
Dan kini justru Alan yang minta maaf atas kejadian itu. Semakin kesini Anna semakin mengenal Alan, dia begitu lembut dan perhatian, penuh kasih sayang, meskipun tadi sempat memperlihatkan kemarahan, namun pancaran kasih sayang dari mata Alan tetap terlihat nyata.
Ya, semua yang dikatakan Stefi dan Clarita bukanlah omong kosong belaka. Hati Alan dipenuhi kasih sayang. Bukan hanya pada orang-orang yang Alan sayangi saja ia bersikap lembut dan perhatian, bahkan pada Anna yang tidak dia cintai pun bisa selembut itu. Semakin mengenal Alan, hati Anna semakin terpaut pada pria itu. Jika sudah begini, mungkin justru Anna yang akan meminta Alan supaya tidak akan meninggalkannya.
Andai Alan tahu Anna sudah berbohong atas pengakuannya yang sakit kepala, akankah Alan memaafkannya?
“Masih sakit?” tanya Alan.
Anna menggeleng.
“Kita pergi ke dokter sekarang.” Alan menyentuh lengan Anna, mengajak bangkit berdiri.
“Enggak usah. Kepalaku udah agak mendingan, dibawa tidur juga akan lebih baik. Mungkin anemiaku kambuh lagi, akhir-akhir ini kurang tidur. Sejak dulu aku emang punya riwayat anemia, malahan anemia akut lagi, pernah pingsan waktu di sekolah gara-gara anemiaku parah banget.” Anna merasa sangat bersalah telah membuat Alan menjadi dilema, mungkin lebih baik ia mengalah.
“Kamu yakin?” Alan masih tampak cemas.
“Iya. Aku pulang aja.”
“Oke, kuantar kamu pulang.”
“Nggak usah. Aku naik taksi aja.”
“Aku yang membawamu keluar, nggak akan kubiarkan kamu pulang sendirian. Lagi pula, Mama sama Papa akan protes kalau ngeliat kamu pulang tanpa aku.”
“Aku bisa atasi mereka. Kamu tenang aja.”
“Sudahlah, kuantar kamu pulang. Ayo!” Alan menarik lengan Anna supaya bangkit berdiri.
Anna tertegun dengan sikap Alan, pria itu tidak egois. Dia bahkan rela mengorbankan kepentingannya demi kepentingan wanita yang bukan siapa-siapa dalam kehidupannya. Anna berdiri mengikuti tarikan tangan Alan.
Dering ponsel membuat Anna segera menjawab telepon.
“Halo, siapa ini?” tanya Anna pada nomer yang tak dikenalnya itu.
“Anna, maaf aku mengganggumu. Dan maaf aku harus menanyai banyak orang untuk mendapatkan nomor ponselmu. Apa kau mengenal suaraku?”
“Aku Cintya.”
Sontak manik mata Anna langsung menatap Alan. Yang ditatap diam saja, tidak tahu apa yang terjadi. Dengan tenang, Alan menunggu Anna berbicara di telepon.
“Apa Alan bersamamu?” lanjut Cintya.
“Ya.”
“Apa yang dia lakukan? Dia ada janji denganku dan sekarang mengingkarinya. Aku sudah hampir satu jam menunggunya. Ya Tuhan. Tolong katakan padanya supaya segera menemuiku.” Cintya terdengar sangat kesal.
“Baiklah.”
“Maaf Anna, aku mengganggu waktumu.” Suara Cintya kembali normal, sepertinya ia sedang berusaha meredam emosi saat berbicara dengan Anna. Kekesalan Cintya bukanlah untuk Anna, melainkan untuk Alan.
“No problem.”
“Terima kasih atas bantuanmu, Anna. Selamat malam.”
Sambungan diputus. Anna terdiam menatap ponselnya. Dia menjadi penyebab kekacauan hubungan Alan dan Cintya, dia juga yang menjadi penyebab Alan ingkar pada janjinya terhadap Cintya. Betapa egois dirinya.
“Udah selesai? Ayo, kita pulang!” Alan balik badan.
“Kamu kan lagi ada janji, biar aku pulang sendiri aja.”
Kata-kata Anna membuat Alan kembali membalikkan badan dan menatap Anna horor.
Mulai deh sangarnya. Batin Anna.
“Jangan bikin alasan untuk bisa jalan berdua bersama pria tadi,” tegas Alan.
Anna membelalak. Kenapa sejauh itu pikiran Alan? Hubungan Anna dan Aldi hanya sebatas teman, mereka bahkan jarang bertemu. Kenapa Alan securiga itu?
TBC