
Pertama yang dicari oleh Alan adalah Stefi. Pria itu langsung menuju ke kamar Stefi dan membuka pintu kamar adiknya itu. Alan mendapati Stefi tengah duduk di kasur sambil memeluk bantal. Gadis itu tampak gugup melihat kedatangan Alan.
“Sudah berapa lama kau berhubungan dengan pria itu?” Alan berdiri di hadapan Stefi dengan tatapan tajam. Alan sangat mengenal Naga, pria yang tampak tidak pernah merasa puas dengan banyak wanita. Bagaimana mungkin Alan akan membiarkan Stefi berhubungan dengan pria seperti itu?
“Tiga bulan.”
Oh… Naga tidak berbohong. “Naga adalah temanku dan aku sangat mengenal pribadinya. Sebelum kau mengenalnya, sudah sembilan belas tahun aku lebih dulu mengenalnya. Dia teman SMA-ku dulu. Karakternya sudah aku pahami. Dia bukan pria baik-baik.”
“Tapi… Selama bersamaku, dia tidak pernah menunjukkan sikap yang buruk,” lirih Stefi ingin membela pria yang dia sukai.
“Tidak ada satu pun pria yang akan menunjukkan keburukannya kepada wanita yang dia dambakan. Berpikirlah dnegan jernih, Stefi. Aku adalah kakakmu, tidaka kan mungkin aku menjerumuskanmu. Tentu aku menginginkan yang terbaik untuk adikku. Kau harus menjauhi Naga.”
“Aku menyukainya,” lirih Stefi.
“Stefi!” hardik Alan keras. “Naga sudah memiliki empat istri. Lalu kau mau menjadi istri yang ke berapa?”
Stefi menunduk. Air mata tiba-tiba menetes-netes.
“Sudah! Lupakan Naga! Jangan dekati dia lagi! Dia pria yang buruk dan selamanya aku tidak akan pernah mrestui hubunganmu. Ingat, di keluarga kita, hanya aku yang diberi hak untuk menentukan calon suami adik-adikku. Itulah yang dikatakan papa.” Alan mendekati Stefi. Lalu menyentuh lengan diknya itu dengan lembut. Hatinya akhirnya terenyuh melihat tangis adiknya. “Kau harus menjadi gadis penurut, jangan berubah hanya karena Naga. Bukan hanya karena Naga memiliki istri empat saja yang membuatku tidak menginginkan hubungan kalian dilanjutkan, tapi karena Naga juga gemar berhubungan dengan wanita malam.”
“Apa kakak melihat hal itu secara langsung? Apakah ini bukan hanya sekedar isu semata?” tatapan Stefi seakan menunjukkan kalau dia tidak meyakini perkataan Alan.
“Ini bukan hanya sekedar isu. Aku pernah melihatnya memasuki hotel bersama wanita yang bukan istrinya. Dia jelas bukan pria yang baik untuk dijadikan seorang suami.”
Alan mengesah. Dia menyesal sudah menghardik adiknya. Dia tidak tahu apa alasan Stefi menangis, apakah karena hardikan Alan, atau karena menyesali hubungannya dengan Naga, atau perkara lain. Entahlah…
“Kau harus mendengarku! Apa pun alasannya, kau tidak boleh berhubungan dengan Naga. Ada banyak pria yang masih lajangan di luaran sana. Kau adalah seorang wanita, tentu kau tidak mau menyakiti wanita lain bukan? Kau juga pastinya tidak mau terluka jika suatu saat nanti Naga memperlakukanmu seperti memperlakukan istrinya yang lain.” Alan mengusap singkat pucuk kepala Stefi.
Stefi menarik nafas panjang untuk mencari celah agar bisa berbicara.
“Lalu apakah Kak Alan lupa dengan Kak Cintya? Media masa juga heboh membicarakan perselingkuhan Kakak dengan Kak Cintya?” lirih Stefi disela sesenggukan.
“Kenapa kau malah mencari-cari kesalahanku? Sekarang aku membahas dirimu, membahas untuk kebaikanmu, bukan aku. Kau tidak mengerti kejadian yang sesungguhnya mengenai aku dan Cintya. Cintya hanyalah masa laluku dan itu sudah lama berlalu. Anna juga sudah memaafkanku soal itu. Aku dan Cintya adalah sebuah kesalahan dan kau tidak mau mengikuti hal yang salah bukan? Sebuah kesalahan hanya akan menimbulkan penyesalan di belakang. Intinya, aku ini kakakmu, dan aku hanya ingin yang terbaik untukmu. Sudah itu saja. Aku tidak perlu mengulang-ulang kalimat yang sama lagi supaya kau paham. Naga sudah memiliki istri, apakah kau tidak bisa berpikir bagaimana sakitnya para istrinya saat suaminya harus menikah lagi?”
Stefi menatap mata Alan. Lalu dengan lirih dia bertanya, “Apakah ini artinya kakak juga tidak akan pernah menduakan Kak Anna? Apakah ini artinya kakak hanya mencintai Kak Anna dan akan selalu setia kepadanya? Alangkah lucunya jika kakak tidak setia tetapi menasihatiku seperti ini.”
Alan terdiam sebentar, seperti sedang menelaah ucapan Stefi. Adiknya bukan lagi anak kecil. “Ya, Anna akan menjadi istriku satu-satunya.”
Alan mengusap air mata di pipi Stefi. “Kau tidak boleh menangis karena pria yang tidak baik. Aku yakin kamu pasti kuat. Lupakan Naga!”
Stefi tidak bisa menjawab lagi, hanya sesenggukan saja yang keluar dari mulutnya.
“Ya sudah, aku pergi. Kalau memang kau ingin menangis, maka menangislah sepuasmu. Itu mungkin akan membuatmu merasa lega. Tapi ingat, tangisanmu bukan untuk menangisi pria yang tidak baik untukmu, melainkan menangis untuk membuat hatimu menjadi lega.” Alan melenggang keluar.
BERSAMBUNG