
“Jangan berusaha pengaruhi gue, Rafa,” ucap Anna meski sesungguhnya hatinya mulai bertanya-tanya. Benar, ia memang belum mengenal Alan dari dalam. Tapi ia yakin Alan bukanlah tipe lelaki konyol seperti yang Rafa katakan. Yang jadi pertanyaan sekarang, punya hubungan apa antara Alan dan Rafa sampai-sampai Rafa menganggap sudah mengenal Alan lebih dekat?
“Sekarang emang belum terbukti, entar kalau kedok suami Anna udah ketahuan, Anna jangan frustasi. Tapi tenang aja Anna, gue bersedia nungguin Anna, kok. Kapanpun Anna akan kembali, gue akan menerima lo.”
“Cukup, Rafa. Nggak lucu tauk. Ini semua nggak bakalan mempengaruhi gue. Pergilah!”
“Gue sayang sama Anna. Jangan lupakan itu!”
“Rafa, gue bilang pergi. Kalau lo nggak mau pergi, biar gue yang pergi.” Anna bangkit berdiri, bersiap meninggalkan meja.
“Oke oke, biar gue yang pergi.” Rafa akhirnya berdiri sembari menarik pergelangan tangan Anna untuk mempertahankan supaya Anna tidak beranjak pergi. “Gue nggak mau Anna kesel.”
Tepat pada saat itu Stefi muncul dengan dahi berkerut menatap aneh pada interaksi antara Anna dan Rafa. Secepatnya Anna menghentak lengannya hingga terlepas dari pegangan Rafa. Perasaan Anna mulai tidak nyaman, takut Stefi akan salah paham atas kejadian barusan.
“Siapa dia, Kak?” Stefi menunjuk Rafa dengan dagunya.
“Rafa, dulu seniorku di SMA. Lebih tepatnya, sampe sekarang dia masih nggak ngerti dengan penjelasanku kalau aku udah nikah,” gumam Anna dengan nada geram plus sorot mata tajam ke arah Rafa.
Penjelasan Anna yang singkat cukup membuat Stefi mengerti, bahwa Anna sama sekali tidak mengharapkan kehadiran lelaki itu. Stefi mengambil kesimpulan, Rafa menyukai Anna dan sampai sekarang masih mengejar-ngejarnya. Anna bersyukur karena Stefi begitu mudah mempercayainya.
Rafa berlalu pergi melewati Joli yang berdiri mematung di dekat pintu kantin, entah sudah sejak kapan Joli memperhatikan dari kejauhan. Yang jelas, sekarang ekspresi gadis itu terlihat galau.
Pernah juga, secara tiba-tiba Rafa muncul dan duduk di kursi samping Anna, baik di kantin, di ruangan ketika kelas belum dimulai, di taman, di koridor, atau dimana pun. Tindakan Rafa benar-benar membuat Anna bertanya-tanya, sebenarnya Rafa sedang diteror cinta lebay yang gablek, atau obsesi berlebihan?
Tingkah laku Rafa sedikitpun tidak membuat Anna berpaling dari Alan.
***
Hari-hari berlalu begitu cepat. Banyak hal yang Anna alami di rumah yang ia tempati sekarang. Bahagia? Tentu saja. Keluarga Wiliam, itulah alasan dari kebahagiaan Anna. Mereka begitu baik dan memperlakukan Anna bak ratu. Terkadang membuat Anna terharu. Apalagi jika Wiliam sudah bicara banyak untuk menasehati supaya ia menjadi istri yang baik. Tidak ada hal lain yang menjadi tujuan, kecuali surga Allah. Begitu kata mertuanya.
Sementara Laura, perempuan yang tampak lebih muda dari usianya itu tidak begitu perduli dengan Anna, ia lebih asik menggeluti pekerjaan. Meski begitu, beliau tetap menunjukkan sikap yang baik terhadap Anna.
Dan Alan? Apa kabar dia? Pria cool itu, kini terlihat semakin dekat dengan Anna. Apa lagi jika sudah berada di kamar, pria itu menggoda Anna dengan kemesuman yang menurut Anna sudah wajar bagi seorang suami. Setiap kali Alan menciumi Anna dan berakhir dengan belaian hangat di atas ranjang, Alan akan langsung berhenti.
“Maaf kebablasan.”
Hanya itu yang Alan katakan dan kemudian ia akan langsung meninggalkan Anna, memilih tidur di kasur bawah.
Tbc