My First Love

My First Love
Keganasan Ian yang terpendam puluhan tahun



Keyla segera memakai bajunya, saat ia melihat suaminya itu sudah tertidur lelap, ia ingin mencari anaknya, membuktikan sendiri apa yang di katakan Alvin. Jika memang benar Joy suka dengan Alana. Pasti sekarang meraka sedang berduaan, pikirnya.


keyla, keluar hanya mengenakan mini dres, yang terlihat bahu mulusnya, yang terlihat sangat seksi, tanpa bra penyangga dadanya.


Ia berjalan dnegan langkah sangat hati-hati, menutup pintunya membelai.


Pukk!!


"Aaaaa..." teriak keyla, seketika di tutup mulutnya oleh Ian, yang menepuk bahu Keyla dari belakang.


"Kamu sedang apa keluar malam-malam?" tanya Ian.


"Bukan urusan kamu?" ucap Keyla kasal.


Pandangan Ian, mengarah pada tubuh Keyla, dari atas sampai bawah. Keyla sadar pandangan Ian terlihat melecehkannya.


"Jangan menatapku." ucap Keyla.


"Aku boleh jujur gak?"


"Apa?"


"Tubuhmu semakin menggoda!!" ucap Ian, tersenyum tipis, memegang tangan Keyla, menariknya masuk dalam dekapannya.


"Ia memegang punggung belakang Keyla, mendekapnya sangat erat. "Lepaskan aku!!"


"Gak akan, ku gak akan melepaskan kamu, syang!! Kamu keluar memakai mini dress, apa kamu memang mau mebggodaku?" tanya Ian, dnegan tatapan semakin membuat Keyla merasa takut.


"Apa yang kamu lakukan Ian, aku gak mau suami aku salah paham lagi. Jangan seperti inu," Keyla mencoba untuk mendorong tubuh Ian namun tubuhnya semakin erat.


Ian, menarik mini nyingkap mini dress Keyla, terlihat dadanya yang terlihat masih menonjol. Keyla yang terlihat sangat geram, ia mendong tubuh Ian sekuat tenagannya.


Plakkkk..


"Dasar menjijikkan, apa yang kamu lakuakn. Ini rumah aku, hangan bertindak macam-macam di rumah aku. Apa kamu mau cari masalah lagi dnegan suami aku, tolong jauhi aku." umpat kesal Keyla, sembari menunjuk wajah Ian.


Ian menggertakkan rahanya, ia memegang ke dua tangan Keyla. Memrpetkan tubuhnya ke tembok, mengecup kasar bibir Keyla.


"Emm.. Em..."


"Aku gak suka di tilak Keyla, dari dulu kamu selalu membuat aku merasakan hal yang paling menyakitkan. Aku ingin membalas kamu sekaraang, gimana rasanya kamu di sakiti." ancam Ian. Ia membawa tubuh Keyla masuk ke dakam kamar mansi landtai dua, yang tak jauh dari kamar Keyla.


Kwyla mengingit bibir Ian, hingga berdarah. Membaut tatapan Ia semakin tajam, ia mengusap darah di bibirnya. Dan beranhak mencium algi bibir gadia itu semakin ganas. Ke dua kaki Kayla benar-benar sekaan tak bisa bergerak, ia ingin sekali menendang milik Ian untuk bisa kabur.


Ia mengusap privat Kwyla, membuka dalamannya, hindda turu. ke mata kakinya. Ia menyingkap dress mini milik ksyla. Dan mulai melakukan apa yang ingin ia lakukan dnegannya dari dulu.


Sebuah benda keras menghantam miliknya, membuatnya seakan ingin berteriak. Namun bibir Ian seakan tak mau bergenti **********, bahkan berkali-kali Keyla menggigitnya ia tak perduli, rasa kesal amarah, ingin sekali ia luapkan sekarang. Sebelum ia pergi ke Sydney, ia memang berencana untuk menghancurkan rumah tangga Alvin dan Keyla, agar dia bisa kembali lagi bersama dengannya.


Ian meelapskan kecupannya, menhanyam semakin cepat, dengan berjalan memutar di kemar mandi, Ia menjongkokkan tubuh Keyla, menghantam dari belakang, dengan terus berjalan di memutari kamar mandi, hingga berhenti.


"Ian!! Hentikan!!" ucap Keyla, meneteskan air matanya.


"Aku gak akan melepaskannya, aku ingin merakana punya kamu. Karena salah kamu sendiri memilih menikah dengan Albin, tanoa mau menikah denganku."


