
Semua keluarga berkumpul. Alana, Silvia dan Alvin. namun bukan keluarga yang sesungguhnya. Keluarga yang bukan harapannya. Keluarga sementara, saat mama Keyla dan Alvin sedang berpisah. Dan Alana mencoba untuk menyatukan kembali keluarga itu, dari semalam dia sudah memikirkan baik-baik dan bicara dengan mama Silvia, dan dia setuju dengan apa gang di katakan anaknya. Mereka juga akan memutuskan untuk pergi jauh dari kehidupan Semuanya. Agar tidak ada lagi beban yang mengganjal dalam dirinya saat dia pergi ke Inggris nantinya.
Alana yang sudah menunggu papanya mandi, duduk di ruang makan, dan sudah bersiap dengan berbagai pertanyaan yang menjurus padanya nanti. Untuk membuat papanya tak berkutik lagi, dan segera pergi meninggalkan mamanya.
"Kenapa kalian hanya diam? Apa tidak ada hal uang ingin kalian katakan padaku? Atau tentang kapan aku kuliah atau apapun terserah kalian?" tanya Alana, menatap ke arah Silvia dan Alvin yang hanya diam menundukkan kepalanya.
Mereka hanya diam, dan Silvia juga menatap ke arah Alana, menganggukkan kepalanya, memberi kode padanya untuk tetap diam dan menyiapkan pertanyaan padanya.
"Baimlah jika papa dan mama kandung aku diam!! Maka Alana yang akan bertanya pada kaluan, jadi kalian harus jawab jujur," gumam Alana.
"Silvia kenapa hanya diam? Gak makan lebih dulu?" tanya Alvin, mencoba untuk mengalihakn oembicaraan Alana. Ia menatap ke arah Alana dan silvia yang hanya diam menatap ke arahnya.
"Apa aku hari ini aneh? Kenapa kalian menatapku kompak gitu?" tanya Alvin, yang mulai duduk di depan Silvia.
"Aku tadi tanya pada papa, dan kenapa papa mengalihkan pembicaraan aku. Dan kenapa papa tidak perduli dengan apa yang aku katakan tadi, apa ucapan ku kurang kera dan kamu gak mendengarnya, pa." decak kesal Alana.
"Aku mendengarnya,"
"Terus kenapa papa mengalihkan prmbicaraan, dan gak jawab pertanyaan dari Alana.
"Baiklah!! Papa siap dengarkan sekarang. Kamu mau tanya rentang apa?" tanya Alvin.
"Pa! aku mau tanya apa papa," ucap Alana
"Tanya apa? Cepat katakan!!" ucap Alvin tak sabar.
"Aku ingin papa jujur, jangan ada rahasia di antara kita." ucap alana menjelaskan.
"Oke baiklah!!" ucap Alvin menghela napasnya.
"Tapi ingat jawab jujur, u gak mau jika papa Alvin mencoba berbohong padaku, dan mama Silvia!!" jelas Alana.
"Apa papa tidak suka dengan mama Keyla?" tanya Alana, memojokkan Alvin yang hanya diam di cerca berbagai pertanyaan dari anaknya.
"Kenapa tanya itu? Lebih baik kita bahas yang lain saja, jangan bahas tentang masalah itu, aku gak mau kamu tahu yang sebenarnya. Dan anak-anak jangan sampai tahu, Keyla pasti juga tidak ingin mereka semua tahu. Tentang hubungan mereka, biarkan aku saja yang di salahkan!!"
"Tapi karena hal itu papa tidak memikirkan hati mama Silvia, gara-gara papa anaka-anak papa mulai tidak suka denganku dan ibu aku. Dia menyalahkan mama aku atas semua kejadian tanya papa lakukan." decak kesal Alana.
Alana hanya diam menatap wajah cantik Silvia, dan memandang wajah Alana yang menatapnya tajam, seakan sudah menunggu jawaban darinya yang belum terucap dari bibi papanya.
