My First Love

My First Love
Di telepn Joy



Moment bahagia menyelimuti pengantin baru, yang sedang di landa cinta. Mereka sudah pergi ke Inggris, sekalian bulan madu dan mengantarkan Alana untuk mulai kuliah nantinya, sekalian mengurus berkas untuk masuk ke tempat kuliahnya.


Jarum jam menunjukan pukul 10 malam. Alana sudah berbaring di kamarnya apartemen barunya, hadiah dari ke dua orang tuanya. Namun untuk sementara, orang tuanya harus tinggal di apartemen yang sama dengannya, tapi ia merasa lega, jika ada dua kamar di sana. Jadi dia tidak terganggu aktifitas ke dua orang tuanya itu.


Alana duduk bersandar di ranjang, menatap ponselnya, ia melihat nama Miko tertera di layar ponselnya yang kini terlihat menyala. Dalam hatinya ingin sekali berkata jujur pada Miko, jika dia ingin mengakhiri hubungannya, tapi di sisi lain, ia teringat jika Miko dulu yang mengakhiri hubungan mereka. Alana dengan berat hati, mencoba menghubungi Miko, untuk mengirimkan pesan padanya. Jemarinya bergetar menekan huruf di layar pinselnya, dan hanya tertulis satu kata.


"Maaf!!" Alana langsung mengirimkan pesan itu pada Miko, dan tak butuh waktu lama Miko membalasnya.


"Iya gak apa-apa, aku ingin bertemu dengan kamu, apa aku bisa menemuimu di trmpat tinggal baru kamu besok?"


"Apa? Kamu yakin? Tapi ada orang tua aku!!"


"Gak masalah!! Besok jika jadi aku akan hubungi kamu, tapi aku urusi berkas aku dulu!!"


"Aku saja yang akan mrnrmuimu, rencana aku akan atarkan ke dua orang tua aku ke London. Dan aku ingin bertemu dengan kamu!!"


"Baiklah.. Sudah malam sekarang kamu cepat tidur. Selamat malam, cantik!!" balas Miko, yang langsung melemparkan ponselnya. Ia merasa masih sangat sakit hati ketulusannya di balas dengan sakit hati.


Sedangkan Alana, hanya tersenyum tipis. "Selamat malam juga. Kamu jaga diri baik-baik!!" jawab Alana, yang langsung menutup ponselnya, ia ingin meletakkan ponselnya di samping ia yang perlahan berbaring.


Kringg... Kringg...


Bunyi nyaring dan keras ponselnya menganggunya untuk menutup mata. "Siapa lagi, sih!!" decak kesal Alana, yang langsung meriah ponselnya.


"Syang!! Kamu di mana?"


Akana seketika memincingkan matanya, menjauhkan ponselnya dari telinganya


"Syang!! Apa aku gak salah dengar?" tanya Keyla.


"Enggak!! Kamu masih ingat aku gak. Aku mau kamu mengingatku, syang!! Kita akan bertemu lagi. Dan jangan pernah lupakan aku, meski aku sudah bertunangan dengan wanita lain. Tapi hatiku masih tetap untuk kamu!!" ucap seorang laki-laki.


"Cinta? Tunangan? Emm... Apa.. Dia Joy?" gumam Alana.


Laki-laki itu hanya diam dan langsung menutup teleponnya. Tanpa menunggu jawaban dari Alana.


"Ih.. Neyeblrin banget nuh orang.. Aku udah baik-baik malah dia matiin gitu saja teleponnya.. Kalau gak niat telepon gak usah telpon..." umpat kesal Alana, meletakkan ponselnya di ranjang.


Gadis itu mulai membaringkan tubuhnya, menarik selimut tebal menutupi sebagain tubuhnya, ia mencengkeram erat selimut di dadanya, dan mulai memejamkan matanya.


Drttt... Drttt...


"Shiittt... Siapa lagi yang ganggu aku!!" umpat kesal Alana, spontan ia membuka lebar ke dua matanya, meraih ponsel di samping kanan ia berbaring. Seketika ke dua mata Alana ingin melompat keluar dari kerangkanya. Melihat layar ponselnya bertuliskan pesan dari 'Joy'.


"Selamat tidur syang!! Semoga harimu bahagia. Dan aku akan selalu mengingat kamu. Dan tunggu aku kembali di sisi kamu!!"


Membaca pesan dari Joy membuat Alana mengerutkan ke dua alisnya. Menarik bibirnya sinis.


