My First Love

My First Love
Amarah Alana



Cia kamu melihat Joy gak, kenapa dia gak keluar


Tok... tokk.. 


"Kak Joy, Ini aku"


"Alana?" tanya Joy memastikan. 


"Iya!! Buka pintu, aku mau bicara dengan kamu" ucap dari kamarnya sama selalu. Apa dia sakit, dia belum. makan dari tadi.. Da Alana juga kamarnya di kunci, kemana perginya. Apa mereka pergi berdua.. Tapi mobilnya masih di luar" ucap Keyla, pada Cia yang kebetulan lewat di depan kamar Joy.


"Maa, mana aku tahu. Kagian aku juga baru pulang." ucap Cia.


Keyla yang semula khawatir, ia teringat jika Cia pergi dengan David tadi. "Gimana kencan kalian tadi?" tanya Keyla , membuat Cia mengerutkan alisnya bersamaan.


"Maksud mama, siapa yang kencan." ucap Cia dengan mata malasnya. "Lagian aku tadi hanya pergi ke pantai sebentar." lanjutnya.


"Apa itu bukan kencan namanya.. Kalau gak mau menagku.. Baiklah, mama gak akan ganya lagi.. Lihat wajah kamu memerah, pasti kamu kencan.. Mama yakin .." ucap Keyla terus menggoda anaknya itu.


"Enggak ma, siapa juga yang kencan!!" ucap cia malu-malu.


"Jangan bohong.. Wajah kamu semakin memerah Cia. Kamunpasti lagi jatuh cinta sama davis kan?" tanya Keyla membuat Alana tersiou maku di buatnya.


"Enggak!!" ucapnya tegas.


"Permisi tante.." ucap David, yang memang baru saja datang mencari Cia.


"Eh.. David.." ucap Keyla, seketika membuat via menoleh ke belakang. Benar ia melihat David berdiri di belakangnya. Ia kembali menatap ke arah mamanya, dengan tangan menutup mulutnya.


"Apa David marah ya saat aku bilang tidak tadi.. hmm tapi aku bukan siapa-siapa dia. Meskipun aku bilang tidak.. Apa perdulinya dia.. Dia gak punya rasa dengan aku. Dia hanya menaggap aku temannya...Udah-udah, Lupain saja dia.. kenapa juga harus mikirin dia.. Gak usah perduli lagi tentang dia..


"Cia,, kenapa mamu bengong" ucap keyla menepuk bahu Cia.


"Ehm. Enggak ma" seketika Cia menatap ke arah mamanya terkejut.


"David, kamu cati cia ya. Ya sudah kalian bicara berdua ya.. Mama mau ke bawah dulu melihat mama Sheila yang sudah nunggu di bawah" ucap keyla..


"Oohh.. iya tante.. mama tadi nunggu di bawah. Kalau papa Ian dan Alvin tadi sepertinya pergi naik mobil.." ucap David..


"Iya, kamu temani Cia. tante mau temani mama kamu" ucap Keyla menepuk pelan bahu David


"Cia, kamu jangan melamun lagi.. " ucap Keyla pada Cia di sampingnya. .


Cia menunduk malu, "Iya Ma. " jawabnya lemas, tanpa daya.


"Eh... Mama tadi bukanya mau menemui Joy?" tanya Cia.


"Gak jadi, mama mau ke bawah, sama tente Sheila"


Keyla segera pergi meninggalkan dua pasangan itu di lantai atas, dan turun menemui Sheila untuk membicarakan yang kemarin ia bahas dengan suaminya seharian. Dan dia sudah jawaban yang tepat untuk ke dua anaknya itu. Dan kuputusan yang tepat saat ini, setelah melihat David yang memang sepertinya baik dengan Cia. Ada harapan jika mereka bersatu meski dalam ikatan perjodohan. Tapi Keyla sudah yakin jika mereka akan setuju. Dan tidak akan menolaknya.


Merasa tante Keyla sudah pergi. David mulai berbicara dengan Cia.