"Karena aku ingin tanya sesungguhnya dari dalam hati papa. Sebenarnya papa masih duka dengan mama Keyla atau tidak?" ucap Alana menginginkan suaranya keluar dan menjawab semua pertanyaannya yang bertubi. "Aku hanya ingin kejujuran, pa. Tolong mengerti keadaan aku. Aku tidak suka jika papa seperti itu." jelas Alana.
Alvin duduk bersandar dengan ke dua tangan saling berpegangan, di tekuk sikunya menyandarkan di meja makan, dan ke dua tangannya tepat di depan wajahnya. "Kamu mau jawaban jujur dariku?" tanya Alvin. Menarik napasnya dalam-dalam dan sudah siap untuk bertanya dan menerima semua pertanyaan dari anaknya dengan lapang dada.
"Iya, gak hanya aku saja yang ingin papa jujur. Tapi mama Silvia dan Keyla juga ingin kejujuran dari hati papa." ucap Alana. Ia meraih tangan mamanya, memegang tangannya erat, seakan menguatkan hati mamanya yang mungkin terluka karena pertanyaannya.
"Aku ingin kalian jujur. Bukan maksud aku untuk mengungkapkan semuanya. Tapi aku tidak mau jika saudara aku marah denganku hanya karena aku di cap sebagai anak yang membuat hubungan papa Alvin dan mama Keyla rusak." ucap Alana, menatap ke arah Alvin dengan penuh harapan padanya, ia ingin sebuah kejujuran yang di ucapkan nantinya.
"Baiklah!! Sebenarnya aku sangat mencintai Keyla sampai sekarang perasaan itu sama. Tapi cinta di akhiri dengan penghianatan apa salah. Jika semua cinta di balas seperti itu pasti rasanya sangat menyakitkan tak hanya laki-laki rapi juga wanita, sama saja pasti akan sakit hati juga. Tidak ada bedanya dengan kamu, jika kamu jatuh cinta dengan seseorang tapi kamu di hinati pasti sangat sakit!!" ucap Alvin menjelaskan.
Alana diam, ia teringat kembali dengan apa yang pernah di alami olehnya sendiri. Gimana saat dia sakit hari melihat Joy dengan wanita lain di dalam kamar. Memang benar-benar menyakitkan!!
Alana menghilangkan bayangannya tentang Joy, ia menatap kembali wajahnya papanya, dan sudah menyiapkan pertanyaan lagi pada papanya.
"Sekarang aku tanya sama papa, apa papa tidak ingat penghianatan yang papa lakukan pada mama Keyla dulu." tanya Alana, banyak sekali pertanyaan yang terlintas di benaknya, ingin mengutarakan semua isi hatinya pada Alvin. Tapi entah ap semua akan dapat jawabanya atau hanya sebatas senyuman darinya.
Alvin hanya diam menunduk, ia melirik ke arah Silvia. "Apa kalian saling suka?" tanya Alana lagi.
"Apa maksud kamu, syang! Kenapa kamu bisa bicara seperti itu, gimana bisa kita saling suka. Itu tidak mungkin!!"" tanya Silvia, me atap kearah Alana.
"Mama suka dengan papa Alvin?" tanya Alana.
"Tidak!!" jawab Silvia menundukkan kepalanya. Ia mengelak dari pertanyaan Alana yang mengharuskan ia jujur, tapi dia tidak bisa jujur padanya. Dan lebih memilih diam menyimpan rahasia hatinya sendiri.
"Kalau papa gimana? Jika papa masih suka dengan mama Keyla lebih baik papa pulang jelaskan padanya jika papa ingin memperbarui hubungan kalian. Aku tidak mau jika kalian bertengkar hanya karena salah paham,"
"Tenang saja, aku tidak salah paham. Lagian aku bukan orang yang begitu mudah percaya dengan apa yang di katakan Ian. Aku menyelidiki diam-diam apa hubungan Ian dengan mama kamu," ucap Alvin membuat Alana mengerutkan keningnya.
"Om Ian maksud papa?" tanya Alana memastikan.
"Iya, memangnya kenapa? Apa kamu tahu sesuatu," tanya Alvin.
Alana diam, ia mencoba memutar kembali ingatannya, ada hal hang mengganjal memang dari om Ian, tapi semua masih lupa mencoba mengingatnya kembali.
