
Alana dan David masih berkeliling kota untuk mencari orang tuanya. Dia benar-benar sudah sangat capek, ke dua matanya tak bisa terbuka sempurna.
"Huaaammmm!!" Alana menguap sangat lebar, namun ia masih tetap saja mencoba membuka matanya.
"Kamu tidur saja!!" ucap David menatap ke arah Alana.
"Bentar, aku gak mau tidur, jika belum melihat ibu aku!!"
"Alana, aku tahu kamu sangat merindukan ibu kamu. Tapi ini bukan saatnya mencari ibu kamu lagi, lihatlah sekarang jam berapa," David menunjukkan jam tangan yang melingkar di tangan kirinya.
"Baru jam 11 malam,"
"Ini sudah malam, Alana!!" umpat kesal David, merendahkan ucapannya.
Alana menguntupkan bibirnya, ia menatap ke arah David, wajahnya mulai kesal, dari tadi belum juga bertemu titik temu, tentang ibunya sama sekali. "Aku tahu kamu pasti capek juga sekarang, besok kita cari lagi. Lebih baik sekarang kita pulang!!" ucap David mengusap lembut rambut Alana.
"Jangan sentuh aku!!" Alana menepis tangan David di kepalanya.
"Ok, fine!!" jawab David kesal, ia mulai fokus kembali dengan jalan di depan, tanpa perdulikan Alana yang hanya diam, terus melamun gak jelas.
Hingga 30 menit berlalu, Davis venar-benar sudah sangat lelah, bahkan mereka juga saling diam, membuat suasana di dalam mobil nampak sangat gerah, dan sunyi tanpa suara keluar dari mulut mereka masing-masing.
"Alana, lebih baik kita sekarang pulang!!" ucap David, yang sudah merasa capek, seharian harus berkeliling untuk nencari ibunya yang sekarang entah di mana. Ia juga tidak tahu, semuanya tidak akan bisa tahu jika.
"Kamu mau kemana?" tanya Alana yang semula diam, ia menatap David yang memutar balik mobilnya
"Pulang!! Aku capek Alana. Ini sudah malam. Lebih baik kita pergi pulang lalu istirahat. Dan ini juga sudah sangat jauh dari rumah. Jika kamu terus seperti ini kamu pasti akan kecapekkan." decak kesal David.
"Aku gak perduli!!" bentak Alana.
"Oke, kalau kamu gak perduli. Sekarang kamu bisa cari sendiri ibu kamu. Aku gak mau ikut dengan kamu lagi. Ini sudah malam, aku juga butuh istirahat. Perjalanan rumah kita dari sini hampir 2 jam. Aku di sini yang mengemudi dari tadi capek Alana." ucap David meluapkan isi hatinya.
"Baik!! Turunkan aku sekarang!" Alana menundundukkan kepalanya, mencengkeram erat ujung gaunya.
"Enggak!! Apa kamu sudha gila malam-malam jalan sendiri di luar. Jika ada laki-laki yang meperkosa kamu giamana?"
"Jangan berpikir terlalu jauh. Aku bisa jaga diri sendiri."
"Dasar keras kepala!!"
"Apa katamu?" tanya Alana kesal.
"Keras kepala, dasar batu, gak tahu diri. Aku sudah baik hati bantu kamu. Tapi apa balasan kamu. Jika kamu masih mau cari ibu kamu cari sendiri." jawab Kesal David penuh emosi, Alana terdiam seketika, ia mulai menciut saat melihat David begitu emosi.
"Maaf!!" ucap Alana menundukkan kepalanya.
"Baik, aku gak masalah, sekarang kita pulang!!" lanjut David.
"Iya,"
David yang sudah putar balik mobilnya, ia terus lurus saja, melajut semakin cepat ke rumahnya. Ia tidak mau semuanya terlihat capek dan tidak ada yang bisa mencari ibunya lagi besok.
"Maafkan aku!! Aku gak mau kamu capek, jadi besok aku akan bantu kamu lagi!!" jawab David datar.
"Iya, tapi apa boleh aku sekarang tidur?" tanya Alana menautkan ke dua alisnya, menatap ke arah David yang fokus mengemudi.
"Boleh, tidurlah!!"
Dapat jawaban dari David, Alana yang dari tadi sudah mengantuk ia memejamkan matanya tanpa banyak bicara lagi. Hingga tertidur pulas di mobil.
2 jam perjalanan, David sampai di rumahnya. Dan Alana masih berjuang di jok depan kursi duduknya.
