Holy Marriage

Holy Marriage
Beban Berat



“Letakkan minumannya kalau kamu nggak menyukainya,” bisik Alan dengan mulut merapat hingga seperti tidak sedang berbicara.


Alan marah? Pikir Anna. Apa tingkah Anna norak? Tapi serius, minuman yang Alan beri itu membakar mulut Anna. Rasanya isi mulutnya seperti diobrak-abrik. Apa Anna pura-pura pingsan aja kali ya biar bisa segera pergi dari tempat terkutuk itu? Semua orang pasti menganggapnya beruntung sudah menjadi pasangan manusia sesempurna Alan. Tapi kenyataannya semua itu justru menjadi beban berat bagi Anna. Sangat berat dan mengerikan.


“Letakkan!” bisik Alan lagi dengan ekspresi datar. Sejak tadi mereka berdua menjadi objek perhatian banyak orang di sana. Sedikit banyaknya kelakuan Anna pasti tertangkap perhatian mereka, tingkah Anna yang merem melek dan kesulitan menelan air minum tentu juga sudah menjadi bahan perhatian unik bagi yang melihat.


“Halo!” sapa seorang gadis yang tiba-tiba muncul dari arah samping.


Anna tersenyum menatap gadis cantik berkulit putih susu. Rambut gadis itu yang seharusnya panjang tak satupun terlihat tergerai. Ditata indah menggulung-gulung diatas kepala. Gaun hitam sepanjang tumit menambah kesan anggun. Anna harus mendongak untuk bisa menangkap wajah gadis itu mengingat postur tubuhnya yang jauh lebih tinggi.


“Really amazing! Aku nggak nyangka calon istrimu secantik ini. Dia begitu pantas menjadi pasanganmu, Alan!” ucap gadis itu seperti melihat berlian.


“You’re too much. She is indeed an extraordinary girl. Kalau enggak, mana mungkin aku bisa jatuh cinta padanya.” Alan melirik Anna dengan seulas senyum.


Anna membalas lirikan Alan dengan sedikit menoleh ke arah Alan sembari melempar senyum.


“Anna, kenalkan. Ini Vania.” Alan menunjuk gadis cantik itu.


“Aku Anna.” Anna menyebut namanya.


“Wow, the name that matches the person! Nice to meet you!”


Anna tersenyum lagi. Bisa-bisa giginya kering jika terus-terusan tersenyum gara-gara tersedot angin AC yang suhunya luar biasa dingin.


Suhu tubuh Anna semakin dingin mendapat tawaran itu. ah, kenapa ia tidak menuruti perintah Alan sejak tadi untuk meletakkan gelas ke asalnya. Sekarang ia harus kembali meneguk minuman itu lagi, bukan?


“Anna lagi nggak enak badan. Dia kurang nyaman dengan minuman itu,” jawab Alan.


Anna mengerti maksud kata-kata Alan adalah untuk menyelamatkan situasi yang ia alami. Anna merasa sangat terbantu.


“Kita pilih minuman lain aja,” tukas Alan yang langsung diangguki oleh Anna.


Anna melangkah maju mendekati meja untuk segera meletakkan gelas ke asalnya. Namun baru dua langkah, tubuhnya seperti melayang. Reflek Anna menyeimbangkan tubuhnya yang condong ke depan saat hendak jatuh. Entah apa yang membuat kakinya menjadi tidak seimbang.


“Aw!” jerit Vania sembari mengibas-ngibaskan pakaian di bagian dada yang tersiram minuman dari gelas Anna. Sontak ia mendongak dan menatap Anna dengan pandangan kesal.


“Sorry. I accidentally!” seru Anna panik seraya menjulurkan tangannya yang memegangi tisu yang baru saja ia sambar dari meja.


“No, no. Don’t touch me!” Vania mengangkat tangan sebagai isyarat tidak mau disentuh.


Sial, ayunan tangan Vania mengenai tangan Anna hingga sisa minuman di gelas Anna menyiram dadanya sendiri, detik berikutnya gelas itu terlepas dan jatuh ke lantai. Denting riuh suara pecahan gelas beradu dengan lantai membuat Anna menjadi objek perhatian orang-orang disekitar sana.


TBC