"Gimana, Alana?" tanya Alvin.
"Iya, mereka sama-sama suka dari dulu. Dan mama keyla adalah cinta pertamanya. Sepertinya memang benar dia ada hubungan lagi. Bahkan hubungannya sudah lebih dari sekedar berpacaran biasa." ucap Alvin menundukkan kepalanya.
Jika memang benar Om Ian ada hubungan lagi. Lebih baik papa tanya padanya,"
"Gak usah Alana. Dari pada berantem hanya dengan masalah seperti itu. aku tidak mau cari ribut dan berurusan dnegan polisi, lebih baik cari aman dan pergi meninggalkannya."
"Sejujurnya Alana pernah lihat Om Ian keluar dari kamar mandi atas, entah kenapa dia disana. Dan aku juga tidak paham dengan siap dia, waktu keluar dia sendiri, dan berjalan turun menyapaku, "
"Kenapa dia dj kamar mandi atas, bukanya di kamarnya juga sudah ada kamar mandi?" tanya Alvin curiga.
"Kapan kamu melihatnya,"
"Sebelum aku pergi, dan sebelum papa pergi bekerja lagi!!"
Alvin terdiam, ia teringat saat Keyla tidak bisa jalan kemarin, dan dia selalu memegang miliknya yang katanya nyeri, sampai ke perutnya. Dna dia tidak bilang kenapa.
"Apa mereka melakukan hubungan itu?" tanya Silvia yang dari tadi diam , ia mulai mengeluarkan pikiran yang terbayang di otaknya.
"Kau juga mengira begitu. mereka melakukannya di kamar mandi, aku juga curiga baju Keyla sewaktu bangun tidur sangat lusuh, dan dia juga tiab-tiba tidak bis aherjalan, bahkan tangannya ada yang biru, lalu ada bekas merah,"
"Kenapa papa gak tanya pada mama Keyla dulu?" tanya Alana.
"Aku gak mungkin tanya. Karena selama ini aku selaku percaya padanya. Aku tidak mengira jika Keyla dan Ian akan berhubungan badan di kamar mandi atas, dan pasti itu saat aku tertidur lelap."
"Jika papa ingin tahu, papa kenapa tidak memasang cemera tersembunyi di rumah?"
"Sudah!! Tapi aku belum melihat apa yang mereka berdua lakukan berdua di rumah saat aku pergi," ucap Alvin mengeluarkan ponselnya.
"Aku diam-diam menyuruh orang untuk menyelidiki mereka semua. Aku sudah lama curiga saat aku tahu Keyla dan Ian di dalam gudang berdua, semenjak saat itu aku curiga dnegan ian tapi aku tidak mau Keyla tahu semua yang aku mencurigakan padan Ian."
"Aku akan bantu papa, jika memang benar mama mengecewakan papa. Terserah ajakan hidup papa gimana. Kalian harus pikirkan sendiri mau bersama atau saling berpisah nantinya," ucap Alana menatap ke arah Alvin dan Silvia yang saling memandang satu sama lain.
Alana tersenyum melihat mereka yang ternyata diam-diam saling suka. Ia jufa tidak menyalahkan mamabya, lagian mamanya tidak salah. Dan mamanya sudah terjebak cinta papanya selama ini. "papa pati bisa lihat rekamannya lewat ponsel papa, kan?" tanya Alana.
"Bisa, kuta lihat bersama!!" ucap Alvin, membuka ponselnya dan mulai mencari rekaman camera yang baru dua hari di pasang dan manajernya yang bantu dia untuk mengatur ke ponsel barunya.
Mereka melihat setiap detik Keyla dan Ian yang saling berbincang, manja. Dna mereka makan romantis seperti wanita dan alki-laki yang baru saja jadian.
Hingga lima belas menit hanya berbincang dan manja bersama, mereka saling mencium, membuat Silvia dan Alvin terdiam, dan Alvin terlihat jauh lebih berbeda. Dia tertegun, menatap tajam ke arah ponselnya, yang sepertinya sudah siap untuk ia lemparkan lagi.