
Dalam perjalanan, Alana tertidur pulas, dan David, juga tidur pulas dengan buku berada di wajahnya.
"Huaammm.... " Gadis itu menguap lebar, dengan tangan menutupi mulutnya, dan tangan satunya menarik otot-otot tubuhnya yang terasa kaku, ke atas. Pandangannya terhenti, melirik ke arah David yang masih tertidur pulas di tempat duduk sampingnya.
Matanya menjalar menatap buku yang membuatnya tertarik.
"Sebenarnya buku apa yang di baca David, aku jadi penasaran," gumam Alana, terbesit dalam pikirannya, untuk mengambil buku itu. Gadis itu mengangkat tanganya, mengambil pelan-pelan, buku yang yang ada di wajah laki-laki di sampingnya itu.
"Opppsss!!"
Alana membungkam rapat mulutnya, saat tangan David memegang pergelangan tangannya.
"Apa dia bangun?" Alana mengibaskan tangannya ke wajah David. Merasa aman, ia melepaskan perlahan tangan David di tangannya.
Gadis itu mulai membaca daei halaman pertama buku David, sebuah novel tentang detektif. "Sepertinya ini sangat menarik, apa aku boleh pinjam ya," gerutu Alana dalam hatinya.
Setelah lima jam perjalanan berlalu, Alana dan David sampai di bandara Sydney. Ia yang sudah bangun dari tadi beranjak berdiri, namun seketika ia mengurungkan niatnya saat melihat David masih tertidur pulang di tempat duduknya.
"Kenapa dia masih tidur, apa dia gak mau turun." gumam Alana kesal, ia mendorong-dorong tubuh David, membuatnya tubuhnya tepental, ia tetap saja tidak bangun.
"Dia itu sebenarnya tidur apa sudah is dead. Kenapa dia susah banget di bangunin." decak kesal Alana, mengepalkan tangannya, seakan ingin sekali melayangkan ke wajahnya. ia menggertak kesal, dan mencoba untuk menjauhkan kaki David.
Ia melangkahkan kakinya perlahan, dengan sangat hati-hati, dan was-was. Sambil melirik ke arah David yang masih memejamkan matanya.
"Kamu mau kemana?" David menarik tangan Alana, hingga terjatuh ke dalam pangkuannya. Dan David langsung melepaskan tangannya, mengangkatnya ke atas. Seakan tidak terjadi apa-apa, ke dua mata mereka tertuju beberapa detik.
Opss... Apa yang aku lakukan, aku memegang dadanya. Laki-laki nyebelin dan super jurek ini.
"Shiittt.... Kamu cari kesempatan ya?" bentak David, seketika terkejut, melihat Alana ada di pangkuannya, dengan pandangan mata mereka sangat dekat. dan ke dua tangan Alana memegang dadanya.
"Ih... Ogah, banget. Siapa juga yang mau cari kesempatan, lagian tadi yang narik aku itu, kamu." decak kesal Alana, menunjuk tangannya ke dahi David.
"Aku? Gak mungkin, jangan banyak alasan," ucap David.
"Lagian, kalau, kamu gak cari Alasan. Kenapa juga tubuh kamu masih bersandar di pangkuan. Apa kamu betah di sini,"
Alana menatap sekujur tubuhnya, wajahnya merah seketika, saat ia sadar masih tetap stay, di pangkuannya. Seakan tidak mau berdiri.
"Sudah aku mau pergi!!" ucap kesal Alana, menghentakkan kakinya, penuh dengan emosi yang menggebu.
"Dasar aneh!!" umpat kesal David. membuat gadis itu menoleh aeketika, ia menatap tajam, dengan tatapan seakan ingin mencabik-cabik dirinya.
"Apa yang kamu katakan?" tanya Alana.
David bergegas berdiri, dan beranjak pergi, mendorong bahu Alana yang menghalangi jalannya, "Minggir gadis aneh, sekarang ku bisa bebas hidup sesukaku Kalau kamu mau pergi, silahkan cari ibu kamu. Aku mau pergi ke bar, jangan mengikutiku"
"Apa katamu? Ke bar? Kamu masih di bawah umur, kenapa bisa masuk seenaknya ke bar?"
"Bukan urusan kamu, lagian aku gak ada waktu berlama-lama dengan kamu. Silahkan pergi sekarang. aku gak mau ikut campur urusan kamu lagi." ucap David, melangkahkan kakinya keluar dari dalam pesawat.
Alana berlari mencoba mengejar David, wajahnya sudah mulai mengeram kesal, beraninya dia mengulanginya. Dnegan ke dua tangan sudah mengepal kuat.
"Heyy... Bodoh!! Berhenti!!".
Baru pertama kali ada wanita yang berani menghinanya. Ia belum tahu sifat asli David seperti apa, laki-laki yang terkenal dengan sebutan manusia es. Banyak di gemari di kalangan wanita, tapi tidak ada satu wanita yang berani mendekatinya secara langsung, bahkan menghinanya saja tak ada yang berani. Jika bykan David yang mendekatinya lebih dulu, wanita tak mau mendekat, sifatnya yang arrogan, dan juga dia terkenla sangat playboy. Triknya untuk mendapatkan hati wanita, sangat cerdik, bahkan wanita itu sampai cinta mati dengannya, dia neninggalkannya begitu saja.
