My First Love

My First Love
Alana



Bel pulang sudah berbunyi, menggema seluruh penjuru sekolahan. Semua anak bersiap untuk pulang. 


Alana sudah berjalan lebih dulu keluar dari kelasnya. Ia hari ini mau pergi ke toko buku lagi. Dari tadi, ia terus kepikiran suatu masalah yang hampir setiap hari ia tidak bisa tidur nyenyak lagi. Masalah yang membuat dia merasa sangat pusing. 


Dan dia sudah berusaha untuk Ikhlas dan menjalani kebidupan baru. Tapi apa bayangan itu masih saja terus menghantui dirinya, seakan sudah tetanam paten dalam otaknya. Ia benar-benar gak bisa lagi berbuat apa-apa sekarang. Hanya berharap jika papanya bisa pertemukan dia dengan Ibunya meski hanya satu kali. 


Alana berjalan dengan pandangan kosong, perlahan menuju lorong panjang sekolahan. 


"Alana tunggu!!" Teriak Miko, berlari mengikuti Alana. 


"Alana menghentikan langkahnya, ia menoleh ke belakang. Melihat wajah Miko berlari menghampirinya. 


"Akhirnya kamu berhenti juga, aku dari tadi panggil kamu" ucap Miko, memegang pergelangan tangan Alana. Dengan badan sedikit menunduk, mengatur napasnya yang masih ngos-ngosan.


"Alana, kamu pulang bareng aku ya" ajak Miko.


"Gak kak, aku pulang sama kakak aku. Algain aku juga gak enak, jika tidak pulang dengannya nanti. Dan Aku gak mau jika kakak aku tahu dan Marah dengan kamu" ucap Alana. 


"Kakak?" Miko memincingkan matanya. "Kakak siapa?" tanya Miko.


Ya, padahal ia sudah tahu jika ke dua kakaknya itu, sudah tahu jika Alana pulang sendiri. Dan lebih memilih minta tolong pada Miko. Agar dia bisa tenang tidak memikirkan Alana di jalan.


"Jangan pura-pura gak tahu. Lagian emang kakak aku itu siapa lagi!!" tanya Alana.


"Tahu sih!!" gumam Miko, malu.


" Udah aku mau pergi." Alana melepaskan tangan Miko, dan melangkahkan kakinya pergi. 


"Kenapa Alana jadi menghindari aku lagi!!" ucap Miko memandang punggung Keyla yang semakin berjalan menjauh.


Bunga yang indah itu memang susah untuk di dapat, rantinya penuhndengan diri yang menyakitkan. Tapi jika bisa menahan duri itu hingga akhir hidup, maka bunga itu akan semakin luluh.


----


Alana terus berjalan menuju ke halaman deoan gerbang.


Kling...


Posel Alana berbunyi, sebuah pesan masuk. "Sepertinya ini teman kak Joy deh" gumam Alana segera mengambil ponsel di dalam sakunya. 


Dari nomor yang tidak di kenal, siapa apa ini pacar kak Joy. Atau wanita yang lagi pendekatan sama kak Joy. Ciab deh aku lihat dulu. Pikir Alana. 


Ia membuka isi pesan itu. "Alana ini kak Joy. maaf sekarang aku dan Cia lagi ada tugas di sekolahan. Jadi nanti pulang telat. Soalnya kemarin juga aku gak masuk beberapa hari. Sekarang tuganya banyak banget. Tapi tenang saja tadi aku suruh Miko buat antar kamu sebentar. Dan sudha aku ancam jika berani maca-macam denganmu" 


Alana menarik napasnya, seketika ia menoleh ke belakang. Ia tidak melihat Miko di belakangnya. "Yah... Terpaksa aku harus pulang naik taksi." gumam Alana, berjalan menuju ke halte sekolahan. Ia duduk, dengan tangan memegang buku, di atas kepalanya, menutupi wajahnya dari silaunya matahari sore.


Tit... Tit...


Clakson montor Miko tepat di depannya membuat Ia terkejut. 


"Miko!!" gumam Alana. 


"Kenapa.kamu malah di sini!!" tanya Miko, melepaskan helm full ficenya. 


"Aku nunggu seseorang" Alan mencoba memgalihkan pembicaraan. Lagian gak mungkin jika numpang Miko, malu-maluin entar. Tadi gak mau sekarang mau numpang. 


