My First Love

My First Love
Rasa kesal Joy berlanjut



"Ini sudah malam. Jika kamu mau pergi. Besok kamu bisa pergi. Dan lebih baik sekarang kamu pulang." ucap Joy, memejamkan matanya, sedikit mendongakkan krpalanya, ia mencoba melawan rasa benci dalam dirinya. Merasa lega, Joy melangkahkan kakinya mendekati Alana.


"Gak, dia sudah mengusir aku juga." ucap Alana.


"Aku memang benci dengan kamu tapi aku juga gak bakalan tega jika melihat kamu tengah malam keluar sendiri. Kamu bisa tidur di kamar aku. Dan aku akan tidur di ruang tamu," ucap Joy, memegang tangan Alana tanpa banyak tanya dan menunggu persetujuan dari Alana. Dia menarik tangan Alana untuk kembali ke rumah.


"Aw---" rintih Alana, namun Joy masih yak perdulikan itu. Ia seakan menulikan pendengarannya.


"Masuklah!! Jangan amin pergi sendiri. Tidak ada yang menyuruh kamu pergi dari rumah. Jika kamu gak mau tidur di kamar aku. Kamu bisa tidur di ruang tamu." ucap Joy, mendorong tubuh Alan masuk ke dalam, hingga tepat dalam dekapan David.


"Apa yang kamu lakukan? Kenapa kamu kasar pada wanita." umpat kesal David, menatap tajam ke arah Joy.


"Apa yang aku lakukan tidak seberapa dengan apa yang di lakukan ibunya pada keluargaku. sampai membuat mama aku sakit dan drop. Jika sampai mama aku kenapa-napa aku gak akan pernah memaafkan dia, dan ibunya," ucap Joy menunjuk ke arah Alana. Dan Cia yang berdiri di samping David hanya diam, menarik sudut bibirnya sinis, tersenyum tipis menatap ke arah Joy. Dai sangat mendukung apa yang di lakukan Joy pada Alana. Membuat hatinya sangat senang melihat pemandangan yang begitu menyegarkan bagi hati dan matanya.


Cia menatap sinis ke arah Alana, dengan ke dua tangan bersendekap. "Aku juga tidak akan memaafkan kamu orang yang pernah menghancurkan keluarga aku." ucap Cia.


"Tapi kenapa.kamu bawa dia masuk kembali ke rumah ini, Joy. Apa jangan-jangan kamu masih suka dengannya?" tanya Cia menatap ke arah Joy.


"Jika aku suka dengannya, kenapa aku marah sampai seperti itu padanya. Aku gak akan mengusir dia dulu. Sebelum dia merasakan gimana rasanya di sakiti. Kamu akan mendapatkan gimana rasanya tersakiti Alana." ucap Joy, menatap tajam ke arah David dan Alana.


"Aku gak akan biarkan dia tersakiti." saut David.


"Kamu siapa Alana, kamu gak berhak melindungi dia." ucap Cia, memegang tangan David, lalu menarik tangan Alan keluar dari dekapan David.


"Kamu wanita murahan. Miko pasti akan meninggalkanmu. Dan kamu akan menjadi wanita kesepian tak punya siapa-siapa lagi. Pacar kamu yang dulu ngejar-ngejar kamu saja sadar gimana kelakuan kamu." ucap Cia, tersenyum sinis.


"Apa yang kamu katakan, Cia. Jangan suka melukai hati orang lain." ucap David, menatap tak suka pada Cia.


"Kenapa aku hanya melindungi kamu dari wanita berbahaya seperti ini,"


"Dia gak bahaya!!"


"Dia sangat berbahaya. Apa kamu gak tahu, jika dia pernah tidur dengan aku. Bahkan tubuhnya saja tidak suci lagi. Aku pernah menciumnya berkali-kali. Dan dia tanpa menolak sama sekali. Berbeda dengan dia yang terlihat cuek tak banyak bicara tapi dia memang murahan!!" sambung Joy. Membuat Alan hanya diam menundukkan kepalanya malu. ia memegang jemari tangannya sendiri, meremas jari-jarinya.


"Udah, jangan di teruskan lagi. Aku vapek, kalau memang kalian kamu mau sakiti aku. Maka aku akan menerimanya. Sekarang aku akan tidur, di ruang yamu," ucap Alana, berjalan dengan kaki pincang menuju ke ruang gamu, sementara David hanya diam, ia tidak percaya dengan apa yang di katakan Joy. Ia mengira jika Alan memang tidak suci sebelumnya. Karena ia sudah tahu ciri-ciri gimana wanita yang masih virgin atau tidak. Dan David tahu sejak awal. Tapi ia tidak tahu dia berbuat dengan siapa saja, dia punya pacar saja melakukan itu dengan kakaknya sendiri. Tanpa memperdulikan pacarnya. Itu yang tidak ia sangka. Membuat David semakin ilfil dengannya.


"Kamu tahu sendiri sekarang gimana dia. Lagian dia belum tahu juga melakukan itu degan siapa.saja. Dan dulu juga dia suka dengan laki-laki sebelum pacaran dengan Miko. Aku yakin pasti dia juga melakukan itu dengan laki-laki itu,"


"Joy kamu mau kemana?" tanya Cia menatap ke arah Joy yang hanya diam melangkahkan kakunya pergi.


