
Pov Sheila.
Seorang wanita cantik dengan wajah kusam, raut wajah mengkerut, berjalan mrnuju ke kamarnya. Ia dari tadi jencari suaminya belum juga kelihatan. Sudah dari kemarin beban pikiran terus mengenggu wanita itu. Bahkan sampai terlintas di pikirannya, jika cinta lama tumbuh kembali di hati suaminya.
Sheila berdiri di depan pintu kamarnya dengan Ian, ia mengangkat tanganya sebahu, ingin mrngetuk pintu kamarnya. Namun, rasa takut terlintas di hatinya. Ia takut menerima kenyataan yang ada, ia takut tersakiti, sangat takut. Kejadian dulu terulang lagi yang ke dua kalinya.
"Kenapa aku tidak bisa mengetuk pintunya. Kenapa tangan aku terasa sangat kaku? Kenapa? Aku merasa sangat sakit melihat Ian yang tiba-tiba tidak mau menemui aku!!" gerutu Sheila dalam hatinya. Ia menarik naoasnya dalam-dalam, menciba menguatkan hati dan menghilangkan pikiran buruknya tentang Ian. Menciba sebisa mungkin untuk tidak berpikiran negatif padanya.
"Aku harus masuk. Meskipun begitu, dia adalah suami aku. Aku gak mau dia kenapa-napa. Dari kemarin dia menghilang, aku juga ingin bertanya padanya!!" gumam Sheila. Mencoba tetap tegar, memberi semanagat untuk dirinya sendiri.
Tok.. Tok.. Tok...
"Syang!!" panggil Sheila, tapi tidak ada jawaban sama sekali dari Ian.
"Syang!! Kamu di dalam atau tidak?" tanya Sheila, ia tidak mau menyerah untuk mengubah hati Ian.
Sheila memberanikan dirinya untuk kembuka pintu kamarnya, yang ternyata tidak di kunci itu. Ia melangkahkan kakinya, dengan dua sudut bibirnya membentuk sebuah senyuman tipis agar tidak membuat Ian curiga.
"Syang!! Kamu sudah selesai semuanya?" tanya Sheila, melangkahkan kakinya mendekati suaminya, yang duduk merenung di ranjang, dengan ke dua tangan memegang kepalanya, dan badan sedikit menunduk.
Sheila menarik napasnya, duduk di ranjang, memegang pundak Ian. "Apa kamu ada masalah?" lanjutnya.
"Lebih baik kamu pergi!!" ucapnya lembut, tanpa menatap ke arah Sheila.
"Enggak!! Aku gak mau pergi dari sini!!" ucap Sheila bersikukuh.
"PERGI!!" bentak Ian, ke dua matanya menajam, dengan tangan terangkat seakan ingin menamparnya, seketika membuat Sheila bergidik takut. Napasnya terasa sangat sesak, seperti penyakit asma tiba-tiba menyerangnya. Ian yang dari pertama mereka menikah lagi. Sheila mengira jika Ian sudah berubah, dan ternyata dia masih sama, sekarang berani membentaknya. Selama 17 tahun pernikahan mereka yang ke dua.
"Kenapa kamu membentakku?" tanya Sheila, memegang dadanya, yang masih terasa sangat sesak.
"Apa kamu masih memikirkan cinta kamu?" tanya Sheila, membuat Ian seketika menatap ke arahnya beberapa detik, lalu menundukkan kepalanya lagi.
"Bukan!!"
"Terus kenapa? Kenapa kamu sekarang bernai membentak aju algi. Bahkan ingin mulai kekasaran kamu lagi?"
"Maaf!!" ucap Ian, mencoba mengatur napasnya yang sudah di ujung tanduk, amarahnya membuat semuanya berubah.
Sheila yang masih belum percaya, ia menarik duduknya sedikit ke belakang. "Maaf? Apa mau gak salah dengar. Dari puluhan tahun, baru kali ini kamu membentakku lagi, sangat keras." ucap Sheila, meneteskan air matanya.
"Hikss.. Hiks.."
"Aku sekarang ingin sendiri. Tolong keluarlah." ucap Ian, menundukkan badanya lagi, dengan ke dua tangan maish memegang kepalanya.
"Jika kamu ada masalah, kenapa kamu tidak cerita denganku. Aku istri kamu, jadi aku berhak tahu, apa yang ada dalam pikiran kamu."
"Gak semuanya kamu berhak tahu, lebih baik kamu diam! Dan sekarang keluarlah!!" ucap Ian, mulai merendakan nada suaranya.
"Kenapa? Apa kamu gak syang dengan aku sekarang. atau kamu sudah punya wanita lain?" tanya Sheila kesal.