Miko, melemparkan helm pada Alana. "Eh.. Ini apa?" tanya Alana, menangkap helm tersebut. 


"Ayo naik" ucap Miko. "Tadi itu kakak kamu yang suruh antar kamu pulang." Miko tersenyum tipis. 


Alana dengan terpaksa harus memakai helm uang di berikan Miko. 


"Na, sini!!" panggil miko. 


Entah kenapa kaki Alana seakan tertarik untuk mendekat. "Sini aku pakaikan" ucap Miko lembut. Ke dua mata mereka saling tertuju satu sama lain. 


"Eh. kak Miko,.. Jadi gak?" ucap Alana gugup. 


"Jadi, kamu naik sekarang" ucap Miko. 


Alana segera naik ke monyor Miko. "Pegangan!!" 


"Udah kak!!" Alana memegang jaket Miko, membuatnya tepuk jidak dengan kelakuan Alana itu. 


Miko memegang tangan Alana, dan menariknya melingkar di pinggangnya. "Udah diam gini saja. Aku gak mau nanti kamu kenapa-napa. Tapi setidaknya kamu berpegangan erat" Miko, segera memakai kembali helm full cice-nya, menarik gas montornya melaju pesat melewati jalan raya, ia mengemudi dengan kecepafan tinggi, membuat Alana memejamkan matanya, memcengkram erat pinggangnya. 


"Haaa... Kak Miko pelan-pelan" teriak Alana, dan. Chiitttt... 


Injakan rem mendadak membuat Alana memeluk Miko dari belakang. Miko memelankan laju mobilnya, dengan senyum tak bisa ia hindaei lagi, baru kali ini ia meraskan pelukan dari Alana. 


"Eh.. kak maaf!!" ucap Alana, mencaoba menarik tangannya. Namun, dengan sigap Miko memegang tangan Alana melingkar di perutnya. 


"Alana, aku mau ajak kamu ke danau sebentar mau!!" ucap Miko, mengusap pinggunv tangan Alana. 


Detak jantung Alana terus berdegup sangat cepat. Gimana bisa ia memeluk laki-laki sangat erat, bahkan Miko tidak mau melepaskannya. Rasa gugup semakin menjasi, Dan. Tes.. 


Buliran keringat menetes dari dahi Alana. Gadis itu nencoba menarik-narik tangannya. Namun Miko semakin erat menggenggamnya. 


"Kak Miko lepaskan tanganku" ucap Alana gugup. 


"Sudah gak apa-apa gini, biar aku bisa meraskan detak janting kamu yang semakin cepat." ucap Miko menggoda. 


"Sudah sekarang kamu diam ya, aku akan ajak kamu ke danau sebentar. Biar kamu bisa meluaokan perasaan kamu" lanjut Miko. 


Montor Miko berhenti di pinggiran danau. Alana segera turun. Menatap oemandnagan danau yang indah, Miko melepaskan helm Alana. 


Belum sempat selesai bicara Alana duduk di kursi tepat di bawab pohon, yang memandang langsung ke arah danau. 


Miko tersenyum, melepaskan helm full fice miliknya dan segera berjalan mendekati Alana. Duduk di sampingnya. 


"Bagus banget!!" ucap Alana, yang tidak nerhenti terus memandang kagim dananu di depannya. 


"Alana kamu suka?" tanya Miko pada Alana. 


"Suka, suka benget kak. Makasih." Entah dewa apa yang merasukinya, hingga tubuhnya seakan tertarik, memeluk tubuh Miko sangat erat. Dan di balas dengan tupukan pelan di punggungnya. 


"Apa kamu sudah tenang sekarang?" tanya Miko. 


"Tenang gimana kak?" Alana yang begitu polos, ia tidak paham tentang hal itu. 


Miko membuka tas rangsel miliknya. ia memgambil buku dan bolpen. Ia menyobek satu lembar kertas. 


"Aku mau kamu bisa ceritakan masalah kamu di sebuah kertas. " ucap Miko, mengulurkan kertanya pada Alana.


"Masalah? Maksud kak Miko" Alana mengerutkan keningnya. 


"Aku tahu kamu ada masalah, kamu bisa luapkan semua masalah kamu. Beri nama kamu di pojok kertas. Setelah itu masukan ke dalam botol ini" ucap Miko, mengeluarkan botol minuman kosong. 


