My First Love

My First Love
Amarah



Alana segera duduk, di samping mamanya. 


"Keyla, selama beberapa hari. Kamu mau kan bantu David dan Amera belajar" ucap Sheila pada Alana. 


Alana, tidak bisa menolaknya. Apalagi di depan orang tuanya. Meski ia tidak begitu kenal dengan mereka tapi setidaknya. Ia tidak masalah jika membantu mereka belajar. Hanya beberapa minggu saja. 


Alana tersenyum tipis. "Baiklah tante!!" ucap Alana. 


"Tuh, Alana mau bantu kalian belajar. Jadi kalian bisa belajar dengannya." ucap Sheila pada anak-anaknya. 


"Tapi apa dia bisa, pelajaran di indonesia dengan negara kita itu beda." ucap David, menggunakan bahasa inggris. 


"Iya, aku tahu. Siapa bilang sama. Aku bisa membantu kalian kok. Tanang saja," ucap Alana penuh percaya diri. 


"Beneran?" tanya Amera. 


"Iya," jawab Alana ramah. 


"Alana bisa segala pelajaran, bahkan yang sudah di atasnya ia sudah bisa. Daei dulu memang ia suka baca pelajaran kuliah dan buku-buku yang membuat ia tertarik" sambung Joy. 


Seketika, Alana menoleh ke arahnya. 


jarum jam sudah menunjukan pukul Delapan malam. Mereka yang terlalu lama berbincang sampai tidak sadar jika sudah menjelang malam. 


Lama berbincang, mereka segera mengakhiri pembicaraannya. Dan menuju kamarnya masing-masing untuk istirahat. 


Berbeda dengan Joy, yang lebih memilih untuk keluar ke halaman belakang rumahnya, menikmati pemandangan langit yang begitu cerah hari ini. Tapi tidak dengan hatinya, yang tetlihat muram. Tak secerah langit yang ia lihat. 


Memang semuanya tidak akan mungkin berjalan dengan mudah. Pasti akan banyak yang menentang hubungan aku. Jika dia benar-benar mau menerimaku. Tapi aku gak akan menyerah. Aku akan tetap berjuang untuk mendapatkan seutuhnya dirinya. Pikir Joy, berbaring, mendongakkan kepalanya ke atas, dengan ke dua tangan di tekuk, menjadi tumpuan kepalanya. 


Ia tersenyum, membayangkan wajah Alana di depan matanya. "Bayangan itu tak pernah hilang" ucap Joy. 


Sedangkan Alana, berdiri di atas balkon kamarnya, yang tepat berada di belakang. Ia melihat Joy yang terbaring sendiri di belakang rumahnya. 


"Kenapa dia di situ?" gumam Alana, yang segera masuk kembali ke dalam kamarnya. 


---


"Joy, kenapa kamu di sini?" tanya Amera, duduk di sampinnya. 


"Amera!! Kamu malam-malam juga keluar, ada apa?" Joy balik tanya apda Amara. 


"Aku hanya ingin melihat pemandangan malam di sini" ucap Amera, mendongakkan kepalanya ke atas, melihat pemandangan bintang dan sinar rembulan, yang hari ini terlihat sangat cerah. 


"Apa kamu seperti ini setiap hari?" tanya Amera, yang mulai membaringkan tubuhnya di samping Joy. Namun, menyisakan jarak di antara mereka. 


"Gak juga, kalau cuaca tidak mendukung. Ya, gak mungkin aku di sini. Lagian ini hanya buat hiburan aku saja. Di saat hati merasa sedih" ucap Joy.


Amera menatap ke arah Joy, "Emangnya kamu sedih kenapa?" tanya Amera yang semakin penasaran. 


"Ada hal yang tidak semestinya semua bisa aku ceritakan." ucap Joy, menatap ke arah Amera. 


"Emm.. Maaf ya, aku terlaku banyak tanya padamu" ucap Amera. 


"Gak apa-apa!!" Ucap Joy. "Kamu gak tidur sekarang?" tanya Amera. 


"Bentar, ku amu temani kamu di sini. Ya, siapa tahu kamu gak sedih lagi" goda Amera. 


Amera juga beranjak duduk, di samping Joy. "Oya, jika kamu bisa memilih. Apa kamu pilih cinta atau adik" tanya Amera, seketika, membiat Joy, mengernyitkan matanya. 


