Holy Marriage

Holy Marriage
Menangis Pilu



Kita intip visual dulu iah.


**


Anna Salsabila



Alan William



Cintya



 


Alan mengernyit. Semua yang dikatakan Cintya benar. Separuh hati Alan meyakini kalau Cintya tidak seburuk yang ia duga, tapi situasi dan kondisi mengarah seakan Cintya yang menjadi dalang. Ah, kisahnya itu sudah mirip seperti adegan di sinetron-sinetron. Bertamu, diberi minum, dan dalam minuman dibubuhi sesuatu. Klise. Tapi semua itu benar-benar menimpa diri Alan.


“Aku kecewa padamu. Semua tindakanmu itu membuat perasaanku ke kamu jadi kosong. Sudahlah, kita akhiri semua ini.” Alan memalingkan wajah.


“Bisakah kamu menaruh sedikit kepercayaan ke aku?” Suara Cintya tersendat hendak menangis.


“Andai kamu di posisiku, apakah kamu masih mempercayaiku? Kamu udah hancurkan semuanya, karierku bahkan menurun. Aku kecewa dengan semua perilakumu. Tinggalkan aku, Cintya! Kumohon! Percayalah, aku akan selalu doakan yang terbaik untukmu, kau pasti akan menemukan penggantiku.” Alan bicara tanpa menatap mata Cintya. Rasa iba membuatnya tak sanggup menatap mata itu.


“Alan, jangan bohongi aku! Kau masih mencintaiku, bukan? Kau masih menginginkanku, bukan? Jawab!” Cintya membingkai pipi Alan dengan kedua telapak tangannya. Tangisnya pecah dan tetes-tetes air matanya jatuh membasahi lengan Alan.


“Aku udah habiskan waktuku untukmu, aku percaya kalau kau akan menikahiku ketika aku akan ninggalin kamu dan kamu berusaha terus mempertahankanku, meyakinkanku kalau kita akan terus bersama-sama. Ingatkah semua kata-katamu yang berusaha meyakinkanku?”


Alan memundurkan kepala, menghindari tangan Cintya yang menyentuh wajahnya.


“Maafkan aku, Cintya! Kau boleh hujat aku, kau boleh hukum aku. Tapi keputusanku udah bulat. Aku mencintai Anna. Percayalah, semua yang kita lalui nggak akan mudah terlupakan olehku. Kau akan menemui masa depanmu dengan seseorang yang jauh lebih baik dariku. Anggap saja aku jahat, maka pria jahat sepertiku nggak pantes jadi pendamping hidupmu.”


Cintya mengusap air matanya dengan punggung tangan, namun permata bening itu terus merembes membasahi pipinya. Ia balik badan kemudian berlari keluar. Derap langkahnya menambah keramaian lorong rumah sakit.


Langkah Cintya memelan saat dari kejauhan ia melihat Anna berjalan menuju ke kamar Alan. Mereka bersitatap dan berjalan saling mendekat.


Ketika jarak mereka sudah benar-benar dekat, keduanya sama-sama berhenti. Saling pandang dan sejenak tanpa suara.


Anna membeku menatap tangisan Cintya, wajah gadis itu sembab, ujung hidungnya memerah. Anna yakin Cintya baru saja menjenguk Alan. Entah apa yang mereka bicarakan. Namun melihat tangisan Cintya, Anna yakin hati Cintya sedang hancur.


“Anna, di awal bertemu, aku mengenalmu sebagai wanita yang baik, wanita yang memiliki toleransi tinggi. Kumohon jangan sakiti aku, bantu aku untuk mendapatkan cintaku. Kumohon jangan egois. Jangan singkirkan aku dari Alan,” ucap Cintya sambil terisak-isak.


Anna tercekat. Tangisan Cintya membuatnya merasa ingin turut menangis. Cintya tampak sangat pilu dengan tangisannya yang terisak-isak. Anna tidak tega melihatnya, perasaan gadis itu pasti sangat hancur sekarang. Entah apa yang Alan katakan pada gadis itu hingga membuatnya sepilu sekarang.


“Pergilah dari kehidupan Alan, sama seperti yang pernah kau katakan padaku dulu. Kau akan meninggalkan Alan setelah beberapa tahun kau menikah dengannya. Plis, tepati ucapanmu,” lanjut Cintya.


“Cintya, aku bisa apa? Posisiku sama denganmu, semua tergantung Alan. Dia yang memiliki wewenang mutlak atas kasus kita. Di atas pernikahan kami, tertulis kesepakatan yang tentunya kau juga tahu. Aku dilarang meminta cerai, kecuali jika memang Alan yang ceraikan aku. Andai Alan nggak mau menceraikanku, maka selamanya aku akan menjadi Nyonya Alan. Aku nggak bisa berbuat apa-apa. Semua keputusan ada di tangan Alan. Kau tanyakan saja kepadanya, kalau Alan bersedia menceraikankku, pasti aku akan berpisah darinya.” Mungkin itu adalah jawaban terbaik untuk membuat Cintya memahami keadaan.


TBC