
Kalian semua lepaskan tanganku!!" Teriak Alana.
"Alana tenanglah!!" Ucap Cia.
"Diam!! Aku mau lihat Joy"
Miko yang melihat kondisi Alana seperti itu. Ia tidak tega, d3ngan sigap Miko memegang tangan Alana. Menyantuh ke dua tangannya lembut. Ke dua mafa mereka saling berpandangan satu sama lain.
"Alana udah jangan seperti ini!! Kalau kamu seperti ini, Joy akan sedih dan jadi beban pikirannya nanti. Biarkan dia istirahat dulu, kita tunggu sampai dia sadar" ucap Miko, seakan hati Alana luluh seketika. Ia yang semula brutal, menepis semua tangan yang menghalangi langkahnya. Kini perlahan hatinya mukai lulut, menatap mata Miko yang penuh dengan ketulusan.
Merasa Alana sudah tenang. Miko menuntun Alana untuk duduk kembali. "Sekarang kamu minumlah dulu!!" Ucap miko, mengambilkan satu gelas air putih di meja sampingnya.
"Gak mau!! Aku gak mau minum, aku gak haus" ucap Alana dengan pandangan yang masih kosong. Miko tidak mau memakaanya, ia meletakkan kembali gelas minuman di mejanya.
"Alana!! Kamu makan ya?" Ucap Keyla.
"Gak mau!!" Jawab Alana jutek.
"Alana kamu harus makan!!" Saut Cia.
"Aku gak mau ya gak mau!!"
"Makanlah Na, sedikit saja" gumam Miko, yang mencoba membujuk Alana juga.
"Aku gak akan mau makan, jika aku belum melihat kak Joy." Ucap Alana, memalingkan Pandangannya berlawanan arah.
"Ma!! Aku mau lihat kak Joy sekarang!!" Ucap Alana yang masih belum terima dengan apa yang ia tahu. Ia memegang ke dua tangan Keyla di sampingnya, dengan wajah dan mata pernuh permohonan padanya. Membuat Keyla tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Dan hanya menuruti apa yang ia minta.
"Na, tenanglah. Aku akan menemani kamu lihat nanti. Tapi sekarang kamu tenang ya, lebih baik kamu minum dulu" sambung Miko, memegang bahu Alana, mencegahnya untuk pergi. Di keadaannya yang masih belum sepenuhnya pulih. Ia tidak mau jika Alana nekat menemui Joy.
Meski ia juga tidak tahu, sebenarnya di mana Joy. Dan alana yang sebenarnya terjadi dengannya. Tapi seperti ya mendengar Joy koma Alana sangat terpukul mendengar hal itu.
"Tapi Aku mau lihat joy, meski dari jauh gak masalah. Asalkan aku bisa melihat dia masih sehat aku sudah bersyukur." Ucap Alana.
"Baiklah!! Sekarang kamu tenang dulu ya, kamu minumlah dulu" gumam Miko, memberikan satu gelas minuman ke tangan Alana.
Alana segera meneguk satu gelas minuman di tanganya. Ia mencoba menenangkan hatinya, namun tidak bisa, ia tidak bisa terima harus Joy yang masih terbaring koma.
"Aku sekarang mau berremu dengan Joy" ucap Alana, meletakkan minumnya lagi.
Semua yang semula lega, Alana bisa tenang. Tiba-tiba panik lagi, melihat Alana yang tidak pernah berhenti untuk menyakan Joy.
"Na, Joy masih belum sadar, kamu bisa bertemu dia nanti. Tunggu dia sadar ya" ucap Cia, ia tidak mau mengijinkan Alana melihat Joy, jika nantinya akan menyakiti hati Alana. Ia tahu dia pasti merasa bersalah membuat Joy seperti itu. Tapi ia juga tidak mau adiknya itu banyak pikiran lagi.
"Gak mau!! Aku mau bertemu sekarang. Jika kalian tidak mau mengantar aku, maka aku akan pergi sendiri!!" Ucap Alana, beranjak bediri lagi, dan mencoba melepaskan jarum inpus yang menancap di punggung tanganya.
Keyla yang merasa kasihan dengan anaknya itu. Ia segera bangkit dari duduknya memegang bahu Alana.
"Alana!! Mama akan antar kamu" ucap Keyla, yang dari tadi hanya diam, kini ia mulai membuka mulutnya kembali. Mamanya segera mengambil inpus Alana, dan mencoba menuntunya.
"Ma!! Janga--"
"Gak apa-apa Cia, dia mau bertemu dengan kakaknya" potong Keyla cepat, membuat Cia tidak melanjutkan ucapanya.
