
Cia berhenti tepat di depan ruang Icu tempat di mana Joy di rawat.
“Kak! Di mana Joy?” tanya Alana, menatap pintun ruang ICU di depannya.
“Dia ada di dalam sekarang, kalau kamu mau masuk kakak akan temani kamu, tapi kita nunggu dokter, pasti bentar lagi mereka cek keadaan Joy” ucap Cia, yang memopang tubuh Alana.
Alana memegang ke dua bahu Cia, mendorong-dorongnya pelan. Iamasih belum terima dengan apa yang ia lihat sekarang. lana masih tidak berhenti menyalahkan dirinya sendiri dari tadi, ia tidak bisa terima, kakanya yang selama ini baik padanya sekarang sedang terbaring tak berdaya.
“tapi kak, apa dia baik-baik saja? Dia pasti akan sadar kan kak! Kak jawab dia pasti sadar kan?” Alana tak berhenti bertanya pada Cia. Dengan isak tangis yang semakin menjadi.
Cia menarik napasnya dalam-dalam dan mencoba menenangkan hati adiknya itu, memegang ke dua bahu Cia, yang terus menangis tersedu-sedu. “Cia tenanglah, aku mohon pada kamu untuk tenang. Aku yakin jika Joy pasti akan segera sadar, dia laki-laki kuat, mungkin ia hanya merasa trauma dan tidak sadarkan diri. Tunggu sampai besok pasti dia sadar, kamu tenanglah! Dan jangan terus menyalahkan diri kamu sendiri.” Ucap Cia mengusap rambut Alana. “Kasihan dia, dia sangat menyangi adik semata wayangnya ini, kalau dia tahu kamu kamu terus menyalahkan diri kamu sediri dan terus menangis. Maka dia akan sedih nantinya.” Lanjut Cia menjelaskan.
“tapi kak, semua gara-gara aku, Joy menolongku. Jika dia tidak menolongku mungkin gak akan terjadi seperti ini” gumam Alana. ‘Karean semuanya memang sudah salah aku kak” lanjutnya.
“Na, dia menolong kamu karena dari sangat menyayangi adiknya. Kalau kamu kenapa-napa dia juga pasti akan merasa bersalah. Dan terus menyesal sepanjang hidupnya.” Ucap Cia mencoba menenangkan adiknya.
Alana hanya diam, ia menyeka air matanya yang terus membasahi pipinya. Tanpa sadar Miko yang tadinya sedang pergi ada urusan ia kembali lagi dan menghampiri Alana dengan Cia di depan rung rawat Joy. Miko menarik napasnya, memegang ke dua bahu Alana, membuat Cia yang dari tadi di depannya terpaksa menghindar dan mundur beberapa langkah, untuk memberi kesempatan miko bicara pada Alana.
Miko memegang dagu Alana, mendongakkan kepalanya ke atas, agar ia bisa menatap mata Alana yang terus meneteskan air matanya. Jemari tangannya mengusap lembut air mata di pipinya bergantian.
“Alana! Jangan menangis, kalau kamu sedih gak hanya Joy yang sedih, semua yang ada di sini juga sedih melihat kondisi Joy dan kamu. Aku juga gak mau kamu terus menyalahkan diri kamu sedniri, ini hanya kecelakaan yang gak sengaja. Jadi stop jangan menyalahkan diri kamu sendiri, atau malah menyakiti diri kamu sendiri.” Gumam Miko, yang langsung memeluk tubuh Alana, untuk menenagkan hatinya sejenak.
Cia yang melihat itu, hanya bisa tersenyum. Meski dalam hatinya ia merasa sakit, melihat orang yang ia sukai sejak lama, menyukai orang lain dan lebih perduli dengan orang lain, yaitu adiknya sendiri. Ia menarik napasnya, menghembuskan perlahan, kemudian berjalan dengan langkah ringan menepuk bahu Alana. “Sekarang ayo aku antar kamu masuk, sekalian ada dokter yang akan masuk ke dalam” ucap Cia, menatap ke arah Dokter yang mau masuk ke ruangan Joy utuk memeriksa keadaan Joy saat ini.
Miko, melepaskan pelukannya. “kamu di sini saja Mik, biar aku dan Alana akan masuk” ucap Cia, memegang tangan Allana menuntuknya berjalan mendekati dokter.
“Kalian mau jenguk pasien di dalam, apa kalian keluarganya?” tanya dokter itu.
