
Keesokan harinya, jarum jam menunjukan pukul enam pagi, ia beranjak menuju balkon kamarnya, melirik sekilas ke akamr Joy, yang sepertinya dia belum bangun.
Kak Joy belum bangun, lebih abik aku pergi sekarang. Sebelum dia bangun nantinya, dan pasti akan menemuiku, minya maaf lagi apdaku, sudah banyak maaf yang aku dengar, tapi dia tetap saja. Membuat aku semakin jijik melihat kelakuannya sekarang. pikir Alana dalam hatinya, lalu membalikkan badannya, melangkahkan kakinya berjalan masuk ke kamarnya.
Alana baberanjak dari kamarnya, dan segera membereskan semua bajunya. Ia sudah memutuskan, besok akan pergi ke inggris, dan sekarang ia lebih memilih untuk keluar, menikmati pemandangan di sini, sebelum ia tidak bisa melihatnya lagi suatu hari nanti. Entah bisa balik lagi ke indonesia lagi atau tidak.
Bahkan Alana juga, sudah membeli tiket ke Inggris dengan hasil uang tabungannya selama ini, uang yang di berikan papanya, jarang sekali ia pakai. Dan karena kepepet, hanya itu yang bisa di manfaatkan.
"Sepertinya aku harus menghubungi, Miko." ucap Alana, yang sudah selesai beres-beres semuanya. Ia segera mengambil ponselnya, sudah dari kemarin malam. ia sengaja membiarkan ponsel-nya, tak tersentuh, oleh jemari tangannya.
"Dua puluh panggilan tak terjawab, dari Joy dan Miko." gumam Alana. "Kenapa mereka begitu antusias menghubungiku," lanjutnya.
Alana mengabaikannya begitu saja panggilan dan peaan dari Joy. Dan lebih memilih membalas pesan daei Miko. Jemarinya sangat lihai mengetik huruf-huruf di ponselnya, laku mengeirimkan pada Miko. Langsung, ia beranjak pergi. Hari ini merasa adalah acara, ia yang semula ingin baut kue, seketika mood-nya merasa hancur. Dan tidak minta lagi untuk buat kue, merasa bosan, ia beranjak berdiri. Dan pergi, keluar dari kamarnya, sebelum Joy keluar dari kamarnya. Ia tidak mau bertemu dengan Joy. Dan Alana juga merasa sangat malas untuk datang ke pesta, yang pastinya akan mengumumkan perjodohan Joy dan Amera. Hal yang membuatnya sangat kesal, jika mendengarnya nanti.
"Amera, orang yang paling dia syangi sekarang. Dan aku tidak ada artinya, lagian kenapa aku begitu bodoh, bilang suka dengannya. Itu akan menambah sakit hatiku, lebih baik sekarang aku diam, dari pada harus sakit hati lagi," gerutu Alana, tiada hentinya.
ia melangkahkan kakinya diam-diam, lewat pintu belakang. Beranjak keluar dari rumahnya. Ia tidak mau menghadiri pesta, lebih baik bersenang-senang sendiri di luar.
"Hari ini, terakhir. Aku harus memanfaatkan dengan hal baik. tapi sepertinya aku ke pantai dulu, menenangkan pikiran." gumam Yiwen, yang langsung mengambil sepeda miliknya, mengayun sepedanya pergi menjauh dari rumahnya.
"Eh... awas-awas." ucap Alana, menciba mengerem sepedanya, yang sepertinya remnya lagi blong.
Seorang alki-laki, memegang boncengan belakang Alana, membuat gadis itu terjatuh ke samping. "Kamu gak napa-napa?" tanya laki-laki itu.
"Sakit!!" ucap Alana manjanya.
"Ia mendongakka. keoalanya, menatap seorang laki-laki yang tidak asuming baginya.
"Kamu bukanya anak dari tante Sheila kan?" tanya Alana.
"Iya," jawab David datar.
"Kamu kenapa di sini, naik sepeda lagi" lanjutnya.
"Aku mau pergi!!"
"Ksmana?"
"Bukan urusan kamu,"
David menghembuskan napasnya, sifat cueknya terasa tersaingi sekarang. Lagian Alana benar-benar membuat dia jengkel saat pertama bertemu juga tidak pernah berbicara padanya.
"Baiklah, kalau begitu. Kamu bisa jalan sendiei kan?" tanya David.
"Memangnya kenapa?" Alana masih sibuk dnegan tangannya, yang tidak berhenti mencoba menatap luka gores di lengannya dan sikunya. Ia terus meniup lukanya, yang merasa sangat sakit.
"Aw---"
David yang merasa tidak tega, ia duduk jongkok di depan Alana, dengan salah satu kaki ia tekuk, dengan segera, ia merobek gaun panjang Alana sedikit.
"Apa yang kamu lakukan?" tanya Alana kesal.
"Diamlah!!" ucap tegas David, yang langsung mengikat luka Alana. Dengan gaun yang ia ambil tadi.
"Lebih baik begini, agar luka kamu tidak terkena debu, dan kamu bisa mengobatinya nanti. Jangan sampai kena pasir, atau air dulu.
"Emangnya kamu tahu, kalau aku mau ke pantai?" tanya Alana, heran.
"Kalau kamu menuju lurus, berarti kamu ke pantai, memangnya ke arah sana kamu mau kemana, di sini gak ada rumah. Kecuali pedagang di pinggiran pantai nantinya.
Alana terdiam, ia merasa malu, naoranya sudah di ketahui oleh David.
"Makasih!!" ucap Alana lirih, dengan kepala sedikit menunduk.
"Untuk apa?"