"cia, aku hanya bisa berikan kamu ini. aku gak bisa belikan hal mewah.. Pakailah. Setidaknya ini juga barang yang berati bagiku. Jangan sampai hilang. Kamu harus jaga gelang ini agar selalu ada di tangan kamu. karena gelang ini adalah pemberian dari mama aku. Jadi aku harap kamu tidak menolaknya." ucap David. "Dan ini juga sebagai tanda terima kasih aku. Kamu membuat aku sadar dari masalah yang ada.. Baru kali ini aku ada wnaita yang mau berteman denganku. dengan orang yang memang super pendiam.. Dan makasih atas semuanya.. Aku gak akan pernah tahu lagi .. gimana balas budi dengan kamu Cia"


Cia semakin tersipu malu di buatnya. jadi ia wanita pertama yang ada di sisi David saat ini.. Aku beruntung banget. Bisa melihag sisi lain dari David yang luarnya terlihat Cuek. pikir Cia dangan nada senang bangganya..


"Cia, kamu gak apa-apa?" tanya David menatap Cia yang memejamkan matanya dengan senyum-senyum sendiri dari tadi.


"Cia.." gumam David, menyetuh bahu Cia.


"Ini, pakailah gelang ini.. aku tidak membutuhkannya lagi. Simpanlah.. aku ingin kamu selaku mengingat aku... mengingat gelang ini saat aku tidak ada di sisi kamu kagi. Tapi aku berharap juga akan terus bertemu dangan kamu. Karena kamu satu-satunya teman wanita aku, saat ini. Dan aku dengan Amera memang saudara tapi juga tidak terlaku banyak bicara dengannya." ucap David, meraih tangan Cia, membuka telapak tangannya. kemudian meletakkan gelang itu di atas telaoat gangan Cia.


Cia hanya diam, mendengar apa yang di katakan David semuanya. Ia benar-benar tidak menyangka sebelumnya Tapi ini adalah hal indah baginya. Melihat senyum tipis David ke dua kalianya.


"Ya, sudah. Sekarang aku pergi dulu. kamu cepat mandi dan ganti baju. sekalian duduk di sifa ngobrol sama mama-mama" ucap David.


"Kamu juga di sana?" tanya Cia..


"Aku mau ke kamar, ada yang masih belum aku selesaikan." ucap David.


"Apa kamu tidak tidur di kamar Joy?" tanya Cia semakin penasaran.


"Engak dari awal aku minta kamar sendiri. Jadi aku di kamar aku senndiri di bawah. Meski hanya ada kamar yang sempit gak terlalu luas. tapi setidaknya kamar sendiri lebih enak dan leluasa. Besok pulang sekolah kamu ke kamarku. kau mau tunjukan kamu sesuatu." ucap David, mengusap ujung kepala Cia, semakin membuat Cia seakan tidak bisa bernapas. Jantungnya berdegup sangat cepat, semakin cepat. Membuat ia tidak bisa bernapas sempurna.


"Tunggu!!" ada satu hal lagi yang invin aku ucapkan ke kamu." Ucap Cia, dengan wajah menunduk malu.


david menoleh ke arah Cia. "Apa?" tanya Devid.


"Aku minta tolong pakikan gelang ini" ucap Cia.


di tangan kanan Cia. Meski hanya gelang biasa, itu seakan sudah jadi nyawa baru bagi David semenjak orang tuanya meninggalkannya.


David meraih tangan Cia, Ia segera memakaikan gelang itu melingkar di oergelangan tangan kiri Cia.


"Wahh.. Bagus.. Makasih" ucap Cia.


"Kamu jangan sampai hilangkan apa yang aku kasih ini. Karena ini adalah gelang pemberian orang tua aku. Kamu juga pasti tahu orang tua aku sudah gak ada. Dan ini sudah aku anggap sebagai nyawa aku" ucap David.


"Karna kamu sama dengan gelang ini" ucap David, bergegas pergi meninggalkan Cia sendiri.


Berarti dia jenganggap aku sebagai nyawanya." gumam Cia, seketika hatinya berbunga-bunga. Ia tidak pernah berhenti tersneyum, membalikkan badanya berjalan menuju ke kamarnya


------


Tok.. Tookk.. Tokk.


"Kak Joy, kamu di dalam?" tanya Alana.


"Iya, Na. ada aoa?" tanya Joy.


"Aku mau bicara sama kamu" lanjut Alana.


