My First Love

My First Love
Belajar renang



David Pov


"Kamu sudah siap?" tanya David. 


"Sudah, tapi aku ragu? Kolamnya dalam gak? Entar kalau aku gak ada gimana aku bisa cari ibu aku, terus kamu harus tanggung jawab kalau aku tenggelam nanti." Salsa melangkahkan kakinya berdiri di pinggiran kolam. 


"Gak usah pura-pura gak bisa renang. Pasti kamu bisa renang. Dan karena kamu ingin dekat denganku, makanya kamu pura-pura, kan?" ucap David.


David menjeburkan tubuh Alana langsung ke dalam kolam, dan. Byurrr....


Hap! Hap! Hap!


"Dav, David tolong aku!!" ucap Alana mencoba untuk tetap mengapung. Melambaikan yanganya ke atas. 


"Kamu beneran gak bisa renang beneran?" tanya Devid, yang mulai oanik, tanpa pikir panjang lagi melihat Alana yang hampir tenggelam, ia melompat ke dalam kolam, segera menolong Alana, menarik tangannya. 


"Ini itu gak dalam!!" ucap David, mencoba menampakkan kakinya, sembari terus merengkuh tubuh Alana. 


Alana mengusap wajahnya, merengkuh pundak David. "Kamu sengaja mendoronga ku?" decak kesal Alana. 


"Memang sedikit sengaja. Tapi gak masalah, setidaknya sekarang aku tahu kamu bohong gak. aku kira sama seperti wanita lain yang suka menggodaku," Devid menatap wajah Alana, dengan rambut yang sudah basah, wajahnya terlihat sangat cantik tanpa polesan make up sama sekali.


Alana menautkan ke dua alisnya, menatap aneh mata David yang tak berhenti memandangnya. "Kenapa.. Kamu terus menatapku seperti itu?" tanya Alana. 


David melepaskan tubuh Alana. "Sudah sekarang jangan banyak tanya lagi, mau belajar gak," ucap David. 


"Iya, tapi ingat kamu jangan menyentuh aku sembarangan," ancam Alana. 


"Aku gak ada niat sama sekali menyentuh kamu, udah diam! Dan tetaplah fokus," David mulai menunjukan gimana cara untuk berenang. Ia mempraktekkan dirinya untuk berenang lebih dulu memutari kolam selama satu kali. 


"Kamu bisa gaya apa?" tanya David, menampakkan kakinya di lantai dasar kolam, menatap wajah Alana. 


"Gaya batu!!" ucap tanpa berdosa Alana. 


David menghela napas kesalnya. "Iya gaya batu, terus nenggelamin diri kamu, biar aku selamatin kanu gitu?" tanya David, nencolek dagus Alana. 


"Ogah!!" ucap tegas Alana. 


David seketika menelan ludahnya. "Nih cewek bemar-benar berbeda, tapi lama-lama aku mulai tertarik dengannya. tapi bukan level aku dengan barang bekas." gumam David, menaeik sudut bibirnya, dengan senyum semringai penuh kelicikan.


Salsa mengibaskan tanganya tepat di wajah David. "Hello... Apa kamu masih sadar? Kenapa kamu menatapku seperti itu?" tanya Alana mendekatkan wajahnya. 


Devid menarik ujung biburnya, mencoba menyadarkan dirinya dari lamunannya. Ia kendekatakn wajahnya. "Jika kamu bernai menggodaku seperti itu, maka jangan slahakan aku." bisik David, wajahnya kini tiba-tiba terlihat sangat dingin, degan tatapan tajamnya. "Cepat belajar!!" bentak David. 


Nih orang gak kenapa-napa, kan. Tadi dia kesambet setan apa? Kenapa tiba-tiba berubah, lagian gak ada hujan, gak ada angin, tiba-tiba marah gak jelas denganku. Aneh nih orang. 


"Kenapa kamu masih menatapku, sekarang kamu diam. Dan pegang ke dua tanganku, ayunkan kaki kamu bergantian." ucap David, melangkahkan kakinya ke depan, memegang ke dua tangan Alana.


