My First Love

My First Love
Cia marah dengan Joy



Bel istirahat menggema ke seluruh penjuru sekolahan. Alana dengan segera membereskan buku yang berserakan di meja, dan memasukkan ke dalam tasnya.


Ia ingin bertemu dengan Joy, dan bertanya soal tadi pagi, kenapa dia marah padanya. Padahal ia tidak berbuat apa-apa yang menyakitinya.


Semenjak kejadian tadi pagi, Joy yang tidak perdulikannya lagi. Membuat Alana terus kepikiran terus.


Oya, soal yang aku bicarakan sama Miko tadi. Apa Miko sudah beri tahu kak Joy ya. Hmm.. Semoga dia gak lupa beri tahu Kak Joy. Pikir Alana. Mengeluarkan kotak kado kecil di dalam tasnya, yang akan ia berikan untuk Joy, yang sudah ia siapkan dari kemarin. Ia bungkus itu.


Alana bergegas pergi menuju ke taman belakang, ia berharap Joy menemuinya di sana. Sudah lima menit menunggu Joy belum juga muncul, di halaman sekolah. Alana duduk di bawah pohon besar, yang sangat rindang, yang membuat teduh tubuhnya terhindar dari panasnya matahari siang.


"Aku kirim pesan saja padanya" gumam Alana, mengeluarkan ponselnya. Dan segera mengetik pesan untuk Joy.


"Kak Joy, Kamu di mana?"


Tak berapa lama sebuah jawaban kilat dari Chat Joy datang.


"Aku di kantin, ada apa?" tanya Joy.


"Miko gak bilang padamu tadi?"


"Bilang apa?"


"Ya, sudah mungkin dia lupa. Sekarang aku tunggu kakak di taman belakang sekolah."


"Ada apa, mau pamer soal hubungan kamu dengan Miko"


"Kenapa kakak bilang seperti itu? Aku gak ada hubungan apa-apa dengan Miko."


"Udah gak usah bohong"


"Kalau mau pamer soal itu, lebih baik kamu paner oada semua orang sekalian. biar semua tahu hubungan kamu dengan Miko, kalau kamu itu dekat dengannya."


"Kak Joy, kenapa begitu. Aku hanya ingin bertemu dengan Kak Joy, tapi kenapa balasnya marah-marah."


"Siapa juga yang marah, aku gak marah denganmu, tapi aku itu kesal dengan seorang yang gak ngerti sama sekaki perasaanku."


"Terserah!! sekarang kak Joy cepat temui aku di taman belakang sekolah. Aku sudah nunggu dari tadi" ucap Alana, mengakhiri chat nya, memasukkan ponselnya dalam saku bajunya.


Joy bergegas pergi menemui Alana, di belakang sekolah. ia juga ingin tanya tentang hubungannya dengan Miko apa, kenapa mereka selalu dekat. Bahkan setiap waktu Miko ada kesempatan selalu mencari Alana. Membuat Joy merasa sangat tidak suka. Tapi Ia gka bisa bilang apa-apa jika di depan umum.


"Kamu mau kemana?" tanya Cia, menarik tangan Joy, untuk duduk kembali.


"Aku mau ajak kamu makan, hari ini aku traktir lagi. Karena aku lagi seneng. Jadi aku akan traktir kamu lagi ke dua kalinya" ucap Cia, duduk di depan Joy.


"Seneng kenaoa? Apa sudah dapat pacar?" tanya Joy menggoda.


"Semoga saja, kamu diakan saja Cia bisa dapat laki-laki yang tampan" ucap Cia. "Sudah sekarang kamu mau makan apa?"


"Aku udah kenyang kak, sekarang aku harus pergi dulu. Lagian aku juga sudah minum. Jadi gak usah pesanin aku minum"


"Emangnya pergi kemana?" tanya Cia.


"Bukan urusanmu, aku mau ke kelas dulu" ucap Joy, yang lansung pergi meninggalkan Cia.


"Kenapa aku merasa kalau Joy bohong. Tapi biarlah. Aku lapar, mau makan dulu" ucap Cia.


yang langsung memesan makan. untuk mengisi perutnya yang terasa kosong itu. Merasa Joy gak mau di ajak makan bersama. Ia gabung dengan teman lainya Sambil berbincang masalah gosip sekolahan, sampai di luar sekolahan.


