
“Hari ini tidak hanya hari yang spesial bagi Cia, karena ini juga hari spesial untuk Joy. Dia akan bertunangan dengan Amera.” Suara mamanya itu terdengar lantang di depan para tamu, membuat sorak tepuk tangan meyambt baik kabar itu.
Tidak termasuk dengan Alana, ia hanya diam, menatap ke arah jalan di depannya. Hatinya terasa tertusuk belati tajam, hatinya benar-benar sangat remuk di buatnya, namun sekuat hati Alana mencoba menghilangkan perasaa itu, mencoba untuk tersenyum, melirik ke arah Miko, menatap heran, kenapa dia langsung pergi begitu saja saat ia suruh pulang, dn meninggalkan pesta Cia, tanpa berpamitan padanya lebih dulu.
Mungkin memang dia sangat mencintai aku, tapi soal hadiah tadi yang di beriakan pada Cia, mungkin hanya untuk hadiah pertemanan saja. Selalu berpikir positif Alana, jangan sampai kamu curiga pada Miko.
Melihat Miko sudah pergi menjauh darinya, ia bergegas pergi lagi tanpa menghiraukan semua tamu yang sudah ada di dalam, menikmati pesta yang di adakan oleh Cia. Alana mengayun sepedanya lagi, menuju sebuah taman yang terlihat sangat sejuk, ia tidak mau bertemu dengan David lagi, yang mungkin akan menjadi salah paham jika Cia mengetahuinya.
Sepertinya aku harus menyandiri, tanpa ada penganggu laki-laki cuek itu lagi.
“Ehem.. Kenapa selalu kamu lagi, kamu lagi. Apa dunia ini begitu sempit.” umpat kesal seorang laki-laki di belakangnya, seketika membuat Alana menoleh cepat.
Ia menatap David tiba-tiba sudah berdiri di belakangnya. “Apa kamu mengikutiku, kenapa kamu selalu menggangguku?” umpat kesal Alana, beranjak berdiri. Menatap tajam ke arah David.
“Eh.. harusnya aku yang tanya, seperti itu padamu. Tadi aku jalan ke panti, kamu mengikutiku dan pura-pura jatuh, Dan sekarang kamu ada di sini, duduk sendiri, apa memang sengaja mau mengikutiku.” Celoteh David tak mau kalah.
“Ehh.. Enak saja, bukanya kamu yang baru saja datang, kenapa aku yang di bilang mengikutimu.”
“Apa kamu buta! Aku dari tadi duduk di belakang kamu, dan saat menoleh ada batu di belakangku.”
“Apa katamu? Aku batu?” ucap alana, menunjuk ke arahnya sediri, dengan mata tak berhenti melotot tajam.
“Dari pada kamu manusia es.” Lanjutnya.
“Lebih baik jadi manusia es, dari pada jadi batu.” Umpat kesal David, dan beranjak pergi duduk menjauh dari Alana.
“Dasar laki-laki aneh, gak bisa apa datang bicara baik-baik. Kenapa selalu marah setiap bertemu.” Gerutu Alana kesal, dan kembali duduk ia beranjak mengambil tas di ranjangnya, mencari buku yang sudah ia bawa dari rumah tadi sebelum pergi.
``````
“Apa cewek itu, kenapa dia malah diam, apa dia gak marah padaku?” pikir David, sembari curi pandang padanya.
“Ahh.. lupain saja, aku harus bicara padanya,” David menarik napasnya dalam-dalam, ia beranjak berdiri. Memberanikan dirinya untuk berjalan mendekati Alana.
“Aku mau tanya?” ucap cuek David.
“Tanya apa?” jawab Alana tak kalah cuek, tanpa menatap ke arah David di depanya, pandangan matanya masih tertuju pada buku di tangannya.
“kamu mau pergi kuliah kapan?” tanya David, membuat Alana seketika menutup bukunya, mendongakkan kepalanya menatap David.
“Bagaimana kamu bis atahu, kalau aku akan pergi urus kuliah aku?” tanya Alana.
David duduk di samping Alana, ia tidak mau dekat dengannya, jadi duduk berjarak sisa dua tempat duduk lagi dengannya.
“Aku gak sengaja dengar kamu bicara sendiri di kamar. Aku kira kamu gila! Saat kau lewat, dan kamu bingung kan,” ucap David.