"Baiklah!!" ucap Alana, yang langsung menuruti setiap aba-aba dari David. Laki-laki itu mulai serius. Memberi pembelajaran renang pertama untuk Alana. 


Ia beranjak naik ke atas, mengambil handuk, yang memang sudah di siapkan oleh pelayan untuknya. "Cepat naiklah!!" pinta David duduk sambil meneguk jus yang ada id atas meja depannya.


Salsa menarik ujung bubirnya kesal, ia mwnatap tak suka pada David. "Oya, karena aku telah ajarkan kamu renang. Sekarang utang kita impas. Dan jangan nagih aku soal hutang kamu ke aku tentang tiket pesawat." 


"Tapi, kamu masih punya hutang ke aku?" decak kesal Alana.


"Hutang apa lagi?" tanya David tanpa menatap Alana.


"Tas... Sam..."


"Tuan, ada seseorang yang mencari tuan," ucap pelayan memotong cepat pembicaraan Alana, dengan berlari menghampiri David.


"Iya, siapa?" 


"Teman, tuan!!" ucap pelayan. 


"Baiklah, aku akan pergi sekarang!!"


"Kamu di sini dulu, usap rambut kamu yang basah. Dan kalau kamu mau ganti baju, silahkan ganti baju. Aku mau pergi," ucap David.


"Eh.. tapi..." Alana menciba mencegah David pergi. Namun, laki-laki itu hanya mengangkat tanganya ke atas senahu, memberi kode agar tidak banyak bicara lagi. ia terua melangkahkan kakinya pergi. 


"Sepertinya aku harus pergi!!" ucap Alana. "Emm.. Bentar, tapi sepertinya jika aku pergi, nanyi malah dapat masalah lagi dengannya." Alana meraih handuk, untuk mengeringkan rambutnya. 


Ia mengambil jus di depannya, mulai mengeuknya habis, hingga satu tetes tersisa di gelas. 


Braakkk...


"Gak bisa di biarkan?" ucap Alana. Meletakkan gelasnya di meja.


Tak lama David kembali lagi, berjalan ringan mendekati Alana. Dan duduk di depannya. "Kamu sekarang sudah gak malu lagi, hampir seperti itu di depanku?" tanya David, menatap tubuh Alana, yang sangat lengket dengan bajunya, membuat lekuk tubuhnya terlihat jelas. 


Alana menatap ke bawah, melihat bajunya. Seketika ia menutupi tubuhnya.


David mengambil handuk di wajahnya, mendekatkan wajahnya. 


"Kamu mau aku hantu cari koper kamu gak?" desah David. 


"Emmm... Memangnya koper aku sudah kembali?" tanya Alana antusias. 


"Belum!! Tapi aku bisa bantu kamu?" David menyandarkan punggungnya di kursi. 


Alana melirik ke atas meja, ia melihat ada ponsel tepat di depan David. "Itu ponsel siapa?" tanya Alana, yang ingin meraih ponsel David. Namun, dengan sigap David mengambil ponselnya. 


"Ini ponsel aku, lagian bagi laki-laki seperti aku itu, wajah punya ponsel lebih dari satu."


"Kalau kamu punya ponsel lagi, kenapa gak menghubungi teman kamu?" decak kesal Alana, menatap tajam.


"Aku gak punya nomornya," 


"Gak mungkin gak punya?" 


"Kamu gak percaya, kamu bisa lihat sendiri di ponsel aku."


"Percuma, kamu saja gak bilang nama teman kamu siapa?"


"Nanti kalau aku bilang, kamu malah suka dengannya."


"Apaan sih, gak nyambung. Kalau gak mau ya sudah. Aku bisa cari sendiri," Alana menghentakkan kakinya kesal, dan beranjak berdiri. Melangkahkan kakinya menjauh dari David. 


Dengan sigap David beranjak berdiri, memegang tangan Alana, "Berhenti!!" ucap David membuat Alana mengernyitkan wajahnya. 


Apa yang akan di lakukan laki-laki ini. Kenapa aku terlalu gugup berada di dekatnya.