“Iya, dok saya kakak dan ini adiknya” jawab Cia, dengan nada penuh keramahan.
“Baiklah, kalau gitu ikut saya masuk”
“Iya dok” Alana yang hanya diam, ia berjalan di belakang mengikuti dokter itu masuk ke dalam ruangan Joy. Seketika ia melebarkan matanya saat melihat Joy terbaring tak sadar dengan alat bantu pernapasan yang terpasanya, ia tak kuasa meneteskan air matanya lagi. Ia berjalan ringan, dengan mulut setengah terbuka, dan air mata terus mengalir membasahi pipinya. Alana memegang tangan Joy, dan duduk di sampingnya.
“Kak! Maafin aku kan, semua ini salah aku, Alana yang salah. Alana yang ceroboh, jika Alana gak pergi ke danau, mungkin kak Joy juga gak akan mencari Alana. Maafin Alana kak, aku mohon sekarang kakak sadar” ucap Alana, dengan menempelkan tangan Joy pada pipinya.
“Mohon maaf, sekarang saya memeriksa kondisi pasien” ucap Dokter, seketika Cia memegang bahu Alana, dan membantunya berdiri, dan mundur beberapa langkah. Untuk mengijinkan Dokter itu memeriksa Joy. Alana menenggelamkan wajahnya pada di dekapan Cia, ia terus mengusab punggung Cia mencoba menenangkan hati Alana. “Sudah Na, jangan menangis lagi. Kasihan Joy nantinya, biarkan dia istirahat sejenak, aku yakin jika tidak sekarang, besok atau lusa dia pasti sembuh. Kamu sekarang juga harus jaga kesehatan kamu jangan terlalu stres juga” ucap Cia mengingatkan.
Dokter selesai memeriksa Joy, Alana berdiri tegap, memandang ke arah doter itu. “Gimana dok keadaan kakak aku” tanya Alana.
“Kalian berdoa saja untuk yang terbaik, agar kakak kamu cepat sadar.” Ucap dokter itu. “ Sekarang biarkan dia sendiri, boar dia bisa tenabg. Klaian pergi dulu” ucap Dokter itu seketika ,membuat Alana kecewa.
“Kenapa saya gak bisa melihat dia dok, aku mau menemani kakak aku dok! Aku gak mau pergi, dan aku kana tetap di sini.” ucap Alana, dengan nada penuh kekecewaan dalam hatinya.
“ Alana! Udah na, jangan begitu, kita turuti apa kata doternya. Besok kita lihat Joy lagi, siapa tahu jika besok dia akan sadar. Sekarang kita kembali ke kamar kamu ya, kamu harus istirahat. Biar besok bisa pulang jika kamu sudah pulih. Dan kamu juga bisa jaga Joy nantinya” Cia, menuntun tubuh Alana yang seakan sudah lemas untuk berjalan tegap, ia perlahan menuntunnya keluar dari ruangan Joy. Namun, pandangan Alana terus ke belakang, ia tidak berhenti memandang Joy yang masih berbaring.
“Kak! Aku tinggal dulu” gumam Alana, yang perlahan melangkahkan kakinya keluar.
Miko yang dari tadi duduk di depan, ia tidak sabar jugamenunggu kabar dari mereka berdua. Lagian dia dan Joy baru saja berteman, tiba-tiba ia terkena musibah. Meskipun dulu ia musuh, tapi ia juga tidak bisa membeiarkan Joy terus berbaring di sana.
“Alana! Cia!” panggil Miko, beranjak berdiri, menatap ke arah Alana dan Cia yang baru saja keluar.
“Gimana ke adaan Joy? Apa dia sudah sadar sekarang? Dean apa kata dokter?” tanya Miko berunt8un, seakan dia sudah tidak sabar menunggu kabar dari mereka berdua.
“Kak Joy masih terbaring” ucap Alana, menundukkan kepalanya.
“Miko, kamu bawa Alana kembali ke kamarnya, aku mau pulang dulu jemput ibu” ucap Cia, menyerahkan Alana pada Miko.
“Apa kamu nanti kembali lagi?” tanya Miko.
“Em, memangnya kenapa, jika aku kembali lagi. Apa kamu gak suka?” jawab Cia jutek.
“Kebapa kamu jadi sewot gitu, kalau kamu kembali ya sudah lagian kamu kakanknya Cia dan Joy. Aku udah yakin jika kamu kembali” gumam Miko tidak mau kalah.