Alana menatap ke depan, “Jangan bilang pada siapapun tentang apa yang kamu dengarkan, aku akan pergi kuliah diam-diam. Tapi aku akan pergi ke Sydney lebih dulu, untuk mencari ibu kandung aku.” Ucap Alana, membuat David terkejut, ia mengernyitkan matanya, menatap Alana yang menunduk ke bawah menahan air mata yang seakan sudah tak terbendung lagi, ingin sekali membasahi matanya.
“Jadi kamu bukan anak kandung mereka?” tanya David penasaran.
“Bukan!”
Emm.. pantas saja hubunganya dengan Joy sangat dekat, ternyata mereka bukan adik kandung.
“Oya, soal tadi kenapa kamu tanya soal aku akan pergi kuliah?” tanya Alana mengalihkan pembicaraan, rasa yang awalnya sangat marah dengan kehadiran David yang secara tiba-tiba, kini jadi rasa aman untuk saling bertukar cerita.
“Aku ingin ikut dengan kamu, tapi jangan salah paham dulu. Aku hanya ingin ikut pergi, karena aku juga ingin pulang, tapi aku tidak ikut kamu ke Inggris.”
“Kamu juga tahu, kalau aku akan pergi ke Ingris?” tanya Alana heran, kenapa David bisa tahu segalanya tentang dirinya saat ini.
“Aku tadi lihat berkas kamu di tas, di keranjang sepeda kamu, kamu pasti cari tempat untuk isi perlengkapan dokumen kamu kan?”
“Jadi kamu lihat isi tasku?” tanya Alana kesal.
David tersenyum, tersenyum tipis, mendekatkan tubuhnya ke arah Alana, dan berbisik
“Iya, termasuk kamu bawa pembalut di dalam tas kamu,” Alana mendorong tubun David.
“kamu seenaknya buka tas orang. Itu privasi aku,” decak kesal alana, beranjak berdiri, mentap tajam ke arah David.
“Lagian tadi kamu meninggalkan tas kamu di pantai, dan pergi begitu saja. Jika aku tidak menolong kamu, apa kamu bisa kuliah di Inggris. Aku sudah mengembalikan tas kamu, meletakkan di ranjang sepedah mu tadi. Harusnya kamu berterima kasih padaku!!” ucap david datar, ia terlihat sangat kesal pada Alana, sudah di tolong dia malah marah-marah dengannya.
Alana terdiam, ia melirik tasnya, dan mencoba untuk mengingatnya lagi. Seketika ia menundukkan badannya saat dia tahu apa yang terjadi, Alana benar-benar sangat malu, telah marah-marah dengannya.
“Makasih!!” ucap Alana lirih.
“Apa aku gak dengar?” jawab David mendekatkan telinga kirinya.
“TERIM KASIH!!” teriak Alana lantang, membuat David memgusap telinganya, seketika menarik tubuhnya kagi duduk tegap kembali.
Alana duduk kembali dan berbincang ebrdua dengan david tentang rencanaya besok, ia sudah memutuskan untuk pergi dengannya. Tapi secara diam-diam, dan ternyata David juga sudah memesan tiket untuk pulang ke Sydney. Dan kebetulan Alana yang tidak tahu kota itu, bisa minta tolong dengan David, untuk membantunya mencari orang tuanya.
“Bagaimana?” tanya Alana
“Apa?”
“Aku mau kamu bantu aku cari orang tua aku di sana?”
“Baiklah, apa imbalannya, jika kamu sudah menemukan orang tua kamu?” tanya David, mencoba bernegosiai.
“Kalau gak mau, ya sudah.” Ucap Alana jutek, ia bergegas berdiri, dan beranjak menuju sepedanya lagi.
David beranjak berdiri, melangkahkan kakinya mendekati Alana. “Kita pulang bersama sekarang. aku gak mau mereka nanti malah mencari kita, karena terlalu lama keluar.” ucap David, melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tanganya, sudah menunjukkan pukul tiga sore.