"Itu dulu.. Emm.. Ian!!" ucap Keyla, terus mendesah sakit, irama Ian penuh dengan kemarahan yang menggebu. Membuat tubuh Keyla seakan remuk di buatnya.


Jemari tangan Ian meraba dada Keyla, membuatnya semakin tak bisa menahan tangisan rasa bersalah pada Alvin. Jika ia berteriak pati Alvin akan marah dengannya melihat apa yang di lakukan Ian. Dna dia juga tidak akan mau dengannya. Dan akan menceraikannya nanti.


Ia tak mau berhenti memainkan Keyla, dia terus melakukannya berbagai gaya, membuat Keyla merasa sangat lemas.


Pukulan, tamparan, dan gigitan di tangan punggung, dan cakaran tangannya membekas di punggung Ian. Keyla lontarkan pada berkali-kali.


Keyla mencengkram erat punggung Ian, meninggalkan bekas merah, seperti cakaran di punggungnya,


------


Sementara David dan Cia tidak mendengat apa yang di lakuakn ornag tua mereka. Ia berdiam di depan rumahnya, tepat di jam setengah dua belas malam, mereka masih saling terdiam, mereka merasa gugup untuk memulai pembicaraan lebih dulu. Dan David, juga merasa marah pada hatinya sendiri. Sempat suka dengannya, tapi perasaan itu belum begitu dalam, hingga ia bis melupakan dengan mudah gadis itu, jika dia bisa jauh darinya nanti.


"Apa kamu juga punya cinta pertama?" tanya Cia, menatap wajah David, yang masih terlihat sangat datar, seakan dia sangat kesal dengan Cia sekarang.


"Kenapa memangnya?" jawab jutek David.


"Aku hanya tanya, Dan aku juga ingin memberikan ini padamu," Cia melepaskan gelang pemberian David, dan meletakkan di meja, menggesernya ke arahnya.


"Maaf, jika aku banyak salah. Tapi aku hanya ingin kamu tahu, mungkin aku salah dekat denganmu. Tapi hati berkata lain, ku berusaha melupakannya, namun aku gak bisa perasaanku masih saja sama." ucap Cia, bernajak berdiri.


"Aku sudah tahu semuanya, tapi cinta kamu pasti sangat menyakitkan. Bawa saja gelang itu, untuk menghibur kamu."


"Enggak, aku gak berhak. Itu gelang sangat berharga, aku tahu itu sangat berarti bagi kamu. Apalagi saat orang tua kamu gak ada, hanya itu satu-satunya pemberian orang tua kamu yang masih ada." Cia bergegas pergi meninggalkan David sendiri. Duduk di teras rumahnya.


Ia duduk di sofa, merenungkan apa yabg di katakan pada David. Juga membuatnya sangat terluka. David selama ini yang menghiburnya, meski dia terlihat sangat menyebalkan.


Hingga satu jam berlalu, David masih berada di depan teras. Dan Via bergegas masuk ke dalam kaamrnya. Ia berhenti sejenak di di kemar mandi, seakan curoga mendnegarkan ada suara di dalam.


"Ma, pa!!" panggil Cia.


Ia menutup mulut Keyla, membuat keyla sangat tersiksa, ingin sekali memanggil anaknya itu. Air mata tak berhenti menetes. membasahi pipinya.


"Emm.. Sepertinya hanya pikiranku saja ada orang, lebih baik aku tidur saja. " gumam Cia bergegas masuk ke dalam kamarnya.


--------


Apa kamu mau bilang pada anak kamu, Apa kamu gak malu seperti ini denganku?" ucap Ian, yang tak behenti menhantam Keyla sangat kera, bahkan tidak memperbolehkan keyla berhenti meski hanya sejenak.


"Ian!! Aku mohon!!" ucap Keyla, memohon dengan wajah memelas.


"Tidak akan!! Aku akan membuat kamu tak berdaya Keyla. Kamu harus merasakan sakit yang amat sakit." ancam Ian, seakan seperti bukan Ian. Dia benar-benar sangat ganas.


Hampir satu jam berdiri Ian yang merasa cepek, ia membaringkan tubuh Keyla di lantai kamar mandi. Tanpa mepepaskan miliknya. Dan tak hentinya terus menghantam kuat, semakin cepat.


"Apa kamu tahu Keyla, aku bisa tahan sangat lama. Karena memang aku sengaja meminum ibat, dan mencari kamu setiap malam. Dan berharap kamu keluar, dan akhirnya hari ini, hari yang aku tuju terjadi juga. Dan empat hari lagi aku akan pulang. Maka aku ingin membuat kamu tidak akan pernah lupa kejadian ini, syang."