"Maksud kamu apa?" tanya Joy. 


"Aku hanya tanya, jika kamu jatuh cinta dengan seseorang. Tapi adik kamu gak setuju. Apa kamu lebih memilih adik kamu?" ucap Amera menjelaskan. 


Joy menarik napasnya lega, ia mengira jika Amera tahu apa yang ia rasakan sekarang. 


"Aku lebih adik aku, aku yakin jika adik aku gak suka. Itu ada maksudnya. Siapa tahu memang wanita itu gak baik buat aku. Dan wanita bisa di cari, tapi saudara tidak" ucap Joy.


"Aku harao kamu bisa begitu, seperti apa yang kamu katakan" ucap Amera, menepuk bahu Joy, dan beranjak berdiri. 


Alana nelihat di balik selambu, yang nenutupi kaca balkon kamarnya. "Aku harap mereka bisa bersatu, dan dengan segera ia melupakan ku. Aku gak mau dia terjebak cinta yang salah" Gumam Alana, yang kansgung beranjak ke ranjang, ia membaringkan tubuhnya. Mencoba memejamkan matanya, yang memang tidak bisa pejamkan. Ada pikiran yang selaku mengganjal di otaknya. 


"Kenapa aku, kenapa... Aku amu hidup tenang. " ucap Alana, beranjak duduk, memegang kepalanya, dengan ke dua tangannya. 


Aaa... Alana, mengacak-acak rambutnya. Ia terlihat sangat frustasi dengan berbagai masalah yang belum selesai di tambah Joy yang membuat ia semakin frustasi. 


-----


"Apa yang di maksud Amera, apa dia benar-benar curiga dengan hubunganku dan Alana. Tapi gimana bisa dia tahu" gumam Joy, yang terlihat bingung. 


"Ahh. sudahlah lupain saja." 


Joy beranjak berdiri. Ia menodngakkan kepalanya, melihat ke atas balkon akamr Alana. 


"Sepertinya dia sudah tidur" ucap Joy. 


Aaa... semuanya membuat aku muak" Teriakan itu sontak membuat Joy kembali menatap ke kamar Alana. Ia segera berkajalan masuk ke dalam rumahnya, dengan langkah semakin cepat. Menaiki anak tangga, di depannya. 


Rumah terlihat sangat sepi... "Sepertinya semuanya sudah tidur" pikir Joy, membuka pintu kamar Alana, ia segera masuk, lalu menutupnya kembali memastikan jika Alana baik-baik saja.


"Alan, kamu kenapa?" tanya Joy, berjalan menghampiri Alana yang duduk di lantai, bersandar di ranjang, dengan ke dua kaki di tekuk. Dan tangan memegang kepalanya. Rambut Alana juga acak-acakan.


"Alana, tenanglah!! Jangan seperti inu!!" ucap Joy, mencoba mendekati Alana.


"Pergi dari sini!!" pinta Alana dengan suara tinggi. 


"Aku gak mau!! Aku akan tetap di sini Alana"


"Pergi dari sini!!" ucap Alana semakin keras. 


Joy, tak mau banyak bicara lagi, ia memeluk erat tubuh adiknya itu. "pergilah dari sini!! Pergii!!" ucap Alana, menangis sejadi-jadinya. Memukul punggung Joy berkali-kali. 


"Pukulah aku!! Aku gak perduli. Tapi kamu tenanglah" ucap Joy, semakin memeluk erat Alana, menenggelamkan wajah Alana di dada bidangnya, Joy mengusap lembut rambut Alana. 


"Tenanglah.. Jangan khawatir. Aku akan ada buat kamu. Jika ada masalah cerita padaku." ucap Joy.


"Aku gak mau cerita kak... Aku gak mau.. " Alana semakin sesegukan, ia yang semula marah tak terkendali, dalam pelukan hangat Joy. Hatinya perlahan luluh. 


"Sekarang tenanglah. Tenangkan hati kamu, aku gak mau kamu seperti ini. Jika kamu memang marah dengan aku. Gak apa-apa, aku akan pergi. Dan gak akan lagi ganggu kamu. Jangan siksa diri kamu sendiri, aku gak mau jika kamu jadi seperti ini" ucap Joy, mengusap punggung Alana


"Kakak gak salah, memang aku yang salah. Aku hadir dalam keluarga ini. Aku salah.. Aku yang salah" ucap Alana.