“Kamu pulang saja sendiri, aku gak mau nanti kak Cia salah paham dengan aku. Lagian kamu juga dinjodohkan dengan Cia.” Ucap Alana, yang mulai menyagunkan sepda miliknya. Di seberang jalan Joy dan Cia yang memang sengaja ingin mencari alana dan david, ia mengendarai mobil keliling mencari mereka, hingga tak sengaja melihat merka berduaan di taman saling tertawa bersama.
Hati Cia dan Joy seakan di sayat-sayat melihatnya, belum juga utus dengan Miko tapi dia malah pergi dengan laki-laki lain.
Dasar wanita murahan, kenapa dia begitu mudahnya ganti-ganti pasangan. Dia tidak mau menerimaku, dan ternyata berduaan dengan laki-laki lain.
Cia menguntupkan bibirnya, rahangnya sudha mulai menegras, ingin sekali ia turun dari mobil Joy, namun Joy melarangnya, dan langsung mengajaknya pulang.
“Jangan marah pada Alana, dia tidak salah.” Ucap Joy seakan membela Alana, meski dalam hati ia menyalahkan alana.
Cia menepis tangan Joy, menurut kamu dia gak salah. Sudah jelas-jelas dia menyakiti Miko, dia bersama wanita lain. Dan sedangkan Miko tidak tahu kelakuanya di luar sana.”decak kesal Cia.
Joy mengerutkan keninganya, saat mendengar nama Miko, terpikir dalam benaknya. Kenapa Cia malah memikirkan perasaan miko, ia mengira akan marah tunanganya bersama wanita lain.
“kenapa kamu mikirin perasaan Miko?” tanya Joy, yang mulai menjalankan mobilnya lagi.
Seketika Cia kikuk, ia tida tahu kenapa dalam hati ia sangat memikirkan perasaan Miko, apalagi perlakuan Miko tadi, benar-benar perlakuan lembut yang ia harapkan dari dulu.
“Jangan banyak tanya cepat pulang, aku ingin menghubungi Miko.” Ucap Cia kesal, dengan ke dua tangan bersendekap.
``````
Jarum jam sudah menunjukkan pukul enam malam. Dan Alana yang baru saja selesai mandi, ia segera memakia bajunya.
“Aku lupa, baju aku sudah kau masukan semua, di dalam koper,” gerutu Alana, mengeluarkan kopernya di dalam lemari.
Ckleekkkk....
Joy yang tiba-tiba masuk ke dalam kamar Alana seketika menelan ludahnya melihat Alana masih memakai handuk.
“Alana, kamu mau kemana?” tanya Joy, yang tiba-tiba masuk ke dalam kamar Alana, ia melihat Alana, memngeluarkan kopernya dari dalam lemari.
“Menurut, kak Joy?” tanya Alana jutek, tanpa mentap ke arah Joy.
“Kenapa kamu pergi? Apa kamu masih marah denganku?” tanya Joy, melangkahkan kakinya berjalan mendekati Alana.
“Jangan dekat-dekat denganku, aku tidak mau sama sekali di sentuh olehmu. Dan aku tidak mau lagi menatap wajah kamu, kak Joy.” Umpat kesal Alana, Ia beranjak bangkit dari duduknya.
Tanpa perdulikan Jo, Alana berjalan menuju kamar mandi, dan segera memakai bajunya. Selesai memakai baju Alana berjalan keluar, ia masih melihat Joy berdiri di tempat yang sama.
“Kenapa kak Joy masih di sini?” tanya Alana, tanpa mentap ke arah Joy.
Ia melangkahkan kakinya berjalan menjauhi Joy, ia melangkahkan kakinya menuju ke balkon kamarnya, menatap pemandangan di taman dan merasakan udara malam di rumah itu, yang begitu dingin menusuk ke tulangnya, dan udara yang, untuk terakhir kalinya yang akan ia rasakan.
“Alana! Aku tahu, meski kamu tidak mau memafkan aku, tapi aku hanya ingin memberimu ini. Aku juga akan pergi, setelah semua yang terjadi, aku tahu kamu tidak akan memaafkanmu. Tapi aku mohon putuslah dengan Miko. Dia bukan yang terbaik buat kamu, banyak laki-laki yang jauh lebih baik dari dia, aku tidak mau kamu sakit hati nantinya.” Ucap Joy, meletakkan kotak hadiah berwarna coklat untuk Alana. Dan beranjak pergi meninggalkan Alana.
