
Cintya menekan bahu Alan dan mendudukkan pria itu di sofa. “Duduklah, jangan bicara apapun kalau itu hanya akan menyakitiku.” Cintya menemukan tatapan berbeda dari mata Alan. Mereka kini duduk berhadapan.
“Maaf Cintya, kedatanganku kesini bukan untuk melanjutkan hubungan kita, melainkan untuk mengakhirinya. Kita putus. Kita nggak ada hubungan apa-apa lagi.”
Cintya memebeku di tempat. Tanpa terasa air matanya mencuat ke permukaan wajah. Tangisnya pecah seketika.
Seorang pembantu muncul meletakkan segelas kopi ke meja sambil melirik Cintya yang menangis sesenggukan. “Silahkan diminum, Mas!” lirih pembantu kemudian pergi.
Alan mengangguk. Ia sangat mengenal pembantu itu, beberapa kali ia datang ke rumah Cintya dan pembantu itu pasti berinisiatif menyuguhkannya kopi seperti biasanya.
“Maafkan aku Cintya, keputusanku udah bulat. Dan ini adalah akhir dari hubungan kita. Kamu telah menggali masalah baru dnegan menyebarkan berita itu ke media masa. Kamu salah jika mengira aku akan takut dan justru meninggalkan Anna setelah kabar itu tersebar, justru sebaliknya, aku malah meninggalkanmu.”
“Alan, berapa kali harus kukatakan, bukan aku pelakunya.”
“Lantas? Apa foto-foto itu bisa tersebar begitu saja tanpa ada yang memberikannya ke wartawan?”
“Kenapa kamu nggak percaya sama aku? Aku juga bingung kenapa foto-foto itu bisa menyebar. Mungkin ada seseorang di dekatku yang jahil, bisa jadi temenku yang entah kapan membuka ponselku dan diam-diam mencuri foto-foto itu dari ponselku.”
“Apapun itu, namaku kini udah tercoreng. Orang tuaku juga mengancamku, hidupku runtuh jika aku nggak meninggalkanmu.”
“Caramu ini salah, Cintya. Bukan ini yang kumau. Kau merusak nama baikku, bahkan aku cacat di mata orang tuaku.” Alan meraih gelas dan meneguknya separuh. Sekilas ia menatap Cintya yang menangis tersedu. Sebenarnya ia tidak tega membuat Cintya terluka seperti sekarang, tapi rasa kasihan tak lantas membuatnya harus bertahan pada gadis itu. Ia sudah memiliki alasan kuat untuk bisa meninggalkan Cintya, jangan sampai tangisan Cintya membuatnya luluh.
Alan mengusap keringat yang mengalir di pelipis dengan ujung lengan kemeja panjangnya, entah kenapa tubuhnya terasa panas. Dan ada gelenyar aneh yang menguasai tubuhnya. Sesuatu dalam dirinya terasa menegang dan entah kenapa mendadak ia merasa bergairah, ingin pelepasan saat itu juga.
“Maafkan jika aku menyakitimu, tapi sepertinya kita ditakdirkan tidak untuk bersama. Lupakan semuanya. Aku pergi.” Alan bangkit berdiri. Namun langkahnya terhenti ketika Cintya memeluknya dari belakang. Gadis itu masih menangis tersedu. Pelukannya begitu erat.
“Jangan tinggalin aku. Aku snagat mencintaimu. Beri aku wkatu untuk membuktikan ke kamu bukan aku pelaku dari penyebar foto-foto itu ke media masa,” ujar Cintya sambil menangis.
Alan merasakan sensasi aneh saat pelukan Cintya semakin erat. Ia berusaha menguasai diri dengan memegang kedua tangan Cintya dan melepaskannya dari tubuhnya.
Cintya tidak mau tinggal diam, ia berdiri di depan Alan dan menatap pria itu dengan intens. “Apa kamu lupa dengan semua ucapanmu yang ingin menikahiku? Apa kamu lupa dengan semua yang udah kamu ucapkan ke aku?” Cintya mengelus dada Alan sembari menempelkan tubuhnya ke tubuh Alan.
Alan terkesiap menatap wanita yang ada di hadapannya. Apakah ia tidak salah lihat? Wanita itu adalah Anna. Ya, Anna.
TBC