
"Baik, aku mandi dulu. Setelah itu kamu bawa lukisan itu ke kamarku ya" ucap Cia.
"Iya, Siap"
David meraih lengan Cia. Membuat Cia menoleh seketika, menatap ke arahnya. Dengan gerakan kecil kepalanya ke kanan dan kiri.
"Kenapa kemu menatapku seperti itu?" tanya Cia.
"Emmm.. aku hanya ingin tanya" jawab David gugup.
"Tanya apa?"
"Hari ini kamu gak keluar?" tanya David, membuat Cia mengerutkan keningnya seketika.
"Keluar, kemana?" tanya Cia.
"Ya, aku gak tahu. Siapa tahu kamu mau jalan-jalan, di luar nanti" ucap David.
"Gimana kalau kota pergi ke cefe," ucap David.
"Emmm.. Gimana ya.. Aku pikir-pikir dulu, ya. Nanti aku kasih jawaban" Cia berlari penuh rasa bahagia meluap-luap pada diri ya.
Langkahnya terhenti saat melihat seseorang di depannya dengan wajah yang terus menunduk.
"Alana, Joy. Kamu dari mana?" tanya Cia, menatap aneh pada mereka berdua. Yang terlihat menunduk, dengan wajah terlihat muram, sehabis menangis.
"Tadi habis bicara sama mama dan papa," ucap Alana, mencoba untuk tersenyum.
"Oo.. tetang apa?" tanya Cia semakin penasaran.
"Udah, deh jangan urusin kita. Lebih baik sekarang oergi. Urusin itu pacar kamu." ucap Joy.
"Kenapa kamu jadi nyolot sih Joy, lagian kenapa bilang begitu sama aku. Aku tanya baik-baik, kalau gak mau jawab gak usah nyolot deh" bentak Cia semakin keninggikan suaranya dengan nada kesalnya.
"Udah-udah, kak. jangan berantem turus. aku mau ke kamar dulu. Jadi sekarang lebih baik kalian pergi" ucap Alana.
"Baiklah, aku akan pergi sekarang" ucap Cia, yang amsih kesal dengan Joy, ia melirik tajam ke arahnya. menghentakkan kakinya melangkah pergi dari hadapan Joy dan Alana.
Joy masuh berdiri di depan Alana. Menatap kesal ke arah Cia di depannya. "Kenaoa dia marah?" tanya Joy.
"Lagian kak Joy yang memancing kemarahan kak Cia" ucap Alana, melangkahkan kakinya. Berjalan masuk ke dalam kamarnya, lalu menutup pintunya tanpa banyak bicara lagi pada Joy.
Joy melangkahkan kakainya masuk ke dalam kamar ia masih belum bisa menyangka tentang apa yang ia dengar tadi. Benar-benar membaut ia belum bisa mengetahui kenyataan yang sebenarnya. Meski dalam hatinya ia merasa sangat senang dengan kenyataan jika Alana bukan adik kandungnya. Tapi itu belum melegakan pikirannya, apalagi Alana anak dari papanya beda ibu.
Ia ingin marah, tapi marah dengan siapa. Dengan papanya. Tapi ia tidak bisa, dan entah kenapa mamanya begitu mudah memaafkan papanya, yang jelas-jelas dia sangat menyakiti hatinya. Cinta mamanya membuat ia kagum, dan terpikir apa ada wanita yang bisa setangguh hati mamanya, yang rela tersakiti.
Tok.. Tok.. Tok..
"Joy kamu di dalam?" suara lembut seorang wanita membuat Joy tersadar dari lamunannya.
"Siapa?" tanya Joy, bergegas duduk.
"Aku Amera,"
"OHH.. iya bentar" ucap Joy, beranjak berdiri, melangkahkan kakinya membuka pintu kamarnya.
"Ada apa?" tanya Joy, dengan tangan memegang pintu.
"Kamu ada acara hari ini?" tanya Amera ragu.
"Gak ada, emangnya kenapa?" tanya Joy, menatap ke arah Amera.
"Aku mau ajak kamu keluar, soalnya tadi Cia dan David ajak aku pergi ke cafe. Gimana kalau kita ikut dengan mereka?"
"Maaf, aku gak bisa. Kamu tahu sendiri aku dan Cia lagi marahan. Dan aku juga masih gak bisa di ganggu hari ini. Jadi lain kali saja ya" ucap Joy, tersenyum. mengusap lembut ujung kepala Amera, membuat wajahnya seketika tersipu malu.
"Baik, lain waktu kamu temani aku ya" ucap Amera.
"Pasti aku akan temani kamu" gumam Joy.
Sekarang kamu balik saja ke kamar, nanti aku bisa hubungi kamu." ucap Joy, seketika membuat Amera tambah berbunga-bunga.
"Apa benar yang kamu katakan?" tanya Amera memastikan.
"Iya,"
Joy melangkahkan kakinya menuju ke balkon kamarnya. Menatap pemandangan indah malam hari yang kini langit nampak bersahabat.
"Hachuuu..."
Joy seketika menoleh, melirik sekilas ke arah sumber suara. Ia melihat Alana yangvternayat duduk di atas balkin kemarnya dengan ke dua mata tertuju pada buku di depannya. Dan beberapa botol minuman di atas meja menemani dia yang sibuk belajar.
