My First Love

My First Love
CIA DAN DAVID



Keluarga mereka baru saja pulang, sehabis jalan-jalan sekalian beli bahan makanan. Tadi yang awalnya mau ajal Alana, tapi setelah melihat kondiri Alana, Keyla tidak tega ajak dia. Keyla tidak mau belanja di luar lama-lama. Apalagi jika Alana baru saja pulang dari luar rumah, hujam-hujan semalaman. Ia membutuhkan perhatian mereka, agar keadaannya semakin pulih.


"Ma, aku mau ke kamar dulu ya" ucap Cia, segera berlari menuju kemarnya. Ia tidak sabar melihat lukisan yang di berikan David padanga kemarin. Ia terlihat sangat senang Saat melihat lukisan di sebuah canfas, yang di berikan oleh David kemarin. Benar-benar sangat indah. Wajah yang indah. Seindah aslinya, kata Cia.


David bahkan melukis wajah Cia, memang sengaja untuk Cia. Karena dari kemarin ia di paksa untuk melukisnya. Dan kini lukisan itu terpajang di kamr Cia. Amera yang mengetahuinya, hanya diam dan terus menggoda Cia.


"Cia!!" panggil Amera berjalan masuk ke kamarnya.


"Ada apa?" tanya Cia, yang masih fokus melihat lukisannya. "Lukisan adik kamu bagus ya, aku suka. Dan ini akan jadi kenangan yang indah" ucap Cia.


"Dia sangat mahir dalam hal lukis, bahkan sampai dia gak mau pergi ke dunia perusahaan. Sama seperti papa. Dia hanya ingin menekuni dunia Lukis. Tapi jika dia menikah nanti. Mungkin semua akan berubah. Aku berharap gitu. Kasihan David" ucap Amera dengan senyum, sekaan menyimpan kenangan menyedihkan di balikknya.


"Emangnya dia kanapa?" tanya Cia penasaran.


"Dia punya trauma. Jadi Kamu jangan pernah sesekali menyinggung tentang orang tua. Atau apapun yang berhubungan dengannya. Dia akan marah. Dan bisa menghancurkan semuanya. Studio lukisan Yang ia buat sendiri hancur berantakan karena ulahnya." ucao amera duduk di ranjang Cia, menatap ke arah lucisan di depannya.


"Hidupnya oenuh teka-teki ya, tapi sepertinya dia menarik. Apa dia pernah dekat dengan wanita?" tanya Cia semakin penasaran.


"Tidak pernah, meski dia tampan. Wanita yang dekat dengannya saja, harus mikir dua kali. Gimana bisa dia pacaran jika emosinya belum setabil. Tapi jika dia menemukan orang yang ia cintai, aku yakin semuanya berbuah. Dan emosinya perlahan akan pulih lagi.


"Oya, kamu melihat Joy gak?" tanya Amera, yang teringat tentang Joy.


"Tadi aku melihatnya, di kamar Alana. Saat aku masuk ke kamar. Kalau kamu mau cari dia, ke kamar Alana saja. Biasanya mereka belajar bersama di dalam. Kamu juga bisa ikut belajar dengan Alana" ucap Cia.


"Baiklah!!" ucap Amera, bergegas berdiri.


"Kamu mau kemana?" tanya Cia.


"Ke kamar Alana, aku mau cari Joy." jawab Amera.


"Kamu suka dengan Joy ya" goda Cia.


Enggak, hanya kagum" ucap Amera malu-malu. Ia bergegas pergi meninggalkan kamar Cia.


"Dasar Amerah... bilang saja jika kamu suka. Tapi kenapa kamu malah malu-malu gitu. Kelihatan banget kalau kamu suka." gumam Cia, yang kembali menyangga ke dua pipinya menatap lukisan wajahnya tepat di depanyya.


"David, David... Aku sangat menganggumimu. Meski perbedaan umur kita 3 tahun. Sama seperti perbedaan umur aku dengan Alana. Tapi aku gak perduli. Kamu itu masih kecil tapi jalan pikiran kamu seperti orang dewasa. Itu yang buat aku kagum dengamu. Pikir Cia.


Tok.. Tok.. Tok...


"Siapa?" tanya Cia, menatap ke pintunya.


"David!!" ucap laki-laki itu singkat.


"Eh... David. Ada apa ?" tanya Cia bergegas dengan langkah ceoat membuka pintu kamarnya.


"Kamu mau belajar lukis lagi gak? kalau mau sekarang kamu ikut aku" ucap David dengan wajah datarnya.


Tanpa banyak bicara Cia menutup pintu kamarnya, dan berjalan mengikuti David. "Kita kemana?" tanya Cia. ia bingung David keluar rumah, dan menuju ke halaman belakang rumahnya.


