Holy Marriage

Holy Marriage
Kemarahan



Alan tampak asik berbalas pesan. Tak lama ia menaruh ponsel ke meja lalu masuk ke kamar mandi.


Anna menatap ponsel Alan yang menimbulkan denting pesan masuk. Penasaran siapa yang sejak tadi berbalas pesan, Anna buru-buru meraih ponsel Alan sebelum ponsel itu terkunci. Jika sudah terkunci, tentu Anna harus disibukkan dengan pola atau pun password yang tidak tahu kuncinya apa.


Yang pertama terlihat adalah foto seorang gadis cilik menghias walpaper. Foto siapa itu? Anna tidak begitu memperdulikan. Pertama kali Anna membuka ponsel Alan tidak menemukan wallpaper karena waktu itu ponsel terbuka di layar pesan. Anna kemudian membuka galeri, melihat-lihat isinya. Benar yang Alan katakan, tidak ada foto Cintya di sana. Kemudian Anna tertarik melihat aplikasi WhatsApp dan menggulir chat yang masuk. Bukan maksud lancang, tapi rasa penasaran membuatnya jadi sibuk mengurus ponsel suami. Tidak salah, kan?


Tidak ada chat dari perempuan, kecuali Cintya. Anna tertarik melihat isi chat yang tertera pada tanggal 02 April, tepatnya malam dimana Alan mendadak kelihatan sedih setelah kunjungan keluarga besar Alan waktu itu.


Anna bilang setuju kalaw kamu nikah siri sama aku


Chat berikutnya di tanggal dan jam yang sama, masih dari Cintya.


Anna juga bilang minta cerai sama kamu


setelah 3 thn kamu nikah siri denganku


segera nikahi aku, syg


Tidak ada balasan chat dari Alan. Itu saja. Sampai di sana, Anna masih belum bisa menangkap apa yang sebenarnya telah terjadi. Dimana letak masalah chat itu dengan Alan hingga Alan harus bersedih menerima chat yang dikirim Cintya? Tidak ada yang salah dengan isi chat itu. Apakah Alan bersedih karena keputusan tiga tahun yang Anna minta untuk bercerai? Karena sesungguhnya Alan masih ingin mengeruk harta Papanya selama bertahun-tahun lamanya, berabad-abad bila perlu? Dan setelah mendapat chat itu, Anna ingat kalau Alan buru-buru pergi lalu mengaku akan menjumpai Cintya.


Anna melempar ponsel ke ranjang ketika Alan muncul dari balik pintu kamar kecil. pikiran Anna kini tidak lagi tertuju ke permasalahan akan kesedihan Alan, tapi sosok gadis kecil yang terpajang di walpaper Alan. Wajah itu tidak begitu jelas karena foto diambil dari jarak jauh.


“Halo, ada apa Aldi?”


Alan yang sedang mengambil celana dan kaos tidur di lemari, langsung menghentikan gerakannya begitu mendengar Anna menyebut nama Aldi. Sontak ia menoleh dan menatap Anna yang terlihat sedang serius bertelponan.


“Iya, besok kubawa diktatnya. Tapi…” Anna membelalak melihat ponsel yang menempel di pipinya tiba-tiba melayang dan kini tergeletak di atas kasur.


Pelakunya tak lain Alan. Pria itu merampas ponsel Anna dan melempar ponsel ke sembarang arah. Dia bahkan mematikan sambungan telepon sembelum menghempaskannya. Tak lupa ia sempat mendelete nomor Aldi dari daftar kontak di ponsel Anna.


Kening Anna terlipat menatap sorot mata Alan yang horor. Anna meringkuk di atas kasur dan memundurkan badan ke belakang. Sial, punggungnya kepentok sandaran kasur.


“Harus berapa kali kubilang supaya kamu jangan berhubungan dengan pria itu lagi!”


“Tapi kami bicara hanya menyangkut persoalan kampus.”


Alan menaiki ranjang. Handuknya tersingkap saat satu kakinya memanjat ranjang dan merangkak naik mendekati Anna. Tapi Anna tidak perduli soal handuk, ia hanya perduli dengan tatapan Alan yang lebih tajam dari belati.


TBC