"Udah di bilangin dia pasti capek, tapi dia masih saja ngotot untuk tetap melanjutkan pencarian ibunya." gumam kesal David, yang mulai menunjukan sisi baiknya.
David beranjak turun, mengangkat tubuh Alana ala bridal style melangkahkan kakinya menuju ke kamar Alana.
"Tuan, Non Alana kenpaa?" tanya pembantu David, berlari mendekati David.
"Dia tidak apa-apa hanya ketiduran tadi di mobil" jawab David yang langsung masuk ke dalam kamar Alana, membaringkan tubuhnya di ranjangnya.
"Maaf!!" ucap David pada mengusap rambut Alana, setelah itu menarik selimut menutupi sebagian yubuhnya, dan beranjak pergi meninggalkan Alana.
----------
"David!!" panggil seorang wanita paruh baya, brrjalan masuk ke dalam rumahnya.
"Nyonya, anda sudah pulang!!" seorang pelayan segera membantu Sheila yang baru tiba di rumahnya bersama dengan anaknya dan anak Keyla.
"Bawakan ke kamarku!!" ucap Sheila. "Oya, sekalian siapkan kamar untuk dua orang!!"
"Baik, nyonya!!" pelayan itu bergegas perhi menyiapkan kamar dan membawa beberapa koper ke kamar masing-masing.
"Joy, Amera, Cia, kalian langsung masuk ke kamar kalian atau makan dulu. Kita aku akan panggil David untuk makan bersama nanti."
"Emm. Makan saja dulu tante, saya sudah lapar dari tadi belum makan sama sekali!" ucap Joy mengusap perutnya yang sudah mulai memberontak minta makanan. Dan memang tadi sesudah sampai di Sydney, Sheila membeli makanan untuk takeaway dan bisa di makan di rumah.
"Kamu sini, panggil David!" pinta Sheila pada pelayan yang ada di dapur. Pelayan itu berlari kecil segera mendekati Sheila.
"David sudah pulang, kan?" tanya Sheila.
"Sudah nyonya, tapi sekarang mungkin dia sudah tidur."
"Ya, sudah sekarang siapkan makanan ini. Dan sisakan untuk David, bawa ke kamarnya."
"Baik, nyonya!!" pelayan itu nenunduk, segera melakukan perintah majikannya.
Makanan sesudah di siapkan di meja makan, dan semua sudah mulai menyantapnya dengan lahap. "Tente, aku langsung tidur, ya. capek banget!!" ucap Cia, menarik ke dua tangannya ke atas, merenggangkan ototnya yang terasa kaku.
"Iya, aku juga tante!!"
"Kamu mau tidur bersama aku atau tidak, Cia?" tanya Amera, menatap ke arah Cia teman satu kamarnya beberapa minggu kemarin.
"Emm.. Terserah!!" jawab Cia penuh senyuman.
"Sudah kalian tidur sendiri-sendiri saja. Lagian masih banyak kamar kosong!!" ucap Sheila, yang memang terlihat sangat baik, ia tidak pernah membedakan anaknya dan Keyla.
"Baik, tante!!" jawab Cia.
"Lagian rumah sebesar ini, kalian hanya tinggal berempat, tante?" tanya Joy.
"Iya, dulu ingin sekali punya anak lagi Tapi berhubungan David tinggal dengan kita. Anaknya jadi tertunda. Om Ian tidak mau lagi punya anak. Padahal rumah ini sudah aku siapkan beberapa kamar untuk 2 anak lagi. Tapi gak masalah, ada David membuat aku juga merasa lega. Dan karena ke dua orang tua aku sedang di luar kita. Jadi salah satu dari kalian bisa tidur di sana!!" ucap Sheila yang mulai membereskan semua piring kosong di atas meja makan itu. Lalu membawanya ke dapur.
"Tante akh pergi ke kamar dulu!!" ucap Cia yang langsung mencari pelayan tadi untuk menunjukan kamarnya.
"Iya, kamu tidur nyenyak, ya!!" teriak Sheila dari balik dapur.
Joy dan Amera masih duduk di ruang makan. Mereka saling memandang. "Joy!! Apa kamu gak suka?" tanya Amera menatap Joy yang dari tadi terus mrnunduk, menyembunyikan kesedihannya.
"Aku kepikiran mama aku!!" ucap Joy mendongakkan kepalanya.
