
Alana melihat joy sudah pergi menjauh dari kamarnya. Ia segera membaringkan tubuhnya di ranjang. Dengan pandangan menatap ke atap langit kamarnya.
Matanya masih susah untuk terpejam. Tapi, Alana tidak mau terus-terusan memikirkan hal itu. Ia ingin tidur lelap melupakan semuanya sebentar.
Apa yang aku rasakan ini. Apa akujuga sudah gila merasakan perasaan ini pada kakak aku sendiri. Kenapa. hati aku tidak jauh para orang lain. Dan bukannya aku suka dangan kak Adrian. Ttetapi saat dengan kak Joy, aku merasa malu, gugup, dan jantung terasa berdetak sangat hebat. Pikir Alana.
Ia tersenyum tipis, dan mulai memejamkan matanya perlahan. Hingga ia bisa tertidur lelap, melupakan perasaan yang ada dalam pikirannya saat ini.
-----
Keesokan harinya.
pemandangan kota masih sama, terlihat sangat indah, dengan nuansa desa yang membuat udara di kita utu masib terlihat sejuk.
Matahari sudah menampakkan sinarnya, burung berkicauan tepat di atap rumah. Dan ada yang bersandar di pepohonan samping kamar Alana.
gadis itu, perlahan membuka matanya, melihat jam backer di meja, menunjukan pukul enam lebih seperempat. Alana seketika, menarik selimutnya, meloncat bangun dari ranjangnya.
"Aaaa.... Aku kesiangan!!" teriak Alana.
"Kenapa bisa aku kesiangan sih, gak seperti biasanya. aku gak pernah bangun siang, meski baru saja tidur dua jam." gumam Alana. "Apa karena aku terlalu banyak pikiran ya" batin Alana, yang. Langsung beranjak dari Ranjangnya
Alana segera berlari masuk ke dalam kamar mandi. membasuh tubuhnya secepat mungkin. Selesai mandi, Alana segera memakai seragam, menyiapkan semua buku pelajaran yang akan ia bawa.
Tok.. Tok.. Tok..
"Siapa?" tanya Alana, yang tidak terlalu perdulikan ketukan pintu itu, ia fokus menyiapkan bukunya. bahkan, dasinya masih menggantung di lehernya. belum terpakai rapi di lehernya. apasama sekali.
Tangan ke dia tangannya kesha menyentuhnya.
"Alana ini aku Cia, kamu sudah siap belum Di tunggu Miko di depan tu" ucap Cia.
Kak Cia, kok tumben bukan Kak Joy, apa benar dia memang mau menjauhiku. Pikir Alana. Menghentikan kegiatannya lebih dulu.
"Iya, kak, Bentar!!" ucap Alana, duduk di ranjang. Dna segera memakai sepatunya.
"Pemisi non, apa non Alana sudha keluar. "
"Eh.. Bi Ijah, sudah balik pulang kampungnya kemarin" ucap Cia.
"Sudah non!!" ucap bi Ijah, pembantu yang memang khusus merawat anak-anak.
"Ya, sudah bini suruh Alana cepat keluar ya. di tunggu temannya di luar. Dan bilang jangan lama-lama. Aku dan Joy mau berangkat lebih dulu bi, dan bekal buat Alana, nanti bawakan juga. Jangan lupa!!" ucap Cia, memberikan detail apa yang harus di lakukan bi Ijah nantinya.
"Oya, bi. Bilang sama Alana. Kalau mama dan ya g lainnya sedang keluar. jadi gak ada sarapan." oceh Cia tidak ada hentinya, membuat bi Ijah hanya diam menganggukan kepalanya.
Ia hanya bisa menuruti apa kata Nona Cia yang biasa ia rawat dari kecil. Bahkan semua anak Keyla sudah di anggap seperti anaknya sendiri.
"Iya, Non. Kalian hati-hati ya non!!" ucap bi Ijah.
"Iya bi." Alana segeta berlari menuruni anak tangga.
----
"Non, apa belum selesai" tanya Bi Ijah.
Alana segera keluar dari kamarnya. dengan baju yang sudah terlihat sangat rapi, dan tadi semua sudah ada di badannya.
Bi ijah menatap ujung kaki Alana sampai ke kepalanya.
"Bi Ijah, ada apa? Kenapa menatapku seperti itu?" tanya Alana heran.
Bi Ijah tertawa. "Non, Alana lucu. Lihat non, sekarang ikut bibi turun. Aku ambilkan sisir. Dan sekalian bibi siapkan bekal untuk non alana" ucap bi Ijah.