"Tante, biar aku ajak Alana pergi dulu sebentar boleh!! Nanti aku akan ajak dia ke depan ruangan Joy, biar dia bisa melihat dari balik pintu. Meski belom bisa masuk" saut Miko, berdiri di samping Alana.
Keyla menatap anaknya Cia, dan Di balas dengan anggukan prlan oleh Cia. Anak gadisnya itu memegang pundaknya. "Ma, biarkan mereka pergi. Lagian Joy baru saja di temukan. Dan dokter juga menyarankan agar tidak mengganggunya dulu. Ia baru selesai di tanganu oleh dokter. Jadi biarkan Joy sendiri dulu Ma" ucap Cia, membuat Keyla luluh.
Benar juga apa yang di katakan Cia, pikirnya dalam hati.
"Baiklah!! Kamu bawa dia jalan-jalan keluar. Tapi Alana harus naik kursi roda. Ia jangan terlalu capek dulu." Ucap Keyla yang terlibat sangat panik dengan kondisi anaknya itu.
"Gak mau!! Aku mau lihat Joy kak Mik" ucap Alana, menoleh ke arah Miko.
Miko memegang ke dua bahu Alana, ia mencoba menangkan hatinya lagi.
"Alana aku tahu, tapi kamu dengar apa yang di katakan Cia tadi. Dia baru saja di temukan, dan dokter juga baru selesai menanganinya. Kenapa kamu memaksa untuk bertemu dengannya. Apa kamu gak kasihan dengan dia, apa kamu mau dia kanapa-napa. Lebih baim kita pantau dia dari balik pintu, kamu juga bisa melihat ke adaannya." Ucap Miko menjelaskan lagi pada Alana.
Alana hanya diam, dan menurut begitu saja apa kata Miko. "Sekarang kamu duduklah dulu!!" Ucap Keyla.
"Aku bisa jalan sendiri, gak perlu pakai kursi roda segala" ucap Alana, dan langsung melangkahkan kakinya pergi dari kamarnya dengan langkah sangat hati-hati.
"Tante aku susul Alana dulu!!" Ucap Miko buru-buru, Dan Miko segera pergi mingikuti Alana yang berjalan dengan langkah masih tidak stabil.
Keyla yang mendengarkan apa yang di akatan Alana, membuat hatinya merasa sakit. Ia hanya diam dan mencaba untuk tetap tersenyum di saat perhatiannya jarang sekali di anggap.
"Maa!! Sebenarnya Alana kenapa?" Tanya Cia, memegang bahu keyla.
"Gak apa-apa cia, oya tadi kamu sudah menghubungi papa kamu belum?" Tanya Keyla.
"Belum ma!! Cia tadi lupa bawa ponsel. Mama tahu sendiri tadi buru-buru gak sempat bawa apa-apa" gumam Cia.
"Ya, sudah kamu di sini dulu jaga adik kamu. Mama mau pulang sekalian mengubungi papa kamu. Mama juga gak bawa ponsel." Ucap Keyla yang mulai bersiap untuk pergi.
"Tapi ma! Nanti Joy gimana?" Tanya Cia.
"Nanti soal Joy kamu dan Miko bisa ngurus sebentar kan!! Mama hanya pulang gak lama, mau ambil baju Alana. Dan sekalian ambil ponsel mam"
"Baiklah!! Apa perlu aku antar ma?" Tanya Cia.
"Gak usah!! Kamu di sini jaga adik kamu!!" Ucap Keyla.
Keyla seera pergi meninggalkan Cia. Perasaan yang selama ini ia raskaan benar-benar ia pendam sendiri. Dan sekarang waktunya ia untuk meluapkan semuanya pada suaminya Alvin. Keyla berniat untuk menghubungi Alvin, agar tidak terjadi salah paham lagi padanya. Ia ingin memastikan jika dia tidak dengan wanita lain lagi.
"Maa!!" Oanggil Cia berlari menghampiri mamanya.
"Nanti bawa ponsel aku juga ya" ucap Cia.
"Iya!!"
" ya, sudah sekarang kamu kihat adik kamu Alana di mana?" Ucap Keyla yang melanjutkan langkahnya lagi.
"Kita mau kemana kak?" Tanya Alana, yang terlihat bingung Miko menuntunya ke taman.
"Aku mau kamu di sini dulu, genangkan hati kamu, tenangkan pikiran kamu. Sambil lihat semua anak\-anak di sana yang main" ucap Miko.