"Baiklah!!" ucap Joy. 


Joy bergegas membuka pintu kamarnya. Ia langsung dipersilahkan Alana masuk dan menutup kembali pintunya. 


"Ada apa? Baru kali ini kamu masuk ke kamar aku. Padahal aku ingat terakhir kamu smp masuk kamar aku. sekarang baru satu kali. " ucap joy, duduk di kasur yang memang tidak ada ranjangnya seperti punya Alana. Ia memang suka tidur di bawah.


"Kak Joy, aku mau tanya. Tapi jawab jujur, aku gak mau kak Joy bohong lagi padaku." ucap Alana, berjalan menghampiri Joy, dan duduk di sampingnya. 


"Ada apa?" tanya Joy. 


"Apa yang kak Joy lakukan padaku, saat aku tak sadar sewaktu aku kedingingan?" tanya Alana seketika membuat Joy menelan ludahnya. wajahnya mulai pucat pasi, bingung apa yang harus ia katakan pada Alana.


"Apa kak Joy, melakuakn itu padaku. Kenapa kak Joy memanfaatkan keadaan" ucap Alana dengan mata yang sudah mulai berkaca-kaca.


Seketika, Membuat Joy membelalakkan matanya, ia tidak sanggup mengatakan yang sebenarnya dengan apa yang sudah ia lakukan. Adalah tindakan bodoh. Karena perasaan takut kehilangan dan menghilangkan rasa dingin di tubuh adiknya itu.. 


"Eee... "


"Jujurlah, aku dari kemarin merasakan nyeri kak. Dan aku pernah seperti ini. Rasa nyeri saat buang air kecil. Aku cari buku dan cari di internet mengumpulkan semua artikel tentang itu. Dan aku menemukan satu jawaban. Yaitu apa yang aku bilang tadi. " Ucap Alana. "Dan sekarang aku ingin buktikan jika apa yang aku curigakan itu salah.." lanjut Alana. Memegang kerah baju Joy, menarik-nariknya bajunya dengan penuh emosi dalam dirinya. Ia tidak terima di nodai begitu saja olehnya.


"Alana tenanglah.. maaf aku khilaf, dan aku bingung apa yang harus di lakukan. Dan akhirnya aku memutuskan jika melakukan itu dengan kamu. Dan kamu sempat menjerit sakit. Tapi aku tidak mempedulikan. Dan bekas darah di mobil.juga sudah langsung aku hilangkan" ucap Joy.


Mendengar hal itu seketika tubuh Alana lemas di buatnya. Gimana bisa ia sudah tidak suci lagi. Ia bukan gadis baik lagi. kini hanya gadis yang ternodai. 


Aku salahkan. aku memang salah. dan kenapa. kakak melakukan. 


"Dan kenapa kamu tega, saat melihat aku kesakitan. tapi kamu masih tega melakukan itu. Di mana hatimu kak.. Di mana.. Kenapa kamu menbuat ku hancur seperti ini. Apa ini kata kak Joy yang ingin melindungiku. Kak Joy gak pernah melindungiku.. tapi Kak Joy telah menghancurkan hidupku." ucap alana, semakin meninghikan suaranya, dengan ke dua tangan memukul dada bidnag Joy di depannya.


"kenapa kakak melakukan hal itu. Aku masih kecil. Dan kakak tega menodaiku. Kakak gak mikir gimana nasib aku kak.. Gimana kalau aku hamil gimana kalau aku gak bisa melanjutkan sekolah lahi... kenapa kakak Jahat... Kakak jahat..Jahat..Jahat.." Lanjut Alan, yangbtidak berhenti memukul tubuh Joy dengan tangannya. Dan duduk di rajangnya memandang wajah kakaknya yang sangat ingin sekali ia menamparnya keras. 


joy meraih tangan alana menempelkan di pipinya. "tampar aku sekarang... tampar sekeras kamu.. Aku memang salah alana. Aku salah.. kamu berhak menapar aku sepuas kamu.."


"Buat apa aku harus menampar kamu. aku gak mau melakukan itu... apa dengan menamparkaku semua yang kamu lakukan bisa hilang. Apa semua yang kakak lakukan selama ini terlalu berlebihan dengan aku." Alana menangis sejadi-jadinya. 


