My First Love

My First Love
Kesal



Bel istirahat menggema ke seluruh penjuru sekolahan. Cia menarik tangan Joy untuk pergi ke kantin. dan Miko entah kemana. Dia sudah lari duluan keluar dari kelasnya. 


Tapi bagi Cia itu sudah biasa, ia yakin jika Miko pasti menenemui Alana di kelasnya. Kelas akselerasi yang agak jauh dari kelas reguler seperti dirinya. Dan pastinya ia juga akan mengajak Alana untuk pergi ke kantin.


"Kenapa kamu ajak aku ke kantin?" tanya Joy, menatap Cia yang dari tadi dia menunduk, dan hanya diam dengan wajah muramnya. Dan tangan menyangga dagunya. 


"Makanlah. Emangnya di kantin mau ngapain lagi, jika tidak makan. Masak mau cukur rambut" ucap Cia, membuat Joy geram.


"Ya, aku tahu. Tapi apa kamu gak mau traktir aku gitu. Makan atau minum gitu." ucap Joy, mencoba menggoda Cia. 


"Ya, sudah sekarang kamu pergi pesan sana. Aku lagi baik hati untuk traktir kamu." ucap Cia, tanpa ekspresi di wajahnya. 


Joy beranjak berdiri antusias. "Makasih, aku lagi gak punya uang. Dan sekarang dapat traktiran" gumam joy segera memesan makan di kantin.


Cia hanya diam, menatap adiknya itu. Wajah yang berbeda. dari biasanya, hal yang membuat ia tidak bisa berpikir jernih algi sekarang. Apa yang harus di lakukan. Agar Joy menjauhi Alana. Dan mama Keyla jika tahu pasti akan marah dengannya. Pikir Cia dalam hatinya. 


-----


"Alana, ikut aku ke kantin ya" ucap Miko, berjalan kengikuti Alana. 


"Aku mau pergi belajar ke halaman belakang sekolah. Gak ada waktu untuk ke kantin" ucap Alana tegas, sifat dia berubah lagi seratus delapan puluh derajat. Lebih cuek lagi seperti biasanya. Padahal dia kemarin ramah dan baik banget. Entah kenapa ia berubah. Ia juga tidak tahu. 


"Alana, sekali saja. Kamu juga harus makan. Aku gak mau jika kamu sakit nantinya. jadi sekarang kamu makan ya, bersama dengan aku." ucap Miko, memegang tangan Alana, mencegahnya pergi lebih jauh lagi darinya.


Alana, menghentikan langkahnya. Ia menarik napasnya dalam-dalam. Lalu mengeluarkan secara perlahan. "Apa yang harus aku lakukan sekarang. Jika nanti aku bertemu dengan kak Joy, aku gak bisa berbicara apa-apa lagi. Gak bisa berkutik di hadapannya." gumam Alana, menoleh menatap ke arah Miko. 


Aku harus bilang pergi dengan kak Miko, aku harus tunjukan padanya. Jika aku tidak suka dengannya. Pikir Alana. 


"Alana kenapa kamu diam? Gimana kamu mau kan?" tanya Miko memastikan. 


"Baiklah!!" ucap Alana, dengan senyum terpaksa terukir di wajah cantik alami yang ia miliki. 


Miko, terdiam tak percaya jika Alana menerima tawarannya. "Ya sudah, sekarang ayo kita pergi" ajak Miko, memegang tangan Alana. 


Alana dengan terpaksa menerima begitu saja tangan Miko, menutupi sela-sela jari tangannya. Jika bukan buat menutupi rasa cinta yang salah. Ia tidak mungkin mau.


Miko berjalan beriringan Arah, beranjak pergi menuju kantin. Semua anak menatap ke arah Miko kagum. Alana terkenal, sebagai gadis cuek, cantik dan juga kepintarannya. Tidak ada yang tidak kenal dengannya di selurih penjuru sekolahan. Tapi tidak ada satu laki-laki pun yang berani mendekatinya. Sifat cueknya sudah di ambang batas. Ia selaku menghindar saat ada laki-laki yang ingin berkenalan dengannya.


"Miko sudah jandian?" tanya salah satu teman Miko, menepuk pundaknya. 


"Doain saja ya!!" ucap Miko, dengan wajah bahagianya. 


"Cie Miko... Pacar baru nih.." ucap para wanita yang duduk bergerombol. 


Miko hanya diam, tidak menjawab ocehan mereka. Begitu juga Alana. Ia juga lebih memilih diam seribu bahasa tanpa perdulikan ocehan orang di sekitarnya sama sekali. 


"Kak Mik, bisa lebih cepat. Aku malu" ucap Alana lirih. 