Maaf Alana, aku menyuruh kamu putus dengan Miko, karena aku tahu Cia masih menyukainya, dia pasti sangat kesal dengan kamu. Saat kamu berduaan dengan laki-laki lain, meski sidikit hatinya jug amerasakan cemburu pada David.
Joy melirik sekilas ke belakang, melihat Alana sejenak. Lalu menutup kembali pintunya.
Merasa Joy sudah jauh, Alana perlahan menoleh ke belakang, ia sudah tidak melihat Joy di belakangnya, hanya sebuah kotak yang tergelatak di atas ranjangnya.
Apa maksud kak Joy tadi, kenapa dia menyuruh aku putus dengan Miko, kenapa? Apa Miko berselingkuh? Atau hanya akal-akalan dia agar aku mau dekat dengannya?
Alana terus menggerutu dalam hatinya, melangakhakn kakinya kembali menuju ranjang, meraih kotak itu dan bernajak membalikkan badanya, melangkahkan kakinya menuju ke balkon kamar. Duduk santai menikamti udara malam yang dingin, mulai masuk ke dalam pori-pori kulitnya.
Alana terus menggosok-gosokkan ke dua telapak tanganya, sembari meniupi telapak tanganya, agar tidak merasa dingin lagi.
Sehabis hujan, selalu saja terasa sangat dingin.
Terbesit dalam pikiran Alana, tentang David yang mengayun sepedanya di tengah guryuran hujan yang menjatuu tubuh mereka tadi.
“Dia baik, tapi aku gak bisa suka dengannya. Entah kenapa hatiku masih belum bisa Move On dari Joy, padahal aku tahu dia kakak aku.” Gumama Alana, menatap kotak hadiah yang ada di genggeman tangannya.
“Aku juga tidak bisa bisa move on dari kamu Kesha, aku juga sangat syang Padamu. Tapi aku sudah janji pada Amera akan menikahinya nanti. Aku harap kamu bisa menemukan pria yang tulus dengan kamu, jangan seperti Miko yang ternyata diam-diam juga memendam rasa dengan Cia.” Gimana Joy, melirik di balik pintu balkon kamarnya, ia mendengarnya semua apa yang Alana ucapakan, tentang perasaanya dan cintanya padanya.
Tokk... Tok.. Tokk..
“Alana! Apa kamu di dalam?” teriak Cia dari luar kamarnya.
“Ada apa lagi kak Cia datang?” pikir Alana, dengan wajah malas dan nampak sangat lesu, beranjak berdiri, ia meninggalkan kotak hadiah itu di atas meja.
“Ada apa?” tanya Alana, membuka pintunya cepat, meneggapkan kepalanya menatap wajah Cia yang terlihat sangat marah.
Cia mendorong tubuh Alana. “Kenapa kamu merebut semua yang aku suka, kenapa kamu selalu membuat aku merasakan kesedihan karena cinta.” Ucap Cia, dengan mata yang mulai berkaca-kaca ia berjalan mendekati Alana, seakan sudah ingi meluapkan semua amarahnya.
"Maksud kak Cia apa?” tanya Alana, bingung dengan apa yang di katakan kakanya itu.
“Kamu tahu, aku dari dulu suka dengan Miko, dan setalah kamu pacaran dengannya, aku relakan Miko denganmu. Dan aku mencoa dekat dengan David yang terlihat sangat tlus denganku, dan menbuat hariku merasa berbeda dengannya. Aku jauh lebih di argai sebagai wanita. Tapi kamu merebut dia lagi. Apa memang itu yang kamu mau, merebut semua laki-laki yang dekat denganku.
Miko dan Joy yang berdiri di depan pitu menatap bingung.
Miko tadi ingin mengambil sesuatu yang tertinggal di rumah Cia, dan kebetulan kata Keyla, Alana sudah pulang, dan dia minta ijin untuk ke kamar Alana, menemuinya. Tapi apa yang ia lihat, kemarah Cia yang meluap-luap pada Alana.
Jadi selama ini Cia sangat mencintai aku? Kenapa dia dulu tidak pernah bilang padaku? Dan kenapa dia merelakan aku dengan Alana? Apa karena aku memang dari dulu selalu mengejar Alana, membuat dia merasa menyerah dengan cintanya