My First Love

My First Love
Joy sakit



"Non, Ada Miko di depan" ucap Bi ijah pada alana, ia berdiri di depan pintu kamar Alana.


"Iya, bi. Suruh dia tunggu sebentar ya. Dan nanti tolong siapkan aku bekal ya bi, aku hak mau jajan di kantin nanti." jawab Alana, yang masih diam di kamarnya, menatap ke arah cermin di depannya.


"Ia terinagt tentang keadaan Joy sekarang. Tapi ia tidak mau melihatnya. Bukan akrena tidak perduli. Tapi ia memabg tidak mau jkyt campru lagi urusan dengan Joy.


Maafkan aku kak, lebih baik kita saling jauh saja. Jangan sampai kita terlewat perasaan terlalu jauh. Gumam Alana dalam hatinya.


Ia menatap ke cermin, wajah Alana yang terlihat sangat menyedihkan. Mata bengkat, dan merah membuat Alana tidak percaya diri saat bertemu dengan miko nantinya.


Alana bergegas keluar dari kamarnya, dan kebetulan Cia sudah berdiri di depan kamarnya. Baru saja mau memanggilnya.


"Kak Cia!!" ucap Alana.


"Eh.. Alana, padahal aku baru saja mau bilang ke kamu kalau Miko mengunggu di depan. tapi kebetulan kamu sudah keluar." ucap Cia.


"Iya kak, tadi bi ijah juga sudah bilang sama Alana. Dan aku biakbg dia suruh nunggu seventat" ucap Alana.


"Oya,. kamu sudah tahu giaman kabar Joy. Apa dia baik-baik saja?" tanya Cia, mencoba memancing Alana. Apa dia masih perduli dengan Joy atau tidak.


"Aku gak tahu kak, aku belum lihat sama sekali daei tadi. Emangnya kenapa? Apa kak Cia sudah tahu keadaan kak Joy?" tanya Balik Alana.


Membuat cia nenganggukkan kepalanya pelan, dan bergumam.


jadi dia sekarang sudah tidak perduli lagi dengan Joy. Dan itu lebih bagus. Agar joy juga tidak tersiksa seperti itu. Dia juga harus sadar jika cinta mereka tidak akan pernah menyatu. Sampai kapanpun tidak akan pernah bersatu.


"Kak, kenapa diam? Aoa ada masalah dengan jig?" tanya Alana datar, seakan ia tidak khawatir dengan joy. meski dalam lubuk hatinya paling dalam ia sangat khawatir dengan keadaan Joy. ia ingin melihatnya, merawatnya. Tapi itu semua gak bisa ia lakukan. Ia hanya bisa melihat daei jauh, menatap dari jauh.


"Gak aoa-apa na, oya kenaoa kamu gak melihatnya. Bukanya kamu perbag bialngs esuatu di akamr kemarin. Apa kamu gak perduli lagi dengan Joy sekafang. apa kamu gak mau melihat Joy lagi sekarang.." ucap Cia, mengajak Alana berjalan turun ke lantai satu.


"Gak tahu kak.. aku gak mau lagi berurusan dengan kak joy. Bukannya aku jahat. Aku gak mau jika perasaan kak joy terlalu dalam. Kaka tahu sendiri. Gimana Kak Joy. Sifatnya yang keras kepala sangat susah di bilangi. Aku gak tahu lagi harus bicara gimana lagi dengannya. Aku juga sudah sering sekali bilang padanya jangan ganggu aku. Tapi masih saja ganggu aku.. Bahkan dia tidak pernah mau meninggalkanku." ucap Alana menjelaskan.


"ya, joy memang keras kepala. ia sangat susah di bilangin. Taoi aku mau kamu bantu aku untuk mendekatkan Joy dengan Amrlera. gaar mereka bisa saling jatuh cinta. Dan joy bisa melupakanmu" ucap Cia.


Alana terdiam, hatinya tidak sanggup melihat joy dengan wanit lain. tapi ini juga demi kebaikan keluarga ini.. Meski berat tapi ia tidak punya pilihan lain, hanya ini yang bisa ia lakukan demi joy. Agar dia bisa melupkan Joy dan yang lainnya. Karsna oerasaan ini tidak boleh terus berlanjut.. Tidak boleh.


"Gimana?" tanya Cia. "Aku tahu jika kamu berat... tapi kamu juga harus melupakan Joy, Alana. Kamu gak boleh suka terlalu lama dengannya. Aku sudah berkali-kali bilang denganmu kan" ucap Cia tegas.