Cia, melipat ke dua tangannya di dadanya, dengan mata melebar menatap Miko. Mendekatkan wajahnya lebih dekat, dengan berbisik. “Sudah tahu jangan tanya!!”
“Gak ada yang salah, tapi kamu buang-buang waktu aku untuk menjawab pertanyaan kamu yang gak penting itu. Dari pada banyak bicara dan bertanya tentang aku lebih baik diam, dan sekarang cepat bawa alana pergi ke kamarnya, sekarang waktunya dia makan dan minum obat. Setelah itu dia harus istiraha agar tubuhnya bisa bugar kembali besok” ucap Cia, yang langsung membalikkan badanya dan beranjak pergi.
“Dasar cewek aneh!”
“Udah, antarkan aku ke kamar” ucap Alana.
Miko segera membawa Alana pergi ke kamarnya. “Kamu sekarang duduk dulu” ucap Miko, dengan badan agak menunduk mengangkat kaki Alana ke atas ranjang pasien. Dan duduk bersandar di ranjang.
“Kamu di sini, bia aku suapi kamu ya” ucap Miko.
Alana hanya diam, wajahnya masih muram memikirkan apa yang terjadi. Ia terus menunduk tanpa berani menatap Miko di depannya.
“Alana, kenapa kamu diam saja?” tanya Miko, memegang tangan Alana, duduk di atas ranjang dengan membawa kotak makanan yang sudah di sediakan pihak rumah sakit untuk Alana.
Alana menarik napasnya dalam-dalam, memejamkan matanya beberapa detik, lalu mengeluarkan perlahan. "Biar aku yang makan sendiri" ucap Alana.
"Aku saja yang suapi kamu!!"
"Gak mau!! Aku bisa makan sendiri"
"Alana, udah biar aku yang suapi kamu ya"
Alana memegang kotak makanan di tangan Miko, menatapnya dengan tatapan dinginnya.
"Kak Mik, aku bisa makan sendiri" ucap Alana Lirih.
Miko mengehmbuskan napasnya. "Baiklah, terserah kamu saja" ucap Miko, ia segera mengiapkan obat untuk Alana. yang sudah di siapkan di atas meja.
"Oya, kenapa kak Miko mau merawatku?" tanya Alana, membuat Miko menatap ke arahnya.
"Emm.. Aku juga gak tahu, tapi yang aku tahu aku sangat perduli denganmu"
"Kenapa perduli denganku?"
"Karena ak---"
Tok.. Tok.. Tok...
Suara ketukan pintu membuat Miko menghentikan ucapanya.
Seorang laki-laki masuk ke dalam ruangan Alana. Membuat Miko yang semula duduk ia seketika bangkit dari duduknya. dengan mata melebar menatap ke arahnya. "Siapa kamu?" tanya Miko, memincingkan matanya sinis.
"Kak Adrian!!" sapa Alana dengan senyum tipisnya.
"Alana!! kamu gak apa-apa kan?" tanya Adrian.
"Gak apa-apa kak, aku baik-baik saja."
"Syukurlah!! Dan Joy di mana dia?"
"Dia belum sadar kak!! Oya, aku mau tanya, yang bawa Alana ke sini kak Adrian kan? Jadi kakak pasti tahu kenapa Kak Joy bisa tergelam dan dia bisa menyelamatkanku?"
Adrian terdiam, memarik napasnya dan mencoba bercerita pada Alana. "Joy memang menolong kamu, tapi setelah dia berhasil menyelamatkan kamu. Ia terus terbawa arus. Dan warga yang menemukannya. Tapi melihat dia masih hidup warga membawanya segera ke rumah sakit. Dan semua juga sudah berusaha menolongnya dengan ilmu sederhana yang orang desa bisa." gumam Adrian.
Miko yang berdiri di depan mereka bingung. Siapa sebanarnya Adrian ini dan kenapa dia bisa sangat kenal dengan Alana, bahkan terlihat akrab, pikirnya.
"Apa kamu temannya?" tanya Miko pada Adrian.
"Iya dia teman aku, kak Adrian." ucap Alana.
Miko mengulurkan tangan ke arah Adrian, mencoba untuk tersenyum. Meski dalam otaknya penuh dengan berbagai pertanyaan. Kenapa bisa Alana kenal dengan laki-laki dan mudah banget akrab, sedangkan dengan dirinya saja cueknya minta ampun, pikirnya.