---


"Apa ini yang kamu mau perlihatkan padaku. Apa ini yang mau kamu tunjukan, kamu mau pamerkan kemesraan bersama dengan Miko" gumam Joy kesal. Ia memukul tembok di sampingnya, dengan penuh perasaan kesal.


"Joy, kamu gak apa-apa?" tanya teman laki-laki yang lewat.


"Aku gak apa-apa, hanya saja, merasa kesal" ucap Joy bergegas pergi.


----


"Alana, kamu di sini ngapain?" tanya Miko.


Alana, menyembunyikan kotak hadianya ke belakang punggungnya.


"Aku hanya ingin di sini, lagian di sinu enak nyaman. Hawanya juga sejuk. Dari pada terus di kelas terus" ucap Alana berlasan


"Iya, soal tadi aku belum bilang pada Joy, aku lupa." ucap Miko.


"Gak, apa-apa kok kak" ucap Alana.


Ia terus melirik jam tangan di pergelangan tangannya, sudah hampir dua puluh menit dan bel pelajaran juga akan di mulai. Dan kenapa Joy belum juga datang. Apa dia sangat marah denganku, sampai dia gak mau datang menemuiku. Atau memang aku gak pantas berikan kando ini. Dan Amera juga pasti sudah berikan kadi yang lebih bagus dari pada punya aku sekarang. Pikir Alana.


"Alana, kenapa kamu diam?" tanya Miko.


Tak lama bel berbunyi. Alana beranjak bediri.


Aku pergi dulu ya kak" ucap Alana bergegas pergi, ia segera membawa kado kecil yang ia bawa dari tadi. Hari ini ia gagal untuk memberikan ini lagi. Kemarin gagal karena ketinggalan. Dan sekarang aku gak mau gagal lagi.


Belum sepmat memberikan jawaban pada Alana, ia sudah pergi jauh meninggalkan Miko. Miko hanya diam, menatap Alana yang berjalan semakin jauh dari hadapannya.


Jam pelajaran di mulai, Alana mengikutinya seperti biasa. Dan Joy tidak seperti biasanya. Ia tidak menghiraukan guru sama sekali, malah menatap ke arah Miko sinis.


Bahkan ia terus melamun, dan jarang sekali mendengarkan penjelaskan gurun di depan.


Thinggg...


Bel pukang berbunyi, Joy berjalan keluar lebih dulu, menenggor tubuh Miko agar menjauh, darinya.


Cia yang melihat hal itu, heran. Kenapa Joy seperti itu pada Miko. Ia tidak bisa biarkan mereka terus-terusan bernatem gara-gara wanita.


"Joy, tunggu!!" ucap Cia, menarik tangan Joy.


"Ada apa?" tanya Joy jutek.


cia menatap ke kanan dan ke kiri. Merasa tidak ada Miko dan Alana. ia segera menarik tangan Joy, ke halaman belakang sekolahan. "Kamu mau ngapain" ucap Cia.


"Aku mau tanya padamu, tapi jawab jujur. Aku mau dengar kejujuran dari kamu" ucap Cia, mentap ke arah Joy.


"Iya, cepat mau bicara apa?" tanya Cia.


"Apa kamu suka dengan alana? Dan kenapa kamu suka dengannya.?" tanya Cia terus terang, membuat Joy terdiam.


"Apa urusanmu, aku suka atau tidak bukan urusan kamu. Ini urusan hati aku sendiri. Gimana menyikapinya. Memangnya kenapa, apa kamu permasalahkan itu semuanya.


"Itu urusanku, karena Alana itu adik kita Joy... Dia adik Kita, jadi jangan bertindak bodoh suka dengan adik kita sendiri" ucap Cia, penuh emosi meluap-luap.


"Jangan bahas itu, sekarang lebih baik kita pulang" ucap Joy, bergegas pergi meninggalkan Cia sendiri. ia tidak mau bicara lebih banyak lagi tentang hal itu. Karena memang itulah kenyataannya sekarang. Ia memang benar Cinta dengan Alana, adiknya sendiri. Memang perasaan yang bodoh, seperti di dunia ini gak ada wanita lain. Tapi dari sekian banyak wanita hanya satu yang ada pelupuk hatinya dari dulu, tapi Joy, baru merasakan lebih dalam cintanya mulai SMA kelas tiga.