"Udah, nanti kamu juga akan tahu sendiri." ucap David.


Langkahnya terhenti di sebuah canfas besar, yang berada di depannya. Dengan penyangga dan berbagai cat air yang sudah ia beli tadi. "Ini!!" ucap Cia.


"Iya, kita akan lukis pemandangan di sini. Aku dan kamu. Dan aku aku akan mengajari kamu" ucap David, meraih tangan Cia, memegang kuas berdua. Membiat detak jantung Cia, benar-benar tak beraturan. Dulu ia mengaggumi Miko, suka sama Miko, namun ia sadar dari pada sakit hati dengan Miko. Ia lebih memilih untuk diam dan menjauh dari Miko.


pandangan Cia menatap ke wajah tampan David yang sangat dekat dengannya. Bahkan sangat dekat, hembusan napas beratnya, melewati pipi kirinya. Membuat ia tak bisa berhenti memandanginya wajahnya.


"Kmmamu manis" jawab Cia tanpa sadar.


"Apa katamu?" tanya David, mengerutkan keningnya.


"Emangnya aku salah ya!!" ucap Cia.


"Kamu mau belajar lukis atau mau memandangku" ucap David, melepaskan tangan Cia.


"Ehmm kenapa di lepas, aku mau belajar melukis lagi" ucap Cia, menarik tangan David unyuk memegang tangannya.


"Gak mau, kamu belajar sendiri" ucap David tegas.


"Gak mau" Cia mengerutkan keningnya, dengan bibir mnmanyun beberapa sentu. Dengan kepala menunduk ke bawah.


David tidak perdulikan Cia, ia malah duduk dan menikmati minuman kopi hangat yang sudah ia bikin sebelumnya. "Kalau kamu gak mau belajar, aku bisa melukis sendiri. Dan kamu cepat pergi. Aku gak mau di lihat kalau lagi melukis" Ucap David, meletakkan kembali minuman hangatnya.


Dia benar-benar cuek, tapi dia menarik. Membuat aku semakin tertarik dengannya. Sekarang apa lagi yang harus aku lakukan.. Aku gak boleh seperti anak kecil ngambek. dia bakalan lebih marah lagi nanti dengannya. Pikir Cia, menimang-nimang apa yang harus ia lakukan berhadaoan dengan manusia cuek ini.


Dia memang sebelas, dua belas dengan Alana yang cuek itu. Tapi Alana cueknya kebangetan. Pikir Cia lagi.


"Kalau kamu di sini hanya untuk menghalangi aku memandangi langit, dari sini. Lebih baik kamu pergi dari sini. Dari pada kamu kesambet, melamun terus" sindir David, membuat Cia, seketika langsung duduk di samping David, meraih minumannya, lalu menyeruputnya perlahan.


David mengerutkan alisnya, menatap aneh pada Cia.


"Apa yang kamu lakukan? Itu minuman aku, kenapa kamu meminumnya?" tanya David kesal.


"Lagian kamu buat minuman hanya satu, biat yang banyak Biar aku kalau grogi bisa minum terua" ucap Cia, menarik ke dua alisnya ke atas, dengan senyum tipis menggoda David.


"Dasar aneh!!" ucap David kesal.


"Aoa kamu bialng? Aku aneh, tapi aneh gini, ngangenin lo" ucap CiaN semakin membuat David geram.


"Kamu mau belajar melukis, atau mau merayuku. Aku gak suka di rayu. Dan gak akan mempan, kamu merayuku." ucap David, membuat Cia, kembali mengerutkan bibirnya.


Gimana caranya bisa bicara dengan dia, manusia dingin ini. bemar-benar sudah membekukan hati aku. Tapi gak masalah. Aku akan mencairkan hati manusia es ini. Gara bisa tertarik denganku. Cia.. Kamu harus berhasil.. Sebelum dia pergi nantinya.


David hanya diam, ia berjalan menuju ke canfas yang sudah terpajang di depan.


"Kenapa kamu gak mau perhatikan aku sama sekali?" tanya Cia kesal.


David hanya diam, ia mulai melukis pemandangan langit, yang telihat pegunungan, yang indah. Di tambah burung-burung berterbangan. Akan menjadi sebuah lukisan yang sangat indah.


"DAVID!!" panggil Cia manja.


"Ada apa?" tanya David.


"Kamu di situ saja, diam dan jangan bergerak" ucap David.


"Emangnya kenapa?" tanya Cia penasaran.


"Duduk!!" ucap Tegas David.


salsa dengan terpaksa harus diam dan duduk, dengan berbagai pose, menyangga dagu, memainkan cangkir kopi di depannya.