"Baiklah, aku terima tawaran kakak. Aku akan menjauhi Joy. Dan akan membuat Joy semakin hari dekat dengan Amera." ucap Alana, menundukkan kepalanya. Dari tadi Alana tidak mau melihatkan matanya yang bengkat dan merah itu lada Cia.. Ia tidak mau cia banyak tanya padanya, seperti reporter berita saja.


Cia memegang rahang Alana, mendongakkan ke atas. "Kamu kenapa?" tanya Cia.


"Aku gak kenapa-napa." ucap Alana cepat.


"Kenapa mata kamu bengkat?" tanya Cia yang tidak mau bergenti bertanya jika dia belum menemukan jawaban dari pertanyaan itu.


Alana menyingkirkan tangan Cia di rahangnya


"Aku gak apa-apa kak. Jadi jangan tanyakan lagi aku kenapa. Aku gak papa" ucap Alana tegas.


"Itu bukan urusan kak cia." uacap Alana.


"Aku tahu ini bukan urusan aku tapi aku gak mau kamu terus seperti ini Aku mau kamu tahu sesuatu jika kamu itu gak balakan bisa bersatu dengan joy" ucap Cia mengingatkan.


Alana berjalan pergi meninggalkan Cia masuk ke dapur mengambil bekalnya.


"Amera kamu mau kemana?" tanya Cia yang kebetulan melihat Amre lewat dengan langkah terburu-buru.


"Mau lihat joy, dan ini aku baru saja ganti air kompresnya. Dia juga masih belum sembuh demamnya juga masih tinggi." ucap Amera yang terlihat sangat panik


"Terus gimana sekarang dia" ucap Cia yang juga panik di buatnya.


Ia berlari menaiki anak tangga masuk ke dalam kamar Joy. Cia dan Amera tidak bisa bisa diam saja.


"Joy, tambah parah... berarti semua salah aku.. Aku terlalu jahat dengannya. kenapa aku biarkan dia di luar balkon tanpa perdulikannya. Maaf kak.." gumam Alana.


"Non, kenapa melamun?" tanya bi ijah di sampingnya.


Gak apa-apa bi, hanya lagi gak enak badan."ucap Alana beralasan.


"Kenapa sama dengan tuan Kecil Joy yang sekarang terbaring sakit di kamarnya. Dan apa non, Alana gak mau jenguk di kamarnya?" tanya Bi ijah.


"Enggak bi, aku lagi ada tugas di sekolah dan harus bernagkat pagi" ucap Alana yang masih beralasan


----


"Ma!! Gimana keadaan joy?" tanya Cia. Meskipun dia marah dengan joy tapi dia tidak bisa melihat joy sakit seperti itu. Gimana pun juga Joy juga adiknya.


"Dia masih panas Cia, oya nanti kamu bisa bilang sama guru Joy. Agar dia ijin gak masuk sekolah lagi" ucap Keyla, yang masih duduk di ranjangnya dengan wajah nampak sangat sedih melihat keadaan Joy.


"Aoa mama sudha panggil dokter?" tanya Cia, berdiri di samping Alana.


"Amera sudah menghubungi dokter. dan mungkin sebentar lagi juga akan kesini" ucap Keyla.


"Lebih baik kamu sekarang berangkat sekolah saja dulu. Biar Joy aku dan Amera yang merawatnya. kamu jangan khawatir ya." ucap keyla memegang tangan Cia. Ia menatap ke belakang. Tidak melihat Alana sama sekali. "Oya, di mana adik kamu Alana. apa dia sudah berangkat sekolah?" tanya Keyla.


"Dia sudah berangkat duluan Ma, lagian miko juga sudha menunggunya di kuar. Kasihan dia sudah dari tadi pagi menunggi Alana." jawab Cia.


"Ya, sudah. sekarang kamu juga berangkat dulu Sudah jam enam lebih sepuluh menit. Jangan sampai kamu telat nanti."


"Siap ma!!" Cia berjalan mendekati Amera, menepuk oundaknya dan berbisik padanya.


"Amera jaga Joy. Kalau dapat belaian tangan lembut darimu pasti dia sembuh. Dan gak hanya sembuh, aku yakin lama-lama kamu juga bisa dapatkan cintanya" ucap Cia menggoda.


"Cia, apa sih, kamu ini" Ucap amera malu-malu.


Cia hanya senyum, dan bergegas pergi dari kamar Joy.