My First Love

My First Love
Bermalam dengan ibunya



Alana sampai di rumah Ibunya, dia langsung beranjak turun lari masuk ke dalam rumah yang nampak sangat kecil. Namun bagi Alana itu sudah lebih dari cukup asalkan dia bisa bersama dengan ibunya sudah senang.


"Pa, apa ibu di dalam?" tanya Alana, membalikkan badanya menatap Alvin yang masih mengambil barang-barang Alana di dalam mobilnya.


"Iya, kamu masuk saja. Dia pasti sudah menunggu kamu di dalam!!" ucap Alvin, mengangkat koper dan beberapa barang Alana, berjalan mendekati Alana.


Alana mulai membuka pintu kerumah ibunya, seketika dia mengerutkan keningnya, melihat ibunya tertidur dengan kepala di atas meja, dengan posisi duduk.


"Pasti dia kecapekkan!!" ucap Alvin, menatap Silvia yang sampai ketiduran menunggunya.


"Apa perlu aku bangunkan dia!!" lanjut Alvin.


"Gak usah, biarkan saja. Ibu pasti capek!!" ucap Alana, mengusap wajah Ibunya, lalu mengecup lembut kening ibunya, membuat Silvia seketika terbangun dari tidurnya.


Silvia mengernyitkan matanya, ia mulai membuka matanya perlahan, dan duduk bersandar di kursi, menatap wajah Alana di depannya, dengan pandangan mata masih terlihat samar. Ia mengusap ke dua matanya, dan tersenyum melihat anaknya angkatnya sudah berada di depannya.


"Alana!! Kanu sudah datang!!" ucap silvia, beranjak berdiri, memeluk erat tubuh Alnaa, meluapkan rasa rindu yang terpendam selama ini. Dan Alvin tersenyum melihat mereka bersama lagi.


"Lebih baik kalian sekarang tidur dulu. Sudah malam, gak baik tidur malam-malam" ucap Alvin, memasukan koper dan barang-barang Alana ke kamar Silvia.


"Kamu tidur dengan Ibu, ya, syang." ucap silvia, dengan ke dua tangan mengusap pipi Alana.


"Iya, aku mau meluangkan waktu aku selamanya bersama Ibu. Aku tidak ingin pisah lagi dari ibu," ucap Alana, meneteskan air matanya, menatap ibunya bisa tersenyum bahagia melihat kedatangannya, di sisi lain ia merasa ada yang hilang di dalam hatinya sata ini, tapi Alana tak tau apa yang di maksud hatinya itu. Atau soal cinta atau apa ia tak mengerti.


"Kamu mau langsung tidur atau kita saling berbicara dulu di kamarnya ucap Silvia, memeluk lengan Alana dari belakang punggungnya, menatap ke arah Alvin.


"Oya, kenapa papa Alvin ada di sini?" tanya Alana, yang belum sempat bicara dan bertanya pada Alvin .


"Aku ingin menemui ibu kamu!!"


"Kenapa?"


"Kalau mau tanya, besok aku akan katakan padamu. Sekarang lebih baim kamu dan silvia tidur dulu. Sudah jam setengah dua belas malam." pinta Alvin.


"Baiklah!! Alana benar kata papa kamu, lebih baik kita tidur dulu. Besok kita bicara panjang lebar bersama. Lagian kamu masih ada waktu banyak, kan. Syang," ucap Silvia.


"Iya, Bu!!" Alana melangkahkan kakinya, mengikuti setiap langkah kaki ibunya masuk ke dalam kamar, yang hanya berjarak 10 langkah dari tempat dia berdiri.


------


Keesokan harinya.. Jarum jam menunjukan pukul 7 pagi, Dan Silvia sudah bangun lebih dulu, dari tadi pagi, dan semua sudah ia siapkan dari makanan untuk sarapan pagi Silvia dan Alvin yang masih tertidur juga di ruang tamu.


Silvia duduk di ranjang Alana, menggornag-goyangkan tubuh Alana.


"Alana!! Bangun syang!!" ucap Silvia, mengusap rambut Alana.


"Jam berapa Bu," ucap Alana.


"Sudah jam tujuh,"


"Bentar lagi!!"


"Syang!! Jangan malas, kamu wanita, harus utamakan bangun pagi. Sekarang kamu cepat mabdi, setelah itu buka ponsel kamu dari kemarin bunyi terus," ucap Silvia, beranjak berdiri, membuka kelambu yang menutupi sinar matahari yang sudah mantul di balik kaca jendelanya.


"Emm.. !!" Alana beranjak duduk, menggaruk kepala belakangnya yang tidak gatal itu, dengan mata yang masih teroejam, seakan berat untuk terbuka lebar.


"Alana!! Kamu bangun syang!! Ada hal yang ingin ibu bicarakan juga denganmu." ucap Silvia, mengusap wajah Alana.


"Apa boleh aku panggil mama, sekarang aku hanya punya satu mama. Dan gak ada yang lainya," ucap Akana, membuka matanya lebar, menatap ke arah Silvia yang masih berdiri di samoingnya, tersenyum menyapa dirinya di pagi haris, dengan sinar matahari yang sudah menembus kaca jendelanya, mengenai wajahnya.


