My First Love

My First Love
36. HARI PERTAMA



Alvin dan dian beradi di dalam mobil yang sama yang di kemudi oleh pak bur, sedangkan pak albert dan bu sinta bersama dengan ivan di mobil milik ivan juga beberapa bodyguard yang senantiasa mengiringi mobil sang majikan nya. (sultan yah punya segala nya guys heheh)


keheningan terjadi didalam mobil yang ditumpangi alvin dan dian, hanya ada deruan meain mobik yang senantiasa menemni perjalanan dari hotel menuju kediaman keluarga pak albert.


"bagaimana ni, hari pertama ku bersama lelaki yang sudah sah bersetatus menjadi suami ku, kenapa hati ku merasa tidak tenang? ada apa dengan perjalanan rumah tangga ku kelak?", bagin dian berbicara sendiri sambil meremas kedua tangan nya mengurangi rasa khawatir.


alvin yang melihat keresahan pada dian hanya bisa tersenyum sinis pada wanita itu tanpa melihat wajah nya.


"mampus lo, ini akan menjadi permulaan dalam kehidupan mu, nikmatilah hari ini dan hari selanjut nya", alvin membatin.


"tuan, apa boleh singgah di rumah ku?", dian akhir nya memberanikan diri bertanya pada sang suami.


"tuan? kenapa kamu menanggilku dengan kata itu? apa kamu tidak mengingat yang telah kita sepakati sayang?", alvin malah balik bertanya dan sekaligus mengingatkan dian kembali tentang panggilan yang harus di ubah sambik m*****s erat pergelangan tangan dian hingga dian merasa kesakitan.


"eeh i..iii..iia sa..sa...say..sayang..! jabaw dian gelagapan karena gugup bercampur kesakitan karena pergelangan tangan nya di r***s oleh alvin.


"bagus", jawab alvin sambil menampilkan senyum devil nya pada dian lalu perlahan melepas genggaman tangan nya.


"kamu tidak boleh kemanapun hari ini dan hari selanjut nya kamu tetap berada di rumah", jawab alvin lagi dan mengacunvkan jari telunjuk nya ke udara mengingatkan dian agar tidak berbicara dan bertanya bahkan membantah nya lagi.


Dian hanya bisa menarik nafas nya sedalam mungkin hingga melemaskan seluruh badan nya menyandar ke kursi sambil menoleh ke arah jendela kaca mobil seakan mengurangi rasa lelah nya menghadpi kehidupan.


"gimana keadaan rumah dan bi ina juga bi sum yah?", batin dian menghawatirkan kedua wanita paruh baya yang berada di rumah nya saat ini sambil memejamkan mata nya.


mobil yang mereka tumpangi akhir nya tiba di pelataran rumah keluarga pak albert, pak bur membukakan pintu untuk kedua majikan nya lalu mengeluarkan barang-barang dari dalam mobil itu.


alvin berjalan menuju rumah dan di ikuti oleh dian, kedua nya duduk di ruangan keluarga rumah pak albert sambil menunggu papa dan mama nya tiba. dan tam butuh waktu lama, yang dinantikan akhirnya tiba juga.


"ehhh penganten baru, ayok ke kamar kalian..! apa kalian gak capek gitu nak? kamar nya udah si beresein sama bibi loh", kata bu shinta pada menantu dan anak lelaki nya lalu duduk berhadapan dengan dia dan alvin yang hanya di batasi oleh meja dan di suauli pak albert.


"apaan siih ma, kita kan butuh udara bebas juga, ia kan sayang?", jawab alvin sambil bergeser mendekati dian lalu merangkul pinggul sang istri, sedangkan dian yang mendapatkan perlakuan manis dan tiba-tiba dari alvin hanya bisa tersenyum kikuk dan tak mengerti dengan apa yang sedang di permaikn alvin.


"kamu begi lihai dalam melakukan adegan tipuan mu terhadap kedua orang tua mu vin, kamu juga mempermainkan pernikahan yang akupun tak mengerti apa tujuan mu, apa kesalahan yang ku perbuat hingga pernikahan kau jadikan alasan untuk menyakiti ku", batin dian.


