My First Love

My First Love
Sebuah hadiah untuk Alana



Drrttt.. drrttt.. drtt..


Sebuah panggilan dari Miko, yang dari tadi belum juga di angkat oleh Alana. gadis itu masih berada di dalam kamar mandi. Hampir lima belas menit yang lalu. Ia berendam air habgat dalam bathup kamar mandinya.


Tak lama Alana bergegas keluar dari kamar mandi. Ia segera meraih ponselnya yang terlihat menyala. 


"Sepertinya tadi ada yang menghubungiku," gumam Alana, berjalan mendekat ke ranjangnya, dan meraih ponselnya. Ia menatap layar ponsel yang tertera enam panggilan tak terjawab dari Miko. 


"Kak, Miko. Sudah menghubungiku dari tadi." Batin alana, meletakkan ponselnya. Dan segera memakai baju secepat mungkin, dan beranjak menuju ke depan cermin, ia ingin tampil cantik di depan Miko. 


Aku gak boleh lama-lama kasihan kak Miko. Dia pasti sudah nunggu dari tadi. Semoga saja kak Miko belum pergi. Aku gak mau mengecewakannya. 


Merasa sudah terlihat sangar rapi dan cantik, Alana meraih ponseknya dan berlari keluar dari kaamrnya. Tanoa menutup kembali kamarnya. 


"Kamu mau kemana?" Tanya Joy, yang kebetulan ingin pergi ke kamarnya. 


"Bukan urusan kakak," ucap Alana, yang terus berlari tanpa perdulikan Joy. Yang masih menatap ke arahnya.


Kemana Alana? Kenapa dia malam-malam begini tampil sangat cantik, apa dia mau jalan dengan Miko tapi ini sudah malam. Sepertinya aku harus ikuti mereka.


Joy menatap punggung Alana yang sudah berjalan menjauh darinya. Ia melangkahkan kakinya mengikuti langkah kaki Alana dari menjauhan, agar tidak menimbulkan kecurigaan dari dia nantinya.


-----


Alana berlari ke belakang rumah, menuju ke taman di halaman belakang rumah miliknya. Ia melihat Miko sudah duduk di kursi putih dengan pandangan tertuju pada ponselnya. 


Alana berjalan pelan, mendekati Miko dan menutup ke dua matanya. "Tebak aku siapa?" Tanya Alana.


"Alana, pastinya. Emangnya siapa lagi yang aku undang ke sini kalau bukan dia." ucap Miko, menarik tangan Alana, menyadarkan ke pundaknya. 


"Yah, sudah ketahuan deh." ucap Alana. Beranjak duduk di samping Miko. 


"Emannya kak Miko ajak aku ke sini mau bicara apa, kenapa gak bicara tadi saja." Ucap Alana, melirik sekilas ponselnya, melihat jam, yang sudah menujukan pukul sepuluh malam. 


"Aku hanya sebentar!!" Ucap Miko. 


"Tapi nanti kamu gimana pulangnya, jalanan sepi kalau malam. Apa kamu gak takut?" Tanya Alana, yang terlihat mulai khawatir dengan Miko. 


"Gak kok, bukanya rumah kamu dan aku dekat. Hanya berjarak 3 km saja. Jadi jangan terlalu khawatir ya," Miko mengusap lembut ujung kepala Alana, membaut Alana tersipu malu. 


"Iya, tapi kamu harus hati-hati ya," gumam Alana, ia melirik ke arah Miko, seakan ingin menyandarkan kepalanya di bahu laki-laki di sampingnya. Namun hatinya merasa ragu, ia tidak pernah seperti itu dengan laki-laki. 


"Kenapa?" Tanya Miko, menatap Alana, yang nampak hanya diam, melirik bahunya. 


"Gak napa-napa," jawab Alana, kemabli menatap ke depan. 


Miko yang tahu kenapa Alana nenatapnya, ia memegang samping kiri kepala Alana, menariknya bersamdar di bahunya.


"Jika kamu ingin menyadaarkan kepala kamu, sandarkan saja. Jangan malu, tau ragu," ucap Miko, memegang dagu Alana. 


