My First Love

My First Love
Alvin dan Silvia



"Kita sudah sampai!!" ucap Silvia, bergegas turun menikmati indahnya jembatan Harbaour di sore hari.


"Alvin beranjak turun, melihat indahnya jembatan itu. Dengan pamndangan indah pantai, dan banyak kapal yang melintas. "Kamu suka di sini?" tanya Alvin, menatap Silvia, yang menikmati pemandangan mengulurkan ke dua tanganya ke samping, dengan mata terpejam. 


"Iya, aku suka di sini. Saat pikiran aku benar-benar penat. Saat aku dalam masalah, aku selalu meluapkan smeua amarah aku di sini." ucap Silvia, membuka matanya, menoleh ke arah Alvin. 


"Iya, di sini sangat indah. Tapi akan lebih indah lagi, jika kita naik kapal." ucap Alvin, yang segera berlari, menyewa kapal khusus untuk berdua dengan Silvia. 


"Alvin! Kamu mau kemana?" teriak Silvia, mencoba untuk mencegah, namun Alvin sudha berlari menjauh darinya. 


Padahal aku tidak berharap dekat dengan kamu, Tapi kenapa semua berubah. Waktu berputar begitu cepat. Dulu kamu yang sangat mencintai istri kamu, setiap detik tak berhenti menatap foto istri kamu di kantor. Sekarang kamu di sini.


"Via!!" panggil Alvin, mengelurkan tanganya ke arah Silvia. 


"Maksudnya apa?" tanya Silvia. 


Alvin memberi kode dengan matanya, agar Silvia mau menerima uluran tangannya. 


Alvin menghela napasnya, ia memegang lengan Silvia, menariknya segera pergi menuju kapal yang sudah di siapkan khusus untuknya. "Ikut aku!! Aku ingin menikmati suasana di pantai ini, melihat jembatan Harbaour.


"Silvia!! Maaf, ku memaksa kamu, lagian aku tidak ada cara lain, selaian pergi bersamamu," ucap Alvin, memegang tangan Silvia, menuntunya untuk naik kenatas kapal. 


"Jalankan!!" pinta Alvin. 


"Kenapa kamu ajak aku, dan kenapa kamu tidak bawa Alana sekalian," 


Alvin hanya diam, berdiri di ujung kapal, menikmati angin yang semakin menghembus langsung ke tubuhnya. 


Ia tersenyum, membayangkan apa yang sudha terjadi dalam hidupnya. 


"Maaf, jika karena masalah keluarga kamu di sini. Lebih baik kamu selesaikan dulu dengan kepala dingin, dengarkan penjelasan dia, jangan sampai kamu menyesal kemudian hari." ucap Silvia, malngkahkan kakinya mendekati Alvin. 


"Apa lagi yang perlu di jelaskan, semua sudha jelas. Dan dia berselingkuh."


"Memangnya kamu taji, siapa selingkuhannya. Dan apa yang menjadi dasar dia selingkuh. Aku tidak mau terlibat dalam masalah kamu." Silvia berdiri di samping Alvin. 


"Tenang, aku tidak akan melibatkanmu."


"Kamu memang tidak melibatkanku. Tapi kamu sama saja melibatkan Alana. Dia pasti kena dampaknya tidak sekarang. Mungkin kelak dia akan menderita gara-gara kamu. Kamu yang memulai sebuah permusuhan antara saudara nantinya." jelas Silvia, melirik sekilas ke arah Alvin, yang hanya diam berdiri di sampingnya. 


Alvin memuar otaknya, menciba menimang-nimang apa yang di katakan Silvia. 


"Memang ada benarnya apa yang di katakan Silvia, jika ada orang yang melihat semuanya. Pasti mereka akan salah paham, dan marah terhadap Alana. Tapi sekarang Alana tidak di rumah, aku yakin dia pasti sekarang di Inggris. Aku akan bawa dia ke sana nanti. Agar bisa hidup dengan tenang bersama Alana." pikir Alvin dalam hatinya, menarik dua sudut bibirnya, membentuk sebuah senyuman tipis. 


"Aku harap kamu pikirkan lagi. Jika mereka semua menyalahkan Alana penyebab kalian bercerai, pasti anak kamu akan membenci Alana." ucap Silvia. 


"Iya, aku tahu. Tapi sekarang aku bisa tenang. Alana sudah di terima di University terkrnal di Inggris, bahkan terkenal di dunia. Dan aku yakin, karirnya kelak akan cemerlang. Dia tidak akan lagi membutuhkan aku dan saudara-saudaranya. Dia pasti bisa hidup mandiri." kata Alvin, membalikkan badanya ke kiri, memegang tangan Silvia. 


"Silvia, aku ingin bicara dengan kamu."