-------


Alana yang pergi bersama dengan Miko, ia sampai di rumah laki-laki itu.


"Alana kamu tinggu di sini, ya. Aku akan ambilkan sesuatu untukmu." ucap Miko.


"Alana sini," panggil Miko.


Miko mematikan lampunya, dan mulai menyalakan lilin yang berbentuk Love berjarak tak jauh dari Alana berdiri.


Alana yang ketakutan, ia menatap sekelilingnya, memeluk tubuhnya sendiri, sembari terus mengusap bahunya. "Miko, kamu di mana?" teriak Alana, yang sudah sangat takit.


"Berjalanlah ke depan, sampai kamu menemukan cahaya," ucap Miko.


Alana tanpa pikir panjang, ia mencoba mencari Miko lagi, berjalan ke depan, seketika matanya tercengang saat melihat lilin yang menyala berbentuk Love sangat besar, dengan hiasan bunga mawar di dalamnya, dengan satu tangkai bunga, dan sebuah kota kecil di dalamnya. Ia semakin berjalan mendekat, mencoba menatap jelas apa yang ada di depannya itu.


"Miko ini apa?" tanya Alana, tercengang.menutup mulutnya, menggelengkan kepalanya tak percaya.


"Kamu suka?" tanya Miko, mengilurkan tangan ke arah Alana.


"Genggamlah tanganku," ucap Miko


Alana mendongakkan kepalanya, menatap Miko di depannya. Ia masih belum bisa percaya menatap Miko yang membuatnya tak bisa berbicara apa-apa lagi, banyak sekali kejutan yang di berikan Miko padanya, dari kalung, cincin, dan sekarang sebuah kejutan yang membuat ia tak kalah tercengang di buatnya.


Alana menerima uluran tangan Miko, melangkahkan kakinya bersamaan masuk ke tengah tepat di atas bunga mawar yang di taburkan di dalam cahaya lilin bentuk hati.


Miko meraih setangkai bunga mawar, duduk jingkok, mencium lembut punggung tangan kanannya. "Alana, aku ingin kamu selamanya di dalam hatiku. Aku tidak mau jauh darimu. Jangan pergi dariku," ucap Miko, dengan kepala sedikit mendongak ke atas, menatap mata Alana, seakan sudah terlihat mulai berkaca-kaca.


Kenapa aku begitu menyakiti perasaan Miko. Padahal Miko sangat baik dengannya. ia bahkan rela melakukan apa saja demi dirinya. tapi apa balasanku, aku terus membuatnya kecewa.


"Alana, maukah kamu jadi pendamping hidupku nanti, menemaniku sampai aku menutup mata?" ucap Miko, mengulurkan setangkai bunga mawar merah pada Alana.


"Tapi.."


"Alana, jika kamu menolak, buang bunga mawar ini, jika kamu menerimanya. Pegang dan simpanlah bunga ini," lanjut Miko.


Alana hanya diam, memikirkan jawabannya apa yang akan ia katakan pada Miko nantinya. Ia menerimanya atau malah menolaknya, ia juga tidak begitu tahu.


Gadis itu, mulai mebgambil bunga di tangan Miko, membuat jantung Miko berdegup sangat cepat. Ia terlihat sangat tegang, mendengar jawaban dari Alana. Akan menerimanya atau menolaknya. Rasa takut terbesit dalam pikirannya, membuat Miko diam, menundukkan kepalanya.


Alana mencium aroma bunga mawar, yang begitu harus, mendamaikan jiwanya. "Miko!!" panggil Alana.


Miko membuka matanya, ia mencoba untuk mendongakkan kepalanya, melihat jawaban yang di berikan Alana.


"Aku menerimanya," ucap Alana, aeketika Miko langsung memeluk erat tubuh Alana, dan di balas pelukan lembut Alana.


"Makasih!! Aku janji akan selaku setia padamu Alana. Aku akan tunjukan dulu padamu, jika aku tidak suka dengan Cia. Jika aku berhasil menunjukan maka kamu harus menikah denganku," ucap Miko, melepaskan pelukannyan meletakkan tangannya di ke dua telinga Alana, menariknya mendekat, lalu mengecup kening Alana lembut.


"Duduklah!!" pinta Miko, yang segera duduk, meraih kota kecil di sampingnya. Alaan duduk di samping Miko, menyandarkan kepalanya, di bahunya. Membuat Miko semakin senang. Ia memeluk bahu Alana, mendekatkan tubuhnya.