"Alana!!" panggil Joy, seketika membuat Alana menatap ke depan.
"Iya," ucap Alana datar.
"Kamu lagi apa?" tanya Joy, melangkahkan kakinya, menuju ke balkon kamar Alana.
"Aku boleh duduk di sini?" tanya Joy, yang langsung duduk di depan Alana, tanpa menunggu persetujuan Alana lebuh dulu.
"Iya," jawab Alana, tanpa kemandang ke arah Joy.
Joy hanya diam, entah kenapa ia merasa sangat gugup kali ini dekat dengan Alana. Apaalgi saat dia tahu siapa Alana.
"Kenapa kamu santai saja saat kamu tahu semuanya?" tanya Joy, menciba menghialngakn rasa canggungnya.
"Terus apa lagi yang di pikirkan. Aku sudah tabu alam, dan perlahan aku sudah meuluoakan itu semua. itu masa lalu? jadi aku gak berhak marah dengan mereka." ucap Alana, menutup bukunya, lalu meletakkan di atas meja.
"Tapi kamu dan aku.." ucap Joy
"Nih.. Minumlah" Alana mengulurkan satu botol minuman dingin ke arah Joy. Dan beranjak berdiri.
"Pemandangan hari ini sangat indah" ucap Alana, menatap ke langit yang di penuhi bintang malam.
Joy beranjak berdiri di samping Alana. "Bintang itu sama seperti kamu, kamu juga sangat indah hari ini. Bahkan kamu terlihat lebih indah dari pada bintang" ucap Joy, membuat Alana, menatap ke arahnya. Ke dua mata mereka saling tertuju.
"Kenapa wajah kamu serius gitu," ucap Joy, mencubit hidung Alana.
"sakit kak" ucap Alana manja, membuat Joy semakin gemas di buatnya. Ia mendekatkan wajahnya, mengusap hidung Alana. Hembusan napas mereka saling berpacu cepat.
Alana, kamu sangat cantik. Aku ingin kamu jadi milikku. Tapi aku gak bisa memilikimu. Apa mungkin ini takdir aku hanya untuk sekedar menganggumi. Batin Joy, memegang pipi Alana, mengusapnya lembut dengan mata tak berhenti memadang wajahnya.
"Kak, kamu gak apa-apa?" tanya Alana.
"Ehh.. Iya, Na." ucap Joy, tersadar dari lamunannya.
"Kak, kenapa memandangku seperti itu?" ucap Alana bingung.
Joy hanya diam dengan tangan masih memegang pipi Alana.
"Na, kenapa kamu kamu memaafkan kakak kamu yang bejat ini. Kakak sudah menodai kamu. merenggut kesucian kamu dengan memanfaatkan keadaan kamu" ucap Joy.
"Aku ingin marah dengan kak Joy. Tapi entah kenapa aku gak bisa, dan biarkan semua terjadi. Asalkan tidak terjadi sesuatu nantinya padaku. Lagian aku yakin kak Joy juga tidak bermaksud, pasti kak joy bingung kerena tubuhku semakin dingin waktu itu" ucap Alana, memegang tangan Joy lembit.
"Na, aku boleh minta satu permintaan terakhir," ucap Joy.
"Permintaan apa?" tanya Alana.
"Aku janji akan melupaka perasaanku ini, tapi setidaknya apa aku boleh mrnciumu" ucap Joy, yang tidak bisa menhanan inginnya melihat bibir tipis Alana. Ia memegang bibirnya lembut, dengan jemari terus mengusapnya.
"Maaf, aku gak bisa kak." ucap Alana, menundukkan kepalanya.
"Joyn memegang rahang Alana, mendongakkan keoakanya ke atas. tanpa banyak bicara ia mengecup lembut bibir Alana. Alana terus meronta memukul dada Joy, namun Joy memegang tangan Alana, denganbtangan kanan memegang pinggang Alana, semakin mendekatkan dalam dekapan tubuhnya.
Alana yang semula meronta, perlahan ia mulai luluh. Merasakan bibir Joy yang semakin dalam. Ia merasakan sesuatu yang berbeda. Tangan yang semula merinta, perlahan ia mulai melemaskan tangannya.
Joy, yang sadar Alana sudah menerima kecupannya. Ia memegang ke dua pinggang mungil Alana. Merengkuh erat tubuh mungil Alana dalam dekapan hangat tubuhnya.
"Kak Joy, apa yang kamy lakukan" yetiak Cia, dari bawah membuat Alana dan joy mengakhiri kecupan mesranya.
"Kak Cia!!" ucap Alana, yang langsung berjalan mundur menjauh dari Joy.
"Kenapa, emangnya aku salah?" tanya Joy.
"Dasar kalian gak tahu diri ya, kalian adik kakak, kenapa kaluan malah melukan hal mrnjinjikan itu." ucap kesal Cia.
Alana segera masuk ke dalam kamarya, ia menutup rapat pintu balkon. dan duduk di ranjanganya tanpa mendengarkan aoa yang di katakan oleh Cia. Dan begitu juga dengan Joy, ia melompat ke balkon kamarnya dan segera masuk ke kamarnya. Ia tidak mau mendengar celoteh kakaknya lagi. Yang hanya membuat telinganya merasa sangat gerah.