My First Love

My First Love
Marah



Miko hanya diam membonceng Cia di belakangnya. Bahkan cia seakan mau manarik jaketnya ke belakang. Ya, bagaimana tidak dia mencengkram erat ujung jaketnya, membuat ia tak bisa bergerak leluasa.


"Eh..Ko. apa kamu beneran suka sama Alana?" Tanya Cia penuh keraguan.


"Emangnya kanapa, kamu suka ya sama aku"Jawab Miko dengan nada bercanda. Meskipun ia sibuk menancap gas montornya. Tetapi ia masih mendengar apa yang di katakan Cia di belakangnya.


Deg...


Jantung Cia merasa berhenti seketika, saat Miko mengucap kata itu, Ia masih bingung apa perasaan itu, Perasaan suka atau tidak. Atau mungkin hanya perasaan iri sebagai temannya aja. Karena dia lebih ngeluangin waktunya untuk berusaha deketin Alana terus, jarang banget dekat dengannya.


Cia masih diam, tubuhnya kini samakin gemetar, melihat punggung Miko di belakang, rasanya ingin sekali ia memeluknya. Namun itu tak mungkin, ia merasa ragu saat Miko menolaknya, semakin membuat ia malu.


Plakk...


"Cia kenapa kamu diam?" Tanya Miko menepuk tangan Cia di pinggangnya.


Cia langsung tersadar dari lamunannya. Ia merasa sangat gugup kali ini. "Eh.. apa?" Tanya Cia dengan nada gugupnya.


"Kamu gak papa?" Tanya Miko, dari tadi ia ajak ngobrol Cia. Tetapi di belakang ia malah melamun tak mendengarkan cerocosnya, membuatnya semakin kesal.


"Gak papa" Cia menunduk, mencengkram semakin erat ujung jaket Miko.


Kenapa aku seperti ini, ingin rasanya aku mengucapkan apa yang aku rasakan, ingin aku mendekapnya erat, merasakan kehangatan tubuhnya. Tetapi kenapa sangat sulit, seakan ada dinding pemisah antara aku dan dia, batin Cia


"Cia kamu dengerin aku gak" Cia medongakkan kepalanya.


"Ada apa?" Dengan nada malas, Cia terpaksa kali ini mendengarkan curhatnya.


"Kamu tahu gak, apa saja hal yang di sukai Alana, minuman, makanan, baju, atau apapun deh" tanya Miko.


Cia kembali terdiam, ternyata dia hanya perdulikan Alana, sepertinya memang tidak ada tempat di hatinya untukku, batin Cia.


Ah... Cia jangan mikirin dia lagi, lagian kalau memang dia suka sama Alana gak papa, apalagi kalau Alana juga suka sama dia, ingat jangan berantem masalah lelaki sesama saudara, batin Cia. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya. Mencoba menghindari pikiran ingin memiliki yang merasuki otaknya.


"Cia kenapa kamu diam saja dari tadi?" Miko semakin kesal di buatnya. Setiap ia bertanya tak di gubris olehnya.


"Hmzz.. eh udah sampai sekolah tu, aku turun sini aja ya" Cia menunjuk ke arah gerbang sekolah. Ia mencoba mengalihkan pembicaraan mereka. Ya, hanya itu yang bisa ia lakukan sekarang. Karena terlalu gugup ia tak bisa mengontrol perasaannya.


"Baiklah" Miko berhenti tepat di bahu jalan.


Cia tanpa berbicara lagi, ia segera turun. "Makasih" ucapnya sambil berlari ke arah pintu gerbang yang sudah nampak di depan matanya.


Tu, anak sebenarnya kanapa, hari ini aneh banget sih. Apa dia lagi jatuh cinta, siapa orang yang ia sukai, aneh banget gak biasanya dia seperti ini, gumam Miko,


Ia segera menarik gasnya memasuki halaman sekolahan. Tepat berbarengan dengan mobil Alana yang berhenti di depan gerbang.


Miko melirik sekilas Alana yang terlihat muram, menatap jendela kaca mobil. Sepertinya ia lagi marah dengan Joy. Apa gara-gara aku tadi, gumamnya.


"Alana tunggu"Joy berlari menghampirinya.


Alana menoleh, tanpa ekpresi di wajahnya.