"Makasih, sudah percaya denganku. Besok kamu jadi pergi?" tanya Miko, yang memang dari awal sudah tahu Jika Alana akan pergi. Sebelumnya Alana sudah menghubungingya, mengirimkan pesan padanya, untuk minta ijin pergi ke Inggris lebih dulu.


"Iya, aku jadi pergi. Tapi aku mau ke Sydney dulu. Bukanya besok kamu juga akan pergi!!"


"Iya, tapi aku ingin berangkat denganmu. tapi berhubung pesawat kita beda, ya mau gimana lagi. Tapi kamu harus hati-hati, aku gak mau jika kanu kenaap-napa, jaga diri kamu di sana." ucap Miko.


"Tapi kenapa kamu eprgi ke Sydney?" tanya Miko penasaran.


"Apa aku belum peneha cerita padamu?" tanya Alana memastikan. Ia lupa pernah ceita atau tidak pada Miko. Lagian itu privasinya dan tidak pernah cerita pada siapapun.


"Cerita apa?" tanya Miko heran, mendekatkan wajahnya menatap Alana, dengan jarak hanya tiga jari tangan.


Deg..


Pandangan mereka saling tertuju, hembusan napas berat, saling berpacu satu sama lain.


"Aku ingin mencari ibu aku. Soal ibu kandung aku yang entah sekarang tinggal di aman. Ayah aku bilang jika dia tinggal di Sydney. Makanya aku ingin bawa dia pergi ke Inggris bersamaku," ucap Alana, membuat Miko tercengang tak percaya. Ia yeringat dengan perkelahiarannya dnegan Joy.


Ia yeringat saat Joy dengan berlebihan dnegan Alana. Sangat perduli dengannya, bahkan saat melihat ia berduaan dnegan Alana, Joy terlihat sangat marah dan kesal. Miko memutar masa lalunya saat Joy, tiba-tiba marah dengannya.


Jadi ini jawabannya, Joy beneran suka dengan Alana. Dan apa yang sudha dia lajukan dengan Alana. Sepertinya gadis ini juga suka dengannya. Tapi kenapa sia mau kenikah dneganku, apa beneran dia suka padaku, atau hanya ingin melupakan Joy.


"Jadi kamu dan Joy? Bukan adik kandung? Terus gimana dnegan perasaanmu?" tanya Miko, yang semula ingin memberikan kejutan pada Alana, ia menyembunyikan di belakang punggungnya.


"Maksud kak Miko apa? Hubungan apa dengan Kak Joy?" tanya Alana bingung.


"Sudah lupain saja, maaf mungkin aku terlaku kepikiran saja." ucap Miko, kembali menyandarakan kepala Alana di bahunya.


Tetaplah seperti ini Alana, aku ingin kamu bisa seperti ini bersamamku.


Miko mengusap lembut rambut Alana. "Sekarnag sudah maalm. Apa kamu mau pulang sekarang?" tanya Miko, menatap jam tangan yang melingkar di tangannya. Sudah menunjukan pukul 1 malam.


"Iya, aku harus segera bersiap sekarang," ucap Alana.


"Iya, baiklah. Tapi aku ingin memberikan ini padamu syang." ucap Miko. Mengeluakan kotak kecil untuk Alana.


"Apa ini?" tanya Alana.


"Ini untuk kamu," Miko membuka kotak itu, menunjukan Alana. Sebuah cincin yang snagat indah, terbalut manis di dalamnya.


"Ini ubtuk aku, aku belum menikah dnegamu. Kamu sudha memebelikan ini padaku."


Miko mengeluarkan cincin itu, memakaikan pada jemari manis Alana.


"Aku gak bisa menerimanya..."


Belum sempat menolak, bibir Miko mendarat di bibir Alana, membuat gadis itu terbungkam seketika.


"Jangan pernah menolak, Bbiarkan cincin itu di jemari manis kamu." ucap Miko, mengusao rabut Alana. Dan bernajak berduri, mengulurkan tangan ke arah Alana.


Alana menerima uluran tangan Miko, dan beegegas berdiri. "Ayo, aku antar pulang sekarang." ucap Miko, yang mulai menggenggam tangan Alana, berjalan keluar dari rumahnya.


"Makasih!!" ucap Alana lirih, dengan kepaal sedikit menudnuk malu.


"Apa? Aku gak dengar!!" ucap Miko, yang sudha naik ke atas montornya.


"Ak.."


Miko tersenyum, melihat Alana yang sangat gugup menatapnya.


"Usah, pakailah helm-nya. Kamu bisa bicara di jalan nanti," ucap Miko, menarik tangan Alana, dan mulai meamkaikan helemnya.