
Cia Pov
“Miko kamu gak makan dulu” tanya Cia berjalan mengikuti Miko
menuju ke teras rumahnya.
“Kamu kalau mau makan, makan saja, aku akan pergi sendiri.” Ucap
Miko datar, ia masih terlihat muram dan penuh penyesalan dalam hatinya. Entah lenapa
dulu ia bisa menykai alan ayang terlihat sangat polos tapi di belakangnya dia
bermain dnegan Joy, kakanya sedniri, meski ia tahu jiak bukan kakak kandung
tapi hubungannmereka sudah terlampau jauh.
Dan sekarang terlintas dalam benak Miko jika di ingin meninggalkan
Alana, dan perlahan mulai meupakanya. Dan berharap akan menjadi hari yang indah
kelak nanti bisa mejadi dirinya yang dulu, menjadi Miko yang suka bermain
dengan wanita dan selalu memainkan wanita.
“Miko, kenapa kamunhanya diam, bagaimana kamu mau toidak
pergi sekarang, alu mau antar kamu sekarang, aku tidak mau makan, jika kamu
juga gak makan,” ucap Cia, memegang tangan Miko.
‘Lepaskan Cia, aku harap kamu jangan terlalu dekat dengan
kau, aku tidak ingin bisa serius dengan wanita. Akun akan kembali seperti Miko
yang dulu, jadi aku harap kamu juga kembali seperti dulu, menjadi Cia teman
baikku, yang selalu aku andalkan, dan kamu selalu ada buat aku,” ucap Miko, menepis
tangan Cia.
Cia menghela napasnya, dan berusaha untuk menerima kenyataan
jika dia tidak akan bisa memiliki Miko, dan ia tidak akan pernah jauh darinya,
itu sudah tekat dalam dirinya.
“Baik, aku akan menjadi Cia yang dulu. Tapi sekarang kamu
jangan sedih lagi. Masih banyak wanita yang sudka dengan kamu, dna jika kamu
jadi Miko yang dulu, kamu juga tidak akan sakit hati lagi,” ucap Cia, mencoba
untuk tersenyum di hadapan Miko, meski hanya senyum paksa, ia hanya ingin menunjukkan
jika dia baik-baik saja, dan tetap bisa seperti yang miko inginkan.
“Sekarang kita bernagkaty ya, nanti kamu keburu telat,” ucap
Cia, menap Miko yang sudah mulai tersenyum di hadapannya.
Ia bergegwa mengambil mobilnya, dan segera masuk ke dalam
mobil dan di ikuti Miko. “Biar aku yang mengemudi mobilnya.”
“Gak usah, memangnya kamu malu, jika seorang wanita yang
mengemudi mobil?”
“Emm enggak sih, lagian aku anggap kamu itu laki-laki, dan
kamu gak pernah tampil seperti anita, sih.”
“Enak saja, tapi aku wanita, wanitya tulen ya.” Ucap Cia
kesal, yang mulai mengemudi mobilnya, menjauh dari teras rumahnya.
“Baiklah, aku percaya wanita, tapi saat ada perlunya saja.”
Cia memukul lengan Miko, “Kamu mukul aku, maka aku akan
cubit hidung kamu, ya.”
David pov
Alana hanya diam menatap kemesraan mereka dalam mobil, ia
merasa sangat bosan harus mengotori matanya. Bahkan melihat hal yang tak seharusnya
ia lihat lagi. Percuma ancaman yang , ia berikan tidak ada artinya bagi mereka,
dan malah semakin menjadi, seakan tidak tahu malu melakukan di depan orang
lain, bermesraan dan bermanja berdua.
“Apa yang ingin kamu katakan tadi?” tanya David, mengusap
pipi Reva.
“Aku ingin bilang jika ayah aku setuju jika nanti aku kuliah
di sini, dan aku bisa bertemu dengan kamu terus.” Ucap reva sangat senang, lalu
mencubit ke dua pipi David.
“Apa kamu juga kuliah?’ tanya Alana yang semula diam, ia
mulai membukamulutnya.
Reva menole ke belakang, tersneyum tipis, padanya. “Iya, aku
kuliah di sini, memangnya kenpaa. Kalau kamu seumuran dnegan david atau kamu
sudha kuliah?” tanya Reva sok akrab.
“Aku kuliah,” ucap Alana datar.
‘Dia sebenarnya masih seumuranku, tapi Iq-nya di atas
rata-arat, jadi bia kuliah lebih cepat.” Saut David melilirik ke arah Alana
yang dia menunduk di belakangnya.
“Iya, kan. Alana.” Lanjutnya, mentap di belik sepi atas
kepalanya.
“Iya, benar yang di katakan David,”
“Wahhh.. kamu pintar dong, kapam-kapan kamu bantu aku
belajar ya, kamu kuliah di mana?” tanya Reva semakin penasaran dengan Alana.
“Aku akan kuliah di Inggris”
Seketika mata Reva tercengang, mendengar apa yang di katakan
Alnaa, “Di inggris? Apa akmu serius?” tanya Reva memastikan.
“Iya aku serius, dan sangat serius.” Ucap Alana.
“Gila, aku saja gak bisa kuliah di sana, dan kamu pasti
dapat beasiswa ke sana, ya,” tanya Reva. Yang langsung menatap ke arah Devid.
“Kenapa kamu gak cerita padaku David, jika kamu itu punya
suadara yang snagat pintar, kan dulu aku bisa ikut kamu ke Indonesia.” Ucap Reva.
“Pelajaran kamu dan dia beda.”