"Papa pasti akan jaga mama kamu, lagian mereka bersahabat sangat lama. Dan mama juga sudah belikan tiket juga untuk mama kamu dan papa aku. Dua hari lagi mereka akan menyusul." ucap Amera menatap kearah Joy. Memegang tangannya di atas meja.
"Apa kamu hanya khawatir dengan ibu kamu. Kamu tidak memikirkan Alana, kan?" tanya Amera.
"Tidak, aku sangat membenci dia. Aku gak akan memaafkan dia. Apa yang ibunya lakukan pada keluargaku. Dia merusak kebahagiaan ibu aku. Dan pantas saja Alan dari dulu tidak suka sama sekali dengan mama aku. Dan sekarang aku akan membalasnya." ucap David penuh kebencian dalam dirinya. Meski Alana tidak tahu apa-apa, tapi rasa bencinya mengarah pada Alana dan keluarganya. Ia tidak mau lagi bertemu dengannya. Jika bertemu juga tidak ingin rasanya terus bersama lagi seperti dulu.
"Apa aku boleh bantu kamu!!" ucap Amera antusias.
"Kalian lagi apa? Sudah cepat tidur?" ucap Sheila memotong pembicaraan mereka.
"Baik, tante!!" jawab Joy beranjak berdiri.
"Aku antar, kan, ke kamar kamu, ya!!" ucap Amera berjalan mendekati Joy.
"Baiklah! Ayo!" Joy berjalan beriringan dengan Amera menuju ke kamarnya, tanpa dia sadari kamar yang di tempat sekarang adalah kamar Alana. Dan memang di sana ada dua ranjang dan kamar untuk khusus berdua. Pelayan semua ingin memberikan kamar itu pada Cia tapi Cia mau kamar yang akan di tempati Joy tanpa melihat siapa teman tidurnya jika dia tidur di kamar Alana.
"Kamu antar sampai sini saja, aku akan masuk sendiri. Jangan tidur malam-malam." ucap Joy mengusap ujung kepala Amera.
"Baik, syang!!" ucap Amera, menjijitkan kedua kakinya, mencium pipi Joy.
"Selamat malam!!" sapa Amera.
"Iya," Joy segera masuk ke dalam kamarnya, ia duduk di sofa, merenggangkan ototnya sejenak, lalu ia berniat untuk berendam. Sudah dari tadi belum mandi rasanya sangat lengket. Ia tidak bisa jika habis berpergian tidak mandi lebih dulu.
Merasa sudah enakan badannya, Joy berdiri berjalan menuju ke kamar mandi, merendam tubuhnya yang terasa sangat kaku itu. Ia menikmati setiap air hangat yang mulai masuk ke dalam pori-porinya. Benar-benar membuat pikirannya menjadi fresh kembali.
Serasa sudah enakkan badan dan pikirannya. David meraih handuk.
Cklekkk...
David menyipitkan matanya, melihat seseorang berada di kamar mandinya "Siapa itu!!"
Alana yang masih setengah mengantuk, ia mengusap ke dua matanya, mendengar samar suara seorang laki-laki, ia tak perdulikan itu dan langsung buang air kecil.
"Kamu siapa?" tanya Joy, yang sudah terbalut dengan handuk dari pinggang sampai lututnya
"Aaaaaa..." Alan spontan langsung menutup kelambunya
"Siapa di dalam? Sepertinya aku kenal tubuh dan suaranya. Tapi gak mungkin jika dia . dia gak mungkin ada di sini" gerutu Joy, yang sudah tak sabar ia membuka kelambu itu dengan keras.
Duukkkk...
Alan spontan menendang tubuh Joy tanpa menatap siapa yang ada di depannya. membuat tubuhnya terjatuh kr lantai. "Aw--"
"Dasar laki-laki mesum!!" umpat kesal Alana, melangkahkan kakinya pergi, Joy memegang kakinya, menariknya hingga jatuh tersungkur ke lantai.
"Aw---" rintih Alana.
"Joy beranjak berdiri, melihat siapa wanita sialan yang berani menendangnya itu."
Seketika matanya melebar sempurna, dengan api kemarahan mengobarkan percikan api kebencian. Dan Alana menautkan ke dua alisnya, melihat siapa laki-laki di depannya itu. Kakak sekaligus orang yang pernah ia sukai, ke dua mata mereka saling memandang sejenak. Tanpa ada suara keluar dari mulut mereka. Seakan mereka masih tidak percaya dengan apa hang sudah ia lihat sekarang.