
Anna geleng-geleng kepala. “Percuma dong aku kuliah kalau ilmuku nggak dipakai untuk kerja atau apalah. Liat deh, mamamu juga kerja meski papamu udah banyak uang.”
“Jangan samakan kamu dengan mama. Jangan pula samakan aku dengan papa. Papa orangnya nurut aja apa kata mama. Kalau aku beda, aku nggak akan pernah ngebiarin kamu kecapekan hanya karena mencari uang. Kamu hanya boleh kacapekan saat melayaniku khusus yang itu.” Alan memainkan dua jarinya ke udara. “Kebutuhanmu adalah tanggung jawabku, dan aku bisa mencukupi kebutuhanmu. Lantas apa lagi?”
“Aku bisa suntuk juga. Mana mungkin aku mengurung diri di rumah terus.”
“Kapan pun kamu suntuk, telepon aku dan ajak aku jalan-jalan. Nggak ada alasan suntuk.”
Anna mengernyit. Bukankah selama ini Alan selalu sibuk dan tidak memiliki waktu untuk Anna? Alan bahkan kerap kali membatalkan acara jalan-jalan bersama Anna saat ada telepon masuk ke ponselnya dan katanya soal kerjaan. Lalu bagaimana bisa Anna mengajak Alan jalan-jalan? Apa Alan lupa soal itu? Ya ampun. “Apa aku juga harus…”
“Jangan membantah!” potong Alan menatap Anna tajam.
Anna terdiam. Tatapan Alan dan intonasi nada bicara Alan yang tinggi membuat Anna tak berkutik.
“Kamu mau makan apa sekarang?” tanya Alan setelah mereka selesai belanja.
Anna menggeleng.
“Kamu nggak laper?”
“Enggak,” jawab Anna. Padahal perutnya saat itu terasa lapar sekali. Tapi nafsu makannya hilang entah kemana gara-gara kata-kata Alan tadi. Anna sadar, Alan melarangnya bekerja karena suaminya itu sudah memiliki kelebihan uang untuk menafkahinya, juga karena Alan tidak ingin dia kelelahan. Tapi apakah Alan tidak memikirkan rasa bosan, jemu, jenuhnya keseharian Anna yang hidup tanpa Alan di sisinya? Anna jarang sekali berada di sisi Alan, pria itu ada di sisinya hanya saat malam tiba. Dan itu pun Anna sudah tertidur saat Alan berbaring di sisinya.
Alan dan Anna sudah berada di parkiran. Alan memasukkan belanjaan ke jok belakang. Dia kemudian membukakan pintu mobil untuk Anna. Anna masuk ke mobil. Sebenarnya Anna merasa tersanjung dan bangga diperlakukan Alan dengan sangat manja dan dihargai sebagai seorang wanita. Lihatlah, Alan tidak pernah berubah sejak dulu sampai sekarang memperlakukannya. Dari hal sepele saja, Alan selalu emmbukakan pintu mobil untuk Anna.
“Besok aku akan ke luar kota untuk urusan kerja. Kamu sama Azzam baik-baik di rumah ya,” ucap Alan saat mobil sudah melaju di jalan raya.
Anna menoleh ke arah Alan. Tuh kan, baru aja sebentar udah bilang mau kaburan ke luar kota. Kapan dia punya waktu buat aku?
“Kamu yakin mau pergi?” Anna menatap Alan cemberut.
“Iya. Kenapa?”
“Bisa nggak dibatalin aja dulu. Aku kan besok libur. Itu adalah waktu yang tepat untuk kita jalan bareng.”
“Ooh… Mm… Nanti aku atur scedhule dulu kalau gitu.”
Anna melirik ke arah suaminya lagi. Bibirnya tersenyum tipis. Ia sennag sekali Alan menjawab begitu. Ada harapan baik untuknya bisa jalan-jalan bersama Alan.
Alan kemudian menelepon sekeretarisnya. “Halo, kamu atur jadwal peninjauan ke luar kota agar dimundurkan sehari, bisa kan? Ya, aku ada urusan mendadak. Jadi, bagaimana? Oke, lusa atur semuanya.” Alan kemudian memutus sambungan telepon dan menoleh ke arah Anna. “Bisa, kok. Lusa aku baru berangkat ke luar kota. Kita besok jalan-jalan. Oke?”
Anna mengangguk sembari tersenyum lebar.
TBC