Holy Marriage

Holy Marriage
Cukup Satu Orang



“Aku tidak mau mendengar jika itu yang kamu katakan. Plis, jangan menghitung hari, menghitung umurmu. Tidak ada yang jauh lebih baik selain apa yang bisa kamu lakukan sekarang. Sudah itu saja. Kamu lihat Azzam masih sangat kecil, dia baru berusia dua tahun lebih. Dia membutuhkanmu,” lanjut Anna terbata.


“Aku tahu.”


“Maka tunjukkan padaku, juga pada putramu kalau kamu akan melihatnya tumbuh besar. Azzam akan bermain denganmu di taman dengan menggunakans eragam sekolah dasarnya. Dia juga akan memintamu hadir di acara wisudanya kelak.”


Alan diam saja. Garis wajahnya yang tegas, sorot matanya yang mendominasi, masih sama meski pancaran semangat dalam dirinya benar-benar telah lumpuh. Memangnya apa yang bisa dilakukan oleh seseorang yang sudah tahu kalau umurnya tidak akan panjang lagi? Dia hanya tinggal menunggu kematian, menunggu maut menjemput.


“Kamu harus memiliki motivasi untuk sembuh,” ucap Anna antusias.


“Motivasi saja tidak cukup. Hanya keajaiban, Anna. Keajaiban-lah yang bisa mengubah keadaan. Dan itu mustahil. Ini sudah stadium akhir. Aku kritis, Anna. Kamu sendiri sudah tahu seperti apa kondisiku bukan? Jangan memberi harapan palsu kepadaku. Aku sudah sangat mengerti dengan keadaanku sendiri, dan aku juga merasakan kalau hidupku memang sudah tidak akan lama lagi.”


“Jangan pesimis, Mas Alan. Umur manusia tidak ada yang tahu, hanya Tuhan yang memiliki Kuasa atas hal itu. aku sadar manusia adalah ciptaan Tuhan, maka manusia juga akan kembali pada sang penciptanya. Tapi kita hanya akan berusaha untuk kehidupan yang mungkin dijalani beberapa bulan ini. terserah Tuhan melakukan apa, yang penting kita berikhtiar dan mencoba untuk memotivasi diri. Besok, kita akan mencari orang yang memiliki riwayat sakit yang sama sepertimu. Kamu dan orang itu bisa saling sharing dan saling memotivasi. Kalian memiliki kehidupan yang luar biasa, dan dijalani dnegan luar biasa pula.” Anna tampak bersemangat, tanpa sadar dia sudah memegangi lengan Alan erat-erat, tatapannya nanar.


Alan masih diam tanpa rasa percaya diri. Dia kini merasa pesimis, hidupnya terasa lemah di mata wanita yang dia cintai. Meski Anna tidak memandang begitu, namun perasaan itu muncul dengan sendirinya. Alan merasa terpukul saat Anna mengetahui semuanya. Dia juga tidak menyangka jika perasaannya sebegitu kesalnya saat istrinya mengetahui kondisi kesehatannya.


“Jangan katakan hal ini kepada siapa pun, Anna. Cukup kita yang tahu.”


“Kenapa? Kamu tidak mau mendapat dukungan dari mama, papa atau adik-adikmu? Mereka juga harus tahu. Kamu membutuhkan motivasi dan support hebat dari keluargamu.”


“Kamu tidak mengerti beban apa yang kupikul saat ini, Anna. Plis, jangan katakan!” Alan menyatukan keningnya dengan kening Anna. Satu tangannya berada di pinggang Anna, tangan lainnya mengusap-usap belakang kepala Anna.


Akhirnya Anna menyerah. Dia mengangguk meski hatinya berat.


“Aku cukup mendapat dukungan dari satu orang saja, kamu,” bisik Alan kemudian menundukkan pandangan, tidak ingin menatap wajah basah Anna.


Ya Tuhan, hati Anna tersayat, epdih sekali melihat semangat hidup suaminya memudar. Ya, Anna tidak lagi melihat Alan yang dulu. Bahkan sejak beberapa menit yang lalu, tepatnya mulai saat Anna mengaku kalau ia sudah tahu Alan sakit, Alan seperti terpukul.


TBC