"Dasar aneh!! Kenapa juga dia bilang seperti ini.. Ih.. Menjijikkan. Dasar laki-laki udah punya tunangan masih saja menggoda wanita lain!!" umpat kesal Alana, tanpa membalas pesan dari Joy, ia meletakkan kembali pinselnya, dan mulai berbaring di ramjang, menarik selimutnya menutup sekujur tubuhnya.


------


Di sisi lain Mama Alana, Silvia dan Alvin masih berbaring di kamarnya. Ia sengaja bermanja ria seperti pasangan pengantin baru. Dan semenjak cerai dengan Keyla semua berubah drastus, sekarang ia mendapatkan pasangan yang membuatnya sangat berarti, dan Silvia sangat menghargai dirinya. Meski sifat dan cara memanjaknnya sama dengan Keyla, tapi perlakuan dia berbeda, yang sangat dia suka dia tidak suka dekat dengan laki-laki.


Alvin duduk bersandar di ranjangnya, dan Silvia bersandar pada bahunya, saling berbicara dan bercerita tantang kehidupan sebelumnya satu sama lain.


"Syang!! Besok kita akan pergi bulan madu?" goda Alvin, pada istrinya. Dengan jemari tangan terus mengusap lembut pipi istrinya.


Silvia mengerutkan alisnya. Melirik ke arah Alvin.


"Bulan madu ke mana? Kita sudah ada Alana itu sudah lagi baru cukup," ucap Silvia.


"Kemana saja. Tapi setelah itu kita akan pergi ke London." jelas Alvin.


"Tapi gimana dengan, Alana!!" Silvia menunduk, semakin mendekatkan tubuhnya, lalu menyandarkan kepalanya di dada bidang Alvin.


Alvin tersenyum, jemarinya terus mengusap pipi kanan Silvia, dan tangan kiri memeluknya dari belakang, dan tangan menempel di pinggangnya.


"Kenapa? Dia sudah dewasa, tidak masalah jika tinggal sendiri untuk sementara waktu. Kita mungkin 6 bulan ke depan akan berada di London, dan mengurus semua berkas sebelum aku pindah ke Inggris."


Silvia mendongakkan kepalanya, dengan tangan kanan terangkat menyentuh pipi kirinya.


"Gimana dengan perusahaan kamu?" tanya Silvia mengerucutkan bibirnya, hingga manyun beberapa senti.


"Perusahaan, aku sudah serahkan semua pada anak aku dan mantan istriku. Sekarang kita akan hidup bersama di sini," Alvin mengusap lembut rambut panjang Silvia, yang masih menyandar di bahunya.


"Aku ingi urus semua berkas di sana sebelum aku pergi Dan sekalian aku bahkan ajak kamu ke sana, mengenalkan pada mantan istri aku. Bukanya kamu belum pernah bertemu dneganya!!" gumam Alvin, menyentuh pipi manja istrinya.


"Apa kamu gak mau jika aku meninggalkan semua yang aku miliki?" tanya Alvin.


"Aku terima semuanya. Kita mulai dari awak, kejar keras dari awal lagi. Lagian bukanya kamu juga sudah mengembangkan usaha kamu di Inggris. Meski baru beberapa bulan. Tapi aku yakin akan berkembang jauh lebih baik lagi di tangan kamu!!" ucap Silvia, melingkarkan tangannya, memeluk erat tubuh Alvin, dan langsung di balas dengan pelukan hangat tubuh bugar Alvin, dengan ke dua tangan mengusap punggung Silvia.


"Aku bangga punya istri kamu yang bisa selalu ada di saat aku sedang ada di bawah... Aku harap kamu bisa seperti ini menemani aku bekerja keras lagi untuk membahagiakan anak kita" ucap Alvin, mengusap kepala belakang Silvia, perkataan Alvin membuat Silvia tertegun, ia menelan ludahnya.


"Maaf!! Aku harus bohong jika seandainya dia tahu kalau Alana bukan anak aku, apa dia akan tetap jadi suami aku. Dan dia akan tetap bersama aku... Aku takut jika dia pergi selamanya. Aku akan sakit.. Benar-benar sakit terpukul kehilangan kamu.." gumam Silvia, memeluk semakin erat tubuh Alvin, dengan kepala menyandar di dadanya, merasakan degup jantung Alvin yang berdetak tak beraturan di buatnya.