"Baiklah!! Kamu bisa panggil aku apa saja," ucap Silvia.


Alana tersenyum tipis, dan beranjak berdiri, dan segera menuju ke kamar mandi, membasuh tubuhnya, mencuci mukanya agar matanya bisa terbuka lebar.


"Mama keluar saja dulu, bangunkan papa Alvin, aku ingin bicara dengannya setelah ini." ucap Alana, yang mulai menutup pintu kamar mandinya.


"Iya, syang!!"


Silvia melangkahkan kakinya menuju ruang tamu, mencoba membangunkan Alvin yang masih berbaring pulang di sofa, dengan selimut tebal yang membungkus sekujur tubuhnya.


"Sangat dingin!" ucap Alvin.


"Lepaskan!!" ucap Silvia, menarik tangan Alvin tak menyentuh wajahnya.


"Gak mau," Alvin perlahan membuka matanya, ia melihat sangat dekat wajah Silvia di atasnya. Seketika langsung mendaratkan sebuah kecupan di bibirnya untuk ucapannya selamat pagi darinya.


"Pagi syang!!" ucap Alvin, dengan senyum manis terukir di bibirnya.


"Alvin!! jangan lakukan ini lagi, gimana kalau Alana tahu," ucap Silvia.


"Alana juga pasti akan tahu nantinya. Bukanya kita akan menikah?"


"Kita gak akan jadi menikah!!"


"Kenapa?" tanya Alvin, mendekatkan wajahnya semakin dekat, membuat Silvia menarik kepalanya sedikit ke belakang, dan mulai duduk sempurna.


"Di mana Alana?" tanya Alvin.


"Dia sedang mandi, lebih baik sekarang kamu cepat mandi juga Alana mau bicara dnegan kamu. Sepertinya dia akan menginterogasi kamu tentang perceraian kamu dengan Keyla. Jadi kamu harus siapkan jawabannya!!"


"Baiklah!!" Alvin beranjak berdiri, menatap wajah Silvia sebelum dia pergi meninggalkannya.


"Kamu sudah mandi?" tanya Alvin.


"Sudah, memangnya kenapa?"


"Aku ingin jaka kamu berendam bersama!!" goda Alvin.


"Jangan macam-macam, di sini ada Alana. Jadi jangan bertindak macam-macam lagi dengan aku. Bertingkahlan sewajarnya seperti biasanya. Jangan tunjukan hubungan dekat kita pada Alana. Aku masih belum siap dia tahu lebih dulu." jelas Silvia. Membuat Alvin hanya tersenyum simpul, mengusap helaian rambut panjang milik Silvia.Laku mencium lembut helaian rambutnya, harum rambutnya menyeruak masuk ke dalam penciumannya, seketika membius Alvin yang berdiri di depannya.


"Kamu benar'-benar harum!!" goda Alvin.


"Jangan bicara macam-macam?" terucap Silvia tegas.


"Apa kamu sudah masak?" tanya Alvin.


"Aku gak bisa masak!!" humam Alvin.


"Apa yang kanu bisa," tanya Silvia kesal.


"Aku hanya bisa mencintai kamu!!" goda Alvin membuat Silvia tersipu malu.


"Udah jangan bercanda. Sekarang cepat mandi, sebelum Alana keluar. Setelah itu mita makan bersama!!" ucap Silvia, beranjak menuju ke dapur, membereskan berkas masakannya, mencuci semua perabotan yang ia pakai sendiri.


-----


Selesai mandi Alana berjalan keluar mencari mamanya, ia melihat Silvia duduk sendiri di ruang tamu.


"Ma, lagi mikirin apa?" tanya Alana, menatap ke arah Silvia yang hanya diam melamun sendiri.


"Apa kamu ingin punya papa lagi?" tanya Silvia terus terang.


"Apa gosip itu benar?" tanya Alana.


"Gosip apa?" Silvia semakin bingung di buatnya


"Soal mama dan papa yang bersama kembali, membuat rumah tangga mama Keyla hancur." ucap Alana.


Silvia menghela napasnya, ia mencoba mengatur napasnya dulu untuk bicara yang sejujurnya padanya. "Ma, kenapa mama diam? Apa benar yang di katakan semuanya, bahkan saudara aku jauhi aku gara-gara itu ma." ucap Alana meninggikan suaranya.


"Kamu marah pada mama?" tanya Silvia, meneteskan air matanya, mendengar nada tinggi yang di layangkan padanya tadi.


"Maaf ma!! Aku terlalu emosi tadi!!" ucap Alana. Memeluk tangan kanan ibunya, dan langsung uduk di sampingnya.


"Dengarkan baik-baik Akana. Papa kamu cerai dengan keyla karena sebenarnya yang berkhianat adalah istrinya bukan papa kamu itu. Suatu saat kebenaran akan terungkap. Oaoa kamu masih suka dengannya, tapi cintanya sekarang tumbuh lagi dengan orang lain, membuat hati papa kamu sakit hati. Tapi biarkan saja, jangan bilang pada semua anaknya. Mereka pasti akan marah juga dengan Keyla nantinya, kasihan dia!" jelas Silvia panjang lebar, membuat Alana adanya diam mendengarkan apa yang di katakan Silvia padanya.