
"Keyla, aku ingin bicara nanti" ucap Alvin, beranjak duduk di samping Keyla istri tercintanya.
"Iya, memangnya kamu mau bicara apa lagi. Apa masalah kemarin yang belum selesai" tanya Keyla, dengam nada jutek.
"Masalah apa ma?" sambung Joy, yang berjalan menuju ke meja makan.
"Eh.. Joy? Kamu sudah turun lebih dulu. Mana kakak dan adik kamu" tanya Keyla, mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Biasa wanita ma, mereka selalu lama kalau di kamar mandi. Tadi waktu aku ke sana. Mereka masih di kamar mandi" ucap Joy, duduk di samping papanya.
Joy melirik sekilas papanya, dengan raut wajah yang berbeda dari biasanya. Terlihat cemas seakan seperti banyak pikiran yang mengganggunya.
"Joy, ayo berangkat, sudah telat nih" ucap Cia, yang berlari menuruni anak tangga. Demgan langkah cepat.
Joy menoleh ke belakang
"Mana Alana?" tanya Joy.
"Itu amsih di belakang" gumam Cia, menunjuk ke belakang.
Keyla menatap wajah anaknya yang sepertinya ada yang janggal. "Joy, kenapa pelipis kamu?" tanya Keyla.
Alvin menoleh, menatap ke arah Joy. Memegang pundak anaknya itu.
"Kepentok pintu ma, tapi gak apa-apa kok." jawab Joy, yang segera bangkit dari duduknya. Dan tangan menyambar cepat roti gandum di atas piring, dan meneguk susu yang memang mamanya selalu buatkan untuk Joy. Ya, hanya Joy yang masih mau minum susu.
"Oo.. lain kali hati-hati" ucap Keyla pada anaknya.
"Iya, ma. Aku pergi dulu ya."
"Ma, aku juga pergi dulu" sambung Cia, menggandeng tangan Alana, untuk segera cepat turun dan masuk ke dalam mobil di depan pintu rumahnya. Yang sudah di siapkan sopirnya dari tadi.
Alana hanya diam, tanpa menatap je arah Joy. Membuaf Joy bingung, wajah adiknya itu juga terlihat beda. Tidak seperti tadi, marah senyum. Sekarang dia lebih banyak diam lagi.
Apa dia marah padaku soal kejadian tadi, tapi memang aku pantas untuk di salahkan sih. Pikir Joy, melirik sekilas ke arah Alana.
---
Beberapa menit perjalana, Mereka samoai di depan gerbang sekolahan. Dan Alana lebih memilih untuk jalan lebih dulu, meninggalkan Joy dan Cia yang masih di belakangnya.
"Alana!!" ucap Miko, mengertak Alana dari belakang.
"Kak Miko!" ucap Alana, tanpa rasa terkejut sama sekali.
"Kenapa kamu gak terkejut" tanya Miko.
"Enggak!!" Jawab Alana datar, tanpa ekpresi di wajahnya.
"Na, kamu kenapa sepertinya ada masalah" taya Miko, mencoba memberanikan diri bertanya padanya.
"Gak ada!!" jawab Alana lemas.
Miko memegang tangan Alana, memegang rahangnya, membalikkan pandangannya, tertuju padanya. "Na, aku tahu kamu, aku yakin jika kamu ada masalah. Kalau memang ada, kenapa kamu gak bisa cerita masalah kamu dengan ku. Kau janji Alana, aku gak akan bilang ke siapa-siapa." ucap Miko.
Alana hanya diam, ia tidak tahu lagi mau gimana. Tapi ia juga tidak bisa ceritanya pada siapa-siapa. Lagian ini masalahnya dengan Joy, ia mengira sudah tidak punya harga diri lagi, tubuhnya di lihat dengan kakaknya sendiri.
Kesha, melepaskan tangan Miko. "Maaf, Kak Miko aku gak bisa bicara apa-apa lagi. Aku gak mau jika masalah ini ada yang tahu" ucap Alana, melangkahkan pergi meninggalkan Miko.
"Na, tunggu Na!! Aku mau bicara dulu sama kamu" Miko, berlari kecil mencoba meraih tangan Alana.
"Kak Joy, apa yang kamu lakukan?" tanya Alana kesal, mendorong tubuh Joy menjauh dari Miko.
"Aku gak suka jika kakak aku. Selalu bermain kasar." ucap Alana, menghentakkan kakinya melangkahkan kakinya pergi dengan aura penuh kemarahan terpancar di tubuhnya.
"Semua gara-gara kamu!!" ucap Joy.