Alana mendongakkan kepalanya, menatap Miko sangat dekat dengannya. 


"Alana.." panggil Miko, semakin mendekatkan wajahnya. 


"Iya," jawab Alana gugup, ia merasa sangat grogi dengan tubuh mulai keringat dingin merasakan hembusan napas Miko terasa di hidungnya. Detak jantungnya semakin berpacu cepat, eakan ingin keluar dari kerangkanya.


Apa aku mulai bisa mencintai Miko. Kenapa perasaan aku seperti ini saat dekat dengannya. Perasaan yang sama saat aku pernah dekat dengan kak Joy.. dan aku gak mau jika aku mencintai dua orang, aku harus melupakan masa lalu dan bersama masa depan, yang sekarang menemaniku.


Miko menyentuh bibir Alana, dengan jemari-jemarinya. Dan akhirnya mendaratkan bibirnya, mengecup lembut bibir Alana, tanpa penolakan dari gadis itu. 


Joy yang melihat mereka dari jauh, ia mengeram marah, menggertakkan rahanya, menatap tajam ke arah Miko. dengan tangan mukul keras tembok di sampingnya.


Ternyata Alana sudah membuka hatinya untuk laki-laki selain aku.. kenapa aku harus marah, harusnya aku bahagia melihat adik aku bahagia. Tetapi, aku sangat susah menghilangkan perasaan aku padanya.


Joy beranjak pergi meninggalkan Miko dan Alana yang masih berciuman. Di tengah pemandangan malam, dan di temani deretan bunga yang tertanam di belakang rumahnya.


Miko menyudahi kecupannya, memega pipi kiri Alana, dengan senyum tipis terukir di wajahnya. "Makasih!!" ucap Miko, mengecup lembut kening Alana. 


"Makasih untuk apa?" Tanya Alana heran. 


"Kamu mau memberi aku sebuah kecupan, lembut." Jawab Miko, dengan menyentuh bibir Alana. 


"Sama-sama. Aku ingin kak Miko benar-benar tulus dengan aku. Dan tidak menghianati aku nantinya." 


"Apa kamu yakin ikut kemanapun aku pergi?" Tanya Alana memastikan. 


"Aku yakin, ku gak mau kamu sendirian. Meski kamu pasti dengan kakak kamu. Tapi sebagai pacar, ku juga gak mau jauh darimu." Miko menarik kepala Alana lagi, bersandar di bahunya. Dengan jemari tanganya mengusap lembut rambut Alana. 


Gadis kecil itu tersentum simpul, ia merasa sangat nyaman ada di sandaran orang yang meski tidak ia suka, tapi entah kenapa ia merasa nyaman dengannya. 


Setidaknya dengan begini, aku bisa melupakan kak Joy. Dan bisa mencintai kak Miko.


"Alana, kenapa kamu diam?" Tanya Miko, melirik Alana yang dari tadi diam. 


"Gak ada apa-apa kak, coba deh lihat di atas. Bagus ya kak," ucap Alana, mendongakkan kepalanya, dengan tangan menunjuk ke langit. 


Miko menatap ke atas, melihat begiru indah pemandangan bulan purnama yang menghiasi malamnya. "Oya, boleh bilang sesuatu gak?" tanya Miko, melirik ke arah Alana. 


"Mau bilang apa?" tanya Alana penasaran. 


"Tutuplah matamu dulu," 


"Baiklah, tapi sebenarnya kamu mau ngapain sih?" Alana semakin penasaran di buatnya. 


"Udah diam saja. Kamu tetap tutup mata dulu." ucap Miko, ia beranjak duduk jongkok di depan Alana, dengan tangan memegang tangan Alana.


Ia memakaikan sebuah gelang jam yang sangat bagus. dan memberikan sesuatu lagu di tangannya. "Bukalah matamu sekarang!!" ucap Miko, mengulurkan sebuah kalung.


Alana perlahan membuka matanya, ia melihat sebuah kalung di depan matanya. seketika matanya berbinar melihat semuanya. "Ini untuk aku?" tanya Alana ragu.


"Iya, meski gak mahal tapi aku ingin ini sebagai tanda cinta dariku. Saat menikah nanti aku akan beri segalanya." ucap Miko sedikit menunduk.


