
Semua keluarga besar menikmati makanan yang baru saja mereka beli dari luar.
"Kalian makan yang lahap ya, habiskan semua makananya. Tadi mama sengaja bawa oulang makanan, karena mama tahu anak-anak di rumah pasti pada belom makan." ucap Keyla, yang memgambilkan nasi di piring anak-anaknya. Termasuk juga suami dan anak Sheila.
"Tanre tadi aku masak kue, nanti kalian semua cobain ya. Kalau gak enak atau kurang apa, kalian gak usah takut bilang sama aku" sambung Amera.
"Wahh... Amera kamu bisa masak juga?" tanya Keyla.
"Bisa dikit tante." ucap Amera merendah.
"Dia paling jago masak kue. Kalu masak seperti ini. Dia baru belajar" saut Sheila.
"Kalau Cia ini gak suka masak, apalagi kalau ke dapur. Bawaannya ribut melulu, pakai helm, buat nutupi wajah kalau kena minyak. Kalau Alana, dia memang lebih suka diam. Dan lebih jago dalam pelajaran. Dan dia di usianya segini sudah masuk SMA favorit dengan kakaknya. Di kelas akselerasi. " ucap Keyla.
Semua tertawa, mendengar cerita Keyla tentang Cia.
"Mama, jangan bocarkan rahasia dong" ucap Cia kesal, dengan bibir manyun beberapa senti.
"Udah, mama tetap bangga pada kalian, meski kalian gak bisa masak. Tapi mama tetap bangga pada kalian" ucap keyla menepuk pundak Alana dan Cia bersamaan.
"Alana hebat ya, bentar lagi juga sudah mau kuliah. Padahal dia baru mau enam belas tahun." ucap Ian.
"Iya, tepat dia kuliah nanti. Usianya sudah enam belas tahun" sambung Alvin.
Alana hanya diam, menoleh dan tersenyum paksa.
Mereka melanjutkan makanya kembali, menikmati berbagai menu makanan yang sudah ia beli tadi.
"Oya, Joy kamu tidur sama David ya. Dan nanti biar Amera tidur dengan Cia, atau Alana" ucap Keyla, menatap ke arah anak-anaknya.
Amera terdiam, ia melihat Alana sejenak. Meski ia sudah tahu. Jika Alana adik paling kecil di antara mereka. Tapi sepertinya dia sangat cuek, dan menarik. beda dari yang saudaranya, yang terlihat friendly pada semua orang. Jika tidur dengannya, apa dia akan mau berbicara dengan ku. Tapi tidak masalah juga bagiku, tidur dengannya. jika dia mau tidur selama satu bulan denganku. Pikir Amera. Menatap ke arah Alana.
"Ma, biar Amera tidur dengan Cia saja ya, soalnya Alana juga jarang di rumah. Mama tahu sendiri kan!!" ucap Alana, yang memang ia tidak suka ada yang berada di kamarnya. Apalagi melihat seisi kamarnya, yang memang sangat rahasia baginya. Ia tidak mau ada orang berani menyentuh semua barang-barangnya. Bahkan tidak ada yang tahu, apa dalam kamar Alana yang sebenarnya.
Keyla menghela napasnya.
"Baiklah!!" ucap Keyla, yang meng-iyakan ucapan Alana.
"Amera, kamu tidur dengan Cia ya" ucap keyla pada Amera.
"Dan kamu Cia, kamu mau kan?"
tanya Keyla, pada anaknya Cia yang sibuk makan dari tadi.
"Eh.. Iya, Ma. Nanti biar aku tidur dengan Cia." ucap Cia, menghentikan makannya beberapa detik, ia sangat antusias, ia suka ada teman tidur.
Dan Joy sebenarnya juga tidak suka ada yang tidur dengannya. Tapi, ia tidak bisa menolak apa yang di katakan oleh mamanya.
"Ya, sudah pembagian kamar sudah. Sekarang kita makan dulu" ucap Alvin, memotong pembicaraan mereka. Mereka saling berbincang satu sama Lian dan beda dengan David yang terus menatap Cia. Ia terlihat tertarik dengan Cia, yang begitu ceria dan friendly pada semua orang. Dia juga cantik,
Cia mengerutkan keningnya, dnegan makanan yang masih penuh di mulutnya. Ia menyadari laki-laki di depannya terus memandang ke arahnya.
Kenapa dia memandangku, apa ada yang aneh denganku.. Ahh.. Sudahlah, labih baik lanjut makan. Pikir Cia.
