
Anna terbangun dan mendapati diri tertidur di sofa. Hatinya mulai gundah saat menyadari Alan belum juga pulang.
Usai melaksanakan shalat subuh, Anna kembali mengecek ponsel. Tidak ada pesan dari Alan. Perasaannya semakin cemas. Hingga pukul tujuh pagi, batang hidung Alan belum juga muncul.
Dimana Alan berada? Apakah dia bersama Cintya? Ah, Anna menggeleng berusaha membuang pikiran negatif yang menyerang.
Anna memutuskan untuk menelepon Alan. Tidak dijawab. Anna merasa seperti sedang dibuang dengan perlakuan Alan yang mendiamkannya begini. Ia sadar sangat membutuhkan Alan. Baru dua puluh jam saja Alan bersikap demikian, rasanya Anna seperti dipenjara dan merasa kesepian. Anna kemudian mengirim chat kepada Alan.
Anna
Sayang…
Anna
Kamu dimana?
Aku kangen
Anna
Sayang, kenapa belum pulang udah selarut ini?
Anna
Jangan ngambek, entar gantengnya ilang.
Aku sayang sama kamu.
Anna
Pulang, ya!
Kita perlu bicara.
Anna
Sayang
Anna
Sayang
Anna
Sayang, balas dong!
Rayuan Anna ternyata tidak mempan. Alan tidak juga membalas chat yang ia kirim. Sudah ceklis dua, tapi tidak dibaca. Beberapa detik kemudian, tanda ceklis sudah menunjukkan kalau Alan membaca pesannya. Terlihat Alan sedang mengetik pesan balasan. Anna dag dig dug menunggu chat masuk. Mendadak jadi seperti remaja sedang berpacaran.
Alan
Aku ke luar kota
Urusan kerja
Anna terbelalak membaca chat balasan. Alan pergi ke luar kota tanpa memberitahukannya terlebih dahulu? Astaga, Anna merasa kehilangan. Segitu besarkah kemarahan Alan sampai pergi ke luar kota pun tidak berpamitan? Setengah gondok, Anna membalas.
Anna
Kenapa gk ngasih tau?
Alan
Di perjalanan pulang ke Jakarta.
Alan membalas chat-nya hanya dengan sepenggal kalimat. Irit kata-kata. Tidak biasanya.
Anna
Ya udah, hati-hati ya, syg
Anna
Jangan ngebut-ngebut
Anna
Ingat ada istri yg nungguin di rumah.
Anna
Jangan telat maem
Jangan lupa shalat
Jangan lupa berdoa setiap mau bepergian
Anna
Sayang
Anna
Sayang
Anna
Ya udah, hati-hati ya
Mmmuah…
Dengan diamnya Alan, Anna menganggap suaminya itu sedang malas mengetik alias badmood. Jadi mendingan dia tidak mengirim pesan lagi, dari pada nanti mood-nya Alan tambah rusak.
Sembari menanti kepulangan Alan, Anna berjalan mondar-mandir kayak setrikaan di ruang depan. Bingung. Dikacangin suami rasanya seperti naik perahu ditengah-tengah lautan luas tanpa kompas. Tidak tahu kemana arah tujuan. Mondar-mandirnya langsung berhenti ketika ia membalikkan badan dan menubruk sesuatu yang keras. Dan ia tau betul apa yang baru saja ia tabrak, sesuatu yang berotot dan berbentuk kotak-kotak. Tubuh Alan tentunya.
“Mas Alan?” Anna tersenyum lebar berusaha mengembalikan keceriaan suaminya. Tapi sikapnya itu tidak merubah apapun. Ekspresi Alan tetap seperti sejak awal masuk, hambar tanpa senyum. Alan kembali seperti dulu saat pertama kali Anna mengenalnya, dingin dan misterius. Kemudian Anna menghambur dan memeluk suaminya. “Aku kangen. Baru sebentar nggak ketemu, rasanya kayak digantung hidup-hidup.” Anna mulai menggombal, tapi itu kenyataan.
Alan membalas pelukan Anna dan mengusap punggung istrinya. Meski usapan tangan Alan tidak sehangat biasanya, namun Anna merasa senang Alan bersedia melakukan hal itu.
“Apa kamu masih marah sama aku?”
Alan tidak menjawab.
Anna melepas pelukan dan menatap wajah Alan lekat-lekat. Di saat orang lain tidak tahu apa yang disembunyikan Alan, kini Anna dapat membaca dengan jelas kalau Alan sedang kesal. Ia mulai berhasil membaca sifat suaminya.
“Aku pingsan dan nggak sadar saat Aldi menggendongku. Apa itu salahku?”
TBC