Holy Marriage

Holy Marriage
Kalimat Pedas



“Alan!” panggil Wiliam dengan nada mengguntur keras ketika Alan sudah selesai sarapan. Sepertinya Wiliam sengaja menunggu sampai Alan selesai makan.


Alan mengangkat wajah dan menatap Papanya. Wajah setengah baya itu tampak murka, sedikit memerah dan berkeringat. Alan mengernyitkan dahi karenanya.


“Apa yang kamu lakukan semalam?” tanya Wiliam dengan ekspresi yang belum pernah terlihat selama ini, marah.


“Kenapa Papa bertanya begitu?” Alan balik tanya.


“Jawab, Alan! Kamu hanya tinggal menjawab pertanyaan Papa.”


“Maaf, Pa. Semalam aku memang keluar.”


“Kemana? Menemui Cintya? Perempuan binal itu?”


Alan tersentak, bagaimana bisa Papanya mengetahui soal itu? “Papa, kumohon jangan katakan itu pada Cintya. Dia gadis baik-baik.”


“Baik katamu? Suka memamerkan aurat begitu kamu bilang baik? Papa sendiri malu melihat perempuan yang suka bergaya kebarat-baratan kayak Cintya. Dimana akhlaknya? Kenapa kamu jadi berubah begini? Pulang malam-malam dalam keadaan mabuk berat, sampai-sampai muntah di badan Anna. Papa malu, Alan. Sejak kapan kamu jadi begudal kayak gini? Ingat Alan, kamu sudah punya istri. Apa maksudmu berbuat begini? Kalau kamu nggak mau sama Anna, kenapa kamu menikahi dia? Anna itu perempuan baik-baik, jangan buat Papa malu dengan tingkahmu itu.”


Alan terdiam. Mampus, ketahuan! Dibalik diam, Alan memikirkan kata-kata papanya yang mengatakan kalau semalam ia muntah di badan Anna. Tapi sedikitpun Anna tidak membahas hal itu. Anna juga tidak marah padanya. Anna hanya menasihatinya dengan kata-kata menyejukkan.


Tidak ada yang menyadari kalau Anna berdiri menyandarkan punggung di dekat pintu ruang makan. Niatnya ingin memanggil Alan agar Alan mempercepat sarapan. tapi batal gara-gara mendengar perbincangan serius anatara Alan dan Papanya. Terlanjur dengar, jadi keterusan.


“Semalam aku nggak menemui Cintya, Pa.”


“Alasan! Papa udah tau semuanya. Jangan berbohong lagi!”


“Dan yang Papa heran, kenapa Anna membantu pertemuanmu dengan Cintya? Sebenarnya ada apa dengan kalian?” Wiliam mengusap pelipisnya yang berkeringat dengan punggung telapak tangan. Ternyata untuk memarahi Alan butuh tenaga ekstra dan menghabiskan keringat cukup banyak. “Apa kamu menekan Anna? Sampai-sampai dia rela membantumu berhubungan dengan perempuan lain? Anna terlalu baik untuk kamu sakiti. Jangan sakiti Anna. Jangan pernah sakiti dia.”


Alan mengerutkan dahi, berpikir dari mana Papanya mengetahui semua itu. Di mata Papanya, kali ini Anna terlihat seperti manusia berhati malaikat, yang rela mengorbankan perasaan demi kebahagiaan suaminya. Dan Alan seperti **** yang kehausan perempuan dan tega mengorbankan perasaan istrinya. Tidak salah jika Papanya beranggapan demikian, karena memang Anna tidak bersalah.


“Sejak kapan kamu doyan mabuk-mabukan, Alan? Sejak kapan? Sejak mengenal perempuan itu bukan?” Wiliam menggertak. “Papa yakin kamu tau kalau itu dilarang dalam agama kita. Lalu kenapa kamu lakukan?”


Alan tampak tenang. Ia menarik napas dan menatap Papanya. Rasanya ia seperti anak kecil yang sedang diomelin karena salah makan jajan.


“Pa, aku minta maaf. Tapi aku janji nggak akan mengulanginya lagi. Aku ngerti Papa marah karena sayang sama aku.”


“Jangan minta maaf sama Papa. Minta maaf sama Anna. Dan minta maaflah sama Allah.”


Alan mendekati Papanya. Menatap wajah yang memerah di hadapannya. Dengan penuh penyesalan ia berkata, “Pa, aku khilaf. Aku pasti minta maaf sama Anna.”


“Tinggalkan prempuan itu!”


“Aku akan selesaikan masalahku.”


Setelah mengucapkan kalimat itu, Alan berjalan meninggalkan papanya menuju ke depan. Sementara Anna buru-buru duduk di kursi santai taman depan rumah sambil pura-pura membaca buku paket, dan bangkit berdiri ketika sebuah mobil menghampirinya.


TBC