan ku kedap suara, jadi dia berkelakuan sesuka nya saja dan di luar kantorpun kita selalu bertengkar jika berdua saja", kata alvin menjelaskan
"oh gitu yang, lalu kenapa yah pak ivan manggil papa dan mma itu jadi tante dan om? dan kadang aneh loh aku denger nya. masih bingung aku yang", pikir dian lagi sambil mengerutkan kening nya karena belum memahami nya.
"ohh jadi gitu yang, gak sopan aja manggilnya ivan yang", kata dian
"panggil aja ivan, jangan pak ivan. okey??", kata alvin sambil mencubit ujung hidung sang istri lalu mengacak rambut dian
"heheh baiklah, oh yah, apaboleh aku meminta sesuatu yang?", kata dian
"boleh, apa itu?", kata alvin
"hemm, gak jadi deh", jawab dian lalu berdiri melangkah menuju tempat tidur
"ayolah yang, ada apa? hem", alvin phn menyusul sang istri lalu duduk di samping nya di sisi tempat tidur.
"tapi jangan di marahi yah?", dian bernegoisasi pada sang suami
"iaa tapi apa dulu permintaan nya yang", jawab ivan sanbil merangkul pinggul sang istri
"janji gaka marah kan yang?", dian masih ragu jika nanti nya akan di marahi sang suami
"apa dulu dong yang, bicaralah, janji gak akan marah", sambil tersenyum pada sang istri
dian menatap mata sang suami mencari celah, apa kah ada memarahan disana, ternya tidak ia temukan
"gini yang, akukan sendiri di rumah tiapkali kamu kerja, apa boleh aku kerja juga yang? boleh ya?", kata dian sambil mengatupkan kedua tangan nya di dada memohon agar sang suami mengijini nya bekerja
"gak boleh", jawab alvin melepas rangkulan sang istri lalu mengambil posisi tidur membelakangi dian
"ayolah yang", dian masih tetap merayi sang suami sambil menggoyang bahu alvin yang membelakangi nya.
"gak, tidurlah sekarang atau kamu mau aku menciumi mu agar bisa tidur?", alvin mengancam sang istri agar tidak merengek meminta untuk bekerja lagi
dian yang takut dengan ancaman itupun berdigik ngeri sambil membayangkan kembali yang terjadi di kolam hingga ketahuan ivan
"apa aku harus berdiam diri di rumah terus? sampaikapan? astaga", batin dian
"kamu di rumah aja, aku takut jika kamu bekerja, akan banyak kelaki yang melihat mu, di lihat ivan si badak laut itu aja aku ogah..!", batin alvin
.
.
.
hay guys jangan lupa dong di vote..
makasih
god bless 😇