My First Love

My First Love
Mencari ibu



Silvia yang sudah berada di rumahya, ia masih belum tenang jika belum bertemu dengan Alana. Hati dan pikirannya masih sangat gekisah, dan tidak tenang, terus terbayang wajah dewasa Alana di depannya. Terkahir kali ia melihat Alana saat dia masih sangat kecil, dan hanya suara tangisannya yang masih terngiang di telinganya. Sekarang tangisan itu berubah menjadi sebuah sebutan ibu untuknya. Suara lembut Alana masih terbayang di ingatan Silvia dan setiap detik ia memutarnya berulang-ulang.


"Silvia!! Kamu kenapa? Apa ada masalah lagi? Atau kamu masih memikirkan Alana?" tanya Alvin duduk mendekati Silvia.


"Alvin kamu harus cari Alana. Aku gak mau dia di sakiti oleh anak kamu!!" ucap Silvia, memegang ke dua tangan Alvin, hingga dia perlahan berlutut ke bawah kakinya.


" Jadi kamu amsih teringat Alana?"


"Aku mohon!!" ucap Silvia, semakin menunduk.


"Silvia apa yang kamu lakukan, berdirilah. Jangan seperti ini. Aku tahu jika kamu sangat khawatir dengan anak kamu. tapi aku yakin Joy tidak akan berbuat apa-apa, dia sangat perhatian dengan Alana." ucap Alvin, mencoba membantu Silvia untuk berdiri kembali.


"Jangan seperti itu lagi. Aku tidak akan memaafkan kamu jika kamu seperti itu padaku!!" ucap Alvin, tegas.


"Iya, tapi aku ingin bertemu dengan Alana. Aku kangen dengannya, biarkan aku bertemu dengannya. Aku ingin memeluk tubuh Alana. Sudah lama aku tidak bertemu dengannya," Air mata Silvia pecah seketika, keluar semakin derasnya membasahi ke dua pipinya.


Alvin mengusap air mata yang membasahi pipi Silvia. "Tenanglah!! Aku tahu jika kmu sangat meri bukannya. Aku akan bantu kamu cari tempat tinggal mereka. Dan lebih baik sekarang kamu tenangkan diri kamu. Jangan sampai kamu terluka nanti. Aku gak mau kamu kenapa-napa juga, jaga kesehatan dan juga jangan stress." ucap Alvin, meletakkan ke dua tangannya ke telinga Silvia, membuat ke dua telinganya tertutup, rambut dan telapak tangan besar milik Alvin.


"Kamu jangan sedih. Aku akan selalu ada di samping kamu. Dan aku akan selaku membantu kamu, mencari Alana. Tinggal selangkah lagi kamu bertemu dengannya!!" ucap Ian, mengusap rambut Silvia.


"Makasih!!" Silvia menyandarkan kepalanya di dada bidang Ian.


"Iya, sama-sama. Aku sayang dengan kamu!!" gumam Ian, yang tak hentinya mengusap helaian rambut panjang milik Silvia, Harum rambutnya menyeruak masuk ke dalam penciuammnya, membuat hatinya semakin tenang jika ada di dekatnya, rasa rindu padanya membuat suasana berbeda.


"Sekarang kita pulang, aku akan antar kamu ke rumah. Setelah itu aku akan mencari Alana sendiri. Nanti aku bisa hubungi kamu,"


"Memangnya kamu punya ponsel?" tanya Silvia bingung.


"Aku ada, dan manajer aku yang bawakan kemarin di rumah kamu. Tapi kamu saja yang enggak tahu!!" ucap Alvin.


"Baiklah!! Sekarang aku ingin pergi ke suatu tempat. Kamu di rumah saja jangan ikut!!" lanjut Alvin.


"Memangnya kamu mau kemana? Atau kamu mau pergi lagi? Atau kamu mau meninggalkanku. Aku gak mau jika kamu pergi, dan membiarkan Alana tidak bertemu dengan aku!!" ungkap Silvia, meluapkan isi hatinya yang mengganjal.


"Udah tenang saja, aku akan mencari Alana. Jadi kamu jangan khawatir lagi tentang dia. Aku akan bawa di di hadapanmu, dengan selamat!!" ucap Alvin, mengusap rambut Silvia, mencoba menyakinkan Silvia untuk tetap tenang.


"Aku agak bisa tenang, jika belum bertemu dengan Alana." ucap silvia memegang ke dua tangan Alvin.


