
“Seketika aku sadar, menjadi cuek lebih baik dari pada peduli tapi nggak dihargai. Aku mau pulang.” Anna berlari keluar saat ia tak kuasa menahan air mata. Ia tidak ingin menangis di hadapan Alan. Ia tidak ingin memperlihatkan cintanya terhadap Alan. Biarlah ia mengubur rasa cintanya itu tanpa seorang pun tahu, mungkin itu akan lebih baik.
Anna tidak perduli dengan teriakan Alan yang memanggil-manggil namanya. Ia terus berlari hingga sampai ke luar gerbang. Tak ada taksi, ojek, minibus, atau kuda terbang yang melintas. Sementara ia melihat Alan sudah berada semakin dekat. Ia tidak ingin lagi bicara dengan Alan untuk saat ini. Ia ingin menghilang dari hadapan Ala. Minimal muka Alan tidak lagi terlihat di matanya.
Di seberang jalan sana, tampak olehnya Arini yang sedang membeli sesuatu di toko. Mungkin lebih baik Anna menumpang motor Arini untuk bisa kabur dari hadapan Alan. Anna menghambur menyeberangi jalan saat tangan Alan menjulur hendak meraih lengannya.
Brak!
Sebuah mobil yang melintas menyambar tubuh Anna.
“Ya Tuhan!” Alan menghambur meraih tubuh Anna yang tergeletak di aspal. Meletakkan kepala wanita yang matanya terpejam itu ke pangkuannya. Telapak tangannya mengusap bercak darah yang mencuat kepermukaan kulit pelipis Anna. Mata Alan berkaca-kaca menatap kelopak mata Anna yang tertutup rapat. Tubuh wanita dalam pangkuannya itu lemas sekali.
“Anna sayang, buka matamu. Jangan tinggalin aku. Plis, buka matamu.” Alan mengguncang bahu Anna dan memeluknya sangat erat. Membiarkan bercak darah mengotori jasnya. “Aku mencintaimu, Anna. Untuk apa lagi aku bertahan kalau tanpa kamu.”
Anna membuka matanya. Alan menangis? Pikir Anna saat merasakan tetesan hangat mengenai punggung tangannya.
Alan melepas pelukan saat menyadari tubuh dalam pelukannya itu bergerak. Raut muka Alan langsung berubah melihat mata Anna terbuka.
“Kamu mencintaiku?” Anna tersenyum.
Alan diam saja. Ia terlihat memucat.
“Aku mendengarnya tadi, kamu mencintaiku, kan?”
Alan masih diam saja.
Anna mengusap pipi Alan, menghalau air yang sempat membasahi pipi itu. Keduanya bersitatap.
Alan buru-buru membantu Anna berdiri dan menepi saat sadar ada orang lain selain mereka. Ia menatap pria muda yang menatap Anna polos. Tak lain Aldi. Mobilnya terparkir tak jauh dari sana.
“Ya Tuhan, kamu terluka.” Aldi cemas melihat luka di kening Anna, luka itu disebabkan oleh serempetan mobilnya.
“Aku nggak pa-pa. ini hanya luka luar. Tadi aku hanya terkejut aja, dan memilih memejamkan mata sebentar untuk memulihkan pandanganku yang mendadak gelap.”
“Apa perlu kubawa ke rumah sakit?” tanya Aldi.
“Nggak perlu,” sahut Alan datar. “Aku bisa urus.”
“Ooh… Kupikir aku perlu bertanggung jawab karena udah menyerempet Anna.”
“Bukan kau yang salah. Anna menyeberangi jalan nggak liat-liat. Pergilah. Biar aku yang urus luka Anna.”
“Baiklah.” Aldi sekilas menatap Anna kemudian berlalu pergi.
Sepeninggalan Aldi, Anna dan Alan bertukar pandang. Tidak ada yang memulai pembicaraan, seolah mata mereka sudah mewakili apa yang mereka rasakan.
Anna menghambur memeluk Alan. Membenamkan wajahnya di dada bidang pria itu. Beberapa detik kedua tangan Alan terayun di udara tanpa membalas pelukan. Namun kemudian tangan kokoh itu membalas pelukan Anna.
“Katakan, kamu mencintaiku, kan? Aku ingin mendengarnya sekali lagi.” Anna mempererat pelukannya.
Alan diam saja.
TBC