"ciieew cieww yang lagi manis-manis nya, hahah, jadi kapan nih kalian akan berencana honey month nya?", goda bi shinta dan bertanya pada anak nya.


"iaa vin kapan? papa dan mama pengen cepat-cepat nimang cucu", kata pak albert


"tanang aja ma, akan kita atur waktu yang tepat setelah kita bicara berdua", jawab alvin.


"baiklah, apa boleh aku ikut?", tanya ivan pada alvin.


"ehh gak boleh gitu dong vin, biar mereka pergi berdua aja, kamu ngurua kantor aja,", perotes bu shinta pada ivan


"aduhhh tante gimana sih, akukan jadi sopir pribadi mereka dan skalian mengawasi dari hal buruk pada mereka berdua, biar mereka honey moth nya lancar jaya gitu, urusan kantor kan bisa di handle sama om, ia kan om?", bantah ivan dan memohon agar pak albert menyetujui nya.


"boleh van, kamu ikut aja, ada benar nya yang kamu katakan, kamu tetap mengawasi mereka dari bahaya apapun, urusan kantor biar om yang atur", kata pak albert menyetujui apa yang dimtakan ivan.


"huuuhhhhh, benar juga sih kata mu vin", jawab bu shinta akhir nya setuju.


"yeeessss yess yessssss", ivan sambil melompat kegirangan layak nya anak kecil yang baru dapat ijin liburan dari orang tua nya.


alvin dan dian yang melihat hanya bisa memijak pelipis yang tidak sakit.


"apa boleh kami ijin ke kamar mah, pah,", pamit alvin pada kedua orang tua nya.


"silahkan nak", jawab pak albert sambil tersenyum pada pasangan itu. alvin tetap merangkul pinggul dian sambil berjalan menuju lift.


"vinnn buaf cetakan gol yang banyak yah, biar gua cepat dapat ponakan yang unyu gitu", ivan berteriak kegirangan hingga menghentikan langkah kedua nya. lalu alvin berbalik,


"lo mendingan cetak gol sendiri aja, gak usah nyuru-nyuru gue, enak aja bikin cetakan, lo pikir gua pabrik roti", jawan alvin lalu kembali merangkuk pingguk dian hingga menuju lift.


didalam liftpun alvin masih merangkul pinggul dian dan tak berbicara sepatahkatapun pada dian, berhbung di dalam lift ada camera cctv, alvin hanya takut ayah nya mengetahui kelicikan yang ia lakukan. hingga kini tiba di lantai tiga rumah itu dimana terdapat tiga kamar tidur pula. kamar milik alvin, ivan dan kamar tamu. dan 1 ruangan olah raga, satu nya lagi ruangan kerja milik alvin.


Alvin menyuruh dian untuk menyiapkan air hangat untuk mandi. dian melangkah menuju kamar mandi milik alvin dan juga milik nya sekarang. dian sangat mengagumi kamar mandi milim alvin, kamar mandi yang cukup luas, bebeda dengan kamar mandi nya di rumah, meski sama-sama mewah, tapi milik alvin lebih terawat.


"sudah saya siapkan tuan", kata dian dari depan pintu kamar mandi.


alvin berjalan menuju kamar mandi lalu merendamkan diri nya didalam bath up yang terisi air hangat dan di tuangi wangi aroma teraphy. alvin yang baru menggunakan aroma teraphy saat berendam akhirnya merasa segar setelah berendam selama kurang lebih 30 menit lama nya dan keluar hanya menggunakan lilitan handuk berwarna putih di pinggang nya, menampilkan perut kotak-kotak nya yang sangat indah.


dian yang melihat alvin keluar hanya menggunakan lilitan handuk hanya bisa berteriak sakjng kaget nya melihat apa yang ada didepan matanya saat ini.


.


.


.


Hay guys terimakasih susah membaca novel ku ini, mohon dukungan dengan memberikan vote juga like sebanyak nya yah.. terimakasiih 🙏😇 god bless