"Iya, aku paham. Tapi kamu juga harus tenang dulu. Tunggu di sini, dan ingat jangan lupa kamu makan siang." ucap Alvin, melepaskan tangan Silvia, dan beranjak pergi meninggalkan Silvia di dalam rumahnya. Namun langkahnya terhenti, saat ia teringat jika Silvia belum makan apa-apa sama sekali. Dengan terpaksa Alvin memutar tubuhnya kembali, melangkahkan kakinya kembali masuk ke dalam rumah silvia, an langsung memegang pergelangan tangannya, melangkahkan kakinya lagi menuju ke mobilnya.


"Kamu ikut aku, kita makan dulu, setelah itu kita pergi cari Alana!!" jelas Alvin.


Silvia menarik sudut bibirnya membentuk sebuah senyuman tipis, menganggukan kepalanya pelan, lalu masuk ke dalam mobil Alvin tanpa banyak bicara lagi.


"Aku harap kita bertemu dengan, Alana nanti. Aku sudah tidak sabar ingin melihatnya." ucap Silvia, yang masih memakai sabuk oengamannya, melirik ke arah Alvin yang udah duduk manis di sampingnya, menyalakan mesin mobilnya, dan perlahan mulai menjalankan mobilnya keluar dari halaman rumahnya.


------


Dan sementara Miko, yang sudah berada di London, dia teringat tentang Alana. Bahkan dia sering memandang bintang di langit, dengan memutar kenangan saat bersama dengan Alana, saat memandang bintang bersama di luar rumahnya, dan kenangan itu masih ia simpan rapat di otaknya, namun tiba-tiba kenangan itu buyar ketika dia teringat saat Joy melakukan hal yang tak pantas ia lakukan dengan adiknya sendiri.


"Arggg... Kenapa aku mengingatnya lagi. Kenangan itu tak bisa aku lupakan. Aku sangat mencintai dia, tapi di sisi lain aku sangat kecewa dengannya" gumam Miko, memandang bintang di langit, tempat di kaca apartemen mewah miliknya.


"Tapi apa lebih baik aku tanya saja padanya tentang itu? Mungkin Joy yang memaksa dia, atau dia yang memang mau. Lebih baik aku harus selidiki sendiri, sebelum semua ya terlambat, aku meninggalkan orang yang aku sayang, hanya karena salah paham." ucap Miko penuh semanagat, ia menarik dua sudut bibirnya tipis, membentuk sebuah senyuman yang terukir di bibirnya. Memegang kaca yang menembus pemandangan kota London yang begitu jelas dari atas apartemennya, dan bintang di langit seolah menyapa-nya, dengan senyum indah terang yang menyinari langit.


"Alana. Aku akan menyiram kamu apa adanya, jika memang kamu benar sudah berhubungan dengan Joy. Aku yakin kamu bukan wanita seperti itu. Dulu aku terlalu emosi menyimpulkan semuanya, sekarang aku saat jika aku salah!! Aku akan bukatikan, dan Jika Joy yangvterbujti memaksa kamu, aku akan membunuhnya nanti, telah merenggut kesucian kamu!!" gerutu Miko, menatap tajam ke depan, dengan ke dua tangan terangkat ke depan, menempelkan ke kaca, lalu mengepalkan tangannya sangat erat.


Tapi sekarang kenapa Alana masih belum bisa di hubungi. Jika aku menghubungi Cia dan nanti dai malah balik marah padaku, karena aku baim lagi dengannya. Sebenarnya kemana dia, aku kirim pesan 2 hari lalu tetkirim, tapi sekarang sudah mati, dan bahkan dia tidak membalas pesan aku sama sekali.. Dia benar-benar melupakanku. Atau sengaja menghapus nomor aku dari kontak ponselnya." gerutu Miko, tak hentinya, ia membalikkan badannya, beranjak duduk di ranjangnya, membiarkan tembok kaca apartemen mewah milik ya terbuka, ia ingin melihat pemandangan kita dari balik ranjangnya, gedung-gedung megah yang menjulang tinggi, dan gemerlap lampu rumah terlihat jelas dari atas.


"Alana! Alana! Kamu memang yang terbaik, aku bangga jadi pacar kamu. Dan seharinya aku tidak sia-siakan kamu," lanjutnya, membaringkan tubuhnya diatas ranjang kecoklatan dengan desain klasik, membuat orang yang menginap di sana pasti sangat betah, Apartemen kecil yang nampak sangat megah, di lantai lima.


