My First Love

My First Love
80. good ide



alvin menyusul dian dari belakang sambil sumringah puas rasa nya mengerjai istri tercinta nya itu.


"loh...loh..loh... kog naik mobil lain sih sayang, ayo dong naik mobil aku yang, katanya tadi mau barengan berangkat kerja nya, lah ini kog???", alvin mengetuk kaca mobil di bagian kursi penumpang milik sang istri.


dian hanya menurun kan setengah kaca mobil nya sambil menatap kedepan tanpa ekspresi.


"yang... ayolah... ada apa sih ini?", rengek alvin manja


dian tidak mau menyahut sedikitpun dan tak mau menggubris apapun.


meski di dalam hati nya merasa sangat lucu dengan suami nya itu. ia menahan tawa nya.


"ayok jalan raf", kata dian masih dengan sikap nya yang acuh seakan tak ingin berbicara dengan suami nya.


"ahhhh sia*l.. ada apa lagi sih ini?? nyiksa gue mulu", pekik alvin sambil melayangkan tinjunju nya ke udara bebas lalu berjalan menuju mobil nya.


di dalam mobil sudah ada ivan yang duduk manis di bagian depan sambil menatapi kaca spion mobil memperhatikan sang bos dan istri bos.


"apa sih yang di bicarakan nya? apa dia gak dapet jatah semalam? trua pagi pagi minta jatah tapi gak di kasih? hahaha adil banget nih takdir", batin ivan.


alvin membuka pintu mobil bagian depan di saping pengemudi lalu duduk namun enggan untuk memakai sefty balt nya.


"jalan", pintah alvin pada ivan


"siap!!", seru ivan lalu menjalankan mobil nya namun belum keluar dari pagar rumah, ivan merem mobil nya serentak.


"dum", "aaaawwwwww sialan lu bre*sek", teriak alvin histeris saat dahi nya terbentur dengan lumayan keras.


alvin memegangi dahi nya yang terasa hampir pecah, kepala nya benar-benar terasa nyut-nyutan dan pandangan sedikit agak kabur.


"maaf bos, maaf..!!", ivan berusaha memegangi dahi sang bos dan "bukkk", satu tinjuan menghantam ke hidung ivan.


"waahhhhhh huhuhuuhuhu waaaa wuaaaaaa", ivan menangis histeris sehadi jadi nya di dalam mobil itu.


alvin bengong dan tak berkata-kata lagi. dalam benak nya muncul ide licik.


"diam lo.... cepat bawa gue ke rumah sakit, kepala gue hampir bocor gegara elu", pinta alvin pada ivan.


"ehh lo gak liat apa idung gue berdarah kayak gini? hah? gue bilangin lo sama mama ntar, liat aja lo", ivan balik mengancam ivan.


"tapi lo kan yang...", belum sempat alvin menyelesaikan kata-kata nya tapi ivan menghentikan nya.


"diammmmmmmm diammmm diammm lo gak pake tu tali-tali pengikat tubuh di mobil, kalo lo pake tadi gak bakalan begini. ini semua salah lo, lo nyetir sendiri. minggir lo", ivan sangat emosi


bagaimana tidak? alvin meninju hidung mancung nya, betapa ia sendiri sangat menjaga hidung nya itu.


"oke. awas lo!!", pinta alvin tak kalah sengit nya.


"lo yang awas..!!! keluar dan gua bergeser kesana", pinta ivan yang hanya di turuti alvin.


alvin mengitari mobil nya, bergantian menjadi pengemudi untuk hari ini.


"bisa gula gue lama-lama kalo sama ivan, bukan kah aturan nya kalo dia lagi sma gue saat jam kantor kan dia seharus nya melayani gua seperti layak nya atasan dan bawahan? lah ini kok? si*al benar gue", gumam alvin lalu membuka pintu mobil dan memakai safety belt


di dalam mobil tak ada pembicaraan apapun lagi, perdebatan apapun tidak lagi ada.


"seperti tak berpenghuni mobil ini", batin ivan melirik alvin yang sednag menyetir mobil


"ngapain lo lirik-lirik gue, lihat yang benar kedepan dan jangan gangguin gue nyetir", pinta alvin yang menyadari ivan sedang melirik nya saat ini.


"masih mau kerja di indonesia gak lo? atau mau gue kirimin lo me prancis? atau jerman? kayak nya lo emang lebih cocok deh kerja disana?", ancaman alvin akhir nya bisa membungkam mulut ivan yang sangat cerewet.


