
Anna berkali-kali menatap ponsel dan mengetuk-ngetuknya kesal. Sampai saat itu juga, Alan tidak memberinya kabar. Bahkan sudah selarut itu, Alan belum juga pulang.
Alan nyebelin! Pekik Anna dalam hati. Ia akhirnya mengenakan jaket dan menyambar helm. Ia berjalan keluar rumah membawa tas punggung berukuran kecil.
Melihat penampilan Anna yang berbeda, Andra berlari mengejar majikannya.
“Mbak, mau kemana?” Andra mengiringi langkah lebar Anna hingga ke luar rumah. “Ke kampus, Mbak? Kayaknya enggak deh, penampilan kayak gini mah nggak mungkin ke kampus. Lagian ini udah malem, Mbak. Jam segini kok keluar sendirian.” Andra bertanya dan dijawab sendiri.
“Aku mau nyari angin,” jawab Anna tanpa menoleh. “Sampaikan ke Alan kalau dia pulang nanti, aku ke rumah Ayah.”
“Pakai helm? Nggak bawa mobil aja, Mbak? Kan Mbak udah dikasih mobil sama Mas Alan? Kalau pakai motor entar kedinginan, berdebu lagi. Kena flu nanti, Mbak.” Andra begitu cerewet. “Apa nggak mau saya anterin, Mbak? Ini saya kan jadi supirnya Mbak. Kok, dianggurin?”
“Aku mau jadi Anna yang dulu aja.” Anna mengeluarkan motor matic miliknya yang dulu setia menemaninya kemanapun pergi. Dengan sekali gas, motor melaju kencang meninggalkan halaman rumah.
“Weeh… Itu kenceng banget bawa motornya, bisa rata mukanya kalau kebablasan,” komentar Andra geleng-geleng kepala.
Di atas motor yang melaju kencang, Anna mengingat semua kata-kata Alan. Hatinya terasa nyeri, kepercayaan suaminya seperti tidak tersisa untuknya. Tiba-tiba ia menjerit ketika akhirnya terdengar suara keras menghantam dan berderak. Orang-orang di sekitar jalan sana berlarian mendekati dimana Anna terkapar, sementara motor maticnya terkangkang dengan ban yang masih berputar.
***
Andra menyampaikan pada Alan bahwa Anna pergi ke rumah Ayahnya.
“Katanya mau menjenguk Ayah, Mas. Kangen katanya,” terang Andra dan disambut dengan anggukan kepala oleh Alan.
Dengan langkah gontai Alan memasuki kamar dan meletakkan koper ke meja. Tidak ada Anna yang menyambut kopernya, membantunya melepas jas dan kemeja, semua ia lakukan sendiri. Rasanya ada yang kurang. Rasanya hambar.
Alan mandi dan mencari pakaian di lemari, lalu mengenakannya. Lagi-lagi, tanpa bantuan Anna. Ternyata Anna begitu berarti baginya. Sepertinya dirinya yang rugi sudah marah pada Anna. Repot sendiri jadinya. Bahkan harus menaggung rindu sendirian. Ia membaringkan tubuh di kasur dengan mata terpejam.
Rasa lelah membuatnya dengan mudah tertidur. Tiba-tiba ia merasakan kasur di belakangnya tergenjot. Dengan sigap, kepalanya menoleh ke belakang. Anna sudah berbaring di sana. Alan mengerutkan dahi, karena seingatnya, istrinya pulang ke rumah mertua. Lantas kenapa secepat itu kembali lagi?
Dan dengan diiringi senyum manis, Anna mendekati Alan dan memeluk dari belakang. Kemudian dengan lidah yang begitu ringan, Alan mengucapkan kata maaf. Alan membalikkan badan hingga berhadapan dengan Anna. Dengan penuh cinta, Alan menciumi wajah Anna. Seakan tidak mau melewatkan walau hanya satu inchi. Tiba-tiba sosok Anna yang ia peluk ngeblur ketika sayup-sayup terdengar musik rock, matanya terbuka dan telapak tangannya langsung mengusap bibir saat mendapati diri sedang menciumi bantal guling.
Sial!
Ia segera menyambar ponsel yang menjadi penyebab dirinya terjaga dari alam mimpi, suaranya memekakkan telinga. Gara-gara terlalu ngantuk, ia sampai lupa memindahkan ke mode silent.
TBC