“Iya, tapi aku yakin dia bisa,”
Mereka terus berdebat gak ada hentinya, membuat Alana merasa
bosan, ia memalingkan pandnaganya mentap ke jalanan di balk kaca mobil.
“Kita mau pergi kemana?” tanya Reva menatap ke arah David
yang sekarang lagi megemudi mobilnya.
“Kita akan pergi ke suatu tempat syang, kita sudah lama
“Memangnya kita pergi ke mana/” tanya Reva.
“Ke pantai..”
“Iya, aku sudah lama tidak pernah pergi ke pantai, dan
sekatrnag cepat ke sana. Aku ingin foto berdua dengan kamu di sana.” Ucap Rea.
“Apa kamu gak minta persetujuan kau, aku mau tidak pergi ke
pantai?”
“Kenapa harus minta persetujuan kamu?”
“Karena kau di sini yang merasa jadi pajangan tak berarti di
belakang.”
“Iya, kamu itu aku anggap sebagai lukisan, yang hanya untuk
pajangan agar pemandangan di sekitar ruangan aku bisa lebih bagus lagi.
Alana menggertak kesal, ia menarik tangan David, “Apa yang
kamu bilang, jika kau adalah pajangan, kamu patung, patungbhidup yang gak punya
malu.” Umpat kesal Alana.
“Alana lepaskan, apa kamu gak takut bahaya tahu,” decak
kesal david.
Alana melepaskan tangan David dan beranjak duduk kembali di
kursi belakang, memalingkan pandnagannya kesal, mentap samping kaca mobil,
terlihat pemandnagan pantai yang sudah nampak di depan pandnagannya.
“Pantai yang indah!!” gumam Alana, sekan matanya langsung
berbinar menatap pantai yang snagat indah di depannya, dengan hamparan pasir
putih yang sangta indah.
“kamu ska? Tapi bukanya tadi iamu gak suka ke pantai? Dasar munafik?”
“Memangnya kapan kau bilang jika aku gak suka di pantai?”
“Tad kamu nbiualmg sepeti itu,”
“Aku gak bilang seperti itu,”
‘Terus sispa yang bialng harus ijin kamu dulu kalau ajak
kamu ke pantai,”
“kamu lama-lama nyeberlin ya,” umpat kesal Alana, kembali duduk di belakang menyandarkan
punggungnya.
“sudah, jangan bernate, lebih baik sekarang kita turun, aku
gak sabar mau ke pantai, meski panas-panas gini, tapi sepertinya aik juga.”Treva
seegra turun dari mobilnya, dan menarik tangan david untuk segera keluar dari
dalam mobilnya.
“reva, jangan taik ku”
“kenapa?” ucap Reva, menguntupkan bibirnya kesal.
David tersenyu, memandang wajah Reva yang terlihat muram, “Sudah
jangan ngambek syang” ucap David, mengusap rambut Reva.
“Ayo sekarang kita senang-senan, selagi kamu dan aku gak
saling sibuk, jadi kamu harus menemani aku untuk menikmati liburan kita.” Gumam
David. Memegang tangan reva, dan beranjak menuju ke pantai yang sudah ada di
depan matanya.
Alana menghentakkan kakinya kesal, dan berjalan mengikuti
david dan Reva menuju ke pantai. Hembusan angisn pantai membuat gaun Alanan
berterbangan, seketika Alana langsung mendekap roknya, dan bernajak duduk di
pasir putih memandnagai Reva dan david yang sudah berjalan di depan jauh
darinya.
````
“reva, kamu di sini dulu ya, aku mau ke belakang sebentar.” Ucap
david, berlari menuju ke alana duduk. Dan melepaskan jaket yang ia kenakan,
untuk menutupi paha alana yang terbuka.
“Jangan umbar tubuh kamu pada seseorang.” Ucap david dan
kembali berlari menuju ke Reva berdiri.
“Alana hanya diam, dengan bibir sedikit terbuka, ia tak
percaya dengan pa yang ia lihat sekarang. Entah kenapa dia merasa aneh pada
David, yang tiba-tiba memberinya jaket, dan pacarnyabsaja tubuhnya terbuka
seperti itu. Kenbapa dia tidak memberikan jaketnya pada Reva. Kenapa memberikan
padaku,” gerutu Alana, yang langsung memegang jaket David, untuk menutupi
sekujur tubuhnya, ia memang tidak pernah berpakaian terbuka, danitu pengalaman
pertamanya.
Ternayta meski dia nakal, suka main wanita melecehkan
wanita, tapi dia masih bis amneghargai aku,” gumam Alana senyum senyum sendiri
mentap ke arah mereka.
“Alana kamu gak mau foto berdua dnegan aku, biar reva yang
foto kita.” Ucap david, yang memang pacarnya sudha mmwbawa camera dari rumahnya
tadi.
David mengulurkan tanganya ke Alana, “sekarang kamu senyum,
kita akan foto bersama, dan ingat jangan nampakkan wajh sedih kamu,” David
mentap alana, menari ke dua pipinya, membuat sebuah sneyuman kengegmaskan dari
alana.
“David sakit,”
“lagian kamu gak mau senyum, kita itu foto buat senang-senang.”
Ucap david.
Sudah hampir lima jam mereka bertia berjemur di pantai dan
Alana yang sudah mulai capek, ajak david dan Reva untuk pulang. Lagian mereka
sudah menghabiskan waktu bersama menikmati permainan air dan bercanda bersama,
seakan membuat warna kehidupan baru bagi Alana.
Mereka bergegas pulang, david dan alana yang sudah capek, ia
seakan lupa mnegmabil kopernya di rumah temannya, yang memang tak jauh dari
pantai, namun Ia memilih untuk lansgung pulang dan istirahat di rumah.