"Kenapa gara-gara aku. Padahal kamu yang memulainya. Sekarang aku tanya padamu, kenapa kamu segitu perdulinya dengan Alana. Apa dugaan aku benar. Kamu suka dengan adik kamu sendiri" Ucap Miko keras, membiar semua anak yang melewatinya menatap ke arah Joy.
Joy yang sadar semua memperhatikannya. Ia hanya diam, tanpa suara. "Jawab apa benar yang aku bilang?" bentak Miko, mendoring bahu Joy.
"Tidak, siapa juga yang suka dengan adik sendiri. Itu gidak mungkin" ucap Joy tegas, dengan suara lantangnya.
Alana yang mendengar ucapan Joy, langkahnya terhe ti seketika, dan. Tes...
Buliran air mata, entah kenapa tiba-tiba jatuh di pipinya.
"Aku berharap kakak jangan pernah suka dengan aku." ucap Alana, bergegas pergi, masuk ke dalam kamarnya.
----
"Sudah puas kamu mendengar jawaban aku. Jadi jangan berprasangka buruk denganku" ucap Joy, mendorong dada Miko menjauh darinya.
Jog bergegas pergi dari para kerumunan yang melihat ke arahnya.
"Joy, tunggu!!" Teriak Cia, berlari mengikuti Joy.
"Eh.. kenapa kamu bernatem lagi dengan Miko. Padahal kalian baru saja berteman dengannya" tanya Cia, berjalan beriringan di samping Joy.
"Itu bukan masalah kamu!!" jawab Joy jutek.
"Kenapa kamu bilang seperti itu, apa benar yang di katakan Miko. Jika kamu suka dengan Alana?" tanya Cia, sontak membuat Joy menatap tajam ke arah Cia.
"Jangan ikut campur!! lagian aku gak mungkin suka dengan Alana." Joy berjalan semakin cepat meninggalkan Cia, yang masih terdiam membisu dengan jawaban Joy, yang membuat dia merasa semakin penasaran.
Kenapa dia tambah emosi denganku. Apa benar yang di katakan Miko tadi, sepertinya aku harus cari tahu. Dan jika benar aku gak akan biarkan itu terjadi. Dan Alana itu adiknya. Pirkir Cia.
"Ahh.. Udahlah.. Nanti aku akan cari tahu sendiri tentang mereka." gumam Cia, beranjak pergi masukr kelasnya.
---
Joy, yang semula kesal. Ia berlari mengrjar Alana. Ia tahu tadi pasti sangat kesal dengannyan. Joy tahu jika Alana gak suka keributan. Dan dia selalu menghindar acuh tak acuh saat melihat dia selalu ribut dengan Miko. Dan hari ini, Joy melihat Alana begitu marah dengannya.
"Alana tunggu!!!" panggil Joy, mencoba meraih tangan Alana.
"Ikut aku!!" Joy menarik tangan Alana kr brkakang sekolahnya.
"Aku gak ada waktu buat bicara dengan kamu" Alana melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. Sudah menunjukan pukul tujuh kurang 5 menit lagi.
"Masih ada waktu lima menit" gumam Joy.
"Sebenarnya apa yang ingin kamu bicarakan padaku. Apa kamu mau bicara soal tadi? Aku sudah bilang---"
Joy menutup mulut Alana. "Jangan bicara dulu, biarkan aku menjelaskan. Joy memegang ke dua tangan Alana. "Dengarkan aku dulu. Aku memang salah. Hati aku juga salah. Menyukai orang yang salah juga. Aku gak tahu apa yang harus aku katakan sekarang denganmu. Kamu benar-benar membuat aku tak bisa berhenti memikirkanmu Alana. Aku gak tahu perasaan apa ini. Dan aku gak mau jika kamu terus bersendih. Apa yang aku katakan tadi bohong. Dan soal marah dengan Vino aku gak sengaja. Aku terlalu emosi. Aku hanya ingin bilang. Jika kamu mau menerima aku buat jadi pasangan kamu. Aku akan tunggu kamu di sebuah danau. 2 hari lagi, dan aku akan selalu menunggu kamu. Sampai kamu datang. Ingat kamu harus datang" Ucap Joy, mengusap lembut pipi Alana. Lalu beranjak pergi meninggalkan Alana sendiri.
Alana hanya diam, ia bingung dengan apa yang di katakan kakaknya. Kenaoa dia begitu bodoh. Aku sudah bilang kita adik kakak. Tapi kenapa dia malah mau aku jadi pacarnya. Pikir Alana.
Ia segera masuk ke dalam kelasnya. Sebelum di mulai pelajaran pertama.