"Tidur!!" jawab jutek Joy. Ia melirik sekilas ke arah ruang tamu, melihat Alana yang berbaring di sifa dengan tubuh yang terlihat menggigil kedinginan. Merasa tidak tega melihat Alana seperti itu, ia kembali menatap ke arah Cia yang sedang berbincang dengan David di depan tak jauh dari kamarnya.


"Maaf!!" ucap Joy, beranjak masuk ke dalam kamarnya. Ia menyandarkan tubuhnya di balik pintu, dengan kepala mendongak ke atas. Menghela napasnya panjang. "Apa yang aku lajukan ini yang terbaik buat kamu. Aku tidak akan pernah memaafkan kamu Alana. Tapi kamu masih aku cinyai, aku masih cinta dengan kamu. Aku gak bisa melupakan kamu. tapi di sisi lain kamu orang yang membuat keluarga aku hancur. Hanya karena ibu kamu, ku merasa sangat kesal dengan kamu," gerutu Joy dalam hatinya, dengan ke dua tangan mengepal lalu memukulkan ke pintu pelan.


"Aku gak bisa terus seperti ini. Biarkan saja dia!!" gerutu Joy, melangkahkan kakinya, lalu membaringkan tubuhnya di atas ranjang.


-----


Sedangkan Alana masih berbaring di sofa, ia mencoba memejamkan matanya dari tadi, ia tak ingin mengingat semua masalah yang ada. Yang ada dalam pikirannya sekarang segera menemukan kopernya. Lalu pergi mencari ibunya. Pikirannya selalu eringat tentang ibunta, membuat dia terlelap sangat pulas, namun tubuhnya terus menggigil kedinginan.


"Cia aku mau tidur dulu, kamu cepat tidur sana. Ingat jangan seperti itu lagi. Kasihan Alana." ucap David, mengusap ujung kepala Cia.


"Tapi kenapa kamu membela dia?" tanya Cia kesal mengerutkan bibirnya.


"Aku tidak membela dia. Aku hanya tidak.mau kamu jadi orang jahat. Aku suka kamu sebagai Cia yang ceria. Seperti pertama aku kenal kamu, itu duku yang membuat aku ingin dekat dengan kamu dan ingin sekali berteman dengan kamu!!" jawab David, sembari melirik ke arah Alana yang semakin kedinginan.


"Baiklah, aku tidur dulu. Kamu juga tidur, ya. jangan tidur malam-malam. Nanti kamu sakit, kamu jaga kesehatan. gak boleh sampai sakit." ucap Cia, memegang tangan david, lalu melepaskannya melangkahkan kakinya dengan senyum lebar terukir di bibirnya, ia melangkahkan kakinya pergi meninggalkan David.


David segera masuk ke dalam.kamarnya di lantai dua, ia mengambil selimut untuk Alana. meski dia merasa sudah mulai ilfil dengannya tapi dia tidak membenci dia. Karena Alana tidak ada masalah dengannya. Dua hari bersamanya juga terasa sangat nyaman tidak sama sekali membuat masalah. Dia begitu asik meski sangat jutek dengannya.


Setelah mengambil selimut David menuruni anak tangga menuju ke sofa ruang tamu, memakaikan selimut tebal di gubuhnya, di sisi lain Joy yang baru saja membuka pintunya dengan selimut di tangannya, ia mengurungkan niatnya untuk memberikan selimut itu pada Alana saat melihat David yang sudah lebih dulu memakaikan selimut untuknya.


Ia menutup kembali pintunya, laku membuang selimutnya ke lantai dengan perasaan kesal. "Apa hubungan dia dengan David, apa sekarang dia dekat dengannya," umpat kesal Joy, dengan tangan mengepal sangat erat penuh emosi.


"Arrgggg... Dasar wanita murahan!!" Joy memukulkan tangannya di tembok membuat darah segar keluar dari punggung tangannya.


"Kamu yang memulai lebih dulu, Alana. Maka jangan salahkan aku jika suatu saat aku akan membalas semua perbuatan kamu lebih kejam dari ini. Aku tidak akan pernah memaafkan kamu Alana.


------


"David mengusap wajah Alana, yang terlihat sudah sangat pucat. "Sepertinya dia akan sakit, lebih baik aku bawa dia ke kamar aku. Aku bisa tidur di kaur!!" ucap David, mengangkat tubuh Alana, ia segera membawa Alana berjalan menuju ke kamarnya, membaringkan tubuhnya di ranjang miliknya.


Dari dulu ranjang miliknya tidak suka ada yang memakainya. meskipun saudaranya sendiri saja tidak ia diperbolehkan berbaring di ranjangnya kecuali dia. Itu adalah kamar kesayangannya. Karena itu kamar ibunya dulu. Waktu dia masih ada, sekarang semuanya sudah berlalu, dan semua harta orang tuanya dan rumah yang dia tempati sekarang di serahkan pada Ian. Pamannya yang kini jadi orang tua angkatnya.