
Amera dan Joy yang sedang asik berbincang berdua. Cia tiba-tiba datang dan menggertakkanya. Dari belakang.
"Joy..!!" teriak Cia dengan suara khas melengking miliknya.
Membuat Joy yang fokus berbicara dengan Amera ia sontak terkejut, beranjak dari duduknya. Ia menatap penuh kekesalan pada kakaknya itu. "Cia, kamu bisa gak kalau tidak mengejutkan ku. Kamu itu selalu saja jail. Aws saja nanti aku balas kamu ya." ucap kesal Joy, yang langsung duduk kembali.
"Yee.. Gitu saja marah. Padahal aku hanya bercanda Joy" Gumam Cia, mencubit ke dua pipi Joy. "Di lihat wanita cantik, jangan ngambek gitu. Apa kamu gak malu!!"
"Lepaskan tangan kamu, Sakit!!" ucap Joy tegas, melebarkan matanya, dengan tatapan tajamnya mengarah pada Cia. "Jangan bilang yang macam-macam" Joy menginjak kaki Cia, menarik ke dua alisnya ke atas.
Cia meringis, ia menatap ke samping, melihat wanita cantik duduk di samping Joy.
"Eh... Amera!! Kamu sendiri di rumah tadi?" tanya Cia, duduk di depan Joy. "Kalian sudah lama berbincang berdua. kenapa gak ajak aku, padahal aku bosen tadi di kamar sendiri." ucap Cia.
"Aku tadi keluar bentar, jalan-jalan di sekitar sini. Terus aku melihat Joy duduk sendiri di depan. Jadi aku samperin dia" ucap Amera melirik ke arah Joy.
"Oya, Joy..Apa kamu gak ingat, waktu kecil kamu pernah bilang jika kamu akan menikahi Amera jika sudah dewasa" ucap Cia.
Joy, mengerutkan keningnya. Menyatukan alisnya, menatap ke arah Cia dan Amera bergantian. "Bentar Amera memangnya anak ke berapa?" tanya Joy.
"Aku anak pertama, memangnya kenapa?" tanya Amera.
"Tapi bukanya anak om Ian itu bukan Amera!!" ucap Joy, yang merasa bingung.
Cia yang melihat Joy tersenyum tipis. "Apa kamu gak tahu jika dia itu ganti nama. Aku sering berhubungan dengannya. Jadi aku tahu semuanya. Lagian kamu juga sudah sering di hubungi Amera, tapi kamu gak pernah balas sama sekali chat darinya." ucap Cia menjelaskan.
"Jadi dia tahu semua tentang aku juga pasti dari kamu ya?" ucap Joy, dengan tangan menunjuk ke depan wajah Cia.
"Gak apa-apa kan, kalian itu sangat cocok lo" ucap Cia menggoda.
Joy, menginjak kaki Cia untuk ke dua kalianya, dengan tatapan tajamnya, mengarah ke arah Cia. Namun, Cia merasa tidak takut, dan ia semakin menantang. Menatap tajam balik ke arah Joy.
"Eh.. Maaf, aku gak tahu kalau Amera itu anak om Ian. Aku kira tadi kamu siapa." ucap Joy, menatap ke arah Amera.
"Jadi sekarang kan kamu sudah tahu, Amera itu siapa. Apa kamu sekarang masih mau menepati janji kamu, waktu kamu masih sangat kecil, masih ingusan."
"Tentang apa?" tanya Joy seakan dia lupa dengan apa yang pernah dia katakan dulu.
"Masak kamu kupa, kalau kamu sudah dewasa nantinya akan menikah dengan Amera. Itu yang oernah kamu bilang dulu. Pada om Ian, tante Sheila dan orang tua kita." tanya Cia.
Joy seketika terdiam, ia sebenarnya ingat dengan ucapan konyol itu. Dan utu juga gak masuk akal, jika harus menepari janji asal-asalan ucapan anak kecil.
Dan gimana bisa ia menikah dengan orang yang tidak ia sukai. Dulu memang ia masih kecil dan tidak tahu apa-apa, sekarang ia sudah mengenal tentang cinta. Dan tapi jika semua takdir berpihak pada Amera, maka tidak memungkinkan jika dia akan menikah dengan Amera dewasa nanti.