David membalut tubuh Salsa dengan handuk yang dari tadi masih ia pegang. "Tutup jika di lihat orang lain gimana, masih beruntung aku yang lihat!!" ucap David melangkahkan kakinya lebih dulu, meninggalkan David.


Alana menautkan ke dua alusnya. "Maksud kamu gimana? Emangnya kamu siapa bis alihat seenaknya. Asal kamu tahu ya, aku bukan cewek yang kamu pikir."


"Kalau bukan cewek murahan. Kenapa bisa ciuman segala?" goda David, menarik sudut bubirnya, dan langsung pergi tanpa menghiraukan Alana. 


"Ih... Dasar nyeselin.. Kenapa aku bisa ikut dengannya. Aku harusnya lansung ke Inggris. Tapi kalau bukan, karena ingin bertemu ibu aku, gak mungkin aku mau tinggal dengannya." umpat kesal Alana, mencengkram erat handuk menutupi tubuhnya, dan beranjak pergi menuju ke kamarnya. Bajkan ia tidak berhenti terus berdecak kesal di setiap langkahnya.


Brakkk..


Alana menutup pintunya keras.


"Dasar David nyebelin," teriak Alana, berdengus kesal, melangkah menuju ke kamar mandi.


Ia membuka pintu akmar mandi perlahan, tanpa menatap ke depan. Gadis itu menutup pintunya rapat. Dan mulai melepaskan bajunya.


"Awas saja jika kamu berani menggodaku lagi, David!!" decak kesal David.


"Siapa juga yang menggoda kamu," suara serak, berat membaut Alana bergeidik, mematung seketika. Ia menoleh perlahan menatap ke belakang, melihat shower menyala, dan dengan kondidi pintu tertutup, jadi tidak terliaht jelas siapa di dalam.


"DAVID MESUM!!!" teriak Alana, langsung meraih handuk menutupi tubuhnya.


Dan David membuka pintu penghalang, menatap ke arahnya. hanya berbalutkan handuk, dari pinggang sampai lututnya. "Apa yang kamu lakukan? Lagian malah lebih bagus terbuka," goda Devid.


"Dasar mesum!! Kenapa kamu bisa masuk ke dalam?" decak kesal Alana.


"Siapa yang mesum, aku algi ingin mandi di sini. Dan kamu tiba-tiba masuk tanpa melihat ada orang gak di dalam?" gumam David.


"Ini kamar aku!!"


"Tapi ini rumah aku. Jadi aku berhak, mandi di mana saja." David, melangkahkan kakinya mendekati Alana. Berdiri tepat di depannya, dengan tangan kanan memegang dagunya. "Mandilah!! Kalau kamu amu mandi di sini. Atau kamu amu mandi berdua?" goda David.


Alana menepis tangan David. "Jauhkan tangan kamu dariku!!" ucap Alana membalikkan hadanya, tanpa perdulikan David lagi.


"Kamu mau kemana?" David, memegang pinggang Salsa, menariknya ke belakang, membuat tubuh mereka bersatu. "Jangan pergi!! Sebelum kamu jawab"


"Lepaskan!!" umapt kesal Alana.


"Gak mau, jawab dulu!!" gumam David.


"Baik, aku akan jawab. Aku amu pergi mandi di kamar mandi tamu juga bisa. Atau ke kamar mandi yang lainya. Yang penting gak di sini dengan kamu, dasar otak mesum!!" umpat kesal Alana menggebu.


Seketila membuat David melepaskan tanganya, "Pegilah!!" ucap David, yang mulai melepaskan handuknya, dan masuk ke dalam bathup penuh berisikan air.


Semoga saja dia tidak menghalangiku lagi. Aku benci jika harus terus berhadapan dengannya. Benar-benar buat aku emosi jiwa.


"Apa yang kamu lakukan di situ, cepat pergilah! Atau memang kamu sengaja untuk dekat denganku, atau malah mau mandi berdua denganku?" gida David, membuat Alana semakin geram, ia bergidik geli dan mulai membuka pintunya, beranjak pergi meninggalkan David.


"Dasar cewek aneh. Ngapain juga dia berdiri di situ." gumam David, tersenyum tipis.