Ia tidak menghiraukan, pandangan David yang terus menatapnya.
-----
Beberapa menit kemudian, mereka selesai melahap semua makanan yang ada di meja.
Semua berkumpul di ruang keluarga, an berbeda dengan Alana, yang masih diam duduk kursi, dan Joy juga diam. Terus menatap ke arah Alana.
"Alana, jangan lupa apa yang aku bilang padamu. Aku tunggu jawaban kamu segera" ucap Joy.
Alana menarik tangannya. "Iya, tapi aku sudah bilang padamu. Dan jawaban aku juga masih sama tidak berubah sama sekali" ucap Alana tegas.
"Aku tahu, tapi aku akan pergi ke danau itu. Dan akan tetap menunggu kamu. Sampai kanu datang, meski aku harus seharian menunggu aku tidak perduli. Asalkan kamu mau datang" ucap Joy, dengan wajah penuh keseriusan pada Alana.
Alana menarik napasnya dalam-dalam. Ia beranjak pergi dari ruang makan, menuju ke kamarnya.
Dan joy hanya diam, melihat punggung Alana yang semakin pergi menjauh darinya.
"Alana, maaf. Tapi aku memang ingin mengungkapkan semua. Soal kita bisa bersatu atau tidak nantinya, semua terserah takdir" ucap Joy lirih, menatap Alana yang sudah pergi menjauh darinya.
Joy, beranjak berdiri. Ia menuju ke ruang keluarga. Berkumpul dengan keluarganya. "Joy, kamu dari mana saja. Dan di mana Alana?" tanya Keyla pada anaknya itu.
"Alana di kamarnya ma!" ucap Joy, yang duduk di samping Amera.
"Gimana kalau kamu panggil dia, ajak dia ke sini. Biar kita bisa kumpul sama-sama." sambung Alvin.
"Kenapa gak Cia saja Pa, Joy baru saja duduk suruh berdiri lagi" ucap Joy.
"Lihat Cia ada di sini gak? Dia gak ada di sini Joy. Cia baru saja keluar dengan teman wanitanya. Katanya mau ngerjain tugas kelompok bareng" sambung Keyla.
Joy, mengehela napasnya. Gimana bisa ia harus menemui Alana lagi. Joy merasa ragu, pasti Alana tidak mau menemuinya nanti.
Joy dengan erpaksa segera berdiri. Dan melangkahkan kakinya, menuju ke kamar Alana. Sampai di depan kamarnya. Ia terdiam sejenak, memandang pintu kamar Alana. "Ketuk pintu gak, ketuk.. gak.. Ahh.. aku bingung," ucap Joy, menggumam di depan pintu, ia berjalan mondar mandir di depan pintu kamar Alana.
Joy menarik napasnya lagi, untuk yang kesekian kalianya.
"Udah, aku harus segera panggil dia" ucap Joy.
Tok..Tok.. Tok..
Joy mencoba mengetuk pintu kamar Alana. "Siapa?" tanya Alana.
"Aku kak Joy!!" ucap Joy.
"Ada apa? Aku gak mau jika kakak hanya bicara hal gak penting" ucap Keyla, yang sudah berdiri di pintu, ingin membuka pintunya tapi ia masih ragu.
"Mama mencari kamu. Dan kamu sekarang di suruh turun" ucap Joy.
"Baiklah, ku akan segera turun. Tapi kamu duluan saja" ucap Alana.
"Aku mau jalan denganmu" sambung Joy.
"Aku gak mau melihat kaka, aku mau turun sendiri nanti. Lebih baik mulai sekarang kakak jauhi aku, ku gak mau jika semua curiga" ucap Alana, memejamkan matanya beberapa detik, dengan punggung menyandar di pintu.
"Baiklah, aku akan pergi" ucap Joy, beranjak pergi meninggalkan Alana.
Kalau memang sekarang, kamu tidak mau bertemu denganku. Aku gam masalah. Asal kamu tersenyum setiap hari. Aku sudha bahagai. Maaf adikku tersayang. gumam Joy, melangkahkan kakinya menuruni anak tangga, kembali menghampiri keluarganya.
"Mana Alana?" tanya Keyla, mama Joy.
"Dai masih di kamar ma, nanti katanya mau turun" ucap Joy.
Tak berapa lama Alana beranjak mendekati keluarganya. Dengan raut wajah datar khas miliknya.
"Eh.. Alana duduklah" ucap Shaila.