Alana memegang keoalanya, ia merasa jika rambutnya masih acak-acakkan.
"Oo.. iya bi aku belum menyisir rambut." Ucap Alana, membalikkan badanya. "Gimana bisa aku lupa menyisir rambut" gumam Alana.
Bi Ijah, berjalan masuk ke dalam kamar Alana, membantunya menyisir rambut hitam, lurus, sepunggung milik Alana.
"Oya, Bi Ijah. Kapan balik ke sini, kok Alana gak tahu?" tanya Alana.
"Mereka berangkat duluan bi?" tanya Alana memastikan.
"Iya, Non. " ucap bi Ijah.
Benar kak Joy memang mau menjauhi aku. Bahkan dia tidak menyapaku pagi ini. Batin Alana.
"Sudah selesai non, sekarang non cepat berangkat. sudah di tunggu teman non di depan" ucap Bi Ijah, yang langsung bergegas turun mengambilkan bekal Alana.
"Ini, Non. Bekalnya" ucap Bi Ijah.
"Iya, Bi. Aku berangkat dulu" ucap Alana. Berlari keluar menemui Miko yang sudah menunggunya lama dari tadi.
Miko yang sudah di atas montornya, ia mengulurkan helm pada Alana.
"Kamu, lama nunggu ya!!" ucap Alana, yang langsung menerima helm dari Miko. lalu memakainya.
"Sini, biar aku bantu" ucap Miko.
Alana, segera naik ke montor Miko. "Cepat naik,"
Melihat Alana sudah naik, Alana melesat dengan kecepatan tinggi. Sebelum mereka terlambat nantinya.
tak lama mereka sampai di sekolahan. Alana tanpa bilang makasih, ia melepaskan helmnya. dan bergegas pergi, berlari menuju ke kelasnya.
Joy melihat Alana, ia hanya diam tanpa menyapanya, dan seakana bertingkah seolah, seperti tidak melihat ada Alana yang melintas di sampingnya.
"Ternyata kak Joy, memang benar, dia ingin menjauhiku. Kalau seperti itu baiklah. Tapi... kenapa aku masih merasa aneh.. aku seakan tidak terima jika Kak Joy menjauh.
Alana bergegas pergi masuk ke kelasnya tanpa perdulikan Joy. Yang memanng dari tadi mengabaikannya.
-----
Hari sudah mulai sore, seharian Alana bersama dengan Mikk dan Cia bahkan saat istirahat. Ia tidak melihat Jog sama sekali, membuatnya bingung, harus gimana lagi. Joy benar-benar menghindariku.
Jarum jam sudah menunjukan pukul setengah empat sore.
Bel pulang menggema ke seluruh penjuri sekolahan.
Alana segera bersiap membereskan bukunya. Ia beranjak keluar dari kelasnya, dan sudah di sambut kakanya Cia berdiri di depan pintu kelasnya.
"Cai ikut aku ya" ucap Cia, menarik tangan Alana, membuat adiknya itu heran.
"Kemana kak?" tanya Alana.
"Ke toko buku. Aku mau beli canfas sama alat lukis." ucap Cia.
Alana mengerutkan keningnya, mendengar kakaknya yang mau beli peralatan lukis. "Kak, sejak kapan kak Cia suka melukis?" tanya Alana bingung.
"Sejak hari ini, dan aku mulai nanti akan belajar melukis" ucap Cia dengan senyum senangnya.
"Dengan siapa kak? Apa kakak nyewa guru buat ajari melukis?" tanya Alana, semakin penasaran. Mereka terus berjalan, hingga sampai tepat di depan mobil jemputan mereka yang sudah menunggu di depan.
"David, dia yang akan jadi guru aku nanti" ucap Cia, masuk ke dalam mobilnya.
"David, jadi kalian dekat nih.. Cyee.. Kak Cia sudah dapat gebetan nih, sudah sekian lama menjomblo." ucap Alana menggoda.
Ia melirik mobilnya, tidak ada Joy di dalam.
"Oya, aku gak melihat kak Joy sama sekali. Kemana dia?" tanya Alana.
"Joy pulang duluan. Dia gak mau aku ajak beli peralatan lukis" ucap Cia.
"Udah pak ayo pergi" ucap Cia menepuk bahu sopirnya.
----
Selesai belanja peralatan lukis semuanya, Mereka bergegas pulang. Dan Cia langsung berlari menemui David. Sedangkan Alana berjalan di belakang Cia jauh. Ia menatap Joy yang masih duduk di sofa sibuk dengan ponsel barunya.
Bahkan ia tidak melirik sama sekali arah Alana, yang berjalan masuk ke rumah.