Dan mendengar hinaan pertama kali dalam sejarah hidupnya. David menoleh, menajamkan tatapannya, mengarah pada Alana. Tatapan tajam David, tak membuat Alana sakit, ia juga merasa sangat kesal sudah di bohongi olehnya.
"Bodoh!!" balas Alana, menarik ke dua alisnya ke atas, bola mata hitamnya sekaan membesar, menatap semakin tajam, tanpa rasa takut, terbesit dalam otaknya.
"Sekali lagi!!" ointa David, melangkah mendekati Alana.
"Bodoh!!"
Merasa sangat kesal, rahangnya mulai mengerang, aliran darahnya mulai mengalir sangat derasnya naik ke atas.
David mengecup spontan bibir Alana, membuat gadis itu terbungkam seketika.
"Jangan pernah nenghinaku, jika kamu tidak mau aku bertindak lebih dari ini nantinya. Aku bisa bertindak lebih kasar dan ganas, dan ingat. Jangan mengikuti lagi sekadang, pergilah, cari alamat yang kamu tahu." jelas David, tanpa rasa bersalah. "Dan juga soal tiket pesawat makasih, kamu memang sangat baik. Lain waktu akan menggantikan uang kamu.
Alana mengusap bibirnya, dengan punggung tangannya, dengan mata semakin menajam, hembusan naaps kesalnya, terasa semakin berat. Saat menatap David yabg audha pergi menjauh darinya.
"Damt it!" umpat kesal Alana, hanya bisa diam menatap David yang semakin berjalan menjauh darinya.
Awas saja kamu David, aku akan membalas kamu dengan segera. Ingat balasan aku jauh lebih menyakitkan nantinya. Sekarang lebih baik aku pergi darimu, atau aku mengikutinya secara diam-diam, aku akan membalas semuanya Secara diam-diam juga.
"Aku ingin tahu seberapa bertahannya kamu di kita ini. Jika kamu bisa bertahan, aku akan memberi tahu kamu, di mana alamat rumah yang kamu pegang." gerutu David menarik sedikit, sudut bibirnya sinis, dengan senyum licik, penuh arti dari bibirnya.
"Terus sekarang aku harus cari penginapan, oku..kalau begitu." ucap Alana, menatap kesal ke arah David, yang tidak menolak sama sekali ke arahnya.
David.. Kau yang memulai, baiklah, aku akan membuat kamu menyesal juga nantinya. Lagian siapa suruh ninggalin aku begitu saja.
David naik sebuah taksi, menuju ke sebuah Bar. Dan Alana yang mengikutinya, ia menghentikan taksi di dan meminta sopir taksi itu, untuk mengikuti David.
Sampai di sebuah Bar, David sudah di tunggu wanita di depan.
David pergi ke sebuah bar, bertemu dengan seorang wanita cantik dan juga seksi di sana. Sia terlihat sangat dewasa, mungkin umurnya sudah 3 tahun di atasnya. Dengan penampilan seksi dan rok sangat minumnya, serta balutan baju yang kurang bahan, membuat lekukan tubuhnya terlihat.
Ia memegang tangan gadis itu, untuk menikmati musik di depan.
"Ternyata ini yang di lakukan dia di sini. Dia suka bermain dengan wanita." gumam Alana.
"Dia pergi ke dalam, apa yang harus aku lakukan, apa aku masuk ke dalam Aku gak tahu bar itu tempat apa, kenapa dia berada di sini dengan wanita cantik.
Alana menarik napasnya dalam-dalam, dan mulai mengumpulkan semua keberaniannya untuk masuk ke dalam sebuah bar.
Kelakuan pria yang menjijikkan." Alana menarik kopernya masuk ke sebuah bar, dengan pandangan mata berkeliling, mengernyitkan telinga dan matanya, mendengar suara keras musik dj, dan gemerlip lampu, dengan suasana ramang, ia berjalan semakin menatap aneh. Baru pertama kali seumur hidupnya datang ke sebuah bar.
"Kenapa dia ada di sini? Tempat ini aneh!!" gerutu Alana, menatap sekelilingnya. Penuh dengan gadis seksi, dan laki-aki pemabuk.
------
# David pov
"Kamu terlihat seksi sekarang, Reva."
Reva mengalungkan tangannya ke leher David, dengan gerakan tubuh mengikuti musik dj.
"Kamu juga tampan syang, aku beruntung banget bisa dapatkan kamu. Padahal banyak ribuan wanita yang mengejar kamu sekarang." bisik Reva, sembari memeluk mesra tubuh David.
Alana yang melihat kejadian itu, terbesit hal gila dalam otaknya. Ia menitipkan kopernya pada pegawai bar, dan bergegas pergi dengan senyum tipis, dan liciknya.