"Joy, kenapa kamu diam?" tanya Cia, mencubit tangan Joy.
"Awww... Sakit Cia" ucap kesal Joy.
"Lagian kamu, di ajak bicara malah melamun sendiri. Nanti kesambet lo" ucap Cia.
"Kesambet cinta pujaan hati gak masalah"
"Dasar gak jelas"
Cia menguntupkan bibirnya kesal, hingga bibirnya manyun beberapa senti.
Alana yang mendengar pembicaraan mereka. Ia terdiam, dan bergegas masuk ke dalam kamarnya lagi. Entah kenapa sakit sekali hatinya, mendengar hal itu.
----
"Udah capek aku bernatem denganmu," ucap Cia.
"Salah sendiri" jawab Joy kesal.
"Iya gimana soal jawaban tadi? Apa kamu sudah ingat dengan janji itu. Dan akan menepatinya" tanya Cia mendesak Joy.
Ia memang sengaja jika menjodohkan Amera dengan Joy. agar Joy bisa melupakan masa lalu yang membuat ia merasa sangat kesal dan geram. Hubungan yang tidak semestinya, itu tidak boleh terjadi.
"Cia kamu ngomong apa, ku saja masih sekolah. dan aku masih mau kuliah terus kerja. Aku gak mau menikah dulu. Pikiran itu masih sangat jauh dari pandanganku." ucap Joy tegas.
"Emangnya dulu kamu pernah bilang seperti itu?" tanya Amera pada Cia.
"Pernah, dia itu waktu kamu masih bayi, dia pernah mengucapkan hal itu. Tapi enrah dia ingat atau enggak. Dan kamu setuju gak kalau menikah dengannya?" tanya Cia pada Amera.
"Cia kamu bicara apa sih?" tanya Joy, menatap tajam ke arah Cia. Namun, Cia tidak perdulikan tatapan Joy.
"Cia, jika Joy nanti memang beneran seperti apa yang di bicarakan. Aku pasti akan menerimanya" ucap Amera, dengan senyum tipisnya.
"Joy.. Aku tahu kamu itu masih kuliah. Dna cita-cita kamu ingin seperti papa kan. Tapi kamu juga harus tepati janji kamu yang pernah kanu ucapkan" ucap Cia, mengingatkan Joy.
Joy, menarik bibirnya sinis. "Kenapa kamu bisa berbicara seperti itu. Aku dulu masih kecil dan enggak tahu apa-apa. Jadi stop jangan bilang seperti itu lagi. Aku anggap Amera sebagai adik aku sendiri. Dan tidak lebih" ucap Joy tegas.
Cia semakin geram dengan jawaban Joy. "Terus kalau Alana gimana?" tanya Cia dengan nada tinggi.
"Emang Alana kenapa?" tanya Keyla, yang baru saja pulang, dan turu. dari mobilnya.
Cia menoleh, menatap keluarganya sudah pada pulang. "Mama, gak ada apa-apa kok!!" ucap Cia.
"Om, tante!" sapa Joy, pada Ian dan sheila yang berada di belakang orang tuanya.
"Kalian, ayo masuk. Kita makan bersama" ucap Keyla, memegang tangan Cia berjalan masuk.
"Joy, Amera! Ayo kalian juga ceopat masuk" sambung papa Alvin.
"Iya, pa." jawab Joy.
Ia masih diam, menunggu mereka masuk semua ke dalam rumahnya. Joy memikirkan kata Cia tadi. Gimana bisa Cia tahu tentang Alana. Apa dia percaya dengan apa yang di katakan Miko. Ini gak bisa di biarkan. Aku gak mau semua tahu, jika Alana sampai dengar dia pasti akan marah dengan aku, dan menuduh aku yang menyebarkan semuanya. Pikir Joy.
"Joy, ayo masuk. Kenapa kamu masih diam di situ!!" ucap Amera, menarik lengan Joy, bergegas masuk ke dalam rumah.
Joy hanya diam, mengikuti langkah Amera.
mereka sampai di ruang makan, semua sudah bersiap temasuk Alana, yang dari tadi sibuk di kamarnya. Dan Cia yang memanggil Alana tadi, di kamarnya.
ke dua mata Joy dan Alana saling tertuju beberapa detik. Dan Alana lebih memilih, diam dan menundukkan kepalanya.