"Soal tadi!!"
"Lupakan saja, anggap saja tadi aku tidak menolongmu!" ucap jutek David.
"Ternyata dia cuek juga, gitu kak Cia suka dengannya. Dasar aneh." gumam Alana lirih.
"Kamu bilang apa tadi?" tanya David, meskipun Alana bergumam lirih, pendengarannya sangat tajam, bakan sekecil apapun suaranya ia mendengarnya.
"Pegilah!!"
Alana beranjak berdiri, mengangkat sepedanya yang terguling, dan beranjak pergi menuju ke pantai, dengan menahan sakit yang semakin menjalar di tangannya.
"Udah tahu sakit, tapi masih di paksakan!!" Gumam david, menggelengkan kepalanya, dan berjalan mengikuti Alana dari belakang. Rasa iba-nya tidak bisa membiarkan wanita kesakitan berjalan sendiri menuju ke pantai.
------
Sedangkan Alana, dia yang merasa sangat cemas. Tidak melihat David dari tadi, bahkan di kamarnya juga tidak ada. Ia berjalan keluar, mencari David.
Cia berjalan keluar, menunggu beberapa temannya, juga sembari menunghu David. Untuk datang ke acara pesta, yang akan di selenggarakan keluarganya. Dan kali ini ia ingin sekali menunjukan pada semua orang, siapa orang yang ia sukai.
Ia melihat Miko, datang. Dan segera menghentikan montornya, mematikan mesinnya. Dan beranjak turun dari montornya. Berjalan mendekati Cia, yang sudah ada di depannya.
"Mana Alana?" tanya Miko, menatap wajah Cia, yang terlihat sangat cemas.
"Alana mungkin di kamar, aku tidak tahu dari tadi. Sekarang aku mau mencari seseorang, ia belum juga kembali." ucap Cia, dengan wajah yang sudah semakin cemas.
"Ya, sudah aku masuk dulu, ya." ucap Miko, menepuk bahu Cia.
"Ehh.. bentar!!" Cia, menoleh, membuat kakinya, sepatu high heels miliknya tergelincir, membuat ia hampir saja terjatuh, dengan sigap tangan Miko, menumpu tubuh Cia. Membuat ke dua mata mereka saling tertuju.
Kenapa dengan Miko jantung aku berdetak lebih cepat. Apa aku masih suka dengannya? Tapi memang mau bagaimanapun, dia cinta pertama aku, orang pertama yang aku cintai, dan sekarang dia adalah pacar adik aku.. Aku boleh seperti ini terus.. Gak boleh..
Cia mencoba menghilangkan pikiran itu dari otaknya, dan mencoba untuk kembali pada dasarnya. Menyukai David, dan hari ini hari spesial untuknya dengan David.
"Kamu gak napa-napa kan?" tanya Miko, mencoba membantu Cia berdiri lagi.
"Eh.. iya, aku gak napa-napa kok," ucap Cia.
"Iya, sudah sekarang aku mau pergi dulu." ucap Miko.
"Eh.. Bentar, Mik." Cia mencoba melangkahkan kakinya.
"Aw--"
"Apa kaki kamu keseleo, coba aku lihat dulu," ucap Miko, mencoba memapah tubuh Cia, berjalan menuju kursi di teras rumahnya. Miko duduk jongkok.
"Mana yang sakit?" tanya Miko.
"Yang kanan,"
Miko memegang kaki kanan Cia, mencoba membenarkan kakinya, kretekk... kretekk..
Kenapa dia baik banget sih, saat seperti ini, kamu perhatian denganku. Biasanya kamu cueknya minta ampun, dan di mata kamu hanya ada Alana dan Alana. Sekarang aku tahu sisi berbeda dari kamu, Miko. Membuat aku semakin susah melupakanmu.
"Udah, sekarang kamu coba berdiri." ucap Miko, beranjak berdiri.
"Eh.. Iya," Cia, mencoba berdiri. Ia mencoba melangkahkan kakinya.
"Sudah sembuh," gumam Cia. Menatap ke arah Miko. "Makasih, ya!!"
"Sama-sama, oya, bantu aku cari Alana. Dari tadi aku susah banget hubungi dia." ucap Miko. Membuat Cia merasa cemburu kembali, baru merasakan senang, kini berubah menyakitkan lagi, tapi memang kenyataannya Miko bukan pacarnya.
"Baiklah, ayo ikut aku, aku tunjukan kamar Alana." ucap Cia, memegang tangan Miko, berjalan masuk ke dalam rumahnya, ia menerobos kerumunan tamu, yang menghalangi jalannya. Dan langsung naik ke anak tangga. Berjalan menuju kemar Alana.
Sheila da Keyla tahu jika Cia memegang tangan laki-laki lain, membuat mereka berdua heran.
"Siaap tadi? Aap dia pacar Cia?" tanya Sheila.
"Sepertinya bukan? Dia seperti Miko, pacara Alana," jelas Keyla. "Pasti di sedang cari Alana? aku juga tidak melihat dia dari tadi." lanjutnya.
Bicara tentang Alana, Sheila tersadar dengan David. "Oya, kamu lihat David, aku juga tidak melihatnya tadi, apa dia sedang keluar sebentar." ucap cemas Sheila.
"Mama! Tante! Apa yang kalian bicarakan," saut Amera, berjalan sendiri mendekati mereka semua.
"Aku tidak melihat David tadi,"
"Mungkin, David lagi keluar. Mama gak usah khawatir, lagian David sudah dewasa bisa pulang sendiri." jawab Amera, mencoba membuat agar mamanya tidak khawatir dengan adik angkatnya itu.