Joy menampar dirirnya sendiri berkali-kali.


"Kakak memang bodoh.. dan aku aontas di tamoar seortti ini.. Perbuatan yang emmang tidak patut di maafkan.. akak memabg bodoh." ucap Joy


Alana memegang ke dua lengan Joy. mencegahnya untuk terus menampar dirinya sendiri.


"Jangan seperti ini. Gak ada guanya kak Joy, menampar diri kakak sendiri. dan semua sudah terjadi. Hidup aku juga sudha hancur. Dan apa yang bid adi perbuat. penyesalah gak akan merubah segalanya. " ucap Alana, dengan ke dua mata memandang ke arah Joy.


Joy, memeluk tubuh Alana. "maafkan aku.. Semuanya sudah terjadi biarkan semuanya terjadi. Aku akan tanggung jawab jika kamu hamil.." ucap Joy. 


"Aku gak akan oernah mau hamil. Dan gak akan pernah mau, hubungan kita gak semestinya. kak Joy harus tabu utu. Dan sadarlah kita saudara dan selamannya suadara. Gak akan pernah menikah. Itu tidak akan mungkin" ucap Alana, memelankan suaranya, dengan tangaisan Alana yang semakin sesegukan.


"Kita bisa menikah.. Gak akan ada yang melarang kita. Dan gak akan ada yang bisa memisahkan kita Alana. Kita akan selalu bersama. Dan tidak akan terpisahkan." ucap Joy, oenuh oercaya diri, memegang ke dua pipi Alana.


"Alana menepis tangan Joy di pipinya. Ia bangkit dari duduknya menatap tajam ke arah Joy.. "Apa kamu bilang, kakak gak bisa melakukan seenaknya sendiri.. aKu kecewa dengan kakak... Aku benci dengan kakak. aku akan pergi ninggalin kak Joy. Ini udah keputusanku. Aku mengira awalnya kak Joy sangat baik, Selalu bantu Alana selalu ada buat alana. Tapi..Ternyata Joy perebut kesucian Alana.. "


alana mendorong tubuh Joy dan beranjak berdiri.


"Alana.. Tunggu jangan pergi.. " Joy seketika berlutut di bawah Alana. gara-gara menahan penyesalan yanh sudah tidak bisa ia maafkan.


"Alana sku salah maafkan aku... tapi bisakah aku untuk mengucapkan kata maaf untuk kamu.."


"Maaf... Sekarang apa yang kakak lakuin apa bisa di maafkan ... Aku gak perduli meskipun kak Joy berlutut di situ sampai besok aku gak perduli." ucap Alana tegas. ia bergegas pergi. Dan belum sempat keluar dari kamar Joy.


Joy terud memanggilnya, ia menoleh beberapa detik.


"Baik, aku akan berlutut di sini sampai besok seperti apa yang kamu inginkan. Aku akan menuruti apa kata kamu. Asal kamu mau memaafkan aku." ucap Joy.


"terserah kamu saja. Aku gak perduli" ucap Alana, tanoa menatap ke belakang melihat Joy. Ia beranjak meninggalkan Joy yang masih tetap duduk di lantai.


"Alana!!! jangan pergi, aku ingin sebentar saja bicara denganmu.. Aku ingin jelaskan padamu.. Aku ingin jelaskan semuanya padamu" teriak Joy, namun hanya membuat Joy merasa lelah sendiri. Alana sama sekali tidak perdulikannya. Ia menghiraukan apa yang ia katakan.


Alana kembali ke kamarnya, ia duduk di meja belajar, dengan tangan sambil membereskan buku yang masih berantakan di meja belajarnya. Dengan tayapan kosongnya, seakan sudah tidak ada kehidupan di dirinya.


Aku kecewa denganmu, aku ingin benci tapi aku gak bisa. Aku ingin marah tapi aku gak bisa marah berlebihan denganmu. Perasaan ini benar-benar membuat aku tersiksa. Perasaan yang membuat aku tak sanggup lagi bertahan seperti ini. Maaf kak, yang kamu lakukan sangat keterlaluan. Membuat aku semakin tidak bisa memaafkanmu. Gak akan pernah bisa. Gumam Alana dalan hatinya.