"Mungkin suatu saat aku akan bawa Alana untuk datang ke rumah aku ini. Aku ingin tunjukan rumah baru aku di London. Semoga Tuhan mempertemukan aku dengannya." ucap Miko, perlahan mulai memejamkan matanya, membayangkan jika dia menikah dengan Alana, dan menjadi suami Alana meski hidup dalam kesederhanaan, dia tetap setia, dan selaku bermanja bersama keluarga dan anak-anaknya nanti.


"Shiittt... Kenapa aku membayangkan dirinya? Kenapa aku bisa suka dengannya? Arggg.... Entahlah, aku benar-benar tergila-gila dengan Alana, bahkan sampai dia sudah tidak virgin saja aku masih suka dengannya. Dan aku tidak perduli dengan hal itu," Miko mengusap wajahnya menuju ke kepalanya, penuh frustasi. Banyak pikiran yang membebaninya, membuat dia tak bisa lari lagi dari kenyataan yang ada.


Rambutnya terlihat sangat berantakan di buatnya. Ia beranjak tidur lagi, dan mulai menmrjamkan matanya perlahan. Sampai dia terlelap dalam mimpi indah saat bersama dengan sang pujaan hatinya selama ini, meski jarak harus memisahkan mereka.


--------


"Kamu sudah nunggu lama, ya?" tanya Alana, berjalan menghampiri David yang duduk sendiri di ruang tamu, menunggu Alana yang dari tadi menunggunya.


David menoleh ke belakang, menatap Alana yang sudah berdiri di belakangnya. "Iya, kamu lama sekali!!" ucap David kesal.


"Udah ayo pergi sekarang!!" ucap David, beranjak berdiri, memegang tangan Alana menariknya keluar dari rumahnya.


"Alana kamu mau kemana?" tanya Joy, memegang tangan kiri Alana, membuat langkahnya terhenti.


"Aku mau pergi dulu," ucap Alana, menepis tangan Joy yang semakin mencengkeramnya erat.


"Cari ibu aku!! Aku hanya sebentar, setelah itu aku mau bicara dengan kamu. Dan lagi lebih baik kamu sekarang cepat jemput yang lainnya"


"Kenapa aku harus jemput mereka. Lagian mereka sudah bawa mobil sendiri." ucap Joy.


Alana mengernyitkan keningnya, mendekatkan wajahnya.


"Bukanya mobilnya kamu bawa," ucap Alana.


Jiy terdiam, mencoba mengingat ingat kembali.


"Emm.. Iya.. Aku lupa.." ucap Joy memalingkan wajahnya malu.


"Kenapa kamu jadi sering lupa, apa terlalu banyak pikiran sampai kamu sering lupa," gumam Alana.


"Karena terlalu banyak mikirin kamu!!" goda Joy, membuat David menarik bibirnya sinis.


"Sudah!! Kita gak punya banyak waktu Alana. Kita pergi dulu!!" ucap David, menatap jam tangan yang melingkar di tangannya, sudah empat puluh menit berlalu, dan dua jam waktunya terpotong sekarang.


"Iya, iya!!" ucap Alana.


"Kak Joy, aku akan pergi dulu." ucap Alana menatap ke arah Joy.


"Udah jangan perdulikan dia. Dia saja tega dengan kamu. Kasar dnegan kamu, tapi kamu malah baik dengannya," David menarik tangan Alana membuka pintu mobil untuk Alana. Dan Alana hanya diam, sebelum masuk ke dalam mobilnya, Alana terdiam, menyempatkan dirinya untuk menatap ke arah Joy, yang tak hentinya terus memandang ke arahnya.


Kak, entah sampai kapan kita seperti ini. Aku tidak tahu? Dan aku juga tidak mau seperti ini?


"Alana!!" panggil David, menepuk pundak Alana dari belakang.


"Emtt.. Iya!!" jawab Alana gugup.


"Udah cepat masuk, sampai kapan kamu menatap Joy terus. Lagian kenapa juga kamu perduli dengannya." ucap David kesal.


"Iya, bawel banget sih!!" ucap Alana kesal, ia beranjak masuk ke dalam mobil. Dengan segera David menyalakan mesin mibilnya, melaju dengan kecepatan sedang keluar dari halaman rumahnya.


"Kita mau cari ibu kamu di mana? Apa kamu sudah tahu alamatnya, atau kita akan keliling kota lagi sekarang. Tapi aku harap kamu tahu di mana ibu kamu, agar pencarian kita tidak sia-sia lagi" tanya David.