"Bicara apa?" Silvia mengernyitkan wajahnya, ia terlihat sangat aneh, saat Alvin memegang tangannya, ingin sekali ia memegangnya, hanya untuk menenangkan hatinya sejenak. Tapi dalam hatinya, dia juga takut jika terjadi salah paham dengannya.


"Ijinkan aku untuk bersama kamu hanya 2 hari. Aku janji tidak akan macam-macam dengan kamu. Aku hanya ingin menangkan hati aku saja. Aku berharap di sini bisa melupakan masa lalu aku." 


Aku bingung, harus bicara apa, apa aku harus menerima dia tinggal bersama aku. Atau biarkan dia mencari kehidupannya sendiri di luar sana. Aku gak mau dia terus bersama dengannya. Yang akan menimbulkan salah paham yang semakin parah nantinya.


"Gimana? Apa kamu ngebolehin aku ikut dengan kamu, tinggal satu haru saja, di rumah kamu!!" 


"Baiklah!!" Silvia melepaskan tangan Alvin, dan beranjak duduk dengan kakai menggelantunt, menatap pemandangan di depannya. 


"Apa aku boleh bilang sesuaru padamu!!" tanya Alvin, duduk di samping Silvia. 


"Bilabg saja, gak perlu minta ijin padaku." 


Alvin menatap wajah Silvia di depannya, laki-laki yang biasanya sangat cuek dan gak terlalu suka dengan Alvin, kini dia berubah pikiran dan mulai mau menatap wajah cantik Silvia, yang kini masih terlihat sangat muda. 


"Apa kamu tidak menikah? Kenapa aku tidak melihat suami kamu? Dan apa benar Alana anak aku," ucap Alvin, seketika membuat Silvia terdiam, tak berkutik. Ia menciut saat pertanyaan itu muncul di telinganya. 


Apa aku harus bilang yang sebenarnya. Atau biarkan saja dia tahu apa yang dia tahu selama ini. Tapi sepertinya lebih baik begitu tidak memberi tahunya dulu. 


"Kenapa kamu diam?" 


"Udah gak usah bahas tentang utu. Memangnya kamu gak percaya dengan apa yang aku ucapkan tadi pagi," 


"Percaya. Aku sangat percaya. Tapi kamu kenapa santai sekali? Seakan tidak terjadi apa-apa?" 


"Memangnya apa yang harus di pikirkan. Itu hanya masa lalu. karena bagi aku masa lalu hanyalah sebuah kenangan yang tak patut di ingat. Biarkan itu menjadi sebuah cobaan hidup aku."


"Kamu memang wanita yang beda. Tapi syang!! Aku kenal kamu sudah terlambat." gumam Alvin, dengan tangan mencoba memegang tangan Silvia di samlingnya. Wanita itu yang sadar langsung menarik tanganya, menyadarkan ke pinggiran kapal.


"Lihatlah pemandangan di depan!! Bukanya kamu ingin menikmati pemandangan ini?"


Alvin, menatap ke depan. Wajahnya terlihat sangat kecewa. Ia kesal Silvia selalu menghindarinya. Tapi baginya mungkin ini perjuangannya, untuk mencari kebahagiaan baru.


"Pemandangannya memang indah, tapi tak seindah wanita di samping aku!!" gumam Alvin.


"Maksud kamu apa? jangan berlebihan dengan aku. Aku gak mau kamu salah paham nantinya. Dan ingat jaga jarak denganku,"


Alvin mengusap pipi Silvia. "Tenang saja, aku akan selalu jaga jarak dengan kamu. Tapi kenapa kamu selalu salah oaham denganku. Aku memang mengungkapkan isi hati aku. Tapi jangan khawatir, aku tidak akan mendekati kamu," jelas Alvin, membuat Silvia bisa bernapas lega.


"Iya, aku harap begitu. Setelah ini, kamu cepatlah lulang, dan kembali pada Keyla. Tanya baik-baik padanya. Jangan samoai kamu bercetai hanya karena salah paham. Tapi jika kamu sudha menemukan bukti kuat, itu semua juga keputusan kamu. Aku gak mau di anggap perusak hubungan orang lain. Karena aku lebih suka hidup sendiri, lebih tenang dan damai. tanpa ada masalah yang mengganggu."


"Makanya sampai sekarang kamu gak mau menikah?" tanya Alvin, menoleh ke arah Silvia.


"Aku gak menikah, bagi aku belum ada yang cicok dengan hati aku. Semuanya hambar, tidak ada yang bisa membaut aku nyaman berada di sisinya. Dari apda aku terluka, lebih baik aku sendiri dulu. " jelas Silvia, menarik sudut bibirnya membentuk sebuah senyuman tipis.