"Emm... Baik deh" ucap Alana. Jemari tangannya mulai memegang bolpen dan menulis hurup demi hurup membentuk sebuah tulisan. yang miko sendiri juga tidak mau baca tulisan Alana. Meski ia bisa mengintip tulisan Alana. Ia tidak mau membacanya. 


"Sudah kak!" ucap Alana. 


Miko, mulai menggulu g jertas itu kecil, lalu memasukan ke dalam botol, dan ia tutup raoat kembali. "Sekarang kamu lempar ke danau itu. Biarkan air danau yang tenang mengombang ambing masalah kamu. Hingga masalah kanu bisa hilang di makan waktu." ucap Miko. 


Alana hanya diam, ia hanya mengiyakan apa yang di katakan Miko.


"Jika ada yang baca juga nanti gak ada yang tahu jika itu Alana kamu" lanjutnya


Alana bergegas berdiri, memejamkan matanya, berharap jika masalah yang ia hadapi agara bisa celat dapat jalan keluar yang terbaik, untuk dirinya dan semua keluarganya. 


Alana, membuka matanya, melemparkan botol itu ke danau. 


 


Lama berbincang, membicarakan berbagai hal yang membuat Alana sangat senang berbicara dengan Miko. Dia itu sangat nyambung di ajak bicara soal berbagai mata pelajaran. 


Hari sudah mulai gelap, matahari sudah menyembunyikan sinarnya. "Alana, Ayo kita pulang" ucap Miko. 


"Iya kak!! gak kerasa udah malem ternyata!!" Alana segera berdiri, seperti biasa Miko memakaikan helm Alana, dan bergegas pergi dari danau itu menuju ke rumahnya. Di jalan Alana perlahan sudah tidak ragu lagi, memeluk pinggang Miko.


Hingga mereka samoai tepat di depan rumahnya. "Makasih ya kak!!" ucap Alana. 


Cia mengerutkan keningnya, ia berjalan menuju ke arah Alana. 


"Alana kenapa kamu baru pulanh? Dari mana kamu? Apa dia godain kamu tadi ?Kamu gak ada yang lecet kan?" ucap Cia khawatir, ia memegang ke dua bahu Alana, membolak\-aliknya, menatap setiap detai tubuh adiknya itu. 


"Tenang saja!! Aku itu pasti jaga Alana dengan baik.Tanpa ada yang lecet sedikitpun" ucap Miko, memakai helm full fice miliknya, dan segera menaeik gas montronya, dengan kecepatan tinggi melaju pesat di jalanan. Miko tidak mau mendengar banyak hal dari mulut lainnya.


"Udah kak, Ayo masuk" ucap Alana.


"Na, kemu beneran gak apa\-apa?" tanya Cia, berjalan di samping Alana.


"Gak ada apa\-apa kak" ucap Alana, semakin mempercepat langkahnya menaiki anak tangga di depannya.


"Udah kak aku cepek, hari ini gak jadi beli buku aku" gumam Alana, masuk ke dalam kamarnya.


"Baiklah kamu cepat istirahat ya" Cia bergegas pergi menuju kamarnya. Ia tidak mau mengganggu Alana yang memang sebenarnya lagi capek.


\-\-\-\-\-


Tok.. Tok... Tok


"Alana!! Papa mau bicara sama kamu?" ucap Alvin.


Ia terdiam beberapa detik, merasa tidak ada jawaban dari Alana. Alvin memegang gagang pintu akamar anaknya, namun ia ragu, an takut jika Alana akan marah nantinya


"Ada apa papa ke sini. Mau bicara soal ibu?" tanya Alana. 


Alvin yang semula mau membuka pintunya, ia mengurungkan niatnya, dan masih tetap berdiri di depan pintu Alana.


"Masuklah pa!!" ucap Alana.


Merasa sudah dapat ijin dari anaknya. Alvin segera masuk duduk di samping Alana.


"Aku mau bicara tentang pertanyaan kamu pada mama kamu kemarin" ucap Alvin.


"Jadi mama sudah cerita padamu!" ucap Alana datar.


"Iya, mama kamu sudah cerita semuanya." lanjut Alvin, mengusap rambut panjang sepunggung milik Alana.