"ancam aja bisa nya kamu, gue sumpai. lo bakala gak di kasih jatah sama istri tercinta mu itu sampe setahun", batin ivan lalu ivan menaikan sudut bibir nya menahan tawa yang hampir keluar.


"ngapain lo? senyum senyum gitu? udah gi*la kali lo", alvin benar-benar kesal hari ini.


ivan tak memperdulikan omelan alvin lagi, ivan menyandarkan tubuh nya ke kursi dan mengambil posisi setengah tidur dan memejamkan matanya. entah alvin mau membawa mobil ini kemana kali ini, ivan sangat pasrah. ivan memejamkan mata nya menhan sakit di hidung yang masih mengeluarkan darah.


tiga puluh menit berlalu, akhir nya mobil sport milik alvin parkir di rumah sakit AA.


ivan bangun karena menyadari mobil tidak lagi bergerak dan mesin nya di matikan


ivan menerjapkan mata nya dan menyipit, merasa yang di depan nya ini bukanlah kantor tempat yang biasa ia datang setiap hari nya.


"what?? ngapain kita kesini?", ivan melebarkan pengelihatan nya merasa terkejut dengan tempat yang ada di depan nya saat ini.


"kenapa? gak mau turun lo?", tantang alvin.


"gak gue", acuh ivan


"ya sudah, kalo lo gak mau dapetin hati pujaan lo, gak usah masuk", kata alvin sambil bergerak mengeluarkan safety belt nya.


"eh tunggu.. maksud lo apan si?", ivan meraih pergelangan tangan alvin yang masih bergerak membuka safety belt nya.


"lo mau nembak winda gak?", alvin bertanya pada ivan serius


melihat kedua bola mata alvin yang meyakinkan ivan, ivan pun menganggukan nya seperti seorang anak kecil yang di tawari ice cream ole sang ayah.


"mau..mau..mau..tapi kenapa kita sampe kesini sih? bukan kah kita ke restaurant untuk melamar atau menyatakan cinta?", ivan masih sangat bingung.


"hadeh... justru karena itu, kalau di restaurant kayak nya dia gak bakalan mau deh, atau mungkin saja dia mau tapi lo kan harus berusaha sebisa mungkin untuk meyakin kan nya. mungkin saja dia udah punya pacar, mungkin juga dia jual mahal sama lo dan dia bakalan mengulur waktu gitu", jelas alvin panjang kali lebar pada ivan yang terlihat bingung dan perlahan mulai mengerti arah dan tujuan maksud kedatangan nya kesini sekarang.


"oke", jawab ivan mantap setelah ia mengerti dengan tujuan kedatangan nya ke rumah sakit. tidak lain untuk menghebohkan sekantor dan memastikan sang pujaan hati nya datang menjenguk di rumah sakit.


"baguslah, mungkin dengan begitu di akan bersikap baik pada ku dan perhatian lalu dia merasa simpati dan jatuh cinta deh, hahaha good ide ",


kedua nya turun dari mobil sport milik alvin dan menuju ruangan igd bertemu dengan Karu igd. dr Risal.


melihat sang pemilik rumah sakit datang berkunjung dan memasuki ruangan pribadi karu IGD, dr Risal akhir nya menemui sang pemilik rumah sakit tempat ia bekerja.


"bapak menemui saya? ad apa pak?", dr Risal mulai membuka percakapan.


"gak usah berbicara yang formal sal, lo tutup pintu ruangan itu dulu", pintah alvin pada dr Risal hampir terdengar seperti sedang berbisik.


sedangkan di luar sangat sibuk dengan menangani pasien masing-masing.


"ada apa datang kemari sepagi ini? waow.. apa ada sesuatu? atau ada yang bisa aku bantu?", kata dokter risal setelah menutup pintu ruangan.


"gue mau rawat inap dengan ivan di ruangan vip keluarga!! segera bereskan ruangan lalu setelah itu, hubungi istri gue dan papa mama gue, bilang ke mereka kami di rawat di rumah sakit sekarang", pintah alvin dengan penuh penekanan pada setiap kalimat nya.


.


.


.


hay guys terimakasih masih setia membaca novel ku ini. jangan lupa like dan klik tombol favorit. dan bagikan cerita ini pada teman mu 🥰🙏