"Iya, aku tahu. Tapi aku tidak akan membuat kamu merasa malu. Mereka hanya iri dengan kita." ucap Miko. 


Alana, menatap ke arah Miko, memasang senyum terpaksa lagi. 


"Sekarang apa lagi yang akan kamu lakukan?" tanya Alana. 


"Saat bertemu dengan Joy. Aku harap kamu tidak berantem lagi. Dan aku gak mau kamu melakukan apapun dengan Joy. Bairkan apa yang dia bicarakan. Dan jangan di anggap serius" ucap Alana. Yang kemudian duduk di kursi kantin, ia melirik Joy sedang memesan makanan. 


"Kamu mau makan apa?" tanya Miko. 


"Bakso saja. Sama es cafe latte." ucap Alana. 


"Baiklah.. Aku pesan dulu. Kamu tunggu di sini ya." Miko segera memesan makanan yang di inginkan Alana. Ia tidak mau jika Alana terus bersedih, makanya Miko memilih ajak Alana pergi ke kantin bersama. 


------ 


"Nih, kamu makan bakso saja ya." ucap Joy, memegang satu mangkok baksi untuk Cia. 


"Siap, gak masalah. Ini juga enak kok" ucap Cia. 


Cia melirik ke arah Miko, makan bersama dengan Alana. 


Gimana ini, jika Joy melihat pasti akan marah. Dan apa yang harus aku lakukan untuk membuat Joy terpancing rasa cemburunya. Tapi jika Dia eibut di sini susah juga. Lebih baik jangan sampai dia lihat dulu. Nanti saja jika sudah sampai di rumah. Pikir Cia, dengan tangan, menggaduk-aduk bakso di depannya. 


"Cia, apa kamu gak suka bakso. Akalu gak suka aku akan pesankan yang lainya. tapi kamu yang bayar ya!!" ucap Joy, menepuk pundak Alana.


"Suka kok!! Tadi hanya ada pikiran dikit" ucap Alana, menundukkan kepalanya, dan mulai makana satu sedok pertama dalam mulutnya. 


Joy, mengerutkan keninganya bingung. Ia kencoba menoleh ke belakang. Melihat siapa yang di lihat Cia di belakangnya. Yang sepertinya sangat mencurigakan, sampai membuat Cia merasa kesal. 


Cia dengan segera mencegah Joy menoleh ke belakang. "Eh.. Joy kamu cepat makan. Setelah itu aku mau tanya kamu soal pr kemarin. Apa kamu sudah kerjakan?" tanya Cia, mencoba mengalihkan topik pembicaraan, dan Joy juga bisa lupa dengan pikiran negatif tentang dirinya. 


"Baiklah. Kau habiskan dulu, kemarin Alana yang membantu aku ngerjain pr. Jadi aku yakin benar semua. Jadi kalau kamu mau lihat, silahkan." ucap Joy. 


Seketika Cia tersendak makanan. "Uhukk.. Uhukk.. Uhukk. " Cia menepuk dadanya berkalu-kali, dan segera mengambil minuman di depannya, perlahan ia meneguknha sampai habis ta tersisa. 


"Kamu kenapa?" tanya Joy.


"Gak apa-apa. Baksonya sangat panas dan pedes banget" ucap Cia. 


"Makannya kalau makan pelan-pelan" ucap Joy, melanjutkan makanannya lagi. 


Pandangan Cia memutar ke kanan. Ia menatap ke arah Miko dan Alana yang sedang duduk berdua menikmati makanan. Dan saling bercanda satu sama lain. 


"Sepertinya aku harus relakan hatiku. Dari pada harus Joy suka dengan adikna. Biarkan Miko yang akan jadi pacar Alana. 


Selesai makan, Alana segera pergi menuju ke kelasnya lagi. Dan Miko mengantarnya sampai ke depan kelas. 


"Alana, makasih ya hari ini kamu mau pergi makan denganku" ucap Miko, memegang ke dua tangan Alana. 


Alana melepaskan tangan Miko, "Iya, sama-sama. Aku mauk ke kelas dulu" ucap Alana, tersenyum tipis. 


"Iya, Sampai jumpa nanti ya. Aku nanti tunggu kamu di depan gerbang sekolahan. dan ingat jangan nolak ya" Ucap Miko bergegas pergi meninggalkan Alana, yang masih mau membuka mulutnya untuk mengucap kata tidak. 


Dengan terpaksa Alana harus menerima begitu saja. Tapi jika Joy dan Cia sudah pulang lebih dulu. Baru ia mau pergi dengannya. Kalau tidak, ia tidak mau ambil resiko lagi jika dekat dengan Miko.