"Aku bilang kamu keluar sekarang. Aku ingin sendiri. Bukan bahas punya wanita lain atau tidak, aku hanya ingin tenangkan pikiran aku dulu" ucap Ian.
"Maaf, aku gak bisa. Aku sudah terlalu banyak menyakiti orang. Tapi aku belum pernah bisa sepenuhnya suka dengan kamu. Aku gak bisa terus bersama dengan kamu. Kamu memang istri yang baik, tapi hati dan cintaku masih tetap sama, yaitu untuk Keyla." gumam Ian dalam hatinya.
Ia bangkit dari duduknya, mengusap rambutnya frustasi. Hari ini membuat dia sangat menyesal dengan apa yang sudah ia lakukan dengan Keyla. Dia sekarang menderita, meski terlihat senyum di depan ke dua anaknya. Tapi di dalam hatinya selalu menangis. Dan Keyla tidak lagi bertemu dengannya, lebih sering diam dan mengurung diri di kamarmya, setelah selesai makan.
Dan ke dua anaknya, tak mau ikut campur lagi. Mereka tidak bisa berbuat apa-apa lagi jika mamanya terus menutup dirinya, gak mau cerita dengan semua yang sudah di alaminya.
-----
"Lebih baik sekarang aku pergi temui Keyla, sia pasti sangat terpukul dengan semua yang terjadi." gumam Ian, beranjak keluar dari kamarnya, ke lantai atas menuju ke kamar Keyla.
"Nyonya ada surat!!" ucap pembantu Keyla yang dari tadi berdiri di depan kamarnya.
"Ada apa?" tanya Ian.
"Tuan!! Ini surat untuk, nyonya Keyla tapi, Nyonya dari tadi gak mau keluar dari kamarnya."
"Baiklah, biar aku saja. Aku akan panggil dia," ucap Ian, dengan bahasa Indonesia yang masih belum sepenuhnya fasih.
"Keyla!! Ada sebuah surat. Sepertinya ini penting. Lebih baik kanu keluarlah. Jangan tetus di dalam kamar," ucap Ian, mengetup pintu kemar Keyla.
Di sisi lain, Sheila melihat melihat Ian di depan kamar Keyla dari jauh. Ia yang memang dari tadi sengaja mengikuti kemana Ian pergi. Seketika hatinya sakut, melihat apa yang ada di depan matanya. Meski tidak tahu apa hubungan mereka. Tapi dari cara Ian perhatian dan khawatir dengan Keyla itu berbeda dengan kekhawatirannya dengan Sheila.
"Apa benar jika Ian masih suka dengan, Keyla?" tanya Sheila dalam hatinya.
Ia melangkahkan kakinya mendekat, bersembunyi di balik tembok agar tidak terlihat oleh Ian.
"Keyla!! Aku mohon keluarlah!!" ucap Ian, terus memehon, ia tak berhenti menggedor pintu kamar Keyla.
"Pergilah!! Aku tidak akan keluar?" teriak Keyla dari dalam kamarnya
"Kenapa? Kamu tidak boleh seperti ini. Kasihan anak-anak kamu, pasti mereka sanfat khawatir dengan kamu!!"
"Aku gak perduli!!" tegas Keyla.
"Apa kamu sudah bodoh? Tidak perdulikan ke dua anak kamu lagi!" umpat kesal Ian.
"Sudah, lah. Lebih bauk kamu sekarang pergilah. Aku gak mau bertemu dengan siapapun. Kalau kamu ingin bertemu nanti waktu makan malam!!" Keyla berjalan kendekat ke pintu, tanpa membukanya, ia membalikkan badanya, menyandarkan punggungnya di balik pintu.
"Maaf Ian, u gak bisa terus meliaht kamu lagi. Hidup kita sendiri-sendiri. Jangan sampai kita terjebak lagi dalam hal terlarang!" gumam Keyla dalam hatinya, ia tak hantinya terus meneteskan air matanya, membasahi pipinya.
"Tapi ini ada surat buat kamu, Keyla?"
"Aku gak perduli. Buang surat itu, lagian aku yakin jika itu pasti surat cerai!!"
"Gak mungkin, emangnya bisa urus surat cerai cepat." tanya Ian heran.
"Gak ada yang gak mungkin bagi, Alvin." ucap Keyla, sok tahu.
Tapi memang paham dengan sifat suaminya. Yang tidak mungkin menunda waktu tetlalu lama. jika dia sudah bertekat, pasti akan segera di lakukan secepat mungkin. Tanpa harus menglur waktunya lagi.