Holy Marriage

Holy Marriage
Resiko Terburuk



Terpaksa Anna masuk ke mobil mengingat rasa segan yang ia miliki pada William. Jika bukan sebatas rasa segan, tentu ia tidak akan pergi mengantar Alan.


Mobil bergerak meninggalkan halaman membawa Alan dan Anna.


Sepanjang perjalanan Anna hanya diam membisu. Kepalanya dipenuhi ilustrasi menyedihkan. Mereka sempat berhenti di kafe untuk sarapan.


Kemudian mereka kembali melanjutkan perjalanan.


Pukul sembilan mereka baru sampai di bandara.


Alan berdiri berhadapan dengan Anna, bersitatap dalam jarak selangkah.


“Ada pesan untukku?” tanya Alan dengan tatapan teduh.


Anna menggeleng.


“Suamimu akan pergi dan kamu nggak kasih pesan apapun?”


Anna menunduk. Untuk apa ia berpesan pada pria yang akan bersenang-senang dengan wanita lain. Tak lama kepalanya terangkat lagi dan menatap Alan. “Mana Cintya? Aku nggak melihatnya.”


“Dia udah nunggu di dalam.”


Anna mengesah, berusaha menyembunyikan kegalauannya. “Kamu hati-hati.”


Alan tersenyum. “Itu aja?”


Anna mengangguk.


“Apa aja. Terserah kamu.” Anna tidak memiliki semangat untuk memikirkan daftar oleh-oleh yang seharusnya Alan beli di negeri orang.


“Aku akan lama. Kamu jaga diri baik-baik. Saat aku kembali nanti, jangan ada yang berubah. Tetap menjadi Anna yang sekarang.”


Anna diam saja. Hatinya berkecamuk. Ia akan melepas kepergian suaminya bersama wanita lain, kenapa ia harus perduli? Rasanya sulit dijabarkan, hatinya serasa diobrak-abrik. Setahu Alan, Anna tidak memiliki rasa apapun. Wajar Alan bersikap seakan-akan Anna tidak tersakiti atas sikapnya. Detik berikutnya Anna tersentak saat merasakan sentuhan hangat di bibirnya.


“Jangan nakal!” Alan mengusap pucuk kepala Anna yang terbungkus kerudung sesaat setelah menjauhkan kepala dari Anna. Kemudian ia balik badan dan pergi.


Anna tak mau kalah buru-buru balik badan sambil berjalan menuju mobil. Ia tidak mau menatap punggung Alan. Telapak tangannya menyentuh bibir. Ia senang mendapat ciuman itu, tapi juga bercampur kesal karena harus menjadi orang paling tidak beruntung. Memiliki suami sesempurna Alan, namun tidak bisa memilikinya. Anna harus mengakui, ia kalah dalam permainannya sendiri.


Mungkin ini yang dinamakan hukuman pada wanita yang tidak bisa menjalankan amanah sebagai istri, dengan lantang ia memberi larangan pada suami yang akhirnya larangan tersebut berbalik menyerangnya.


Tuhan memang adil. Sangat adil. Inilah resiko yang harus Anna terima.


Anna termenung di dalam mobil yang melaju membawanya pulang ke rumah.


***


Sudah beberapa minggu Alan menjalankan tugas di luar negeri. Sampai saat ini belum pulang. Baru beberapa minggu memang, tapi kerinduan yang Anna rasakan sudah membuncah sampai ke ubun-ubun. Anna tidak berani menghubungi Alan, takut dibilang agresif, walaupun sebenarnya memang iya.


Banyak sekali bayangan-bayangan aneh mengganggu pikirannya setiap malam tiba, membayangkan apa yang sedang Alan lakukan. Anna hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya setiap kali bayangan negatif bersarang di kepalanya. Sakit sendiri membayangkannya. Gara-gara kepikiran Alan setiap malam, Anna selalu kurang tidur dan mengantuk saat di kampus.


Satu hal yang membuat Anna tidak mengerti sampai sekarang, Alan tidak mau memberinya mobil. Bukankah untuk membelikan satu mobil bukanlah perkara sulit bagi Alan? Tapi kenapa Alan tidak memberikan barang canggih itu untuk Anna? Alan lebih suka melihat Anna numpang mobil Stefi. Sangat salah jika mengatakan Alan pelit. Buktinya, Alan sangat royal terhadap Anna. Apapun Alan berikan, terkecuali mobil. Alhasil Anna harus merasa repot sendiri.


TBC