Alana beranjak berdiri, memegang je dua bahu Miko. "Gak apa-apa, seperti ini aku juga sudah senang. Sekarang kamu pakaikan ya," gumam Alana, membuat hati Miko merasa lega seketika. Ia mendongakkan kepalanya menatap Alana, dengan segera memakaikan kalung itu melingkar di lehernya.


Selesai memakaikan Miko memeluk Alana dari belakang. Menyandarkan dagunya di pundak Alana. "Aku gak mau suatu hari nanti kehilangan kamu, aku takut Alana." ucap Miko.


Alana memegang tangan Miko yang melingkar di perutnya, melepaskan peluaknnya, lalu membalikkan badannya menatap Miko, dengan ke dua tangan memegang lengannya. Ia mebarik napasnya dalam-dalam.


"Aku tidak akan meninggalkanmu. Aku tahu pengorbannanmu begitu banyak padaku. Dari aku pertama sakit, kamu selalu setiap menjagaku. Bahkan kamu sampai beberapa hari gak sekolah. Dan kamu juga selalu support aku, sekarang aku bisa berubah seprti ini juga bantuan kamu." .


Miko memegang dagu Alana, mendekatkatkan wajahnya, hingga benda kenyal saling menempel satu sama lain. Tanpa penolakan Miko mengecup semakin dalam bibir Alana beberapa detik, dan segera menyudahi ciuamnnya.


"Sekarang kamu masuk ke rumah. Nantu aku hubungi kamu lagi." ucap Miko mengusap lembut ujung rambut Alana.


"Iya, kak Miko hati-hati ya," kata Alana memegang tangan Miko.


"Pasti, kalau sudah sampai aku akan hubungi kamu." Miko mengusap pipi Alana dan beranjak menaiki montornya.


"Kamu masuklah dulu," ucap Miko.


Alana tersenyum dan segera berlari masuk dengan perasaan senang yabg menggebu hatinya. Ia tak berhenti memegang kalung yang Miko berikan padanya. Dan belum sadar dengan jam tangan yang sudah melingkar di pergelangan tangan kanannya.


Belum sempat melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah. Langkah Alana terhenti seketika, melihat Joy duduk di teras rumahnya.


"Kak Joy!!" ucap Alana gugup, dengan tubuh seakan menciut di buatnya.


Brakkk...


"Dari mana kamu?" tanya Joy, beranjak berdiri dengan tatapan tajamnya, menatap ke arah Alana. Ia melirik jam tangan yang melingkar di tangannya. Sudah menunjukan pukul dua belas malam."


Alana diam dan menundukkan kepalanya takut, Joy terlihat sangat, menakutkan!!


"Kenapa kamu diam . Apa kamu mau jadi perempuan gak bener, keluar malam-malam dengan pacar kamu. Dan apa yang habis kamu lakukan, apa kalian tadi sedang bercinta." ucap Joy dengan nada tinggi semakin menggebu.


Alana yang semula diam menunduk, ia mendongakkan kepalanya. Dengan wajah yang sudah mukai memerah. Ia berjalan mendekati Joy, dan. Plakkkkk...


Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Joy. Alana menunjuk ke wajah Joy dengan tatapan marahnya. "Jangan bilang aku wanita murahan, yang menyebabkan aku seperti ini siapa?" ucap alana menarik sudut biburnya sinis, menatap ke samping beberapa detik.


"Apa kakak gak ingat siapa yang melecehkan aku sebenarnya. Miko jauh lebih baik dari pada kak Joy. yang diam-diam melecehkanku dan bahkan sudah menodaiku." Alana menghentakan kakinya, berjalan menubruk bahu Joy, yang menghalngi jalannya. dengan langkah penuh kekesalan masuk ke dalam rumahnya, dan langsung berlari menaiki anak tangga, dan. Tes..


Buliran air nata tiba-tiba jatuh membasahi pipinya. Alana segera masuk ke dalam kamarnya. Menutup pintunya keras.


Brakkk...


Amera yang melihatnya merasa bingung dengan Alana. Ia nenatap ke arah pintu yabg masih belun tertutup.