Joy mengulurkan buku yang ia bawa tadi ke arah Alana, "Gak usah, kalau kamu mau buku itu ambilah" Ucap Alana, ia membalikkan badan,dan meninggalkan Joy yang masih berdiri mematung dengat tangan masih memegang bukunya.


"Sebenarnya apa yang salah dariku, apa dia marah denganku gara-gara Miko tadi, atau aku yang jahili dia tadi di mobil" Gumam Joy, ia mulai melangkahkan kakinya, mengikuti Alana yang berjalan pelan di depannya.


"Alana!!" Teriak Miko dari arah parkiran, ia berlari mengejar Alana.


Alana menghentikan langkahnya, ia menoleh ke arah Miko, dengan wajah datar, kening mengerut.


Hah...hah...


Miko membungkuk, mengatur napasnya yang masih ngos-ngosan habis lari pagi mengejar oujaan hatinya itu.


"Nanti aku mau ikut kamu boleh gak, aku ingin seperti kamu membantu orang gak mampu"Ucap Miko, demi Alana ia ingin melakukan kegiatan yang dia sukai, bukan untuk mencari simpati dengannya. Namun jika dia bisa seperti Alana, mengikuti caranya. Dan perlahan berubah demi dia, pasti dia akan mau dengannya. Ya, semoga saja. Miko berharap Alana membuka hatinya untuk dia.


Joy menatap tajam ke arah Miko, namun ia tak bisa berbuwat apa-apa. Apalagi Alana sekarang masih marah dengannya. Ia hanya mengawasinya dari belakang, dan memasang telinga tajam untuk mendengarkan apa yang mereka berdua bicarakan.


"Baiklah" Ucap Alana datar.


"Yeee... makasih Alana" Miko terlihat sangat gembira, ia spontan memegang ke dua tangan Alana. Dengan rasa senang yang menggebu-gebu dalam hatinya.


Alana hanya diam, ia melanjutkan langkahnya menuju ke kelasnya. Namun Miko tak berhenti mengkitunya. ya meskipun beda arah kelas dengan Alana. Ia tak perduli, bisa mengantar Alana sampai ke kelasnya saja sudah senang. Kelas Alana berada jauh dari kelas reguler seperti lainnya. Karena memang di buwat terpisah. Agar bagi kelas akselerasi, tidak terganggu dalam kegiatan belajar mengajar.


"Udah jangan mengikutiku lagi" Ucap Alana,


"Baiklah. Bye." Miko bergegas pergi sebelum Alana marah padanya. Apalagi sekarang dia lagi sensi. Mungkin di lagi dapet kali ya, gumam Miko.


"Aneh" Ucap Alana, ia beranjak masuk ke dalam kelasnya.


Joy hanya diam tak bisa berbuwat apa-apa. Dan sepertinya adiknya itu lebih suka bersama dengan Miko dari pada kakanya sendiri. Lagian juga dia mau berbicara dengan Miko, sedangkan denganku ia hanya diam tanpa senyum, bahkan wajahnya datar.


Joy berjalan menghampiri Miko, yang tepat melewatinya.


"Kenapa kamu dekati dia lagi?" Ucap Joy menarik kerah Miko.


"KENAPA KAMU SEWOT" ucap Miko tegas, ia menarik tangan Joy dari kerahnya.


"Jangan bilangn kamu suka dengan adikmu sendiri"Ucap Miko mendekatkan wajahnya, dengan tatapan sinisnya. Miko beranjak pergi meninggalkan Joy, yang masih diam mematung


Joy terdiam seketika, mendengarkan perkataan Miko tadi. Tidak mungkin aku menyukai adikku sendiri, itu hal gila, gumamnya. Ia melirik sekilas ke arah kelas Alana, dan beranjak pergi menuju kelasnya.


Setiap langkah, ia terus bergumam dalam hatinya, jika ia tak mungkin mencintai adiknya, jika dia bukan adikku mungkin entah perasaan itu pasti akan muncul. Tapi kenyataannya dia adalah adikku. Tak boleh perasaan itu muncul pada adikku sendiri. Bagi dia menjaga Alana sebagai kakaknya itu sangat penting. Ia tidak mau dia terluka, tersakiti. Bukannya itu masih hal wajar.