Alana menundukkan kepalanya, tanpa menjawab ucapan David. David yang melihat hal itu, ia menghela napasnya kesal.


"Baiklah!! Aku tahu apa jawaban kamu. Kita pergi ke mana dulu sekarang?" tanya David, menyentuh bahu Alana, melirik sekilas ke arahnya, lalu kembali fokus dengan mobilnya.


"Kita putar-putar di sekeliling selama ini. Dan juga sekarang lebih baik kita pergi ke tempat aku bertemu dengan ibu aku tadi,"


David mengernyitkan keningnya, melirik ke arah Alana.


"Memangnya kamu tadi bertemu dengan ibu kamu?" tanya David,


"Iya, aku bertemu dengannya. Tapi..." Alana tidak melanjutkan ucapanya, ia diam menunduk, seakan berat untuk mengucapkan jika gara-gara Joy dia tidak bisa bersama dengan ibunya.


"Tapi kenapa? Apa semua gara-gara Joy? Apa dia cari gara-gara, aku akan beri pelajaran dia jika dia berani mengatur hidup kamu!!" ucap david kesal, memukulkan telapak tangannya ke setir mobilnya. Amarahnya mulai menggumpal, membayangkan wajah Joy yang benar-benar menjijikkan di matanya. Tak hanya kasar dengan Alana. Bahkan dia berani mempermainkan saudaranya.


"Apa sebenarnya yang dia rencanakan padamu. kenapa dia tega memisahkan kalian berdua. Aku gak gak habis pikir dengannya, pikirannya terlalu picik jika ingin memilikimu." ucap David, membuat Alana mengernyitkan matanya sekeyika, ia tak habis pikir apa yang di katakannya ada benarnya juga.


Kenapa dia bisa tahu jika Joy suka denganku. Apa dia selama ini sudah tahu semuanya. Tapi aku kira dia hanya bercanda di setiap ucapnya ternyata dia sudah tahu lebih dalam tentang hubunganku dan Joy.


"Apa yang kamu katakan?" ucap Alana memalingkan pandangannya dari David yang dari tadi sengaja terus meliriknya, melihat ekspresi wajahnya.


"Aku tahu semuanya, jadi kamu gak usah menutupi semuanya. Kamu dan Joy saling mencintai. Tapi kamu mencoba mengelak perasaan kamu!!" ucap David menatap ke arah Alana.


"Apa aku boleh kasih saran?" tanya David, melirik ke arah Alana, dan langsung di balas dengan tatapan mata bingung dari Alana.


Alana menatap ke arah David, beberapa detik, laku kembali menatap ke depan.


"Memangnya kamu mau beri aku saran apa?" tanya Alana, tanpa menatap ke arah David.


"Lebih baik kamu lupakan dia. Sampai kapanpun, kamu juga tidak akan bisa bersatu dengannya. Kamu dan dia saudara, dan selamanya akan menjadi saudara. Tidak akan pernah bisa bersatu. Kecuali jika kamu bukan anak dari papa Joy!!" ucap David, tersenyum tipis, menatap ke arah Alana, dengan tangan masih fokus mengemudi mobilnya.


Benar apa yang di katakan David, tapi kenapa juga dia juga dia ikut campur urusan pribadiku. Lagian aku juga tidak akan bersamanya. Alana terus bergumam dalam hatinya.


"Kenapa kamu diam, Alana?" tanya David. .


"Memangnya aku harus jawab gimana. Aku sudah dengarkan nasehat kamu yang sok bijak itu. Sekarang lebih baik fokus ke jalan, jangan banyak bicara lagi. Nanti jika bertemu ibu aku di jalan aku gak tahu gara-gara kamu terus ajak aku mmberbicara," decak kesal Alana. David memang membuatnya geram, dari tadi terus berbicara tanpa perhatikan jalannya, dia tidak membantunya mencari ibunya malah keluar hanya untuk ajak berdua bersamanya di dalam mobil.


"Kamu sekarang lebih baik diam. Dan dengarkan baik-baik, jangan banyak bicara lagi. Diam dan, fokuslah!!" ucap tegas Alana.


"Oke!!" jawab David, tersenyum tipis melihat wajah Alana saat emosi terlihat menggemaskan, ingin sekali jemari tangannya mencubit pipi cabi Alana yang menggemaskan itu.