Mata Alana memutar melihat sekelilingnya. Ia meliaht begitu banyak orang tua lanjut
Usia di sana dan banyak juga anak krcil pada bermain.
Perlahan Alana duduk di kursi, dengan mata memandang ke arah anak kecil yang sendang asyik bermain balon.
"Ini!!" Ucap Miko, yabg tiba\-tiba memberikan sebuah balon.
Alana menyipitkan matanya. "Untuk apa?" Tanya Alana.
"Untuk orang yang sekarang lagi sakit di depanku" ucap Miko, dengan badan sedikit menunduk.
"Aku bukan anak kecil!!" Jawab Alana Cuek.
"Buat apa?"
"Udah pegang!!"
Alana menarik bibirnya sinis. Ia menghembuskan napasnya kesal. Dan terpaksa menerima balon itu.
"Sekarang ini tulis!!" Ucap Miko, yang entah dari mana ia dapag sebuah kertas dan bolpoin.
"Buat apa aku gak suka!!" Gimam Alana, menegaskan.
"Tapi setidaknya, aku mau kamu nulis suatu permintaan kamu atau beberapa, dan setelah itu kamu ikat di balon ini dan biarkan terbang" ucap Mike, membuar Alana menjadi terhera\-heran dengannya.
"Baiklah!!" Ucap Alana, yang langsung menerimanya. Dan mulai menuliskan beberapa permohonan.
Miko mencoba menggoda Alana, menyondongkan badannya ke depan. Mencoba melihat apa yang di tulis oleh Alana.
" Apa permohonan kamu?" tanya Miko.
"Rahasia!! kamu jangan lihat" ucap Alana.
"Dikit saja!!" Miko duduk di samping Alana.
"Gak boleh!! Atau aku akan marah padamu lagi" gumam Alana kesal.
"Baiklah!!" Miko hanya melihat setiap tangan Alana menulis pemohonan, meskipun ia tidak tahu apa yang sebenarnya di tulis oleh Alana itu. Selesai menulis permohonan Alana mengikat kertas itu pada tali balon. Belum semoat membuat balon itu terbang. Miko memegang tangan Alana, seketika Alana menoleh menatap ke arahnya. Wajah Miko di sampingnya. Hembusan napas laki\-laki itu terasa di pipinya.
"Sekarang kamu perlahan lepaskan balon itu, dan biarkan dia terbang ke udara!!" ucap Miko, menuntun Alana untuk melepaskan balonnya.
Cia yang melihat hal itu dari jauh, hanya tersenyum tipis. melihat adiknya sudah bisa sedikit tersenyum saja ia sudah lega. Asalkan dia tidak terua menerus menyalahkan dirinya sendiri gara\-gara Joy.
Cia berjalan ringan mendekati Miko dan Alana. "Kalian sudah selesai!!" ucap Cia.
Alana dan Miko menggerakkan kepalanya bersamaan.
"Selesai apa?" tanya Miko bingung.
"Selesai kalah kalian berduaan!!" Goda Cia.
"Siapa yang berduaan, kita itu gak berdua. Lihat di depan banyak orang. Kalau berduaan itu hanya berdua di tempat sepi" ucap Miko tidak mau kalah.
"Terserah kamu saja lah!!"
"Ngapain kamu di sini?" tanya Miko.
"Bukan urusan kamu!! Lagian kamu bawa adik aku berdua, aku takut kamu apa\-apain dia nantinya.
"Eh.. adik kamu aman dengan aku tenang saja!!" ucap Miko.
"Udah\-udah, ku pusing mau pergi. Kalau kalian mau ribut terus. Silahkan ribut sendiri. Aku mau pergi ke kamar!!" ucap Alana kesal, an beranjak berdiri.
Drrttt... Drttt
Ponsel Miko bergetar di dalam sakunya, dengan segera ia mengangkat teleponnya dan berjalan menjauh.
"Cia kamu susul Alana!!" ucap Miko buru\-buru.
"Emm. Nyeselin" umpat kesal Cia, yang langsung mengikuti Alana pergi.
"Alana tunggu!!" panggil Cia, berlari mengikuti Alana.
Alana masih tetap saja melangkah menjauh. "Alana!! aku akan bawa kamh menemui Joy sekarang" teriak Cia. Membuat langkah Alana terhenti, seketika ia menoleh ke belakang.
"Di mana ruangannya" ucap Alana.
Cia verjalan menghampiri Alana, dan menuntunya menuju ke ruangan Joy yang tidak jauh dari tempat ia berdiri.